I Love You Too

I Love You Too
Protes



Nanta menyerahkan air mineral pada Kenan dan Nona, ia membeli cukup banyak untuk bekal selama dalam perjalanan, kemudian bersiap menutup pintu kendaraannya.


"Nanta." seseorang membuat Nanta tidak jadi menutup pintu mobilnya.


"Hisyam." Nanta balas memanggil kemudian turun dari mobil.


"Kamu berangkat sekarang?" tanya Hisyam pada Nanta.


"Iya."


"Sama siapa saja?"


"Pak Atang, Papaku dan istrinya, Kak Nona." jawab Nanta kemudian mengetuk jendela pintu belakang. Kenan menurunkan jendela mobilnya.


"Papa ini Hisyam, yang waktu itu masuk rumah sakit." Nanta mendorong tubuh Hisyam agar lebih mendekat pada Papanya.


"Hai Syam, bagaimana kakimu sudah sembuh?" tanya Kenan membalas uluran tangan Hisyam.


"Iya Om sudah, masih harus kontrol dua minggu sekali." jawab Hisyam, kemudian juga mengulurkan tangannya pada Nona.


"Hisyam, Tante." katanya menganggukkan kepalanya sopan.


"Eh..." Nona mau protes tapi tidak jadi karena memang harusnya Hisyam memanggilnya Tante, masih saja merasa muda.


"Nanti telepon-telepon ya Nan, Jangan putus hubungan." katanya kemudian pada Nanta.


"Kamu kalau ke Jakarta, mampir kerumah ya Syam, semoga cepat sehat prima kakimu." kata Kenan pada Hisyam yang merupakan sahabat Nanta sedari sekolah dasar.


"Iya Om." jawab Hisyam tersenyum.


"Pak Atang, hati-hati." pesan Hisyam yang beberapa kali diantar Pak Atang saat menjemput Nanta.


"Aamiin. Makasih Syam." kata Pak Atang pada Hisyam. Setelah berpelukan erat, Nanta kembali masuk kedalam Mobil dan melambaikan tangannya pada Hisyam ketika mobil perlahan melaju.


"Sekolah baruku nanti bagaimana ya?" kata Nanta nyaris tak terdengar.


"Yang pasti itu sekolah pavorite." jawab Kenan membanggakan sekolahnya dulu, Nanta akan bersekolah ditempat Reza dan Kenan dulu.


"Banyak kenangan ya, Pa?" tanya Nanta pada Papanya.


"Ya sama saja seperti kamu disekolahmu sekarang, banyak kenangan toh."


"Iya lumayan."


"Pacar kamu tinggal ya Nan?" Nona memancing Nanta. Kenan tertawa saja.


"Mana ada pacar, bisa di sembur sama Oma." jawab Nanta membuat Kenan terkekeh.


"Tapi naksir-naksiran ada pasti." tebak Nona membuat Nanta memutar bola matanya.


"Yang naksir aku banyak." jawab Nanta tengil.


"Yang kamu naksir?" tetap kepo ingin tahu.


"Tidak ada." tegas Nanta.


"Bohong." Nona tidak percaya.


"Bohong." jawab Nanta mengangguk, membuat yang lain terkekeh.


"Jadi siapa yang kamu taksir?" tanya Nona.


"Tidak ada." jawab Nanta, membuat Nona gemas.


"Ah Nanta tidak asik." katanya dengan mulut memonyong.


"Betul Tante, tidak ada." Nanta meyakinkan sambil terkekeh.


"Ish, Tante lagi." Nona memukul bahu Nanta dengan bantal dipelukannya, membuat Nanta meminggirkan badannya.


"Tadi Hisyam, panggil Tante tidak di komplen, giliran aku dipukul bantal." dengus Nanta membuat Kenan dan Nona terbahak, Pak Atang senyum saja bisanya.


"Seperti biasa saja Nanta, jangan drama." kata Nona lagi, Nanta lagi-lagi terbahak.


"Kamu ajak Kak Nona main apa selama dua hari Papa di Semarang? hari ketiga sampai tumbang tidur seharian." Kenan terkekeh sambil memandang Nanta.


"Hari pertama karaoke, hari kedua bikin cake tanpa lihat resep." jawab Nanta.


"Yang paling capek itu bikin cake ya, karena lama berdiri." kata Nona akhirnya.


"Mana cakenya, saya tidak disuruh mencicip kemarin itu." protes Kenan pada Nona.


"Gagal kabeh Pa, Kak Roma gagal, Kak Nona pun gagal. Ayam piaraan Bi Wasti saja tidak mau makan." kata Nanta membuat semua tertawa. Selalu saja jika ada Nanta suasana terasa lebih hangat. Nona berharap hubungannya dengan Nanta terus seperti ini selamanya.


Pukul sebelas malam, mereka baru tiba di Cirebon, Deni sudah menunggu, sementara Samuel tidak terlihat batang hidungnya. Sedikit lebih lama karena Pak Atang dilarang ngebut dan hampir setiap rest area mampir atas permintaan Nona. Ke Toilet, makan, beli cemilan, kopi dan Sholat.


"Lama sekali baru sampai." sambut Deni menyalami Kenan, memeluk Nanta kemudian mengacak rambut Nona, pesan Papa Baron tidak boleh peluk Nona.


"Bau sekali sih, kamu pakai parfume apa." teriak Nona saat Deni mendekat. Mulai lagi, kali ini kesal melihat Deni.


"Ganti baju, Den. Jangan pakai parfume yang biasa kamu pakai." Kenan memberi tahu Deni.


"Ish, benar kata Papa ya, kamu hamil rese." kata Deni kembali mengacak rambut.


"Rese." kata Deni kemudian masuk kedalam menarik tangan Nanta, meninggalkan Nona dan Kenan jauh dibelakang.


"Nan, kamu tidur di kamarku saja, Pak Atang dikamar tamu." kata Deni pada Nanta. Nanta mengangguk saja.


"Aku numpang mandi ya Om." kata Nanta setelah membongkar travel bagnya.


"Pakai parfume ini kalau mau dekat Kak Nona." kata Nanta menunjuk parfume yang dibawanya didalam tas.


"Mesti ini?" tanya Deni tidak percaya.


"Dijamin, tidak disuruh menjauh." kekeh Nanta membuat Deni ikut terkekeh.


"Om Samuel mana?" tanya Nanta kemudian.


"Masih pacaran mungkin." jawab Deni tersenyum.


"Oh." Nanta tidak bertanya lebih detail, segera berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri karena badannya terasa lengket walaupun dimobil selalu pasang ac.


"Kalau mengantuk tidur saja duluan, Nan. Om melihat Ibumu dan Papamu dulu." kata Deni ketika Nanta selesai mandi.


"Ibu...?" Nanta terkekeh.


"Kenapa memangnya?" Deni ikut terkekeh tahu Nona pasti marah dipanggil Ibu.


"Dipanggil Tante saja tadi protes." kata Nanta lagi tawanya semakin menggelegar.


"Seru sekali sih kalian, ada apa?" tanya Nona berteriak dari luar mendengar tawa Deni dan Nanta berderai, Deni segera keluar dari kamar, ia sudah berganti pakaian dan memakai parfume Nanta.


"Peluk dulu." kata Deni merentangkan kedua tangannya. Nona mengendus, ingin tahu bau badan Deni, ketika dirasa aman baru ia menghambur kepelukan Deni.


"Apa kabar adek sayang." Deni menepuk bahu Nona, terkesan rindu sekali. Bagaimana tidak rindu, selama ini mereka selalu bersama.


"delapan bulan kedepan lu punya keponakan." kata Nona melepaskan pelukan Deni.


"Masih lama." kata Deni terkekeh.


"Iya, baru juga masuk minggu ke empat." kata Nona berjalan meninggalkan Deni menghampiri Kenan diruang tamu.


"Tadi kalian mentertawakan apa sih?" tanya Nona kepo.


"Eh Pak Atang sudah disuruh tidur?" tanya Deni tanpa menjawab pertanyaan Nona.


"Sudah dikamar." jawab Kenan.


"Deni... gue tanya tadi tertawakan apa? seru sekali." Nona masih saja penasaran.


"Gue cuma bilang sama Nanta supaya dia tidur saja duluan." kata Deni tersenyum.


"Apanya yang lucu." dengus Nona kesal, Deni terkekeh menaikkan alisnya pada Kenan, Kenan tersenyum lebar jadinya.


"Entah apa yang lucu, Nanta tertawa keras mendengar kalimat lanjutan gue." kata Deni sok polos.


"Memangnya kalimat selanjutnya lu bilang apa?" tanya Nona penasaran.


"Kan gue suruh tidur duluan tuh, terus gue bilang, Om mau lihat Ibumu dan Papamu dulu. Tidak ada yang lucu kan?"


"Hmmm..." Nona bersedekap memandang Deni, Kenan menahan tawanya.


"Kenapa?"


"Ibumu itu Deniiii...." Nona melempar bantalan kursi pada Deni, Deni tertawa puas sekali menangkap bantal dan dipeluknya. Kenan pun menarik Nona agar duduk disebelahnya sambil tertawa.


"Mas Kenan juga tertawa." Nona melotot kesal pada Deni.


"Benar kata Nanta, dipanggil Tante saja kamu protes hahahaha apalagi Ibu."


"Tidak lucu Deni."


"Memang tidak lucu, biasa saja kalau Nanta panggil kamu Ibu, yang lucu reaksi kamu yang selalu menolak, padahal sebentar lagi jadi Ibu."


"Nanti saja tunggu adiknya lahir, sekarang biar saja aku dipanggil Kakak. Iya kan Mas?" Nona meminta suaka.


"Hmmm... kalau diantara kita saja tidak apa." jawab Kenan.


"Kalau di dekat orang banyak memangnya kenapa?"


"Iya nanti orang mengira kamu Kakaknya Nanta, Klien saya bisa mendekati saya kalau begitu, dikira saya tidak punya istri." jawab Kenan tersenyum jahil.


"Ih Mas Kenan, tidak boleh." Nona memberengut memeluk Kenan, menunjukkan kalau hanya Nona pemiliknya. Kenan dan Deni terbahak dibuatnya.


"Samuel mana sih?" tanya Nona pada Deni.


"Mengantar pacarnya pulang." jawab Deni.


"Oh sudah punya pacar, kenapa tidak kasih tahu. Padahal kan gue bilang mesti gue seleksi." protes Nona.


"Kata Papa kamu lagi hamil jangan diganggu." jawab Deni apa adanya. Nona mengangguk setuju, terlebih hidungnya sedikit sensitive dengan bau-bauan sekarang. Repot juga kalau protes karena tidak cocok dengan wangi pacarnya Samuel nanti.


Terimakasih selalu mendukung aku, btw kalian mau Nanta panggil Nona apa ya????🤭😁😁