I Love You Too

I Love You Too
Mual



"Bu Melly ajak makan siang diluar, mau bergabung kah?" tanya Raymond pada Kenan dan semua yang ada di ruangan Kenan.


"Kita masih sibuk, maaf." jawab Nona cepat.


"Oke, aku keluar dulu ya, sama Tante Tari juga." ijin Raymond pada Kenan. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati Ray." teriak Nona pada Raymond. Raymond mengacungkan jempolnya dan segera meninggalkan ruangan Kenan.


"Masih pada sibuk, tidak bisa ikut makan." lapor Raymond pada Tari yang berdiri disebelah Melly dan rekannya.


"Sibuk apa? bukannya hanya ngobrol biasa ya? Tadi kan hanya Nona dan suami Mbak Tari." Melly seperti tahu saja urusan Kenan.


"Mereka sedang rapat membahas pekerjaan, bukan hanya ngobrol." kata Tari terkekeh.


"Oh pekerjaan apa?" Melly tampak ingin tahu.


"Entahlah, proyek besar yang pasti." jawab Tari apa adanya.


"Nona ikut campur urusan Mas Kenan saja" gerutu Melly tidak suka.


"Justru ini proyeknya Bu Nona, Bu Melly." jawab Raymond sedikit ketus, kesal sekali Melly asal menuduh.


"Oh, minta bantuan Mas Kenan ya. Enak betul punya suami pebisnis, langsung saja dimanfaatkan." Melly tampak sengit. Raymond langsung merasa mual mendengarnya.


"Duh maaf, ternyata aku harus ke Hotel A, Ada undangan makan siang dari Bapak Gubernur." Raymond menunjukan pesan yang baru saja diterimanya dari Papi Alex pada Tari. Sedikit lega karena terbebaskan dari ocehan Melly yang membuatnya sedikit naik darah.


"Kenapa bukan Mas Kenan yang kesana, Mas Kenan kan boss nya?" aih benar-benar bikin Raymond kesal.


"Apa Bu Melly tidak tahu, sebentar lagi saya yang akan menggantikan Pak Kenan, karena Pak Kenan akan menghandel perusahaan yang sedang dibangun bersama istrinya." yah Raymond mulai mengarang bebas, tidak suka mendengar ocehan Melly sedari tadi, Tari tersenyum saja mendengarnya.


"Lagi pula undangan dari Gubernur ini bukan karena urusan pekerjaan. Tapi karena dia masih kerabat mertua saya. Perlu betul ya saya jelaskan biar Bu Melly tidak pusing." sambung Raymond lagi dengan nada sesantai mungkin, tapi cukup membuat Melly terdiam.


"Aku jalan dulu Tante." katanya menyalami Tari kemudian Melly dan rekannya.


"Hati-hati Ray." kata Tari sambil tersenyum lebar.


"Om sama keponakan, sama sombongnya." keluh Melly sepeninggalan Raymond, mereka berpisah tepat di depan restaurant dekat kantor. Raymond langsung menuju parkiran karena mendapat pesan dari mertuanya.


"Karena kalian memang tidak sedekat itu." jawab Tari tertawa.


"Mbak Tari sih, aku sudah minta Dari dulu dekatkan aku dengan Mas Kenan, tidak di response." Omel Melly saat mereka sudah duduk di meja nomor tujuh, tempat andalan Tari karena bisa melihat ke segala penjuru.


"Hahaha Mas Kenan tidak bisa dijodoh-jodohkan begitu." Tari kembali tertawa, sebenarnya Tari memang tidak menyampaikan keinginan Melly pada Kenan, karena ia berpikir Kenan masih mengejar Sheila saat itu.


"Buktinya sekarang dijodohkan dengan Nona, berhasil." sungut Melly tidak peduli Adam rekan kerjanya tahu perasaan Melly pada Kenan.


"Karena memang Mas Kenan sudah ada rasa dengan Nona sebelum dijodohkan, Orang tua hanya mempercepat prosesnya. Lagi pula anak kami juga sangat menyukai Nona." kata Tari dengan wajah berbinar-binar.


"Jadi Mas Kenan terima Nona karena anak kalian ya?" tanya Melly berasumsi sendiri.


"Tidak juga, kamu lebih baik cari yang lain, jangan mengharapkan Mas Kenan lagi, percuma." kata Tari mematahkan keinginan Melly, tidak ingin juga Melly mengganggu Nona.


"Aku sudah terlanjur jatuh cinta. Susah sekali melupakan Mas Kenan." Melly mengerucutkan bibirnya. Gadis cantik sayang pikirannya selalu Kenan.


"Tapi waktumu akan habis terbuang, Nona sangat istimewa dimata Mas Kenan." tegas Tari apa adanya.


"Mas Kenan bilang begitu?" tanya Melly tidak percaya ucapan Tari.


"Tidak, tapi aku bisa menilai sendiri dari perlakuan Mas Kenan terhadap Nona dan Nona bisa membuat Mas Kenan melupakan cinta pertamanya loh." terpaksa Tari bahas untuk mempertegas pernyataan sebelumnya.


"Memang waktu sama Mbak Tari, Mas Kenan belum melupakan cinta pertamanya?" tanya Melly polos.


"Sudahlah Mel, dari tadi Mas Kenan terus." protes Adam pada Melly.


"Iya, bosan ya Pak Adam."


"Betul, seperti tidak ada cowok lain saja. Senang sekali mengganggu milik orang." Omel Adam pada Melly. Melly mencebikkan mulutnya.


"Tapi bu Tari, sebenarnya saya ingin sekali kenal langsung dengan Pak Kenan, mungkin lain waktu saya akan datang lagi, tanpa Melly." kata Adam pada Tari.


"Kenapa begitu, kalau mau bertemu Mas Kenan ajak aku, Dam." kata Melly pada rekannya.


"Hmm... aku coba tanpa kamu dulu, kalau berhasil, sebaiknya kamu mundur. Karena dari situ kita bisa tahu bahwa Mas Kenan tidak tertarik sama kamu. Lagi pula aku ingin bekerja secara professional tanpa melibatkan perasaan." tegas Adam pada Melly.


"Adam?" panggil seseorang pada Adam, sontak semua melihat kearah suara, wanita itu baru saja dari kasir, ia tampak memasukkan dompetnya kedalam tas.


"Sheila." desis Tari tidak suka, kenapa harus bertemu Sheila disini setelah sekian lama tidak melihat batang hidungnya. Wanita yang menyebabkan rumah tangganya berantakan, Tari jadi miris sendiri.


"Hai Sheila, apa kabar?" Adam segera berdiri menyambut Sheila yang sepertinya ia kenal akrab.


"Kamu di Malang?" tanya Sheila pada Adam.


"Iya baru beberapa bulan ini. Kamu?"


"Iya, aku juga baru beberapa bulan ini." jawab Sheila.


"Mau bergabung?" ajak Adam pada Sheila.


"Tidak usah, Dam. Aku mau ke kantor Sahabatku." kata Sheila menunjuk kantor Kenan.


"Siapa? Aku habis dari sana." tanya Adam ingin tahu.


"Kenan. Kamu kenal?" jawab Sheila yang tidak memperhatikan Tari dan Melly.


"Oh tadi bertemu dengan Raymond dan Bu Tari."


"Tari? masih bekerja disana?" tanya Sheila sedikit heran, pikirnya setelah pisah dari Kenan Tari tidak akan ada disekitar Kenan.


"Ini Tari." tunjuk Adam pada Tari. "Ini Sheila teman kuliah saya." kata Adam pada Tari.


Sheila sedikit terkejut dan tampak canggung. Tari hanya menatap Sheila tanpa tersenyum, suasana jadi kaku sekali.


"Mau bertemu Kenan, sudah buat janji?" tanya Tari dengan wajah datar.


"Belum, apa Kenan ada di kantor?" tanya Sheila canggung.


"Ada, sedang bersama istrinya." jawab Tari apa adanya.


"Oh, kalau begitu lain kali saja." kata Sheila kemudian pamit pada Adam.


"Sheila!!!" panggil Tari pada Sheila yang sudah mendekati pintu keluar. Sheila membalikkan badannya melihat pada Tari. Tari menghampiri Sheila, mendekati pintu keluar.


"Tolong jangan rusak kebahagiaan Kenan dan Nanta, anak kami." desis Tari pada Sheila.


"Kenapa sih kalian? saya dan Kenan hanya sahabat, tidak lebih. Anak kalian saja yang berlebihan. Apa salah, jika saya bertemu sahabat saya? dan kamu Tari, jangan salahkan saya jika kamu pada akhirnya berpisah dengan Kenan." Sheila tampak membela diri.


"Jelas salah, sangat salah, karena kata sahabat itu membuat kamu lupa batasanmu, disaat kesulitan seharusnya kamu mencari suami kamu, bukan suami orang." Tari menekan suaranya agar hanya Sheila saja yang mendengarnya.


"Ketika sedih seharusnya kamu menangis dibahu suamimu bukan suami orang!" lanjut Tari lagi.


"Menjauh saja dari Kenan. Dia sudah bahagia bersama Nona." tegas Tari meninggalkan Sheila yang masih terpaku didepan Pintu. Setelah kesadarannya kembali muncul, Sheila melangkah meninggalkan restaurant.