I Love You Too

I Love You Too
Wilma



"Masanta pain?" pagi-pagi Nanta sudah ditelepon Wulan yang mencari Nanta keliling rumah, dikiranya Nanta ikut pulang kerumahnya setelah dari Villa.


"Masanta lagi sarapan Dek, setelah ini berangkat ke kampus." jawab Nanta melalui sambungan video call. Sambil makan Ia menyandarkan handphonenya pada botol minum yang akan dibawanya ke kampus.


"Nanti lumah atu ndak?" tanya Wulan pada Nanta.


"Hari jumat ya, masanta kesana. Mau tidur sama masanta lagi?" tanya Nanta setelah berhasil tidur bersama Wulan dan Balen saat di Villa kemarin.


"Hu uh, sama Bayen juda." jawab Wulan berharap.


"Balen nanti kita tanya ya."


"Iya."


Nanta menutup sambungan teleponnya, ia harus berangkat pagi karena dosen hari ini sangat tepat waktu.


"Mau diantar, Mas?" tanya Pak Atang pada Nanta.


"Tidak usah, Pak Atang suka ember." sungut Nanta karena laporan Pak Atang semalam ia disidang.


"Hahaha ember bagaimana sih? lah Wong Mas Ray semalam tanya sudah dimana? saya bilang di Puri Indah antar Dania teman Mas Nanta." Pak Atang terkekeh.


"Komplit ya jawabnya, sampai aku makan di bandara juga disampaikan." kata Nanta terkekeh, dasar Pak Atang.


"Lah iya kan ditanya kok malam sekali, saya jawab Mas Nanta temani Dania makan dulu." jawab Pak Atang sok polos.


"Bodo amat Pak Atang." teriak Nanta sambil terkekeh menuju garasi. Harapannya hari ini tidak macet, karena Nanta tidak ingin dijalan terburu-buru.


"Nanta, jemput aku dong." kata Wilma melalui telepon saat Nanta baru saja keluar rumah, Wilma memang sekali waktu suka nebeng ke sekolah, karena Nanta selalu lewat sekolahnya saat mau ke kampus.


"Aku buru-buru nih." jawab Nanta apa adanya.


"Aku sudah rapi kok, Kutunggu didepan gerbang deh, jadi kamu kan tinggal minggir sebentar." kata Wilma setengah memaksa. Gadis tengil itu sekarang sudah kelas tiga SMA, tahun depan akan masuk kuliah.


"Ya sudah, kalau tidak ada di gerbang kamu aku tinggal." ancam Nanta tidak main-main.


"Iya, ini aku sudah di gerbang."


"Bohong kan?"


"Gerbang rumahku hehehe, jalan dulu Mom Assalamualaikum." teriak Wilma menutup sambungan teleponnya, sementara Nanta mengucek telinganya, teriakan Wilma sangat nyaring terdengar ditelinganya.


Perlahan Nanta memelankan kendaraannya ketika melihat Wilma berdiri di halte depan gerbang rumahnya, tempat ia biasa menunggu Nanta, tidak lama ia sudah duduk disamping Nanta.


"Mana oleh-oleh dari Malang." tagihnya pada Nanta.


"Minggu depan ya, kamu mau dibawakan apa sih?" tanya Nanta pada Wilma.


"Kamu mau ke Malang lagi?"


"Hu uh."


"Kapan?"


"Belum tanya Ayah sih, maunya bareng Ayah dan Bunda hari Rabu. Kalau tidak bisa ya berarti kamis malam." jawab Nanta sambil fokus menyetir.


"Bagus ya Malang?" tanya Wilma polos.


"Kamu belum pernah?" tanya Nanta tidak percaya, Wilma menggelengkan kepalanya.


"Kan aku sudah bilang belum pernah, aku mau ikut dong kesana." kata Wilma merengek.


"Ajak saja Kak Anggie dan Bang Romi."


"Mereka sibuk, sama kamu saja, kan bareng Ayah dan Bunda juga, disana ada Papon sama Mamon kan. Ayo lah bilang Papon telepon Daddyku, supaya aku boleh ikut ke Malang." sorot mata Wilma sangat berharap, ingin sekali jalan-jalan.


"Kamu tuh kelas tiga loh, mau ujian jangan suka bolos."


"Ujian juga masih lama Nantaaaa."


"Abang!!!"


"Ish, sok tua deh."


"Memang lebih tua sih, nanti turun cium tangan ya, sopan sama orang tua." kata Nanta sok galak. Wilma terbahak menoyor kepala Nanta, tidak ada sopannya.


"Wilma, sopan dikit dong." Nanta mencubit pipi Wilma gemas.


"Sakit ih." Wilma mengusap pipinya.


"Nanti pulang jemputlah." katanya lagi


"Tidak bisa, aku kuliah sampai malam."


"Kuliahnya memang cuma sebentar, tapi aku mau belajar sama teman-teman di perpustakaan karena besok ada quiz."


"Paling perpustakaan sampai jam Lima sore."


"Iya sekolahmu sudah bubar jam segitu, nanti kamu dijemput Pak Atang saja ya." kata Nanta pada Wilma.


"Tidak usah nebeng temanku saja Rico." jawab Wilma membuat Nanta mengernyitkan dahinya, siapa itu Rico baru dengar.


"Teman sekelas kamu?" tanya Nanta.


"Hu uh, naksir aku sih. Mumpung dia naksir pasti mau mengantar pulang." jawab Wilma terkekeh.


"Jangan suka manfaatin orang, nanti jadi bumerang buat kamu sendiri. Kamu juga naksir?" tanya Nanta.


"Belum, tidak tahu nanti. Kecuali kamu jemput aku, dijamin aku tidak akan naksir dia." jawab Wilma membuat Nanta terbahak dan balas menoyor kepala Wilma.


"Aku tidak bisa jemput, tapi Pak Atang dirumah standby. Kalau kamu mau nanti dijemput Pak Atang, kalau kamu maunya sama Rico ya sudah sana pulang sama Rico saja." kata Nanta kemudian.


"Ya sudah."


"Ya sudah apa?" tanya Nanta pada Wilma yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Aku dijemput Pak Atang." jawab Wilma.


"Telepon saja Pak Atang, biasa juga kamu suka telepon."


"Kamu saja Bang." kata Wilma terkekeh, kalau ada maunya baru panggil Abang. Nanta jadi tertawa geli.


"Kamu pulang jam berapa sih?" tanyanya lagi pada Wilma.


"Jam setengah lima." jawab Wilma.


"Ya sudah nanti aku yang jemput. Aku dari kampus jam empat." kata Nanta akhirnya mengalah.


"Tidak jadi pulang malam?" tanya Wilma.


"Tidak tega lihat muka kamu melas begitu." Nanta terkekeh mengacak anak rambut Wilma.


"Duh gue tidak bawa sisir Nantaaaa." teriaknya memindahkan posisi kaca spion ke arahnya, mulai menyisir rambut lurus selehernya dengan jari kanannya.


"Abang!!!" Nanta kembali mengacak anak rambut Wilma.


"Iya-Iya Abang nyebelin." dengus Wilma kembali merapikan rambutnya.


"Berantakan deh rambut gue." keluhnya dengan mulut yang maju beberapa senti.


"Kenapa? takut Rico tidak jadi naksir?" Nanta terkekeh, Wilma pun ikut terkekeh, tidak bisa lama kalau marah sama Nanta.


Handphone Nanta berdering, dilihatnya nama Dania pada layar handphone.


"Assalamualaikum..." jawabnya sambil tersenyum.


"Waalaikumusalaam, sorry semalam mengantuk jadi tidak balas pesan."


"Tidak masalah kok."


"Mas Nanta, doanya terkabul, nanti kita bisa bertemu? ada titipan makanan dari Nenek angkatku. Ucapan terima kasih karena Mas Nanta sudah tolong aku semalam."


"Wah Nenek pakai repot-repot, tidak harus begitu." kata Nanta terkekeh.


"Iya kan aku overload karena titipan Nenek yang luar biasa banyaknya."


"Jam berapa mau bertemu? Sebentar Dan..." Nanta meminggirkan kendaraannya di depan gerbang sekolah Wilma, mengulurkan tangannya agar Wilma menyalaminya, yang ada Wilma malah menepak tangannya membuat Nanta terbahak.


"Hati-hati." pesan Nanta pada Wilma, melambaikan tangannya.


"Jangan lupa jemput!!!" kata Wilma, Nanta mengangguk dan melanjutkan pembicaraannha dengan Dania sambil melajukan kendaraan perlahan.


"Eh siapa pacar ya?" tanya Dania membuat Nanta terkekeh.


"Mau bertemu jam berapa? jam satu sampai jam empat sore aku ada diperpustakaan kampus." kata Nanta tidak menjawab pertanyaan Dania.


"Jam makan siang saja bagaimana, di cafe seberang kampus?" tanya Dania.


"Oh oke, kamu datang lebih dulu ya, karena disana antri loh." kata Nanta mengingat ia baru keluar kelas tepat pukul dua belas, dijamin tidak akan dapat tempat.


"Iya jam sebelas lewat tiga puluh menit, aku sudah disana. Mau makan apa biar langsung aku pesan."


"Apa saja. Aku keluar kelas jam dua belas, butuh sepuluh menit menuju kesana." kata Nanta pada Dania.


"Ditunggu Mas Nanta yang baik hati." kata Dania membuat Nanta kembali terkekeh.