
Nona dan Nina sudah bertukar nomor telepon. "Nanti Tante telepon ya." kata Nina saat akan meninggalkan ruangan karena hari sudah sore dan mereka harus kembali ke hotel. Sepertinya Mama lupa kalau kesini membesuk aku, kekeh Kenan dalam hati. Sedari datang hingga pulang Nina asik ngobrol dengan Nona. Kenan dengan Reza dan Raymond, sementara Deni sudah meninggalkan ruangan karena harus rapat lagi.
"Kenan, Mama ke hotel dulu, besok pagi kesini lagi." Mama berlalu meninggalkan ruangan diikuti Raymond dan Reza. Kiki tidak bisa ikut karena ada urusan di Jakarta.
"Tante, jangan lupa telepon ya." teriak Nona sebelum Mama Nina pergi.
"Iya sayang, nanti kita berkabar." jawab Mama Nina, sepertinya mereka akan shopping bersama di Jakarta nanti.
Tinggallah Kenan dan Nona berdua, canggung sekali karena tirai lupa ditutup kembali. Mau lihat kiri kanan juga sungkan. Kenan tersenyum tipis pada Nona dan kembali dalam lamunannya.
"Jadi pulang hari ini?" dokter Samuel berdiri didepan pintu, bertanya pada Nona. Tampak gagah dengan polo shirt dan celana jeans biru. Pria yang tidak lolos restu, batin Kenan. Hehehe efek kurang kerjaan, jadi Kenan sibuk bermain dengan alam pikirannya.
"Mau jemput gue ya?" tanya Nona santai. Inpus ditangannya sudah dilepas.
"Iya hari ini gue libur loh. Baik kan gue? Kita bisa langsung jalan-jalan kemanapun kamu mau." kata Samuel berjalan menghampiri Nona. Nona hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Pak Kenan, sepertinya besok juga sudah boleh pulang." kata Samuel saat melewati Kenan.
"Oh ya, syukurlah kalau begitu." jawab Kenan senang.
"Tapi Bapak tidak boleh aktifitas diluar rumah dulu itu, nanti dokter penanggung jawab akan menjelaskan."
"Lumayan liburan tiga bulan."sahut Nona cengengesan.
"Pasti tetap kerja walau dirumah." jawab Kenan. PR dari Reza saja sudah menumpuk didepan mata. Beberapa hari dirumah sakit tanpa handphone tapi Reza selalu membahas pekerjaan saat bersama Kenan. Sungguh Abang yang baik hati. Tidak peduli adiknya sedang terbaring tak berdaya, pekerjaan saja yang dibahasnya. Tapi karena Kenan juga, Reza beberapa hari ini tidak ke kantor. Semua tugas diserahkan pada Micko.
Teringat kata Raymond tadi "Om, cepat sehatlah, Ray keteteran kalau harus merangkap tugas. Kasihan juga Om Micko." rupanya Reza menugaskan Raymond untuk mewakili Kenan di kantor pusat.
Raymond putra semata wayang Reza lebih tertarik dengan pekerjaannya sendiri, di dunia kartun dan komik. Ia hampir saja batal menikah karena terlalu asik dengan dunianya, sehingga tunangannya yang sekarang menjadi istrinya sempat minta putus (sedikit cerita Raymond ada di Dear Angela).
"Mas Kenan kenapa bisa begini?" kejutan sekali melihat Tari mantan istrinya datang membesuk. Kenan tersenyum lebar melihatnya.
"Disuruh istirahat." jawab Kenan terkekeh.
"Kamu sama siapa Tari?" tanya Kenan karena tak melihat suami Tari.
"Mas Bagus, tuh lagi merokok dulu diluar." Bagus itu suami Tari sekarang, meski sudah berpisah dengan Kenan, mereka tetap berhubungan baik. Bahkan Kenan pun kenal baik dengan Bagus.
"Sudah pulang honeymoonnya ya?" tanya Kenan lagi, seingatnya ia memberikan tiket ke Lombok untuk Tari dan Bagus. Sampai saat ini Tari masih bekerja sebagai sekretaris Kenan di Malang. Karena Tari menolak semua fasilitas yang Kenan berikan dulu, tapi Papa berhasil membujuk Tari untuk tetap bekerja di kantor. Tari cukup berbesar hati menerima segala perlakuan Kenan pada ya saat itu. Terbuat dari apa hati Tari dan Hubungan macam apa ini, semoga nanti calon istri Kenan bisa menerima kedekatan mereka saat ini.
"Baru pulang tadi malam, tidak konsen liburannya dapat berita Mas Kenan kecelakaan. Mas Bagus bawel suruh aku telepon terus, yang ada telepon tidak bisa dihubungi."
"Iya mungkin Handphonenya mental kemana sampai sekarang belum ketemu, Nanti lah kalau sudah keluar rumah sakit. Besok mungkin aku sudah boleh pulang." kata Kenan sambil melirik ke arah Samuel.
"Mas Kenan pulang kemana? Jakarta atau Malang?"
"Jakarta. Nanti agak lama di Jakarta, kamu urus kerjaan yang di Malang ya."
"Assalamualaikum Boss, waduh parah juga ya." Bagus masuk sambil meringis melihat keadaan Kenan.
"Shock ditinggal kawin Tari." jawab Kenan asal.
"Wah jangan begitu dong Boss, kan sudah deal-dealan kita." Bagus ikutan asal menjawab. Mereka tertawa bersama.
"Ish kalian ini apa sih, jangan bercanda begitu ah risih." Tari tampak kesal dengan gaya bercanda Suami dan mantannya. Kenan tampak menyeringai menatap Bagus.
"Mas Kenan sendiri? siapa yang temani disini?" tanya Tari khawatir.
"Aku terus yang temani Mbak." tiba-tiba Nona ikut menjawab. Ia tampak duduk dipinggiran kasur dengan kaki menjuntai dibawah, sementara Samuel duduk disebelahnya. Dengan posisi seperti itu Nona tampak seperti bukan pasien.
"Wah Mas Kenan, sudah punya gandengan rupanya." Tari menggoda Kenan dengan wajah sumringah.
"Duh memang truck ya gandengan." sahut Nona membuat yang lain tertawa. Kenan tidak menyangkal ucapan Nona, karena memang ia ditemani Nona yang sangat berisik di kamar ini.
"Saya Tari, sekretaris Mas Kenan, ini Bagus suami saya." Tari mengulurkan tangannya pada Nona, disambut hangat oleh Nona.
"Ini dokter Samuel, sahabat saya. Dia juga dokternya Mas Kenan." kata Nona lagi. Sok akrab sekali si Nona. Tari dan Bagus menganggukkan kepalanya pada Samuel. Samuel tersenyum saja, sementara Kenan menunggu apa lagi celutukan konyol Nona.
satu...
dua...
tiga....
empat...
lim....
"Eh Mas Kenan hari ini aku tidak bisa temani kamu loh." kata Nona kemudian.
"Eh..." Kenan tertawa, entah kenapa Nona tampak kocak dan menggemaskan di mata Kenan.
"Menurut lu Pak Kenan senang gitu lu temani." timpal Samuel sama konyolnya.
"Berisik ya Mas?" tanya Nona lagi sadar diri.
"Hu uh." Kenan menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.
"Dok, saya bisa pulang hari ini saja kah?" tanya Kenan penuh harap. Membayangkan harus sendiri di kamar kok rasanya pilu.
"Nanti saya tanyakan, harusnya sih bisa." jawab Samuel kemudian mengeluarkan handphone dari kantongnya. Ia mulai berkoordinasi untuk kepulangan Kenan.
Sementara Kenan menaikkan alisnya saat Tari menatapnya bingung.
"Kenapa minta pulang?" tanya Tari sambil memegang baju suaminya.
"Dokter bilang bisa kan?" jawab Kenan santai.
"Mau di antar kemana kalau sudah boleh pulang?" tanya Bagus
"Iya nanti biar kami antar." kata Tari lagi.
"Sama saya dan Samuel nanti pulangnya Mbak, sekalian saya mau ketemu tante Nina." jawab Nona tersenyum manis. Kenan mengernyitkan dahinya. Ia merasa tidak nyaman, bagaimana pun ia belum terlalu kenal dengan Nona, apalagi harus merepotkan dokter Samuel.
"Mau kan pulang sama Saya?" tanya Nona pada Kenan. Ia mendekatkan dirinya pada Kenan. Allah sempurna sekali ciptaanmu, pikir Kenan saat melihat wajah Nona. Cantik, khas Indonesia. Kulit kuning langsat rambut terurai dengan bibir tebal merah. Duh kenapa jadi lihat bibirnya, Kenan Salah tingkah dibuatnya.
"Mas, pulang sama Saya kan?" tanya Nona lagi setengah memaksa.
"Hu uh." mau tidak mau Kenan menganggukkan kepalanya pasrah. Sementara otaknya tampak berpikir keras, sepertinya harus menghubungi Bang Reza untuk minta dijemput.
"Beres, boleh pulang hari ini." kata Samuel setelah sibuk berbicara via telepon.
"Kamu urus administrasinya, Tar." perintah Kenan pada sekretarisnya. Ditemani Bagus, Tari pun segera keluar ruangan mengurus proses kepulangan Kenan.
"Boleh pinjam telepon, mau hubungi Abang saya?" tanya Kenan pada Nona.
"Mau minta jemput? Sama kita saja, iya kan Sam?" Nona minta persetujuan Samuel.
"Boleh, mau diantar kemana?" tanya Samuel. Ia mana berani membantah keinginan Nona. Bisa ngamuk lagi seperti kemarin.
"Justru Saya mau menghubungi Reza, Saya mau tahu mereka menginap dimana."
"Saya tahu, mereka sewa villa dekat rumah." jawab Nona tersenyum manis.
"Tante Nina juga sudah tahu, Mas Kenan keluar rumah sakit hari ini, nih aku lagi chat." kata Nona lagi. Sepertinya Samuel melihat Nona hari ini agak lempeng ya, tidak meledak-ledak seperti biasanya. Habis makan apa dia? pikir Samuel bingung.
Penampakan Nona kurang lebih kaya gini ya