I Love You Too

I Love You Too
Padat



"Aku ternyata sebelum ke Amerika, training camp dulu dua minggu di Indonesia, jadi kita tidak bertemu sekitar satu setengah bulan." lapor Nanta pada Dania via telepon.


"Berarti Mas Nanta waktu santainya tinggal dua minggu lagi dong?" tanya Dania.


"Iya, tidak santai juga sih, tapi lumayanlah. Dan... Sepertinya kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Dari club Basket sih Tidak masalah, tapi jadwalku betul-betul mepet, belum lagi harus berurusan dengan pihak kampus. Tidak harus buru-buru juga kan menikahnya?" kata Nanta sambil mengusap kepala Balen yang malam ini meminta tidur bersama Abang.


"Iya, nanti sajalah, buru-buru juga mau apa, setelah menikah tetap saja aku sendiri, Mas Nanta entah dimana berada. Aku sebenarnya kurang suka hubungan jarak jauh sih." jawab Dania tertawa.


"Waduh bisa jadi masalah nanti, karena yang aku terima informasi menurut jadwal setelah Pelatihan di Amerika kami akan bertanding di Uni Emirat Arab. Yang pasti tidak mungkin sehari dua hari disana." kata Nanta menjelaskan kondisinya.


"Nanti saja ya dibahasnya, Mas Nanta sedang apa, itu ada Balen ya?" tanya Dania mendengar suara Balen yang rusuh minta digaruki punggungnya oleh Nanta.


"Hehehe iya, lagi minta tidur sama aku." kata Nanta terkekeh.


"Mau video call sama Balen boleh?" tanya Dania.


"Sudah mengantuk Balennya, besok saja." kata Nanta melihat mata Balen yang sudah lima watt.


"Beum." jawab Balen membuka matanya.


"Apa sih belum-belum, sudah malam bobo saja ya." kata Nanta tidak mau bola mata Balen membesar lagi. Ia mencubit pipi Balen gemas.


"Mau tepon Aban." rengek Balen. Dania tertawa mendengarnya.


"Tuh kan, Balen saja mau." kata Dania tertawa.


Akhirnya Nanta mengikuti keinginan Dania dan Balen, mereka videocall bersama.


"Tania..." teriak Balen saat melihat wajah Dania, hilang sudah kantuknya.


"Balen belum bobo?" tanya Dania tertawa senang.


"Beum, tundu Aban bobo duwu." katanya terkekeh.


"Kok tunggu Abang?"


"Kalau Balen belum tidur juga, biasanya suka aku tinggal tidur." kata Nanta menceritakan kebiasaan Balen sambil tertawa.


"O begitu, Kenapa bobo sama Abang sih, kan ada Ncusss?" tanya Dania pada Balen.


"Ini tan tamal Baen juda, iya tan Aban?" Balen minta persetujuan Abangnya.


'Iya." jawab Nanta terkekeh. Balen suka sekali panorama dikamar Nanta.


"Sudah ya, Kak Dania sudah mengantuk tuh." kata Nanta lagi pada Balen.


"Tania, bobo dih, udah mawam nih." mulai bergaya ibu-ibu yang menyuruh anaknya tidur. Nanta terkekeh membekap adiknya gemas. Balen kembali terkekeh, bagaimana bisa mengantuk kalau sudah begini. Nanta kembali mengajaknya bercanda.


"Besok makan siang bersama Om Micko dan Tante Lulu kamu tahu?" tanya Nanta pada Dania kemudian, setelah Balen sibuk sendiri dengan buku mewarnainya.


"Iya, tadi Papa sudah telepon aku." jawab Dania.


"Mau berangkat sama aku?" Nanta menawarkan.


"Mas Nanta kuliah kan? aku besok libur." jawab Dania, ingat besok Nanta ada kuliah pagi.


"Aku jemput, kamu standby saja." Nanta memutuskan sepihak.


"Kita ketemu dilokasi saja, Mas. Aku mau bertemu orang travel dulu, kebetulan dekat dengan lokasi pertemuan kita." Dania menjelaskan.


"Kamu mau travel sendiri lagi? bukannya sudah dibilang itu bahaya untuk kamu." Nanta mengernyitkan dahinya.


"Yang ini aku sudah bayar lebih dulu dari tahun lalu, aku saja lupa kalau pihak travel tidak hubungi aku. ini jauh sebelum kita bertemu. Kalau tidak berangkat uangku hangus." kata Dania tersenyum manis. Nanta diam saja mendengarkan, ia khawatir kondisi Dania.


"Cuma ke Turki saja kok, sepuluh hari Sama rombongan travel itu sekitar lima belas orang." kata Dania tahu keresahan Nanta.


"Oh Ok." jawab Nanta malas berdebat, biar saja, Dania pasti lebih tahu kondisi badannya sendiri. Lagi pula belum hak Nanta melarang Dania kemanapun dia mau.


"Dan... sudah dulu ya, Balen haus." Nanta menutup sambungan teleponnya bersama Dania.


"Mau minum apa? Susu?" tanya Nanta pada adiknya.


"Ai puti." jawab Balen, Nanta menyerahkan tempat minum pinguin Balen yang berisi air putih. Hanya diminum sedikit, lalu kembali diserahkan pada Nanta botolnya.


"Bobo yuk, Abang ngantuk." ajak Nanta merayu Balen supaya mau tidur cepat.


"Baen beum." jawabnya merebahkan badan disebelah Nanta kemudian memeluk Abangnya tersayang, ia mengusap-usap wajah Nanta, meniru apa yang pernah Nanta lakukan padanya, Nanta tertawa malah Balen yang berniat menidurkannya, gemas sekali melihat gayanya yang sok tua.


Nanta pura-pura tidur pulas, sesekali membuka sedikit matanya mengintip Balen, terlihat Balen sendiri sudah mengantuk, tapi konsen sekali ingin membuat Abangnya terlelap.


"Sekep ya." kata Nanta tak tahan melihat kelakuan Balen tapi dengan mata tetap terpejam.


"Mimpi ladi." oceh Balen terkikik melihat Abangnya. Langsung saja Nanta sodorkan susu kemulutnya, supaya Balen ikut tertidur juga. Benar saja tidak sampai sepuluh menit Balen tertidur pulas.


"Sudah tidur Balen?" pesan masuk ke handphone Nanta dari Kenan.


"Sudah baru saja." jawab Nanta.


"Ya sudah Papa kesana, pindahkan Balen."


"Biarkan saja disini, Pa."


"Jangan, nanti dia bingung kalau kamu sudah menikah."


"Masih lama menikahnya, Pa. Biar saja Balen tidur sama aku.


Tidak lama Kenan muncul di kamar Nanta. Hanya ingin ngobrol sebelum tidur katanya tadi.


"Jadi bagaimana, menikahnya tidak jadi sebelum ke Amerika?" tanya Kenan pada Nanta.


"Padat sekali ini, dua minggu lagi aku sudah Training Camp Indonesia, selanjutnya langsung ke Amerika. Baru lagi dapat kabar dari group, setelah dari Amerika kami akan bertanding di Uni Emirat Arab, mungkin hanya berapa minggu saja di Indonesia."


"Lalu?"


"Kalau aku paksakan menikah dalam waktu dekat, Dania akan kutinggal terus, Pa. Menjelang Asia Cup tahun depan kami akan bertanding terus entah ke negara mana lagi." Kenan menganggukkan kepalanya mengerti apa yang ada dalam pikiran Nanta.


"Yang membuat kamu nyaman saja, jangan sampai membebani pikiranmu." kata Kenan kemudian.


"Yang aku pikirkan, jika dipaksakan menikah, aku akan meninggalkan Istriku, titip sama Papa dan Mamon? sama saja aku melempar tanggung jawab kalau begitu ya." Kenan terkekeh mendengarnya.


"Lagi pula aku belum dapat restu dari Tante Maya. Itu yang paling Utama, restu Ibu." kata Nanta pada Papanya.


"Iya, kalau Ibunya tidak setuju jangan dipaksakan."


"Aku juga khawatir apa Tante Maya setuju kalau aku bilang tinggal dirumah Papa sementara."


"Kamu belum bilang? coba saja katakan apa adanya."


"Iya aku belum telepon lagi."


"Aku tidak mau bohong-bohong. Tante Maya kenal Papa tidak?"


"Tidak, Papa selalu di Malang, jadi tidak pernah bertemu. Kalau sama Ayah Eja harusnya kenal kalau sering ikut Om Micko acara kantor." Kenan menjelaskan


"Melamar Virtualnya tunggu aku dapat restu saja ya." kata Nanta pada Kenan.


"Atur saja, Boy."


"Lagi pula aku belum tanya, Tante Maya bakal ke Indonesia apa tidak saat Dania menikah nanti."


"Menurut Om Micko tidak, tapi tidak ada salahnya kamu tanya lebih detail." jawab Kenan. Cukup lama mereka bicara sampai akhirnya Nanta ketiduran.


Kenan pun beranjak segera keluar kamar, sebelumnya ia melihat dua kakak beradik itu tertidur dengan gaya tidak beraturan, terlebih Balen yang kakinya sudah berada di dada Nanta sementara si Abang tangannya di kepala Balen seperti sedang memegang bola basket. Kenan terkekeh langsung saja membenarkan posisi Balen dan juga Nanta.