I Love You Too

I Love You Too
Ikat aku



Pukul lima sore, Andi sudah duduk di ruang tamu kediaman keluarga Permana, sesuai arahan calon mertuanya agar menemani Pipit yang hanya sendiri dirumah. ART mereka sudah seminggu ini pulang kampung.


"Aku sudah telepon Cindy tadi siang, urusan kami sudah selesai." lapor Andi pada Pipit yang sedikit terpana melihat ketampanan pujaan hatinya yang kini ada didepan mata.


"Abang sedih?"


"Kenapa harus sedih?"


"Kasihmu tak sampai." jawab Pipit acuh tak acuh.


"Sekarang kan ada kamu. Jadi aku bebas menemuimu kapan saja, kan?" kata Andi menyeringai mengingat ucapan Pipit tadi malam saat mengantar Pipit pulang.


"Jangan jadikan aku pelarian." kata Pipit dengan ketusnya.


"Mau ku ajak lari?" tanya Andi menggoda calon istrinya.


"Abang!! aku serius." dengus Pipit kesal.


"Iya sayang." jawab Andi membuat Pipit berdebar hatinya. Gampang sekali bilang sayang, baru saja putus cinta, pikir Pipit.


"Bang, bagaimana rasanya pacaran baru sebentar sudah berpisah?" tanya Pipit ingin tahu isi hati Andi.


"Kami tak pernah pacaran." jawab Andi apa adanya. "Memang aku bilang ingin berkomitmen dan segera meminta restu orang tuanya, ternyata kamu tahu sendiri." lanjut Andi serius.


"Abang cinta sama Cindy?" tanya Pipit


"Belum ada cinta, kami baru dekat dua minggu dan dia memang typeku." jawaban Andi kali ini terasa menohok di dada Pipit.


"Aku bukan type abang, kan?" tanya Pipit dengan suara melemah.


"Iya, tapi kamu calon istriku, Cindy bukan."


"Kasihan Cindy."


"Jangan bahas Cindy terus, makanlah. Tadi kata Erwin ini makanan kesukaanmu." Andi menggeser plastik berisi makanan yang ia bawa tadi. Pipit segera membuka makanan yang Andi bawa.


"Kenapa cuma satu, untuk Abang mana?" tanya Pipit karena Andi hanya membawa satu bungkus makanan kesukaannya.


"Kata Erwin kamu makannya sedikit, jadi nanti sisa makanmu biar aku yang habiskan." Pipit membesarkan bola matanya, Erwin benar-benar keterlaluan.


"Bang Andi, aku makannya banyak,masa abang lupa. Abang dikerjai Bang Erwin." Sungut Pipit sambil menutup kembali makanan yang Andi bawa. Andi tertawa buatnya, Erwin benar-benar, bikin aku terkesan pelit, batin Andi.


"Makanlah, nanti kalau aku lapar kita keluar cari makan." Andi membujuk Pipit.


"Hanya ada spaghetti di lemari, abang mau kubuatkan? Abang duduklah biar aku yang masak." Pipit yang berjalan kedapur lalu segera mengambil spaghetti dan mulai mengolahnya. Andi pun mengikuti lalu duduk dikursi makan menunggu Pipit yang sedang mengolah makanannya.


"Bang, dikulkas ada pempek juga, abang mau?" tanya Pipit lagi


"Nanti saja, kalau masih lapar." jawab Andi. Pipit tampak cantik saat sedang didapur, rambutnya yang seleher dikuncir satu sesekali Pipit tampak menyelipkan rambut yang jatuh ke telinganya. Andi yang merasa terganggu melihat Pipit begitu repot dengan rambutnya, segera mengambil bandana yang terletak di lemari dekat meja makan, segera diambilnya lalu memberikannya pada Pipit, "Pakailah, repot sekali kamu dibuatnya." perhatian Andi membuat Pipit salah tingkah. Wajahnya bersemu merah


"Kamu sudah pantas menjadi istri." kata Andi menyeringai, tambah merona saja Pipit dibuatnya.


"Bagaimana kalau pernikahan kita percepat? bahaya sekali kamu kalau sering ditinggal sendiri begini." bisik Andi lagi, Pipit yang sedang menyendokkan spaghetti ke mangkok terpana dibuatnya.


"Bang Andi terburu-buru. Yakinkan dulu hati abang. Jangan jadikan aku pelarian." Pipit tampak resah.


"Aku sudah yakin, pilihan orang tua pasti yang terbaik."


"Tapi abang baru saja putus. Cepat sekali abang melupakan Cindy."


"Pit, aku hanya berpikir realistis. Sekarang aku hanya fokus yang didepan mataku dan itu kamu. Kenapa harus selali Cindy."


"Yang punya hati aku atau kamu. Kenapa kamu senang sekali berdebat? Sekarang mau apa tidak?" tanya Andi tegas.


"Menikah? ya aku mau, tapi aku tak mau ada bayang-bayang Cindy dalam pikiranmu. Kasihan sekali aku kalau kamu begitu."


Andi mengacak anak rambut Pipit. Ketara sekali Pipit cemburu dengan Cindy.


"Kamu cemburu." katanya sambil tertawa.


"Jangan Ge-eR."


"Mengaku saja kalau memang cemburu. Nanti kamu kukenalkan dengan Cindy." Andi terkekeh


"Aku sudah kenal." jawab Pipit judes.


"Oh sudah kenal ya. Baru mau kukenalkan biar calon istriku tak cemburu." Andi masih terkekeh dan kembali mengacak anak rambut Pipit. Gemas sekali rasanya.


"Jadi kapan?" tanya Andi lagi dengan wajah serius.


"Apa?"


"Kita menikah, Aku mau dalam waktu satu bulan ini." tegas Andi.


"Abang tak mau kalah dengan sahabat abang." Pipit memastikan, ia mau saja segera menikah, apalagi dengan Andi.


"Bang Andi, fans bang Andi banyak begitu, apa aku sanggup punya suami yang begitu diidolai para wanita." Pipit tampak khawatir.


Drrrtttt....Drrrrttttt handphone andi berbunyi. Tampak nama Sonya di layar. Sonya artis pendatang baru yang beberapa kali jalan bersama Andi.


"Lagi apa? jalan yuk" kata Sonya saat Andi menjawab teleponnya, membuat andi menarik nafas panjang, melirik Pipit yang sibuk memainkan handphonenya, seperti sedang ketahuan selingkuh saja rasanya.


"Mau kemana?" tanya Andi tanpa menyebut nama Sonya.


"Kemana saja boleh, yuuk." ajak Sonya lagi.


"Sudah tak bisa kemana-mana. Aku sudah diikat." jawab Andi sekenanya, bermaksud Jujur. Sekarang sudah ada Pipit yang mengikat ruang geraknya. Tak bisa sebebas dulu jalan sama gadis manapun.


"Aih Siapa, pacarmu?"


"Calon istriku." jawab Andi sambil memegang pergelangan tangan Pipit yang hendak beranjak dari meja makan.


"Baiklah aku kalah cepat rupanya, salaam untuk calon istrimu." kata Sonya menyudahi percakapan via telepon.


"Akan kusampaikan, tampaknya dia sedang cemburu." kata Andi, benar-benar membangkitkan emosi Pipit.


"Fans yang seperti ini maksudmu? Jangan khawatir pada mereka semua akan kukatakan bahwa aku sudah ada kamu." Andi mengecup punggung tangan Pipit.


"Ayo menikah, ikatlah aku secepatnya." ajak Andi lagi sedikit mendesak. Selain memikirkan acara galla dinner yang 1,5 bulan kedepan, Andi juga berpikir cepat atau lambat pasti akan menikah juga. Toh kedua orang tua sudah merestui.


"Bilanglah pada Papa dan Mama, aku menurut saja." kata Pipit akhirnya. Jawaban Pipit membuat andi secara reflek memeluk Pipit.


"Ayo kita kerumah Erwin." ajaknya tak sabar menyampaikan pada Papa Permana.


"Nanti saja kalau Papa sudah tidak menginap." tawar Pipit memandang Andi dengan mendongakkan kepalanya.


"Kenapa? kamu takut pelukan ini terlepas ya." lagi-lagi Andi membuat Pipit kesal.


"Ayo makan, tiba-tiba aku jadi lapar, spaghetti abang juga keburu dingin." Pipit mendorong badan Andi dan segera mengambil makanannya yang tertinggal diruang tamu. Sebelum makan Andi mengirim pesan di group chatnya.


Proposal diterima, kami menikah bulan depan, kalau papa dan mama mertua mengijinkan. *Andi