I Love You Too

I Love You Too
Tante Gadis



Sore hari sepulang dari kantor, Nona ke rumah Tante Gadis adik Mama, ibunya Wawan. Nona tidak sendiri, ia bersama Deni.


Sepanjang perjalanan Nona sibuk mencari kalimat yang tepat agar Tante Gadis tidak bicara pedas. Yang membuat Nona malas bertemu Tante, ya itu semua hal dijadikan masalah.


"Malas sekali menghadapi Tante Gadis." keluh Nona pada Deni.


"Dengarkan saja jangan dijawab, Tante setuju atau tidak tetap saja kamu hanya butuh walimu yang merestui." kata Deni pada Nona. Samuel sengaja tidak di ajak, Tante Gadis tidak pernah suka padanya. Mungkin yang Tante Gadis suka hanya dirinya sendiri.


Tak lama mereka sudah sampai di perumahan elite dan parkir di depan sebuah rumah mewah, rumah Tante Gadis? bukan. Rumah Tante Gadis di seberangnya. Tapi Deni lebih suka parkir didepan rumah itu, karena disana ada gadis cantik incaran Deni dan Wawan. Lumayan kalau kebetulan bertemu bisa bertukar senyum dan saling melambaikan tangan.


"Masih saja mengingat Jessica." tanya Nona saat akan turun Mobil.


"Masih, belum menikah kan?" tanya Deni pada Nona.


"Mana gue tahu. Ngobrol saja tidak pernah."


"Cobalah akrab dengan Jessica demi abangmu ini."


Harapan Deni terkabul, Jessica turun dari Mobil dan membuka pagar.


"Jessica apa kabar?" sapa Nona sok akrab.


"Hai baik. Nona ya?" tanya Jessica memastikan, sudah lama sekali tidak bertemu Nona. Dulu waktu kecil pernah bermain bersama saat Nona menginap di sini.


"Kukira kamu lupa." kata Nona senang.


"Mana mungkin lupa. Teman kecilku hanya kamu. Kapan main lagi?" tanya Jessica yang ternyata menyambut Nona hangat.


"Minta nomor telepon kamu Jes, Nanti aku hubungi." kata Nona mengulurkan handphonenya pada Jessica. Sementara Deni hanya diam mematung, memandangi keindahan didepan matanya. Setelah bertukar nomor telepon, mereka berjanji akan saling menghubungi.


"Ini abangku Deni." Nona mengenalkan Deni pada Jessica.


"Oh iya aku baru ingat kamu punya kakak cowok selain Wawan ya." Ia menghampiri Deni dan menyalaminya.


"Aku masuk dulu, jangan lupa telepon ya." kata Jessica sebelum memasuki mobilnya. Nona mengacungkan jempolnya. Ia segera menarik Deni yang nyata-nyata terlihat begitu menyukai Jessica.


"Lap dulu tuh iler." kata Nona konyol pada Deni.


"Sialan, tidak sampai begitu juga." Deni menoyor kepala adiknya. Mereka tertawa bersama.


Cukup lama baru bisa masuk rumah Tante Gadis, penjaga rumah yang baru tidak mengenal Nona dan Deni. Sementara Tante Gadis masih mandi, mau tidak mau Deni dan Nona menunggu didalam Mobil, Handphone penghuni rumah satupun tidak bisa dihubungi. Kalau tahu serepot ini Nona akan menghubungi Wawan atau Tante Gadis terlebih dahulu saat masih dikantor tadi. Setelah Tante Gadis selesai mandi baru mereka dipersilahkan masuk.


"Tumben kesini." tanya Tante Gadis tanpa berbasa-basi.


"Aku mau menikah." kata Nona langsung pada intinya.


"Sama Duda itu?" suara Tante Gadis ketus.


"Tante tahu?"


"Wawan cerita, apa sudah dipikir secara matang? kamu yakin mau menikah dengan Om Om?"


"Yakin." jawab Nona pasti.


"Jangan silau harta, Non. Kamu juga bukan orang kekurangan. Apa tidak ada lagi cowok lain yang mau sama kamu, sampai kamu memilih dia?"


"Aku tidak silau harta Tante."


"Apa yang kamu lihat dari dia? Tante kalau jadi kamu akan berpikir seribu kali. Anaknya berapa?"


"Satu laki-laki."


"Enam belas tahun."


"Bisa kamu hidup dengan anak sambung? laki-laki lagi. Kalau dia benci sama kamu karena menikah sama Bapaknya bagaimana? belum lagi hubungan dengan mantan istrinya. Coba kamu pikir dulu. Tante kok ya sedih kamu menikah dengan Duda, usia kalian beda jauh lagi. Nona, Nona... Dari dulu kok yo bikin ulah terus."


Nona menarik nafas panjang, ketika Deni menyolek pinggangnya agar tidak mendebat Tante Gadis. Dasar Nona mana mau dia mengalah.


"Untuk itu Tante tidak usah khawatir. Hubungan aku dengan anak dan mantan istri Mas Kenan sangat baik."


"Itu diawal saja, nanti kalau sudah menjalankan beda lagi. Papamu itu pikirannya kemana ya. Jangan mentang-mentang punya istri baru, mau lepas tanggung jawab, main kasih saja anak menikah dengan Duda. Kalau mama kamu masih hidup, pasti sependapat dengan Tante "


"Kamu sudah cari tahu kenapa dia pisah dengan mantan istrinya? kalau karena perempuan lain, yo habis kamu nanti makan hati, Non."


"Mas Kenan tidak seperti itu Tante. Hubungannya dengan mantan istrinya yang sangat baik buat Nona tidak perlu mencari tahu kenapa mereka berpisah. Nona percaya Mas Kenan orang baik Dan akan menjadi suami yang baik untuk Nona."


"Kamu itu lagi buta karena cinta. Kamu juga Den, kenapa diam saja. Malah ikut-ikutan Papamu melepas Nona dengan Duda. Mana ada keluarga kita yang menikah dengan Duda. Baru kamu saja, Non. Duh cucu kebanggaan Oma dan Opa malah bikin malu keluarga."


"Tante, Nona harap Tante Mau datang saat Nona menikah nanti. Mohon maaf karena Nona sudah membuat malu keluarga Mama. Tapi akan Nona buktikan setelah menikah nanti kalau Nona bahagia dan suami Nona bisa jadi kebanggaan keluarga kita." jawab Nona sedikit tercekat. Berani sekali menjanjikan itu pada Tante Gadis.


"Apa tidak bisa dibatalkan? lebih baik kamu menikah sama Wawan, Non. Masih belum terlambat."


"Tidak bisa Tante, semua sudah siap. Hubungan Papa dengan keluarga Mas Kenan juga sangat baik. Nona tidak bisa merusak itu."


"Kamu memang suka atau karena dipaksa Papamu?"


"Aku suka Tante, Papa tidak pernah memaksa."


"Kamu tidak suka sama Wawan?"


"Mas Wawan Abang aku Tante. Aku tidak pernah berpikir lebih, Mas Wawan juga begitu. Biarkan kami tetap jadi saudara. Nona mohon Tante restui Nona dengan Mas Kenan.


"Kenan siapa sih?"


"Kenan Suryaputra Tante." jawab Deni mulai ikut bersuara.


"Mas Wawan juga lagi kerja sama dengan Mas Kenan." jawab Nona agar Tante Gadis lebih yakin.


"Yang punya shipping company itu ya. Ganteng sih orangnya, Wawan kalah ganteng ya padahal dia sudah tua." Tante Gadis tersenyum tipis.


"Tante tahu?"


"Pernah bertemu beberapa kali saat acara perusahaan."


"Tante merestui?"


"Ya mau bagaimana lagi, hati kecil Tante menolak, tapi kamu yakin sekali dengan pilihan Papamu."


"Pilihan aku juga Tante, Papa tidak pernah memaksa."


"Kamu setuju Den?"


"Setuju Tante, aku juga kenal baik dengan Mas Kenan."


"Adik iparmu jauh lebih tua dari kamu loh."


"Yang paling penting dia bisa membimbing Nona, Tante."


"Tuh kan, kalian ini ingin bebas dari Nona. Enak saja menyerahkan Nona untuk dibimbing orang lain. Memang selama ini Nona menjadi beban untuk kalian ya."


"Bukan begitu Tante, sejak kenal Mas Kenan Nona sudah tidak berbuat yang aneh-aneh lagi. Tidak mogok makan sampai masuk rumah sakit, masuk kantor juga tidak seenak udelnya seperti dulu. Banyak perubahan positif Tante. Itu yang membuat kita yakin melepas Nona pada Mas Kenan. Akhirnya Tante Gadis menyerah dan berjanji akan datang bersama Om juga Wawan saat Nona menikah nanti.