I Love You Too

I Love You Too
Mogok



"Om, aku mau makan siang sama Chico dan Kak Nona, Om mau ikut?" tanya Raymond pada Kenan. Kenan melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian menghela nafas.


"Kalian saja, Om sebentar lagi mau bertemu Pak Muhi." jawab Kenan sambil menyebut nama salah satu kliennya.


"Aku tidak ikut, tidak apa?"


"Santai saja, salaam untuk Chico." kata Kenan tersenyum pada Raymond.


"Chico saja? untuk Nona tidak?" mulai jahil menggoda om nya.


"Baru kemarin bertemu, boy." Kenan menggelengkan kepalanya, terus saja menggoda tanpa lelah.


Raymond pun berlalu meninggalkan Kenan yang masih berkutat dengan berkasnya. Banyak sekali tumpukan berkas yang harus ditanda-tangani Kenan. Hingga setelah Pak Muhi mengabarkan bahwa ia sudah dalam perjalanan ke tempat yang telah mereka sepakati, maka Kenan pun berangkat meninggalkan Kantor.


"Makanan apa yang enak disini?" tanya Chico pada Raymond. Mereka berada di salah satu restaurant di Kota Malang dengan suasana seperti sedang dikapal.


"Semua enak, karena khas Sunda jadi kamu tidak menemukan masakan manis disini." kata Raymond sambil sesekali melihat kearah pintu. Ia menunggu Nona yang belum juga tiba.


"Mana temanmu?" tanya Chico yang mau tidak mau ikut menunggu Nona.


"Entah, kita pesan saja dulu ya, nanti Nona tinggal makan." jawab Raymond memanggil pegawai restaurant.


"Hmmm..." Chico mengangguk tanda setuju. Ia tidak mengajak Risa makan siang, Karena Risa diajak Mama Nina dan Roma ke salon. Sekarang Raymond dan Chico tidak hanya menunggu Nona, tapi juga menunggu makanan yang sudah mereka pesan tersaji di meja.


"Jadi bagaimana? ada cerita baru?" tanya Raymond.


"Aku punya anak angkat namanya Jelita." cerita Chico dengan wajah berbinar. Ia pun menceritakan bagaimana Jelita bisa menjadi anak angkatnya. Sesekali mereka tertawa karena kelucuan Jelita. Pesanan makanan sudah tersaji, Nona belum juga datang. Chico dan Raymond memutuskan untuk makan lebih dulu.


Tak lama tampak Nona berlari memasuki restaurant dengan senyum jenaka.


"Assalamualaikum, maafkan aku terlambat." nyengir memperlihatkan giginya yang rapi berbaris.


"Waalaikumusalaam, hampir saja kita habiskan." dengus Raymond kesal.


"Mobilku mogok." kekeh Nona tanpa beban, kemudian mulai menyendoki menu kepiringnya.


"Kalau tahu tadi aku jemput."


"Masalahnya kan kamu tidak tahu, Ray." Nona memonyongkan mulutnya. Raymond tertawa dibuatnya.


"Ini Chico kembarannya Naka." kata Raymond mulai memperkenalkan Chico pada Nona. Nona menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum pada Chico.


"Ganteng." katanya santai kemudian kembali sibuk dengan makanannya.


"Gantengan mana sama Om Kenan?" goda Raymond pada Nona, ia memainkan matanya pada Chico.


"Hmmm..." Nona mengetuk kedua jarinya ke dagu sambil memandang Chico, kemudian tersenyum jahil.


"Ganteng Mas Kenan lah, masih single. Kalau kalian kan taken." jawabnya terbahak. Chico dan Raymond ikut terbahak dibuatnya.


"Ini calon istri Om Kenan." kekeh Raymond pada Chico.


"Mulai ya Raymond. Gue sembur nih." semprot Nona sambil terkekeh.


"Loh benar kan?" Raymond menunjuk Nona dengan sendok ditangannya.


"Benar apanya, jangan cari gara-gara."


"Kak Nona sendiri yang bilang sama Tante Sheila waktu itu." Raymond kembali terbahak, kemudian menceritakan kelakuan Nona saat bertemu Sheila di Mal beberapa bulan yang lalu pada Chico.


"Itu gue cuma bela Nanta, Raymond. Tidak ada maksud apapun. Please deh." ketus Nona sebal, tapi tetap wajahnya tidak dapat menahan senyum.


"Oh iya nanti sore, aku pindah ke paviliun Tante Nina." kata Nona kemudian.


"Tuh Chic, mendekat sama calon mertua." goda Raymond lagi.


"Oh ya, disegerakan saja Kak Nona. Om Kenan ok loh, the best." Chico ikut mempromosikan Kenan pada Nona.


"Ck.. kalian ini ya. Makanannya jadi tambah enak nih, makan sama cowok-cowok ganteng. Sayang suami orang." celoteh Nona sambil menikmati makannya mengalihkan pembicaraan, Raymond dan Chico terkekeh.


"Kocak ya." kata Chico pada Raymond.


"Hahaha baru ketemu yang seperti ini?" tanya Nona. Chico menggeleng sambil tersenyum.


"Membayangkan, mungkin Ame dan Mama Intan waktu muda seperti Kak Nona, Barbar." kata Chico tertawa.


"Oh iya, yang ini memang agak barbar. Tapi tidak tahu seperti Ame muda apa tidak." jawab Raymond


"Ame itu siapa?" tanya Nona


"Oh iya, cantik ya. Aku tidak secantik itu." jawab Nona.


"Beda cantiknya." jawab Chico tertawa.


Mereka melanjutkan makannya, sambil terus tertawa. Banyak sekali yang dibahas, termasuk kepindahan Nona nanti sore.


"Perlu dibantu?" tanya Raymond, mumpung ada Chico lagi menginap dirumah, pikirnya.


"Tidak usah, ada Deni dan Samuel. Lagi pula barangnya hanya sedikit. Kemarin itu kan aku mengontrak full furnished, jadi nanti tinggal geret koper." jawab Nona.


"Om Kenan sudah tahu, Kak Nona pindah hari ini?" tanya Raymond.


"Sudah, tadi aku chat Mas Kenan."


"Dia jawab apa?" Raymond penasaran.


"Ok." jawab Nona.


"Pakai sayang tidak? Ok sayang." goda Raymond lagi.


"Om Kamu tidak begitu ya Ray, memangnya kamu." kekeh Nona


"Aku sih begitu cuma sama Roma, iya kan Chic."


"Hu uh." Chico mengangguk.


"Jadi Mobil Kak Nona, bagaimana?" tanya Raymond teringat Mobil Nona yang mogok.


"Aku tinggal di jalan." jawab Nona santai.


"Sudah panggil orang bengkel?" tanya Raymond.


"Belum, nanti saja setelah ini." jawabnya terkekeh.


"Di daerah mana? diangkut mobil derek nanti." Chico tampak khawatir.


"Tadi di dorong orang sampai terparkir di ruko, aman kok."


"Ada kenalan bengkel?" tanya Nona pada Raymond.


"Nanti kita bantu cek." jawab Chico sambil meminta persetujuan Raymond.


"Iya Chico sedikit mengerti tentang mobil, tapi tidak sejago Naka." kata Raymond.


"Beda lah." jawab Chico terkekeh.


"Kamu ke Malang ada kerjaan, Chic?" tanya Nona.


"Istriku ada seminar disini, di PT. XYX, dadakan sih. Aku sekalian lah bertemu Raymond, ada bisnis yang mau kita olah juga." Chico menjelaskan.


"Boleh kenalkan aku dengan istrimu, kantorku juga mau mengadakan pelatihan untuk karyawan. Mungkin bisa pakai jasa perusahaan istrimu."


"Boleh, nanti kita atur waktu untuk bertemu, aku tanya jadwalnya dulu." kata Chico.


Setelah itu Raymond mengantar Nona ke tempat mobilnya terparkir. Chico pun mengecek kendaraan Nona.


"Kak Nona, kamu bukan barbar tapi teledor." Chico menepuk dahinya.


"Kenapa?" tanya Raymond penasaran.


"Bensinnya kosong. Memangnya lampu indikator dan alarm tidak berbunyi ya?" tanya Chico heran.


"Harusnya bunyi ya, tapi tadi tidak tuh. Lagi pula bensin mobilku mana pernah kosong sih, Beberapa hari sekali supir kantor selalu rutin mengisi bensin mobilku." Nona menjelaskan dengan kening berkerut, tampak berfikir keras.


"Ada yang sedot ya?" tanya Nona.


"Mungkin bocor, mesti beli bensin dulu Ray. Setelah itu baru Kak Nona ke bengkel resmi, untuk memastikan ada kebocoran atau tidak." jawab Chico.


"Beli jerigen dulu ya. Duh maaf jadi pada repot ya." Nona tidak enak hati.


"Tidak apa, santai saja Kak Nona." jawab Raymond.


"Kamu kasih tahu Om Kenan, Ray. Kalau terlambat kembali ke kantor. Nanti Om Kenan salah sangka." kata Chico pada Raymond, walau bagaimanapun harus disiplin, Raymond hanya ijin makan siang tadi.


"Iya." jawab Raymond dan mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.