I Love You Too

I Love You Too
Mission Impossible



"Assalamualaikum..." Rombongan Opa dan Oma pulang dari Mal. Mereka tidak berlama-lama disana, Nona dan Dania datang ke Mal hanya makan bersama, langsung pulang karena Kenan meminta mereka cepat pulang.


"Waalaikumusalaam..." jawab semuanya hampir bersamaan.


"Papon nih." sungut Balen saat melihat wajah Kenan, ia rusuh sepanjang jalan karena tidak mau pulang.


"Kenalan dulu itu sama Kakek dan Nenek." tunjuk Kenan pada tamunya. Meskipun kesal Balen menurut, menyalami Kakek dan Nenek juga Micko lalu kembali pada Kenan, mau melanjutkan protesnya. Tapi melihat situasi semua saling bersalaman konsentrasi Balen tersita, terlebih saat melihat Kakek memeluk Dania lama, lebih lama lagi Nenek yang memeluk Dania sambil menangis, Dania masih bingung karena belum tahu siapa yang sedang memeluknya.


"Nenekna nanis, Papon." bisik Balen pada Kenan.


"Iya, rindu sama Kakak Dania." jawab Kenan ikut berbisik.


"Dania, ini orang tua Mama kamu, Nak." kata Micko pada Dania.


"Oh Kakek dan Nenek ya. Kok bisa disini?" tanya Dania bingung.


"Tadi dijemput Nanta dan Raymond." jawab Kakek tersenyum, Dania duduk didekat mereka.


"Ih Mas Nanta tidak bilang mau jemput Kakek dan Nenek, aku tidak diajak." Dania bersungut pada suaminya.


"Situasi tidak memungkinkan, Kakek dan Nenekmu dalam ancaman Peter." Micko menjelaskan.


"Peter lagi, Peter lagi." Dania tersenyum pada Kakek dan Neneknya.


"Jadi Kakek dan Nenek disini terus atau dirumah Papa?" tanya Dania pada Papanya.


"Di Malang, belum pasti dirumah mana. Dirumah Opa atau mungkin di rumah Papa yang di Malang." jawab Kenan mewakili Micko.


"Dirumah Opa atau Papa sama enaknya." jawab Dania yang pernah kesana.


"Bukan masalah enak, kita cari yang aman. Sekarang kita pikirkan lebih aman dimana, rumah Papa atau rumah saya." kata Kenan pada Papanya.


"Kalau rumah Papa bisa tinggal di paviliun, in syaa Allah aman, tapi masalahnya kita tidak satu atap, agak sulit mengawasi." Papa menjelaskan.


"Berarti dirumah Om Kenan saja, ada keluarga Bi Wasti yang akan menjaga dan mengawasi Kakek dan Nenek. Kita semua satu komplek di Malang, aku dekat rumah Om Kenan, kalau dirumahku siang hanya ada Roma saja dan anak Bi Wasti yang bantu bersih-bersih, kalau dirumah Om Kenan lumayan ramai, lebih aman lah Kakek dan Nenek ada yang jaga." kata Raymond pada Kakek dan Nenek.


"Kami dimana saja, yang penting tidak merepotkan." kata Kakek.


"Tidak ada yang repot sih, hanya kalau mau bebas bergerak dirumah Kenan, kalau dirumah saya takut Ibu sama Bapak sungkan. Di rumah Kenan kan hanya ada pekerja, sekali waktu saya akan main kesana." kata Oma pada Kakek dan Nenek.


"Karena dalam masa bersembunyi, sebaiknya Ibu dan Bapak tidak berkeliaran diluar rumah ya." pinta Micko pada mantan mertuanya.


"Memang kami tidak keluar rumah sih, tapi kan saya harus sholat di Mesjid." Kakek langsung resah.


"Tidak apa lah Om, ke Mesjid in syaa Allah aman." kata Raymond.


"Bagaimana ya, agak riskan sih." Micko khawatir.


"Nanti kita pikirkan cara menuju mesjid." kata Opa menengahi.


"Jadi menurut Pak Dwi kapan sebaiknya Kakek dan Nenek ke Malang?" tanya Micko.


"Berangkatkan secepat mungkin Micko, jangan bersama kami, mereka saja duluan, supaya kami tetap bisa melepas Nanta dan Peter juga terkecoh, tidak akan pernah terpikir kalau Bapak dan Ibu ada bersama kita." kata Opa, Raymond langsung saja bangga, Opa selalu saja memberikan ide brilliant yang tidak terpikir oleh yang lain.


"Ya sudah saya siapkan sekarang juga, Maaf Bapak Ibu sedikit capek ya, belum istirahat sudah berangkat lagi. Nanti di Malang sudah ada yang jemput, tenang saja." kata Micko meminjam handphone Raymond dan mulai berkoordinasi dengan yang lain.


"Ando staff saya yang akan antar Bapak dan Ibu sampai ke Malang, jadi tetap ada yang dampingi." kata Micko menjelaskan.


"Ando juga teman kecil aku." Dania tidak mau kalah. Nenek mengusap pelan rambut Dania.


"Nenek seperti kamu loh tidak suka bersosialisasi." kata Nanta pada Dania.


"Oh jadi aku begini karena Nenek, bukan karena penyakitku." Dania terkekeh.


"Kamu tidak sakit." kata Nenek tersenyum.


"Aku harus diterapi, karena gangguan kecemasan. Tapi kata dokter tadi tidak terlalu parah." Dania menjelaskan. Nenek menganggukkan kepalanya.


"Bapak Ibu setengah jam lagi staff saya datang, jadi langsung berangkat ya, mumpung masih siang, Malang belum berkabut." kata Micko.


"Maaf loh bukan mengusir dan bukan tidak mau berangkat sama-sama. Nanti kita bertemu di Malang ya, lanjut ngobrolnya disana." kata Opa pada Kakek dan Nenek.


"Hahaha saya tidak merasa diusir, malah merasa dilindungi. Alhamdulillah bertemu orang baik, entahlah harus disayangkan atau disyukuri Maya harus terpisah dari Nak Micko." kata Kakek memandangi Opa dan Micko bergantian.


"Disyukuri dong Pak, kan sudah bahagia dengan kondisi sekarang, kemarin itu hanya proses menuju bahagia." kata micko terkekeh.


"Iya benar harus selalu bersyukur ya." Kakek terkekeh.


Tidak lama Ando datang sesuai arahan Micko, tidak bisa banyak ngobrol dengan Nanta padahal Ando ingin sekali bercengkrama dengan sahabatnya itu, tapi sedang mendapat tugas.


"Sebelum lu ke asrama kita kumpul ya, sama Wilma juga." kata Ando pada Nanta dan Dania.


"Oke." jawab Nanta merangkul sahabatnya.


"Titip Kakek dan Nenek aku, Kakak Ando." kata Dania pada Ando.


"Siap." jawab Ando mengacungkan jempolnya. Ando tidak naik mobilnya yang ada di parkiran depan rumah Kenan tapi naik mobil Kenan yang ada di garasi bersama Pak Atang.


"Pulangnya pesawat malam lewat Surabaya ya Ndo." kata Micko pada Ando.


"Iya Pak." jawab Ando pada Micko yang dulunya ia panggil Om.


"Pak?" Nanta terkekeh.


"Mesti gue biasakan, lupa terus kalau lagi sama klien." jawab Ando membuat semua tertawa, sementara Kakek dan Nenek sudah didalam Mobil.


"Doakan kami." kata Ando mulai masuk ke Mobil.


"Semoga selalu dalam lindungan Allah." Oma mendoakan yang lain bilang Aamiin bersamaan.


Semua kembali Ke ruang keluarga, Mobil berangkat hanya pekerja yang sibuk menutup garasi dan menutup pagar rumah. Berjaga-jaga supaya tidak mencurigakan jadi bersikap seperti biasa.


Sementara Peter baru menyuruh anak buahnya untuk memantau rumah orang tua Maya di Sukabumi, berjaga-jaga ketika Maya membangkang maka diancam melalui orang tuanya.


Ia tidak menduga jika Nanta dan Micko bergerak cepat membantu Maya, pikir Peter, Maya tidak akan berani bercerita pada Menantunya, seperti selama ini selalu Maya tanggung sendiri. Lebih tidak menduga jika Micko mau membantu Maya menyelamatkan orang tua Maya, yang Maya sendiri tidak tahu jika Nanta melibatkan Micko.


"Kabari gue kalau sudah sampai di Sukabumi, foto rumahnya, kalau perlu temui orang tuanya dan kalian foto bersama, biar gue Kirim tuh foto sama Maya." Perintah Peter ketika orang suruhannya akan berangkat ke Sukabumi.


"Siap Bos." jawab si anak buah. Langsung jalan mengikuti perintah bosnya, melakukan pekerjaan yang sia-sia karena Kakek dan Nenek sudah dalam perjalanan ke Malang bersama Ando.


Akhirnya Ando merasakan naik helikopter juga. Seperti di film Mission Impossible, Ando senyum-senyum sambil ketar-ketir. Selama dalam perjalanan terus saja berdoa mohon keselamatan, takut juga dia naik helikopter, tapi tugas dari Bos mana mungkin ditolak