I Love You Too

I Love You Too
Gombal



"Mana Bunda?" tanya Balen menghampiri Bunda Kiki.


"Buku?" tanya Kiki pada Balen, senang saja menggodanya, walau Kiki tahu memang buku yang diminta Balen.


"Yah." jawab Balen mulai merecoki isi tas Kiki.


"Bukan disitu sayang. Ini dia bukunya." Kiki menunjukkan sebuah paperbag berisi buku untuk Balen lengkap dengan pinsil mewarnainya.


"Aban, matatih ya." kata Balen menunjukkan buku dan pinsil mewarnai pada Nanta.


"Iya sayang. Nanti kita telepon Abang Ando ya. Balen bilang terima kasih pada Abang Ando." kata Nanta pada adiknya.


"Yah." jawab Balen dengan raut wajah bahagia.


"Aih pintar sekali Ando." gumam Nanta saat melihat pinsil mewarnai yang Balen pegang, ia malah lupa membelikan Wulan pinsil mewarnai, padahal buku yang dibelikannya bukan buku cerita, Nanta menyesali kebodohannya.


"Kenapa?" tanya Raymond pada Nanta.


"Ada deh." jawab Nanta menggoda Raymond.


"Ih menyebalkan sekali kamu sejak punya pacar ya. Oma, Nanta pacaran nih." Raymond memprovokasi Oma, semua tertawa melihat keduanya.


"Siapa yang pacaran." Nanta memonyong kan bibirnya pada Raymond.


"Tuh Oma lihat, tambah genit dia sejak punya pacar." adu Raymond lagi, langsung saja Nanta memeluk Abangnya.


"Aku gigit ya Kak Roma." ijinnya pada Roma. Lagi-lagi semua terbahak.


"Ih... ih... apa ini peluk-peluk." Raymond berusaha melepaskan pelukan Nanta.


"Biar saja tadi Bang Ray bilang aku genit kan, aku genitnya sama Ban Lemon ajah." kata Nanta memainkan lidahnya seperti wanita penggoda pada Raymond. Raymond terbahak dibuatnya, belum pernah ia melihat Nanta segenit itu.


"Kamu nonton apa sih, film porno ya?" tanya Raymond lagi-lagi memprovokasi.


"Ray..." Kiki melotot menunjuk Balen yang sibuk mewarnai dengan dagunya.


"Ups sorry Bunda, aku lupa ada bocah." kata Raymond terkekeh.


"Aku nonton film Betty Bencong Selebor tuh sama Opa dulu, iya kan Opa." Nanta menjelaskan pada Raymond apa yang ditontonnya.


"Hahaha iya." jawab Opa yang masih tertawa geli melihat Raymond dan Nanta.


"Opa pilih kasih, aku tidak diajak." protes Raymond.


"Ini anak habis kamu kasih makan apa dikantor tadi Ken?" tanya Oma membuat Reza dan Kiki terbahak.


"Memangnya kenapa Oma?" tanya Nanta pada Oma.


"Jahilnya bertambah-tambah." jawab Oma, Nanta jadi tertawa.


"Aku tidak ya Oma." kata Nanta menghampiri Oma dan memeluknya.


"Tidak, kamu betul-betul seperti Ayah Eja." jawab Oma ikut memeluk Nanta.


"Seperti Papa juga lah Oma." Kenan tidak mau kalah.


"Raymond yang seperti kamu, Ken. Tambah sering bertemu kamu tambah jahil saja." jawab Oma lagi.


"Dia lebih jahil, Ma. Aku saja bingung." jawab Kenan.


"Terus saja gosipi orangnya. Aku ini calon Papa loh. Nanti Oma mau dipanggil apa sama buyut diperut nih?" tanya Raymond mengalihkan pembicaraan.


"Panggil mayut sama payut saja." jawab Oma terkekeh.


"Payut telapa ya Oma." sahut Balen sambil asik mewarnai buah kelapa di bukunya.


"Iya itu Oma yang mayut." sahut Raymond terbahak, Balen baru saja merusak hasil karya Oma sehingga semuanya tertawa geli. Nona sampai menahan perutnya melihat ekspresi Oma yang tertawa miris.


"Ah kamu Balen, sepertinya nanti jadi penerus Lemon sama Papon." dengus Oma kesal. Kiki dan Roma sampai menghapus air matanya yang keluar karena banyak tertawa. Selalu saja seru jika sedang berkumpul bersama seperti sekarang.


"Makan yuk." ajak Oma setelah Bibi memberi kode jika makanan dimeja sudah siap.


"Duluan saja Ma, Kenan mandi dulu." kata Kenan pada Mamanya.


"Semua juga belum pada mandi, makan dulu saja. Kasihan yang dari Jakarta kelaparan." kata Opa beranjak ke meja makan.


"Ayo-ayo." ajak Reza pada yang lain, semua mengikuti menuju meja makan.


"Dendengnya enak nih, Ma." tunjuk Kiki pada dendeng yang dibawa Nanta.


"Dedeng basah. Mama suka bikin ini." kata Kenan ikut berkomentar.


"Nah ini beda lagi enaknya." kata Kiki promosi.


"Suka dua-duanya, masing-masing istimewa." jawab Kiki menelan air liurnya.


"Oma sudah lama tidak bikin dendeng loh." Raymond mengingatkan.


"Iya, sejak Opa tidak bisa makan daging, jadi Oma tidak bikin." Oma terkekeh.


"Walaupun cucu kesayangan Oma ini pencinta daging?" tanya Nanta menunjuk Raymond.


"Baen ndak suta dading, Aban." sahut Balen yang sedang digendong Kenan.


"Iya, Balen sukanya apa?" tanya Nanta pada adiknya.


"Sutanya mewalnai." jawabnya asal bicara.


"Pintar, jangan dirobek ya bukunya." pesan Nanta pada Balen.


"Yah." jawab Balen terkekeh.


"Duduk sebelah Abang, ya." kata Kenan meletakkan Balen disebelah Nanta.


"Ichi?" Balen teringat adiknya yang sedari tadi bersama pengasuhnya.


"Ichi sedang main sama, Ncusss." sahut Roma memberitahu Balen.


"Aban, matan ndili ya." kata Balen setelah mendengar apa yang dikatakan Roma tidak lagi memikirkan Richi.


"Mau makan apa?" tanya Nanta.


"Sop." jawabnya menunjuk sop daging menu untuknya yang selalu tersedia. Nona tersenyum melihat Balen yang sedang melepas rindu pada Abangnya, ia mengambilkan Balen nasi dimangkok berikut Sop Daging yang Balen tunjuk.


"Mamon suapi ya." kata Nona pada Balen.


"Ndak, Mamon. Baen matan ndili." jawabnya tegas.


"Memangnya bisa? nanti berantakan makannya."


"Paponnn." jerit Balen mengadu pada Papanya.


"Kenapa sayang?" tanya Kenan pada Balen.


"Mamon natal." keluhnya dengan wajah meringis.


"Masa nakal, kan Mamon sayang Balen."


"Iya, Mamon hanya tidak mau semuanya berantakan, termasuk wajah cantik Balen. Kalau celemotan makannya nanti tidak cantik lagi loh." kata Nona membujuk Balen.


"Tata aban talo matan ndili tambah tantik." protes Balen mengingat ucapan Abangnya saat di Jakarta. Nanta tertawa tidak berkomentar, bingung mau bilang apa, nanti bocah protes lagi.


"Nanta tanggung jawab." Nona melotot pada Nanta yang sedang terkekeh.


"Abang suapi ya, biar tambah lagi cantiknya." akhirnya Nanta membujuk Balen.


"Yah." jawabnya cepat, membuat Nona gemas ingin mencubit pipinya. Cepat sekali bilang iya, mungkin rindu sama Nanta jadi bangga saja kalau yang suapi Abangnya sendiri.


"Sayang betul sih Abang sama Balen." kata Roma tertawa melihat Balen.


"Iya don." Balen berdiri dibangku, langsung memeluk Abangnya tersayang. Rindu berat sama Abang rupanya, padahal baru berapa hari tidak bertemu.


"Kamu kangen betulan apa karena takut ditinggal naik pesawat?" tanya Nona jahil.


"Ih Mamon, kangen betulan lah. Iya kan Singkongku." Nanta balas memeluk Balen.


"Yah." jawab Balen menciumi Nanta.


"Abang Nanta belum mandi Balen, dia bau." kata Raymond pada Balen. Balen kembali mencium Abangnya.


"Hauuum." katanya dengan mata terpejam seperti iklan pewangi pakaian.


"Segitunya yang ditinggal naik pesawat." Oma terkekeh melihat Balen yang mesra pada Abangnya.


"Janan naik sawat ndili ladi ya." kata Balen pada Nanta.


"Hahaha karena naik pesawat ya ini." Kiki terbahak melihat Balen.


"Tayang Aban." kata Balen kembali mencium Nanta, kemudian menutup kedua mulutnya memandang Bunda Kiki, seakan ia berhasil menggombali Abangnya. Nanta menggelengkan kepalanya.


"Jangan gombal dong, singkong rebus." kata Nanta membuat yang lain terbahak.


Maaf telat all, seharian sibuk diluar. Pengantar tidur ya, have a nice dream 💕💕