
"Redi lebih ganteng dari elu dong." tiba-tiba saja Mike datang bersama Seiqa, Doni dan Dona.
"Sudah selesai baru datang." Daniel abaikan komentar Mike.
"Paket komplit lagi." Nanta terkekeh, sementara Seiqa dan Dona langsung bergabung bersama Dania dan Rumi, para pria beranjak pindah posisi.
"Tidak bisa bujuk Seiqa, andalkan Dona dia." bisik Doni pada Nanta. Mereka tertawakan Mike, pantas saja telat, harus jemput Doni dan Dona dulu rupanya.
"Perdana gue lihat Seiqa merajuk." Mike ikut berbisik. Nanta nyengir lebar gelengkan kepala.
"Aku mandi dulu ah." pamit Daniel saat lihat Larry sudah rapi berjalan menuju kearah mereka.
"Leyi kenapa ajak Rumi?" Mike berbisik.
"Datang sendiri." Nanta balas berbisik, ini para pria kenapa jadi bisik-bisik. Larry gelengkan kepalanya lihat ketiganya sedikit menungging posisi duduknya, pasti lagi ghibah.
"Ghibah terus." Larry menepuk pantat Mike jahil. Para wanita tertawa melihat kelakuan mereka berempat.
"Dijemput Larry, Rum?" tanya Dona penasaran, sudah dengar Mike mengoceh soal Rumi tadi di mobil.
"Aku datang sama Papi dan Mami." jawab Rumi apa adanya.
"Oh aku kira sama Larry." jawab Dona anggukan kepalanya. Mending seperti Dona kan tanya langsung biar kepo juga.
"Puncak yuk." ajak Mike pada Nanta.
"Mau apa ke puncak, macet ah malas." jawab Nanta.
"Tinggal duduk saja takut macet." gerutu Mike kesal.
"Hari sabtu mana ada yang tidak macet." tambah mengoceh.
"Elu saja sama Seiqa." kata Doni jahil.
"Kalau tidak merajuk juga gue sudah jalan berdua kali." kata Mike lagi, semuanya terbahak.
"Gue balik lah, kalian saja yang pergi." kata Larry.
"Enak saja mau balik, ikutlah." tolak Mike.
"Makan kita kuliner." bujuk Mike.
"Jangan jauh-jauh istri gue kasihan." kata Nanta pada sahabatnya.
"Bogor deh Bogor." Larry menawar, banyak juga tempat kalau mau kuliner di Bogor.
"Eh tidak usah sampai Bogor, cibubur saja." pinta Nanta pada sahabatnya.
"Aih tinggal bersin itu sih sudah sampai." Mike tertawa.
"Kan cuma mau kuliner, jangan jauh-jauh ah." seperti anak perawan tidak mau pergi jauh-jauh.
"Iya kalau mau jauh naik pesawat sekalian." kata Larry lagi.
"Cirebon saja dulu, kenapa mesti naik pesawat. Ayo ke Cirebon." ajak Mike, tambah jauh saja ajakannya.
"Nginap yuk." ajak Larry lagi cengengesan.
"Aih ketemu Rima atau Femi ini." Mike ikut cengengesan.
"Kalau ketemu, kuliner saja tidak pikirkan mereka." jawab Larry apa adanya.
"Yuk, yuk." aih Doni malah semangat, terang saja bisa bertemu Dini Kakaknya disana.
"Sekarang, langsung?" tanya Nanta.
"Iyalah." jawab Doni.
"Oke langsung." Larry iya saja, dia selalu siap baju ganti di Mobil, untuk Danielpun sudah Larry siapkan karena tadi mau berenang dan ajak main, jadi minta Daniel bawa baju lebih, lumayan Daniel jadi banyak hiburan liburan sekolahnya ikutin Abang kemanapun, efek tidak boleh kumpul sama temannya.
"Dan, siap-siap kita ke Cirebon ya. Menginap semalam." kata Nanta pada istrinya.
"Oh, sekarang?" tanya Dania.
"Iya." jawab Nanta anggukan kepalanya.
"Kalian semua?" tanya Rumi.
"Iya." jawab Nanta.
"Leyi, kamu bukannya ada acara keluarga besok?" tanya Rumi pada Larry.
"Ini kan keluarga juga." jawab Larry terkekeh, acara sama Papa dan Mamanya bisa ditunda sepulang dari Cirebon.
"Yah kalian enak betul sih mau pergi." Rumi iri lihat para sahabat dan pasangannya ini.
"Mau ikut, ayo." Seiqa tawarkan Rumi, ia sudah dapat ijin menginap dirumah Doni, kalau ikut ke Cirebon tidak masalah karena bersama Doni juga, apalagi nanti bertemu Dini disana.
"Tanya dulu sama Papi dan Mami." kata Nanta akhirnya, ia mana mungkin menolak, lagi pula ada Seiqa yang nanti bisa jadi teman sekamarnya Rumi.
"Oke sebentar aku ijin dulu ya, kalau boleh nanti ke rumah dulu ya aku ambil baju." ijin Rumi pada yang lain. Larry mengangguk saja, tidak masalah Rumi ikut apa tidak, tidak masalah juga kalau nanti mereka bertemu Femi dan Rima. Siapa tahu bisa mendekat lagi dengan Femi yang acuhkan Larry.
"Telepon Om Deni dulu dong, eh gue ijin sama Papa dulu." Nanta baru sadar belum minta ijin Papanya.
"Elu telepon Om Deni, Don." kata Nanta pada Doni.
"Iya, siapkan makanan gitu ya." Doni terkekeh, enak nih datang serombongan minta dijamu sama Bos di Cirebon.
"Bilang Om Deni ajak Femi, Don. Leyi suka sama Femi bukan Rima." kata Mike mau kasih surprise untuk Larry. Apanya yang surprise, Larry ada dihadapannya saat ini.
"Hahaha lu mau adu tuh Rumi sama Femi." Doni terbahak.
"Ish gue kan tidak ada hubungan apapun sama Rumi." kata Larry pada sahabatnya.
"Tapi kalau lihat Rumi bagaimana mau pedekate sama Femi." kata Doni pada Larry.
"Natural sajalah, kalau mau syukur tidak mau ya sudah." jawab Larry santai saja.
"Baen itut Ciebon." pinta Balen saat Abangnya ijin sama Papa dan Mamon, sementara Mario ijinkan Rumi untuk ikut. Bersama Nanta dan sahabatnya, Mario tenang saja, mereka tidak aneh-aneh.
"Balen dirumah saja." kata Kenan menolak permintaan Balen.
"Huaaaa..." langsung saja menangis karena ditolak Papon keinginannya.
"Baen mo temu Om Deni ama Om Muel huaaa..." tambah kencang saja menangisnya.
"Atu Juda udah lama ndak temu Om atu. Tasian disana ndak ada tuwalda." Richie mulai drama.
"Kita juga deh Pa, pisah Mobil saja, biarkan Nanta sama sahabatnya. Kita sekeluarga. Aku juga kangen sama Deni dan Samuel." jiah Nona ikutan merengek pada suaminya.
"Haduh, saya mau istirahat dirumah." Kenan gelengkan kepalanya.
"Huaaa, Baen itut Aban don." menangis membuat hati yang mendengarnya teriris.
"Aban janan tindalin Baen potokna huaa..." ingus sudah ikut meler dihidungnya. Mario dan Regina tertawa melihatnya.
"Balen kita ke Cirebon, tapi jangan ganggu Abang dan temannya ya, kita saja bagaimana?" Mario tawarkan Balen. Mau nostalgia karena pernah kenalkan Regina kuliner naik kereta ke Cirebon.
"Iya." Balen anggukan kepalanya. Tangisnya mulai mereda hanya tinggal senggukan sesekali.
"Ayo Ken." ajak Mario.
"Eh Bang, serius?"
"Seriuslah, kita saja bikin acara sendiri." kata Mario pada Kenan.
"Menginap?" tanya Kenan lagi.
"Terserah saja, mau balik langsung juga boleh." jawab Mario.
"Naik mobil?" tanya Kenan lagi.
"Naik mobil gue saja." kata Mario pada Kenan.
"Kita saja, geng Abang tidak diajak?" tanya Kenan lagi memastikan.
"Benar juga ya, gue telepon mereka ya, seru nih kalau semua ikut." kata Mario langsung hubungi sahabatnya ajak jalan ke Cirebon, dasar pada gabut main oke saja lagi, tidak banyak tanya.
"Jadi Papa sama geng Papi juga ke Cirebon?" Nanta tertawa.
"Iya lah masa kalah sama anak muda." Mario terkekeh.
"Mau aku pesankan hotel sekalian?" tanya Nanta.
"Tidak usah, kami sewa satu rumah tidak menginap di hotel." jawab Mario sesuai kebiasaan ya kalau ke Cirebon.
"Telepon dulu honey, takutnya dipakai orang." Regina ingatkan suaminya.
"Nanta kalian menginap di dekat rumah Om Deni itu ada penginapan enak seperti rumah." kata Nona pada Nanta.
"Yang dulu kamu pesan untuk mama saat saya kecelakaan?" tanya Kenan.
"Iya." jawab Nona.
"Kita ikuti Bang Mario deh, lain kali kita disana." kata Kenan pada Nona. Biasanya ke Cirebon selalu menginap dirumah Deni.
"Jadi kita konvoi?" tanya Nanta pada Papa dan Papi.
"Oh kalian santai saja jangan terbebani dengan Kami " kata Mario tersenyum.
"Siap Papi." Nanta tertawa dan tinggalkan Papi dan keluarganya, susuli Dania yang sedang packing.