I Love You Too

I Love You Too
Cerewet



"Aku lupa turunin laptop lagi dari Mobil, lihat tutorialnya dari handphone saja ya." kata Nanta pada Dania.


"Iya." jawab Dania canggung, sementara Nanta membuka emailnya via handphone. Sebenarnya tadi Dania bukan kehabisan baju tidur, ini salah satu saran dari Roma dan teman-temannya, agar malam ini Dania tidur menggunakan baju suaminya. Kalau Nanta tahu bisa malu sekali, pikir Dania.


"Sini." Nanta menepuk pahanya, agar Dania duduk dipangkuannya. Dania segera mendekati Nanta dan mengikuti perintah suaminya. Duh rasanya kok begini, jantung keduanya berdebar kencang, Nanta lebih-lebih jadi gemetar tidak konsen memegang handphonenya.


"Kamu saja yang pegang." Nanta menyerahkan handphonenya pada Dania yang sedikit lebih tenang, mereka mulai melihat film yang Raymond kirimkan, dasar Bang Ray, ini sih film porno, maki Nanta dalam hati. Nanta kira tutorial itu berbentuk tulisan yang mereka baca bersama berikut gambar-gambar yang dibutuhkan, bedalah sama bayangan Nanta. Nanta memeluk pinggang Dania, mengabaikan film yang tayang di handphonenya.


"Wangi." kata Nanta menciumi bahu istrinya, lebih fokus pada lekuk tubuh istrinya yang menyeplak di kaos dari pada film yang Raymond kirim.


"Aku pakai sabun Mas Nanta, aku suka." kata Dania terkekeh, memandangi suaminya, ia juga malu melihat film yang Raymond kirim, jadi lebih baik ajak Nanta bicara.


"Sewangi ini aku ya?" tanya Nanta pada istrinya. Dania menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mata keduanya beradu pandang, mereka tidak fokus lagi pada film yang Raymond kirim, Dania duduk dipangkuan Nanta dengan baju kaos tanpa bawahan saja sudah membuat Nanta bergairah.


"Cium dong kalau suka wangi aku." kata Nanta dengan suara serak sambil membenarkan posisi duduk Dania, diangkatnya tubuh ringan istrinya, keduanya berhadapan kini dengan Dania masih di pangkuan Nanta. Nanta menunjuk bibirnya agar Dania menciumnya. Diambilnya handphone ditangan Dania, sepertinya mereka tidak perlu menonton film yang Raymond kirim sampai selesai, Nanta mematikan handphonenya dan meletakkannya diatas meja, tak sengaja gerakan Nanta membuat tubuh keduanya beradu, makin panas saja Nanta.


Dania mengikuti dan mengecup bibir suaminya, Nanta ingat kata Bang Atan, bibir jangan hanya menempel, ciuman harus lebih dalam seperti menghisap permen. Nanta terbengong apa harus mengikuti apa yang Arkana ajarkan, gigit agar terbuka kalau bibirnya merapat, ah yang benar saja bibir Dania masih tertutup rapat, kalau digigit kasihan, duh pikiran Nanta bercabang, apalagi tadi ya? Nanta mengingat-ingat. Kata Bang Romi tangan harus bergerilya, keseluruh tubuh terutama daerah sensitif, marah tidak ya Dania kalau digrepe-*****, pikir Nanta khawatir Dania marah.


"Mas Nanta pikirin apa?" tanya Dania setelah melepaskan kecupannya. Nanta terkekeh tidak menjawab pertanyaan Dania, ia malah merapatkan tubuh Dania kebadannya lalu mulai ******* bibir istrinya, Dania yang ternganga karena badannya ditarik membuat posisi ciuman Nanta menjadi lebih mudah.


"Dania maaf, jangan marah." kata Nanta sopan begitu melepaskan ciumannya sesaat, kemudian melanjutkan lagi, tangannya mulai bergerilya seperti saran Romi, sudah minta maaf masa iya Dania marah, pikirnya. Eh Nanta terkejut ketika tangan Dania ikut bermain, bukannya marah malah ikut aktif, langsung saja Nanta bangun sambil menggendong istrinya, menidurkan Dania dan kemudian terjadilah apa yang kalian tunggu-tunggu.


Malam pertama yang terjadi di malam kedua setelah pernikahan membuat keduanya kelelahan, bukan hanya fisik tapi juga otak, bagaimana tidak sambil beraktifitas mereka terus berpikir apa lagi yang harus dilakukan, sampai akhirnya sekarang keduanya terkulai diranjang dengan baju dan celana yang berserakan, tidak peduli tadi teriakan Dania seberisik apa, mengikuti saran Romi, Nanta menutup mulut istrinya dengan bantal, ia tidak tahu dikamar ini kedap suara apa tidak.


"Nyalakan alarm ya." ijin Nanta pada Dania, sepertinya ia butuh alarm, karena mereka tidur lebih malam dari kemarin, khawatir tidak terbangun sholat shubuh nanti.


"Hu uh." jawab Dania dengan mata masih berair, tadi ia menangis begitu keperawanannya menghilang. Walaupun halal, entah kenapa tetap menangis, Nanta sempat panik tadi, tapi bagaimana memang sudah terjadi dan akan terjadi.


"Maaf ya." kata Nanta setelah menyalakan alarm dan mengecup dahi istrinya, ia kembali memakai bajunya dan menyerahkan kaosnya pada Dania yang saat ini hanya tertutup selimut. Nanta merebahkan badannya disebelah Dania, ia mau tidur dulu, nanti saja membersihkan diri ketika mandi. Dania yang sudah memakai kaosnya kembali merebahkan badannya disebelah Nanta, matanya masih sedikit basah.


"Sakit?" tanya Nanta, pikirnya Dania menangis kesakitan, itu juga salah satunya. Tapi yang Dania pikirkan sekarang ia sudah tidak perawan lagi, bagaimana kalau Mas Nanta terpikat wanita lain saat di Amerika nanti.


Nanta memeluk Dania, yang tidak menjawab pertanyaannya, besok saja dibahas lagi, Nanta mengantuk dan juga pikirkan aktifitas besok. Manajemen waktu sangat dibutuhkan saat ini.


"Mas Nanta jangan tinggalin aku." kata Dania kemudian ketika Nanta mulai memejamkan matanya.


"Hmm, aku harus ke Amerika. Bagaimana?" Nanta jadi bingung.


"Bukan itu, aku sudah tidak perawan, jangan tergoda perempuan lain di Amerika atau dimanapun nanti." kata Dania menyampaikan kekhawatirannya.


"Tadi nangis gara-gara itu?" tanya Nanta, Dania mengangguk kembali menangis.


"Jangan menangis nanti Om Micko kira aku siksa kamu." Nanta mengajak istrinya bercanda. Dania ikut terkekeh disela tangisnya.


"Tadi tersiksa ya?" tanya Nanta lagi menggoda Dania, duh sepertinya tidak bisa tidur cepat, istrinya butuh dihibur.


"Mas Nanta..." Dania tersenyum malu sambil menyembunyikan wajahnya didada Nanta.


"Bobo ya, takut kesiangan." Nanta kembali mengecup dahi Dania.


"Iya, tapi janji jangan tinggalin aku." jawab Dania menurut, memeluk erat tubuh suaminya, minta kepastian.


"Siapa yang mau tinggalin kamu sih, my first love." bisik Nanta terkekeh membuat Dania terpana.


"Tidak percaya, kamu tuh cinta pertama aku?" tanya Nanta pada istrinya.


"Mas Nanta cinta aku?" tanya Dania memastikan.


"I Love you to the moon and back again." bisik Nanta.


"Gombal."


"Memang." jawab Nanta menggoda istrinya.


"Tuh kan..." Dania melepaskan pelukannya, tapi ditarik lagi oleh Nanta.


"Mau kemana enak saja." omel Nanta merapatkan tubuhnya pada Dania.


"Duh mau lagi." kata Nanta polos ketika merasakan sesuatu pada tubuhnya.


"Hah?"


"Hah..hah..hah... ayo tanggung jawab." omel Nanta karena Dania membuat ulah


"Besok kesiangan loh." Dania mengingatkan.


"Kamu sih cerewet." kata Nanta mulai kembali beraktifitas, bagaimana ini kok jadi candu, Nanta jadi bingung, tapi tetap melakukannya. Sekarang tidak pakai berpikir, jalankan saja ritual yang ada dengan santai, Dania juga pasrah menerima perlakuan Nanta.


"Masih sakit." bisiknya agar Nanta hati-hati.


"Katanya yang kedua sudah tidak sakit." kata Nanta lagi dan mereka kembali melakukannya.