I Love You Too

I Love You Too
Teja



"Aban teja ya?" tanya Balen saat Nanta tiba dirumah menjelang magrib.


"Iya." jawab Nanta tersenyum pada adiknya.


"Tantol Ayah?" tanya Balen lagi.


"Iya." lagi-lagi Nanta tersenyum.


"Baen juda teja." katanya mulai berhayal.


"Kerja dimana?" tanya Nanta.


"Di emol, beanja." jawabnya membuat Nanta terkekeh.


"Itu shopping singkong, bukan kerja."


"Teja tau, Papon talo Mamon pedi emol biang Mamon tejanya beanja teus." Nanta dan Dania tertawa geli mendengar Balen tirukan komentar Papanya kalau Mamon pulang shopping. Nona juga ikut tertawa mendengarnya.


"Jadi nanti Balen kerjanya belanja terus?" tanya Dania pada Balen.


"Iya taya Mamon." jawabnya bangga. Nanta tertawa mencubit pipi adiknya gemas.


"Abang mandi dulu ya." kata Nanta pada Balen, singkong Rebus menganggukkan kepalanya sambil memandang Abangnya.


"Capek Mas?" tanya Dania pada Nanta.


"Biasa saja, pulang cepat begini mana capek." jawab Nanta apa adanya.


"Iya aku kira Mas Nanta pulang malam." Dania tersenyum senang.


"Tidak, tadi santai kok, begitu datang keliling pengenalan tempat di cabang Utama, sorenya rapat dengan seluruh pimpinan cabang se jabodetabek." Nanta jelaskan pada Dania.


"Aku ke kamar dulu ya Mamon, mau siap-siap sholat magrib." ijin Nanta pada Mamon.


"Ote." jawab Balen mewakili Mamon.


"Ini Mamon ya?" Nanta kembali menggoda adiknya, Balen tertawa geli sendiri digoda Abangnya. Dania ikuti suaminya menuju ke kamar, siapkan baju untuk ke Mesjid.


"Nanti belikan sate ayam dong." pintanya pada Nanta saat suaminya sudah siap menuju mesjid.


"Ote." jawab Nanta membuat Dania terkikik geli.


"Tadi aku belajar masak sama Mamon" lapor Dania lagi sambil temani Nanta keluar kamar.


"Berhasil?" tanya Nanta tersenyum lebar.


"Lumayan, ada rasanya." Dania terkekeh


"Kenapa minta belikan sate ayam sudah masak?" tanya Nanta bingung.


"Lagi maunya sate ayam pakai lontong." jawab Dania, membuat Nanta mengelus perut istrinya.


"Adek bayi mau sate ayam ya." katanya terkekeh.


"Kata adek bayi, aku terus saja yang dituduh, padahal yang makan bukan aku." Nanta dan Dania tertawa bersama.


"Nanti aku mau beli sate ayam, siapa saja yang mau?" tanya Nanta pada Nona.


"Belikan untuk Richie sama Papamu, Nan."


"Mamon mau?"


"Tidak, banyak masakan Dania. Harus dinikmati masakan Ibu hamil." kata Nona tertawa.


"Aku cuma potong-potong sama aduk, bumbu sudah disiapkan semua Mamon bantu kerjakan." kata Dania.


"Tapi kamu sudah hafal kan Dan? kalau besok masak itu lagi sudah bisa kan?" Nona memastikan.


"In Syaa Allah bisa Mamon." jawab Dania membuat Nanta tersenyum lebar.


"Aku ke Mesjid, Assalamualaikum..." Nanta bergegas begitu mendengar suara orang bershalawat di Mesjid dekat rumahnya, menandakan sebentar lagi adzan magrib.


"Waalaikumusalaam..." jawab Nona dan Dania bersamaan.


"Mamon, tadi masakannya enak tidak?" tanya Dania setelah Nanta keluar rumah, Kenan belum pulang dari kantor sepertinya lembur. Dania memastikan apakah masakannya layak di makan tapi ia belum berani menyentuh masakannya sendiri, takut tidak enak.


"Enak kok." jawab Nona yakin.


"Syukurlah, bentuknya saja yang masih tidak karuan ya." kata Dania lagi, Nona tertawa mendengarnya.


"Pelan-pelan, yang penting rasanya deh." Nona terkekeh.


Obrolan tentang menu makanan terhenti saat mereka mendengar Balen berteriak memanggil Papanya, rupanya Kenan pulang bersamaan dengan Nanta. Mereka tidak langsung masuk tapi ngobrol dulu diteras rumah. Sambil Nanta menunggu pesanan Sate Ayam yang diantar oleh ojek online.


"Papon..." panggil Balen hentikan pembicaraan Kenan dengan Nanta.


"Sayang..." Kenan merentangkan kedua tangannya, Balen berlari hampiri Papon masuk dalam pelukan Papanya.


"Papon, Aban teja tantol Ayah loh." adunya pada Kenan.


"Ndak, Baen punya tantol juda tan." jawabnya kemudian tinggalkan Nanta dan Kenan yang sedang berdiri diteras. Kenan tersenyum melihat gadis kecilnya itu kemudian lanjut ngobrol dengan sulungnya.


"Mamon, Papon sama Aban di teas." lapor Balen pada Mamonnya.


"Kenapa tidak ajak masuk?" tanya Nona.


"Ladi ngobol duaan." jawabnya menggelengkan kepala sambil menghela nafas, entah apa maksudnya.


"Tania, pandil aban deh suuh masuk." katanya kemudian pada Dania.


"Lagi ngobrol sama Papon kan?" tanya Dania.


"Hu uh."


"Biarkan saja dulu mungkin penting ngobrolnya." kata Dania pada gadis kecil dihadapannya ini.


"Cuma ngobolin tantol Aban sih." katanya pada Dania.


"Ayo, suuh masuk. Ngobol tuh sama-sama butan duaan aja." katanya pada Nona dan Dania.


"Ck... Bawel deh Ibu Balen." kata Nona beranjak menghampiri Kenan dan Nanta, sementara Balen mengikuti dari belakang.


"Kenapa diluar bicaranya, rahasia ya?" tanya Nona memyembul dari balik pintu.


"Sambil menunggu ojek online, aku pesan sate kan tadi." kata Nanta pada Nona.


"Nih Bu Balen protes kalau ngobrol harus sama-sama jangan berdua saja." Nona sampaikan apa yang Balen ucapkan di dalam tadi. Kenan dan Nanta tertawa mendengarnya.


"Balen mau ikut ngobrol ya?" tanya Nanta.


"Ndak, Baen mo matan." katanya yang ternyata sudah lapar.


"Hahaha kasihan, ayo masuk." Nanta beranjak dan menggandeng tangan adiknya.


"Satena mana?" tanya Balen pada Nanta.


"Ini." Nanta menunjuk satu tangannya.


"Tuh tan udah sampe satena tapi masih ngobol duaan." katanya mencibir pada Nona.


"Wah iya nih, bisa kelaparan kita ya menunggu Papon dan Aban ngobrol." kata Nona pada Balen.


"Iya, Baen ndak matan-matan deh tunduin Aban sama Papon."


"Maaf deh, Abang lagi ngobrol seru soalnya." Nanta terkekeh.


"Besok janan ditu ladi ya. Semuana mau matan tau, tundu Aban sama Papon." omelnya seperti ibu-ibu.


"Iya Bu Balen." jawab Nanta membuat Nona dan Kenan terkekeh.


"Papon mo mandi duu?" tanyanya pada Kenan.


"Memangnya kamu sabar kalau Papon mandi dulu?" Kenan balik bertanya.


"Janan deh, Baen mo matan sekaang." katanya pada Kenan.


"Makan duluan saja, Papon nanti belakangan." kata Kenan pada Balen.


"Janan don, matan sama-sama tita." katanya mulai negosiasi.


"Badan Papon lengket rasanya." kata Kenan menggoda Balen.


"Papon mah ditu." mulai merajuk, karena Papon susah diajak negosiasi.


"Baen tan mo matan sama-sama, Papon sih pulang tejana ama." lanjut mengomel.


"Aban aja udah puang duuan." masih saja mengomel.


"Mas... nanti hujan itu." Nona mengingatkan karena Kenan diam saja mendengarkan ocehan gadis kecilnya.


"Ya sudah ayo makan." kata Kenan akhirnya melihat Balen sudah hampir menangis.


"Talo teja janan puang maam don Papon." lanjut protes pada Papon.


"Pulang malam kan tidak tiap hari." Kenan menjelaskan pada Balen.


"Talo Mamon teja Papon nomel." katanya lagi.


"Kapan Mamon kerja?" tanya Kenan bingung.


"Itu watu Mamon tejanya beanja teus."kata Balen membuat semuanya tertawa.


"Kerjanya belanja terus ya?" Kenan terkekeh mengacak anak rambut Balen.


"Ya sudah ayo makan, jangan ngomel terus, nanti cepat tua loh." kata Nona pada Balen sambil menyendokkan nasi untuk singkong rebus yang mulai kelaparan.


"Yah." jawab Balen langsung ambil posisi duduk disebelah Abangnya seperti biasa.