
Aku boleh undang Kevin?
tanya Nona pada Kenan sepulangnya dari rumah Tante Gadis.
Boleh
singkat saja jawaban Kenan, membuat Nona agak kesal.
Sama dua lagi, Jessica teman kecilku dan Rudi Sahabatku di Jakarta.
Ok.
Ish menyebalkan, hanya jawab begitu. Awas saja nanti kalau bertemu Rudi banyak pertanyaan, kesal Nona bertambah-tambah.
"Kenapa?" tanya Deni pada adiknya.
"Mas Kenan kalau di chat jawabnya selalu singkat, menyebalkan."
"Mungkin dia sibuk, lagi meeting atau lagi setir Mobil."
"Gue mau undang Jessica nanti jumat, sama Rudi juga gue undang."
"Tidak salah undang Rudi?"
"Kenapa?"
"Samuel dan Papa tidak suka Rudi. Jangan diundang."
"Loh kemarin di Jakarta, Samuel antar gue ketemu Rudi pagi. Sore baru kalian jemput gue, Samuel tidak ada komplen."
"Kamu tidak tahu saja, esok harinya Samuel dan Rudi berkelahi saat diseminar."
"Kenapa?"
"Rudi cari gara-gara, dia maki kita karena kamu dirawat satu kamar dengan Mas Kenan, dia tidak tahu keadaan di rumah sakit saat itu, tapi seakan-akan tahu secara detail, pakai ancam mau cabut ijin rumah sakit lagi."
"Memang gue mengadu sama Rudi waktu itu, tapi dia menenangkan gue, kan gue bilang mau tuntut rumah sakit. Saat bertemu di Jakarta juga tidak bahas itu lagi, ngobrol biasa saja, dia juga tahu gue menginap di rumah orang tua Mas Kenan malam itu "
"Mungkin itu yang bikin dia emosi, Kamu masih suka teleponan sama Rudi?" tanya Deni. Nona menggelengkan kepalanya.
"Aku dan Samuel minta Rudi untuk tidak lagi menghubungi kamu. Dia bilang kita tidak perhatian sama kamu, Non. Sampai dibilang kita sengaja bikin kamu satu kamar dengan Mas Kenan. Banyak lagi ucapannya yang tidak enak didengar. Rudi menyalahkan Papa juga."
"Jadi bagaimana?"
"Iya kalau kamu tetap mau undang, pesan jangan bikin keributan. Kamu tahu waktu diseminar dia tidak ada malunya berteriak. Khawatir acara kamu pun begitu." kata Deni kalem.
Mereka tiba dirumah pukul sembilan malam, pertemuan dengan Tante Gadis cukup menguras energi, tapi setidaknya dia berjanji akan datang. Samuel menyambut dengan senyum lebarnya, ingin tahu bagaimana kesan-kesan keduanya bertemu dengan Tante Gadis.
"Bagaimana?" tanya Samuel dengan senyum menyeringai.
"Biasa si Nona di ajak tektok tuh Tante, gue sudah bilang dengarkan saja. Tapi malah diladeni. Jadi lama pulangnya." keluh Deni terlihat lelah. Nona tertawa saja, malas membahas masalah Tante Gadis, Nona malah ingin bertanya tentang Rudi.
"Kenapa tidak pernah cerita kalau ribut dengan Rudi?" tanya Nona pada Samuel.
"Tidak penting. Buat apa dibahas lagi."
"Tapi Rudi sahabat gue loh."
"Lah kita siapanya kamu?" Samuel balik bertanya.
"Ketemu bukannya tanya apa kabar, malah cari ribut. Aneh!" sambung Samuel lagi. Deni tertawa-tawa saja mendengarnya.
"Dia mau undang Rudi besok." kata Deni terkekeh.
"Coba saja datang kalau berani." Samuel tampak emosi.
"Pasti datang sih, gue yakin. Tapi gue khawatir dia bikin ribut lagi."
"Gue seret kalau bikin ribut, lihat saja nanti." kata Samuel bertambah kesal.
"Gue tidak jadi undang, sudah jangan emosi." kata Nona pada Samuel dan Deni
"Tapi Jessica tetap lu undang ya." kata Deni berharap.
"Kalau dia datangnya sama Mas Wawan bagaimana, kesalip nanti." kekeh Nona memandang Deni.
"Kalau mau salip sudah dari dulu, Wawan lambat!!!" gerutu Deni, Nona dan Samuel tertawa, bisa bilang Wawan lambat tapi sendirinya sampai sekarang tidak bergerak.
Jes, Jumat datang ya, aku menikah.
Pesan Nona pada Jessica terkirim.
Loh tadi tidak kasih undangan.
Memang tidak pakai undangan, khusus keluarga saja. Acaranya di Jl. Xxx No. Ccc. Setelah sholat jumat ya."
Ok, boleh ajak teman ya.
Boleh, pacar ya?
Bukan, perempuan kok temanku.
Ditunggu ya Jes.
Thank you Nona.
"Sudah ya, Jessica nanti datang sama temannya perempuan, siapa tahu jodoh kamu dan kamu." kata Nona menunjuk Deni dan Samuel.
"Gue tidur ah, capek." kata Nona lagi.
"Iya, dari habis makan malam sudah dikamar."
"Kasihan kamu, makanya cari istri." kekeh Deni menggoda Samuel.
"Sue." Samuel mendorong bahu sahabatnya sambil tertawa.
...***...
Hari yang ditungu-tunggu pun tiba, saat ini Kenan dan Nona sudah duduk dihadapan penghulu, dua orang saksi dan wali nikah.
"Sah?"
"Sah!!!"
Kenan boleh menarik nafas lega, proses ijab Kabul berjalan lancar. Kini Nona sudah menjadi istrinya. Dengan balutan kebaya putih, make up tidak berlebihan, rambut di cepol membuat Nona terlihat sangat cantik dimata Kenan.
"Sudah boleh cium." kata Baron konyol pada Kenan.
"Tapi cium kening saja dulu, sisanya nanti dikamar." aih mulai Baron bicara tidak pakai rem. Nona malu-malu merona, saat Kenan dengan santai mengecup keningnya mengikuti arahan mertua. Sementara yang lain bersorak-sorak jahil.
Setelah foto sana sini, Kenan dan Nona membaur dengan sanak saudara juga sahabat.
"Nona, selamat ya." Jessica menghampiri Nona dan Kenan memberikan ucapan selamat.
"Loh Mas Kenan?" teman Jessica menyapa Kenan. Gadis cantik berkaca mata pembawaan kalem, membuat Nona bertanya-tanya siapa dia.
"Iya, siapa ya?" tanya Kenan mencoba mengingat gadis tersebut.
"Melly, Mas. Dari PT. Cipta." katanya menjelaskan.
"Oh iya, terima kasih sudah datang ya Melly. Teman istri saya rupanya ya." kata Kenan menegaskan kata Istri supaya Nona tidak salah sangka, apa lagi raut wajah Nona mulai terlihat tidak enak.
"Hai." sapa Melly pada Nona.
"Terimakasih ya sudah datang, sudah bertemu Mas Wawan?" tanya Nona pada Jessica.
"Belum. Kita baru saja datang. Tadi sih sempat ngobrol sama Deni." kata Jessica.
"Ini Melly sahabat aku, Non." Jessica mengenalkan Melly pada Nona.
"Salam kenal ya, Mel. Ayo makan dulu, minta antar Deni saja kalau sungkan, Jes." kata Nona agak merasa tidak nyaman dengan tatapan Melly pada Kenan. Entah kenapa Nona cemburu, padahal Kenan bersikap biasa saja. Malah sekarang Kenan sibuk ngobrol dengan Baron dan Reza.
"Eh, Mbak Tari juga datang." bisik Melly saat melihat Tari bersama Bagus menghampiri Nona. Dia kenal Tari juga rupanya.
"Duh Non, kamu cantik sekali loh. Pantas saja Mas Kenan menyerah." kata Tari menggoda Nona dan Kenan. Kenan terbahak mendengarnya, dengan santai memeluk Bagus sambil menepuk bahunya.
"Mana Nanta?" tanya Tari, sementara Melly mengamati interaksi mereka.
"Sama Raymond dan Deni." kata Nona menunjuk Nanta yang sedang dipeluk Deni dari belakang, jahil sekali Deni.
"Mbak Tari." sapa Melly pada Tari. Tari mencari asal suara dan langsung heboh.
"Loh Mel, kamu datang juga kok bisa?" tanya Tari heran. Ia kenal Melly karena beberapa kali bertemu urusan kantor, bahkan Melly beberapa kali minta bantuan Tari agar dekat dengan Kenan. Melly padahal tahu, Tari mantan istri Kenan.
"Sahabat aku, temannya Nona." Melly menunjuk Jessica. Tari menganggukkan kepalanya pada Jessica.
"Ayo cari makanan." ajak Tari pada Melly dan Jessica. Mereka kemudian meninggalkan Nona dan Kenan.
"Siapa sih Mellym lihatin Mas Kenan bikin aku risih." keluh Nona sepeninggalan Melly.
"Client mungkin, saya juga lupa. Mungkin lebih sering urusannya sama Tari, makanya Tari yang kenal kan."
"Pantas saja kalau dikantor tidak pernah telepon atau chat aku. Sekalinya di chat jawabnya singkat-singkat. Clientnya cantik-cantik rupanya." dengus Nona cari gara-gara. Kenan terkekeh dan menggenggam jemari Nona, tidak meladeni cemburunya Nona, ia mengajak Nona berkeliling menemui tamu yang lain.
"Jangan cemberut, jelek." bisik Kenan menghampiri Reza bersama para sahabatnya yang baru saja datang. Erwin, Andi dan Mario beserta para istri ikut hadir.
"Bang, Alhamdulillah datang juga." sambut Kenan senang.
"Kalau Penganten pegang tangan terus." celutuk Mario menyolek Andi.
"Ah Abang juga pegang tangan terus itu." tunjuk Kenan pada Erwin dan Enji.
"Ini Mama Papanya Chico?" bisik Nona pada Kenan. Kenan menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya... senang deh akhirnya Kenan sadar." kata Enji terbahak.
"Ih sadar Kenapa?" tanya Kenan pada Enji.
"Perlu ya dijelaskan, Coba ya kalian bertiga, Reza, Kenan, Erwin ayo foto bersama." kata Enji lagi.
"Ish tidak mau." Kenan menolak sudah tahu maksud Enji menggoda mereka.
"Kenapa Mas?" bisik Nona ingin tahu.
"Nanti kamu marah." sungut Kenan malas menjelaskan.
"Ih Kenapa?"
"Janji tidak marah ya?" Nona mengangguk.
"Kita bertiga dulu ini yang pada suka sama Sheila." kekeh Kenan.
"Iya, Kenan sadarnya belakangan, kalau Reza lebih dulu sadar, Erwin agak telat sih." jawab Enji terkekeh, mengingat pernah cemburu pada Sheila.
"Oh..." Nona tertawa saja, Ia tidak lagi khawatirkan Sheila.