I Love You Too

I Love You Too
Ngobrol



"Lama banet sih pedi matanna." protes Richie saat Nanta dan Balen tiba dirumah.


"Kamu tadi diajak tidak mau." kata Nanta pada adiknya.


"Talo lama dini ya atu itut ajah, umah sendilian tesepian atu." jawab Richie memajukan bibirnya.


"Sendirian apa, ada kita semua kamu bilang kesepian." Nona mengacak anak rambut Richie.


"Ndak ada Baen tesepian ya." tunjuk Balen pada Richie sambil tertawa. Keduanya saling menunjuk dan tertawa berdua. Tentu saja yang lain jadi ikut tertawa melihatnya.


"Sudah ya, Abang mau ke kamar, Abang mau istirahat." kata Nanta setelah meletakkan makanan yang dibelinya tadi di meja makan.


"Udah tindalian atu setalan mo istilahat." protes Richie.


"Kan ada Balen, Abang kerja dari pagi loh." Nona maklumi Nanta.


"Atu tuh tunduin semuana pedi dali padi, teus atu belum nantuk ditindal istilahat." entah kenapa tiba-tiba Richie protes mau ditinggal Nanta ke kamar.


"Kamu mau bobo kamar Abang?" tanya Nanta pada Richie.


"Teselah, talo Baban mo taya ditu." jawabnya seakan tidak butuh.


"Abang juga terserah kamu maunya bagaimana." jawab Nanta menahan senyum, ia tahu Richie minta dibujuk.


"Tamal puna aban, atu yan teselah." gerutunya karena tidak dibujuk.


"Ya sudah sana kamu juga istirahat dikamarmu." kata Nona pada Richie, Kenan cengengesan saja mendengar kerusuhan dihadapannya. Richie menghela nafas panjang.


"Baen ajat matan lual, atu dilumah." bawa-bawa Balen.


"Tadi kan Ichie Abang ajak juga." kata Nanta.


"Tadi tan atu tenyan." jawabnya.


"Sekarang lapar?" tanya Nanta.


"Masih tenyan." jawabnya.


"Terus maunya apa?" tanya Nanta.


"Janan istilahat dulu don, belum nobol atu." akhirnya mengaku, Nanta jadi tertawa, segera saja menggendong Richie dan membawa kekamarnya.


"Ngobrol dikamar saja." katanya sambil mencium Richie.


"Ncusss antarkan selimut Ichie ke kamar saya ya." kata Nanta saat lewati kamar Richie.


"Simut Baen juda." teriak Balen yang berlari menyusul dibelakang Nanta.


"Ya ampun, Abangnya diganggu terus." kata Nona pada suaminya memandangi ketiganya yang semakin menjauh.


"Abangnya tidak keberatan, biarkan saja." Kenan terkekeh melihat ketiga kesayangannya.


"Kasihan tapi kapan bisa berduaan sama Dania." Nona tidak enak hati.


"Mereka pasti punya cara, sudah biarkan saja. Selagi bisa dekat sama adik-adiknya, nanti kalau punya anak dan pindah rumah lain lagi ceritanya." kata Kenan pada Nona.


"Iya sih." Nona anggukan kepalanya setuju.


Sementara itu dikamar keduanya langsung rusuh mengajak Dania bercerita, padahal Dania sedang konsen dengan drama serinya. Terpaksa di pause dulu dengarkan ocehan Balen dan Richie.


"Kamu mau makan ayam pop sekarang?" tanya Nanta pada Dania, ingat pesanan istrinya ia letakkan di meja makan.


"Buat besok saja, sekarang sudah kenyang." jawab Dania.


"Atu beliin ndak Baban?" tanya Richie pada Nanta.


"Ayam Pop." jawab Nanta anggukan kepalanya.


"Matasih." kata Richie kemudian sibuk mainkan bola basket di kamar nanti dan lemparkan ke ring basket mini di pojokan kamar Nanta.


"Baban ayo?" malah mengajak Nanta bermain basket. Nanta ambil bola yang Richie serahkan lalu lemparkan pada ring basket.


"Telen. Atu Juda bisa." katanya kemudian mulai ikuti gaya Nanta melempar bola sambil lewat, yang ada bola beneran lewat saja menjauh dari Ring Basket.


"Susah ih, beenang ajalah talo dini." kata Richie karena gagal masukkan bilang langsung saja bilang lebih enak berenang.


"Sekarang bobo, besok pagi berenang lagi, Abang Larry kesini." kata Nanta pada keduanya.


"Aban Maik?" tanya Richie.


"Mungkin tidak ya. Abang Larry sama Abang Daniel yang kesini besok." kata Nanta pada adiknya.


"Asik ada Aban Danil." Balen langsung joget-joget senang.


"Kenapa asik?" tanya Dania.


"Baen suta." jawab Balen kembali joget-joget.


"Sama Abang Larry suka juga?" tanya Dania.


"Iya don itu tan Aban Leyi Baen." jawabnya.


"Aban... Baen bilan ulan tao pindah Jatata bisa beajal beenang ama Aban Danil." kata Balen pada Nanta.


"Kenapa jadi Danil yang ajarkan Ulan?" tanya Nanta.


"Bian Ulan ndak minta ajain Aban Leyi Baen." jawabnya membuat Nanta terkekeh.


"Oke anak-anak silahkan tidur, perut sudah kenyang apa lagi?" tanya Nanta.


"Simutna mana?" tagih Balen.


"Ini selimutnya ya, buku dongeng tidak ada, malam ini tidak usah dibacakan dongeng ya." kata Nanta pada adiknya.


"Ya udah nobol aja." kata Richie yang dari tadi ingin ngobrol saja.


"Mau obrolin apa sih unyil?" tanya Nanta terkekeh.


"Unyin bajuna meah ya?" tanya Balen pada Nanta mengingat unyil yang pernah ditontonnya di tv.


"Tidak tahu. Abang tidak perhatikan." jawab Nanta jujur, ia jarang nonton tv juga.


"Iya bajunya merah." jawab Dania.


"Kamu nonton unyil juga?" tanya Nanta. Dania anggukan kepalanya, Nanta jadi tertawa sendiri.


"Tapi unyin ndak miip Ichie." kata Balen lagi, pandangi Richie.


"Memang tidak mirip." Nanta terkekeh.


"Tao ndak miip, napa pandil unyin sih." protesnya pada Nanta.


"Abang harus panggil apa?" tanya Nanta.


"Pandil Tenan ajah, atu tan miip Tenan." jawabnya membuat Nanta dan Dania terbahak.


"Iya hausna aban bilan, mo nobolin apa sih Tenan." Balen ulangi kalimat Nanta, kembali Nanta dan Dania terbahak.


"Enak saja bilang Kenan-Kenan. Papaku itu." kata Nanta pada adiknya.


"Papatu juda." jawab Richie.


"Tasian Baen ndak puna Papa hahaha." Richie langsung tertawakan Balen.


"Puna, itu tan sama-sama Papana." jawab Balen.


"Tapi Baen pandilna butan Papa, jadi ndak puna Papa deh." kembali Richie terbahak.


"Baen pandil Papon tan puna juda." jawab Balen.


"Iya Baen punyanya Papon. Sama saja orangnya itu juga." Nanta menjelaskan agar tidak dijadikan perdebatan, terlebih melihat Balen sudah mau menangis.


"Ah Baen mah pandilna Papon, nanti talo adek bayi lahil binun dia, pandil apa dia nanti." Richie pikirkan bayi diperut Dania harus pangg Kenan apa.


"Opa lah." jawab Nanta.


"Tao Papon pandilnya Papon Opa. Tao Ayah pandilna Ayah Opa." jawab Balen, terserah dia sajalah kalau sudah begini mana mau dirubah, ingat saja berapa kali Kenan membujuknya agar memanggil Papa tetap saja dipanggilnya Papon.


"Kalau panggil Abang apa adek bayinya?" tanya Nanta.


"Pandil Papa aban." jawabnya. Duh kenapa Papa Abang. Ini harus diluruskan.


"Papa. Tidak usah pakai Abang." kata Nanta, kali ini harus berhasil.


"Tok Papa aja, Papa Aban don." Balen tidak mau kalah.


"Kenapa Papa Abang?" tanya Nanta.


"Soanna Abanna Baen, Papana Anak Bayi." jawabnya.


"Ya sudah panggil Papa saja." kata Nanta lagi.


"Ote Aban Papa." jawab Balen mengalah, bukan mengalah sih, tetap saja ada Abangnya.


"Terserah anaknya saja ya nanti mau panggilnya Papa atau Abang Papa." kata Nanta pada Balen.


"Iya Baen teselah anakna ajalah, masih dipelut juda dia. Tamu malah bilan Aban Papa, Papa Aban. Pusin atu denelna." oceh Richie membuat Nanta tertawa, sementara Dania sudah tertidur ditengah kesibukannya menonton Drama.


"Eh Tania juara deh malam ini, dia tidur duluan. Siapa lagi yang mau jadi juara?" tanya Nanta pada keduanya.


"Atu."


"Baen." keduanya berebutan menjadi juara.


"Kalau begitu kita ngobrol sambil pejamkan mata ya. Yang tidur duluan besok dapat hadiah." kata Nanta pada adiknya.


"Mo tasih hadiah apa sih?" tanya Richie pada Abangnya.


"Apa ya?" Nanta bingung sendiri.


"Atu mo es tim." pinta Richie pada Nanta.


"Iya besok Abang belikan. Mulai pejamkan mata ya." Nanta perintahkan adiknya yang sudah berbaring dikasur.


"Baen mo te Amika." kata Balen pada Nanta.


"Iya nanti Balen boleh ke Amerika sama Shakira, kalau perlu ajak juga adek bayi yang diperut Tania." kata Nanta pada Balen.


"Atu ndak mo itut ya, masih lama soanna tundu tita dedek dulu." kata Richie membuat Nanta tertawa dan peluki Richie yang sekarang posisi ada disebelahnya.


"Matanya ditutup tidak nih?" tanya Nanta.


"Tutup don, liat aja nih."


"Kalau Abang lihat nanti Abang kalah, kan Abang mau jadi juara juga." kata Nanta sambil tertawa, ia tidak ikut pejamkan Mata, hanya senang saja bisa awasi adiknya.


"Baen udah bobo." bisik Richie pada Nanta.


"Tidak tahu kan Abang tidak lihat." kata Nanta tertawa geli melihat Richie yang tidak berani membuka matanya.


"Jangan lupa baca doa mau tidur." Nanta Ingatkan Richie, bocah kecil itu pun mulutnya langsung saja komat kamit ikuti arahan Abangnya. Langsung saja Nanta ciumi pucuk kepala adiknya itu, benar-benar menggemaskan, sementara Balen sudah menyusul Dania tertidur pulas.