I Love You Too

I Love You Too
Ga Jelas



Reza mendengus kesal, dari pagi Ranti terus saja menelepon, sekarang handphone Reza berdering lagi. dilayar telepon muncul lagi nama Ranti, Kiki saja sampai detik ini belum pernah sesering ini menghubunginya.


"Ya mbak Ranti."


"Ganggu ga mas?"


"Saya lagi dimobil kenapa mbak?"


"Nanti aja deh kalau mas Reza santai."


"Oo sekarang aja ga papa, nanti saya malah sibuk. Ada apa ya?"


"Sorean aja mas aku telepon lagi, ga enak mas Reza lagi nyetir. Maaf menggangu." Reza menutup teleponnya. Ga jelas nih Ranti, mau bicara apa, pakai nunggu kalau lagi santai. Kalau urusan pekerjaan ya langsung bahas aja kan, pikir Reza.


Reza sudah duduk manis dimobil yang terparkir didepan rumah, menunggu mama yang masih bersiap didalam, Reza membaca pesan yang masuk di handphonenya. Ada mention dari monik, tumben. Reza segera membuka kiriman Monik. Tampak foto Kiki dengan rambut seperti daun dihinggapi embun. Tetesan air hujan sepertinya. Kemana payung yang katanya dimobil.


"Kamu ga bawa payung dek?"


Pesan Reza terkirim. Tapi tidak dibaca, mungkin sedang belajar, karena sudah jam sembilan. Berarti kelas sudah dimulai. Drrttt...drrrt... pemberitahuan pesan masuk. Eh kok Kiki sudah main handphone jam segini. Sedikit heran, Reza melihat pesan masuk.


"Mas Reza kalau hari ini ga sibuk, aku kekantor ya." pesan dari Ranti rupanya, dikira Kiki.


"Kekantor aja mbak, mau antar gambar terbaru ya?"


Reza membalas pesan dan segera mengirimnya. Hari ini rencana Reza tak kekantor, karena mau antar Kiki perawatan, setelah itu mau mencari cincin untuk acara pernikahan nanti. Masa iya, saat melamar sabtu kemarin bergaya koboi, main tembak langsung, tanpa membawa perhiasan. Reza seperti punya hutang. Lamaran macam apa itu.


Tak perlu seperti di drama pada umumnya dengan lilin sepanjang jalan ataupun habis gelap terbitlah lampu kelap kelip dan kembang api. Paling tidak ada sesuatu yang Reza berikan pada Kiki selain mas kawin seperangkat alat sholat yang dibayar tunai itu.


"Sampai ketemu ya mas Reza." Ranti membalas pesan Reza. Tak lagi dibalas karena menurut Reza tak perlu. Lagi pula sepertinya ia tak sempat menemui Ranti hari ini.


"Nanti Ranti kekantor, kalian handel ya, gue belum tau bisa kesana ga."


Reza mengirim pesan di groupnya.


"Eh dia mau ketemu mas Reza bukan kita." *Andi.


"ish kan sama aja, paling mau antar gambar." *Reza


"Ok. Lu mau kemana?" *Mario


"Ok." * Erwin


"Mau antar Kiki sama nyokap, persiapan jumat." *Reza


"Good luck friend." *Mario


"Semoga lancar sampai hari H." *Andi


"Doakan gue segera menyusul." *Erwin


"Aamiin." *Reza


Reza mulai tak betah, mama lama sekali, sudah jam sembilan lewat lima belas menit. Baru saja mau ditelepon mama sudah muncul dari balik pintu diantar Bi Par yang membawakan tas dan bawaan mama lainnya.


"Mama bawa apa, banyak sekali tentengannya." Reza melajukan kendaraannya setelah melambaikan tangan berpamitan pada Bi Par.


"Nanti habis dari salon, mama mau tukar sepatu, papa ga suka modelnya."


"Sekalian aku cari cincin buat Kiki deh ma."


"Ish sudah mama beli kemarin itu." Ups lagi-lagi diambil alih mama.


"mas kawin ma?"


"Iya sudah beres, kamu sih duduk dicafe aja."


"Makasih ya ma, serepot itu mama urusin aku sama Kenan." Reza mulai terharu.


"Selagi mama kuat sayang, nanti ada masanya kalian yang urus mama sama papa." Nina mengusap punggung anaknya. Sebesar apapun tetap saja diperlakukan seperti balita. Kasih sayang mama memang sepanjang masa. Duh Reza tambah terharu, mau memeluk mama tapi lagi nyetir.


Tak lama mereka tiba diparkiran kampus, Kiki belum muncul, padahal sudah jam sepuluh. Hari sudah mulai cerah, tak hujan lagi.


"Masih dikelas kayanya ma."


"Tuh Kiki sama Monik ya." Nina menunjuk tiga orang gadis yang sedang berkejaran sambil main piting-pitingan. Seperti belatung nangka kalau sudah bertiga ga bisa diam. Nina dan Reza tertawa melihatnya.


"Artis kaya gitu ya, sama aja kaya bocah lainnya." kata Nina mengomentari Monik.


"Hahaha iya ya, mama bayangin kalau artis tuh ya jaga image."


"Susah kalau sama teman jaga image ma, aslinya pasti keluar."


Kiki, Monik dan Intan semakin mendekati Mobil Reza. Intan mengetuk kaca pintu bagian penumpang depan. Nina segera membuka jendelanya.


"Ma ini teman aku Monik sama Intan."


"Siang tante, sibuk ya tante urusin calon manten" Kata Monik dengan suara sengaunya.


"Biasalah mesti dikawal sampai ijab kabul."


"Emang kalau ga dikawal bisa kabur tante hahaha." Intan menggoda sang calon pengantin.


"Hahaha kalian bisa aja." Nina ikut tertawa. Reza cuma cengar cengir saja.


"Kalian datang ya, ga pakai undangan, ini gaya koboi nikahnya. Yang penting sah dulu. Selanjutnya nanti terserah mereka mau resepsi atau gimana." Kata Nina lagi.


"Ada dresscode ga tante." tanya Monik.


"Waduh iya tante kelupaan tuh kasih tau undangan. Bagusnya pakai dress code ya, difoto jadi cakep. Putih aja lah ya."


"Ok tante nanti kita pakai putih." sahut Intan. Duh Ki enak bener sih dapat calon suami sama calon mertua kaya gini, batin Intan.


"Ya udah tante sampai ketemu jumat ya, semoga lancar acaranya." kata Monik sekalian pamit. Setelah Intan dan Monik berlalu, Kiki pun masuk kemobil. Reza segera menyentuh rambut Kiki memeriksa basah apa tidak. Takut Kiki masuk angin.


"Kenapa kak?." tanya Kiki heran.


"Lupa bawa payung kan jadi kehujanan tadi."


"kak eja tau?"


"Basah ga bajunya, bisa masuk angin kalau kering dibadan ."


"Ga kak, ini baju bahannya keren, aku baru tau kalau bahannya kena air ga nyerap, nempel aja dibaju, aku lap tissue langsung hilang airnya." Kiki menjelaskan bangga.


"Kamu beli dimana?"


"Hehehe endors, nanti Kak Eja lihat ya medsosnya. Mau tau ada model apa lagi." Kiki tampak semangat.


Reza mulai melajukan kendaraannya. Menuju house of charming klinik kecantikan langganan mama. Reza sudah biasa mengantar atau menjemput Nina disana, tapi biasanya hanya menunggu dimobil.


Drrttt...drrrttt Handphone Reza berbunyi.


"Coba lihat dek, dari siapa." Reza menyerahkan handphonenya pada Kiki. Sementara mama sedang sibuk menelepon sanak saudaranya mengundang agar hadir pada acara pernikahan Reza nanti.


"Ranti kak. Siapa?" tanya Kiki ingin tau, nama yang baru ia kenal.


"Proyek Manager yang di cabang selatan."


"Angkat nih kak."


"Ga usah, aku lagi nyetir ga bawa handsfree."


"Aku ada handsfree, mau?"


"Ga, kamu ajalah yang angkat, tanya mau apa."


"loudspeaker aja ya." Kiki segera menggeser tombol hijau dan menekan tombol loudspeaker.


"Halo mas Reza, aku udah mau sampai."


"Oh iya mbak Ranti, Saya masih diluar, tapi ada Andi sama Mario dikantor, jelasin ke mereka aja gambarnya."


"Saya belum bawa gambar mas."


"Loh terus kekantor mau ngapain? Saya kira gambarnya sudah selesai."


"Mau ngobrol ngobrol dulu sama mas Reza."


"Ngobrol sama mas Erwin aja mbak Ranti, dia ada diruangan, kalau mas Erwin setuju saya setuju." Reza mengambil handphone ditangan Kiki dan menggeser tombol merah.


"Ga jelas." gumamnya nyaris tak terdengar.