
Sepulang dari rumah Mama, mereka mengantar Winner dan Lucky kembali ke hotel.
"Kakak menginap disini lagi dong." pinta Lucky pada Dania, ketika Nanta menghentikan kendaraannya dilobby hotel.
"Iya, kita belum cerita banyak loh." Winner ikut meminta Dania menginap.
"Tuh Dan, kumpul keluarga lah." Wilma berbisik pada Dania.
"Iya." sahut Ando, sementara Nanta hanya memandang Dania sambil tersenyum, memang saatnya Dania mengakrabkan diri bersama keluarganya.
"Ya sudah aku ikut kalian." kata Dania akhirnya, sementara ketiga temannya lanjut menginap dirumah Nanta karena tadi mereka sudah check out dari hotel. Dania pun turun dari Mobil setelah cipika cipiki sama Wilma dan melambaikan tangannya pada Ando dan Nanta, juga Balen yang dipangku Ando.
"Mas Nanta..." panggil Dania sebelum Nanta melajukan kendaraannya, Dania berlari menghampiri Nanta.
"Kalau situasi tidak memungkinkan, jemput aku ya." bisiknya pada Nanta.
"Oke." jawab Nanta terkekeh, tinggal bilang oke apa susahnya, Nanta yakin Dania akan merasa nyaman bersama Om Micko dan keluarganya.
"Bang Nanta..." Lucky ikut memanggil Nanta, padahal Nanta sudah siap melajukan kendaraannya. Lucky ikut berlari menghampiri Nanta sementara Dania sudah berdiri di lobby hotel bersama Winner.
"Apa?" tanya Nanta melihat Lucky cengar cengir jahil.
"Hanya ingin tahu tadi Kak Dania bilang apa?" tanyanya cekikikan.
"Adikku yang bernama Lucky ganteng juga ya." jawab Nanta terkekeh.
"Tapi bohong." lanjut Nanta membuat Lucky terbahak meninju bahu Nanta.
"Bang kalau ke Malang lagi, selalu bawakan aku pempek ya." katanya kemudian.
"Oke." jawab Nanta sambil terbahak, padahal yang 100pcs di mika belum sampai Jakarta.
"Bang Nanta..." Winner ikut-ikutan, semua dimobil terbahak.
"Lama-lama gue yang turun nih." kata Nanta pada Winner.
"Hahaha aku cuma mau bilang terima kasih." Winner dan semuanya terbahak. Nanta pun melajukan kendaraannya menuju rumah Oma.
"Jadi gue cewek sendiri dong." kata Wilma sok sedih gitu.
"Nanti kan ada Oma." kata Ando.
"Iya sih."
"Ada Balen juga. Sana Balen pangku kakak Wilma." Ando menggoyangkan badan Balen.
"Ndak." jawab Balen memeluk Ando.
"Aban, mana butu Baen?" tagih Balen pada Abangnya.
"Oh iya Abang lupa, mampir ke toko buku dulu ya." kata Nanta pada kedua temannya.
"Oke. Nanta kemana lagi nih yang belum kita kunjungi?" tanya Wilma sepertinya masih ingin jalan.
"Jadi mau ke Bromo?" tanya Ando pada Wilma.
"Jadi dong, masa sudah ke Malang tidak ke Bromo." kata Wilma senang.
"Eh kita juga belum ke Bakso president." tagih Wilma lagi.
"Oh iya, tapi masih kenyang." kata Ando yang perutnya terasa full.
"Nanti malam bisa." jawab Nanta menghentikan kendaraannya di pertokoan terdapat toko buku disana. Mereka pun turun mengantar Balen memilih buku yang diinginkannya.
Tidak perlu waktu lama, Balen hanya memilih dua buku, lalu mereka pun segera kembali Ke rumah, Nanta butuh istirahat, karena nanti malam akan mengajak Wilma makan bakso President, ia juga segera menghubungi travel langganannya untuk mengatur rencana ke Bromo nanti malam.
"Nan, tidak tanya Dania dia mau ikut apa tidak?" tanya Wilma.
"Kemarin bilang tidak mau kan?" Nanta mengingatkan.
"Takutnya berubah pikiran." jawab Wilma.
"Nanti kamu tanya saja, mungkin Winner dan Lucky mau bergabung." kata Nanta meminta Wilma yang menghubungi Dania.
Nanta memasuki kendaraannya di garasi rumah Oma, Mobil mewah yang dipinjamkan Om Micko, sepertinya Nanta harus menghubungi Om Micko karena dirasa sudah tidak memerlukan kendaraan ini lagi, Nanta bisa menggunakan Mobil Opa disini.
"Om, mobilnya sudah bisa dikembalikan nih." kata Nanta pada Om Micko via telepon.
"Biar saja disitu, besok bisa mengantar kalian ke Bandara." jawab Om Micko dari seberang.
"Rencananya nanti malam, aku, Ando dan Wilma mau ke Bromo, besok siang baru sampai dirumah lagi, sorenya sudah ke Bandara. Mungkin Dania yang perlu Mobil ini Om." Nanta menjelaskan.
"Dania tidak ikut ke Bromo?" tanya Om Micko.
"Tidak, minggu lalu kan Dania sudah ke Bromo." jawab Nanta.
"Mana Dania, Om mau bicara."
"Dania di hotel Om, bersama Winner dan Lucky." rupanya Micko tidak diberitahu keberadaan Dania oleh dua bujangnya.
"Dasar anak-anak itu tidak ada yang mengabarkan mereka sudah dihotel, nanti malam kalian mau kemana?" tanya Micko kemudian.
"Aku tidak ada janji dengan Dania, Om. Paling kami bertiga mau ke Bakso President, tapi tidak tahu kalau Papa punya rencana lain."
"Oh ya sudah, nanti Om hubungi Papamu saja." kata Micko mengakhiri sambungan teleponnya.
"Loh kalian Masih disini?" Nanta terkejut ternyata Wilma, Ando dan Balen belum turun dari Mobil.
"Menunggu kamu sayang." jawab Ando sok mesra sambil membelai dagu Nanta. Balen terkekeh melihatnya. Nanta hanya bergidik ngeri.
"Calon suamimu tuh." kata Nanta pada Wilma yang memonyongkan bibirnya melihat kelakuan Ando.
"Kenapa juga bawa-bawa nama gue." Nanta terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Nanti yang jemput ke Bandara Papa dan Mamaku, mau langsung dilamar sajakah?" tanya Ando tertawa.
"Serius apa bercanda?" tanya Wilma dengan hidung mengembang.
"Terserah mau diseriusi apa dibercandai." jawab Ando membuat Wilma menjewer kupingnya.
"Aban Ando napa di jewel?" tanya Balen pada Wilma.
"Dia nakal." jawab Wilma dengan wajah dibuat sok sedih.
Pakkkk!!! tangan mungil Balen memukul wajah Ando, tidak sakit sih tapi membuat terkejut.
"Singkong Rebus!!! kenapa Abang di gaplok?" tanya Ando membesarkan bola matanya.
"Kasihan Abang Ando, Dek. Masa dipukul." Nanta menegur Balen dengan lembut.
"Abisna natal."
"Nakal kenapa?"
"Bitin tata Ima nanis." kata Balen polos.
"Tuh Ndo, lu kalau macam-macam sama Wilma yang gaplok Balen, bukan gue." Nanta terkekeh.
"Lain kali tidak boleh pukul begitu ya, kasih tahu saja Bang Ando kalau nakal masuk neraka loh, gitu." Nanta mengajarkan Balen.
"Buset, serem amat bawa-bawa Neraka." kata Ando terkekeh, kemudian mencium Balen.
"Abang sayang Balen, jangan dipukul lagi ya." katanya merayu Balen.
"Benel?" tanya Balen.
"Iya dong, masa bohong."
"Sama Tata Ima tayang juda?" tanya Balen.
"Apalagi itu." jawab Ando membuat Wilma mesem-mesem mendengarnya.
"Jangan pakai adek gue deh buat rayu Wilma." Nanta mengambil Balen dari gendongan Ando.
"Abang juga sayang Balen tahu." kata Nanta menciumi perut Balen, membuat gadis kecil itu terkikik geli.
"Baen juda." jawabnya kemudian menciumi pipi nanta sampai basah semua.
"Hadeh, basah deh." Nanta terbahak dan kembali menciumi perut Balen, gemas.
"Aban tanen ya?" tanya Balen terkikik.
"Iya kangen sekali." jawabnya memeluk erat Balen dalam gendongannya sambil masuk ke dalam rumah, dimana ternyata semua Anggota keluarganya sedang berkumpul diruang keluarga
"Loh masih pada disini." kata Nanta setelah mengucapkan salaam.
"Menunggu kamu sayang." jawab Raymond terkekeh.
"Ish mencurigakan." Nanta terkekeh memandang Bang Raymond.
"Wilma tidur dimana nih Oma?" tanya Nanta pada Oma Nina.
"Di situ, Wil. Mau istirahat langsung saja, kalian capek kan." kata Oma pada Wilma dan Ando.
"Aku juga capek Oma." jawab Nanta minta istirahat.
"Kamu disini dulu, Oma kangen." jawab Oma terkekeh.
"Mau apa sih? nanti malam kami mau ke Bromo loh." kata Nanta pada Oma, menyiratkan ia butuh istirahat.
"Ke Bromo kan tengah malam."
"Mau makan bakso President juga." kata Nanta duduk disebelah Oma, membaringkan badannya di sofa dengan kepala dipaha Oma Nina, manja sekali.
"Kalian ke kamar saja, Ndo lu kamarnya disebelahnya tuh bareng gue." kata Nanta menunjukkan kamarnya pada Ando.
"Mandi dulu ya Oma, Opa, Om, Tante, Ayah Bunda." pamit Ando pada semua.
"Panjang ya." Raymond terkekeh ikut menunjuk kamar Ando agar tidak salah masuk kamar.
"Eh bocah mau kemana?" tegur Raymond pada Wilma.
"Apa sih Bang Ray, aku juga mau mandi." kata Wilma terkekeh, Raymond dari semalam menggodanya karena ketahuan bermesraan dengan Ando.
"Gue laporin Daddy loh." kata Raymond terkekeh.
"Ish, tukang ngadu." dengus Wilma.
"Kenapa Ray?" tanya Oma ikut terkekeh.
"Oma tahu nih anak mengaku mau pedekate sama keluarga Nanta, ternyata mesra-mesraan sama Ando." adu Raymond pada Oma.
"Maaf Oma itu ada sebabnya." Wilma membela diri.
"Apa sebabnya?" tanya Ayah Eja.
"Nanta tidak pernah kasih aku kepastian." jawabnya langsung ngibrit lari kekamar, sementara semua yang ada disana terbahak mendengarnya.
"Semprul." desis Nanta ikut terbahak.