I Love You Too

I Love You Too
Modus bin mesum



"Takut sekali Kak Nona dengar." bisik Raymond pada Kenan sambil ikut menoleh ke arah Nona yang masih tertidur.


"Bukan takut, Om hanya malas ribut, apa lagi disalahkan untuk hal yang tidak Om lakukan." kata Kenan menjelaskan dengan suara pelan dan kepala agak dimajukan agar dekat dengan Raymond.


"Iya sih, pengalaman ditinggal Tante Tari ya Om." Raymond terkekeh, Kenan menaikkan alisnya sekali.


"Om, Melly itu benar-benar menyebalkan." kembali lagi pada Melly, Raymond mulai curhat pada Kenan.


"Kenapa?"


"Tadi pas aku mau pergi makan siang sama Pak Gubernur, dia bilang kenapa bukan Mas Kenan, kan dia bos nya. Ish menyepelekan aku betul." sungut Raymond mengingat perkataan Melly.


"Terus?" Kenan bersedekap, menunggu kelanjutan cerita Raymond.


"Aku bilang saja kalau aku akan menggantikan posisi Om Kenan dalam waktu dekat." Raymond terkekeh lagi.


"Kejamnya." Kenan menggelengkan kepalanya miris.


"Menghadapi dia memang harus kejam sepertinya." jawab Raymond dengan semangat.


"Kamu kejam mau menggeser Om." Kenan tertawa melempar gumpalan kertas pada Raymond.


"Hahaha bukan begitu Om, aku cuma kesal sama Melly saja. Tapi aku juga bilang Om akan mengurus perusahaan Kak Nona." kata Raymond melanjutkan ceritanya tersenyum mengingat kekesalannya.


"Bisa jadi." kata Kenan ikut terkekeh, kemudian tersenyum melihat pada istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya, tapi kini tampak melamun. Raymond pun ikut menoleh ke arah Nona, lalu melempar senyumnya.


"Puas sekali Kak Nona tidur, tadi habis makan kangkung ya?" tanya Raymond mentertawakan Nona. Nona jadi ikut tertawa membenarkan posisi duduknya.


"Aku tadi mimpi dicium Mas Kenan loh. Kenapa mimpinya mesum sekali ya." Nona menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Masa?" Kata Kenan sambil senyum-senyum sendiri, ingat apa yang dilakukannya tadi.


"Iya, lama lagi ciumnya." Nona terkekeh geli sendiri.


"Dicium apanya tadi dalam mimpi?" pancing Kenan senang sekali menggoda istrinya, sementara Raymond mencebikkan bibirnya melihat gaya om nya yang sok polos.


"Bibir?" wajah Nona tampak memerah, jadi malu sendiri.


"Bagaimana coba sini praktekkan ciumnya?" tanya Kenan jahil berjalan menghampiri Nona.


"Ish Om ini modusnya dan mesum juga rupanya, aku pulang dulu lah." kata Raymond berjalan meninggalkan Kenan yang sedang menggoda istrinya.


"Hei masih jam kantor." teriak Kenan pada Raymond yang baru saja akan membuka pintu ruangan Kenan.


"Aku juga mau tanya istriku tadi mimpi aku cium tidak, mau kupraktekkan juga?" kata Raymond membuat Kenan dan Nona terbahak.


"Modus bin mesum kamu Ray." kata Nona disela tawanya.


"Ish Kak Nona tidak tahu saja, siapa yang sebenarnya lagi modus bin mesum itu." dengus Raymond segera keluar dari ruangan.


"Om, jangan lupa kunci ruangannya." teriak Raymond yang kembali muncul dibalik pintu.


"Hahaha kamu saja yang jaga didepan pintu, jangan sampai ada yang masuk." jawab Kenan terbahak membuat Raymond melengos benar-benar meninggalkan Kenan kembali keruangannya, kemudian tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya tuh bangunin kamu loh dari tadi, susah sekali sampai saya cium-cium saja, kamunya tidak bangun juga." kata Kenan sepeninggalan Raymond, ia sudah duduk disebelah Nona saat ini.


"Pantas tadi Raymond bilang aku habis makan kangkung, sesusah itu bangunin aku ya." kata Nona tertawa dan segera beranjak dari sofa.


"Mau kemana?" tanya Kenan menarik tangan Nona hingga terjatuh dipangkuannya, senang sekali memangku Nona dan langsung memeluknya.


"Mau cuci muka, sikat gigi." kata Nona sambil menutup mulutnya, Kenan tertawa dan mengacak anak rambut Nona, kemudian ikut menutup hidungnya melepaskan pelukannya pada Nona.


"Sana, bau." kata Kenan masih menutup hidungnya.


"Jadi sikat gigi tidak?" tanya Kenan masih memeluk Nona sambil menciuminya


"Jadi." jawab Nona menikmati pelukan suaminya, setelah mencium pipi Kenan ia pun beranjak dari pangkuan Kenan, menuju toilet.


"Mas Kenan tidak cerita kalau Mbak Tari sedang hamil." protes Nona ketika keluar dari kamar mandi, ia tampak lebih segar saat ini.


"Saya juga baru tahu tadi pagi." jawab Kenan yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Aku juga mau hamil." rengek Nona kembali duduk dipangkuan Kenan, memeluk suaminya, membuat Kenan menghentikan aktifitasnya.


"Mau ke dokter? supaya lebih cepat hamil." tanya Kenan.


"Memangnya bisa?" tanya Nona tidak yakin.


"Bisa saja, kan usaha." jawab Kenan menunggu jawaban Nona.


"Nanti saja, kalau Nanta sudah selesai bertanding. Kalau aku hamil, Mbak Tari hamil siapa yang kasih support untuk dia dilapangan nanti." kata Nona memikirkan Nanta.


"Kalau hamil memangnya tidak bisa kasih support?" tanya Kenan membelai rambut Nona


"Khawatir saja, kan tidak tahu bagaimana kondisi hamilnya, setiap orang beda-beda. Waktu Mbak Tari hamil Nanta dulu bagaimana?" tanya Nona pada Kenan, mencari tahu type hamilnya Tari.


"Tidak tahu." jawab Kenan mencoba mengingat-ingat.


"Lupa?" tanya Nona, Kenan menganggukkan kepalanya.


"Sudah tua sih ya? dasar Opa-opa." kekeh Nona memeluk Kenan dan menciumi pipinya.


"Enak saja bilang saya tua, Saya bisa kasih kamu lima anak sekaligus. Kamu mau?" Kenan menggelitiki Nona hingga Nona tertawa kegelian.


"Mau, tapi jangan sekarang." jawab Nona disela tawanya.


"Mas Kenan tadi aku benar lihat Sheila loh." kata Nona mengulang perkataannya saat diruangan Tari tadi.


"Ya biar saja, mau diapakan kalau lihat?" tanya Kenan pada Nona.


"Aku mau tahu kalau Mas Kenan lagi sama aku, terus kita bertemu Sheila, Mas Kenan bagaimana?" tanya Nona pada suaminya.


"Just say hello." jawab Kenan mengedikkan bahunya.


"Hmm..." menatap Kenan penuh curiga.


"Maunya kamu bagaimana? pura-pura tidak kenal saja?" tanya Kenan meminta pendapat.


"Didepan aku pura-pura tidak kenal, kalau dibelakang aku saling rindu?" sungut Nona membuat Kenan menjentikkan jarinya ke dahi Nona.


"Sakit..." rengek Nona mengusap dahinya.


"Biar pikirannya tidak negatif." jawab Kenan terkekeh.


"Aku kan cuma tanya." sungut Nona.


"Pertanyaan kamu mengintimidasi, tahu tidak?" ikut mengusap dahi Nona yang sedikit kemerahan.


"Maksud aku, jangan seperti itu."


"Memang saya tidak seperti itu. Kenapa kamu tidak berteman saja dengan Sheila. Menurut saya, Sheila itu hanya kurang teman. Dari dulu dia hanya berteman dengan saya dan Bang Eja. Setelah Bang Eja menikah mulai ada jarak, dia blokir nomor kita, tapi saat saya akan menikah dengan Tari, dia mulai lagi mendekat, mungkin mulai merasa kehilangan, karena Sheila terbiasa kami manjakan. Kemanapun selalu kami antar, kalau saya tidak bisa, saya minta Bang Eja yang handel. Teman dekatnya hanya seputaran kami saja, dia kurang teman." kata Kenan panjang lebar.


"Tidak mau!!!" jawab Nona singkat, padat dan jelas.