
"Sudah jarang telepon, sekalinya telepon ngomel, apanya yang penuh kerinduan." gerutu Raymond disela tawanya.
"Habisnya kamu larang-larang kita ikut jemput. Memang satu pesawat sama siapa?" tanya Roma penuh curiga.
"Sama Om Kenan." jawab Raymond.
"Selain itu? klien cantik? hah...hah...hah ayo jawab." tambah ngomel saja Roma.
"Ish jitak juga nih, ya sudah jemput aku dandan yang cantik, jangan sampai ada penumpang lain yang lebih cantik dari kamu." kata Raymond tertawa geli, bisa membayangkan Roma pasti akan berdiri lama didepan lemari memilih beberapa baju.
"Nanti aku video call kamu pilihkan baju yang akan kupakai ya." kata Roma benar saja dugaan Raymond.
"Hmmm... fotokan saja, nanti aku pilihkan." jawab Raymond tidak mau repot. Kalau video call aktifitas Raymond di Semarang bisa terganggu. Rencananya siang ini Raymond dan Kenan diundang makan siang oleh Pak Mulyadi, partner bisnis mereka. Sekaligus perkenalan dengan wakil Raymond yang merupakan referensi dari Pak Mulyadi."
"Ya sudah aku siap-siap dulu. Kamu setelah ini mau apa?" tanya Roma.
"Makan siang sama Pak Mulyadi dan wakilku di Malang nanti."
"Laki-laki kan?"
"Pak Mulyadi sayang bukan Mak Mulyadi." jawab Raymond terkekeh. Roma ikut tertawa menyadari kebodohannya. Kemudian mengakhiri teleponnya Karena akan bersiap menjemput Nanta dan Suami tercinta.
Sementara Nona masih rebahan di sofa karena merasa badannya agak lelah hari ini, mungkin karena beberapa hari kemarin ia terlalu sibuk beraktifitas dirumah bersama Nanta dan Roma.
"Kamu sakit, Kak Nona?" tanya Roma melihat Nona yang tampak sedikit pucat. Nona menggelengkan kepalanya.
"Mengantuk saja." jawabnya sambil menggunakan bantalan kursi sebagai bantal dan gulingnya.
"Yah, kita mau jemput Nanta dan Suami, batalkan saja ya? kita menunggu dirumah?" tanya Roma meminta persetujuan Nona. Ia tidak mau memaksakan diri, bagaimanapun tugasnya menemani dan menjaga Nona.
"Tidur dulu sebentar ya, kalau sudah enakan kita jemput, kalau masih lemas aku tinggal saja dirumah, kamu saja yang ikut jemput ke Airport." kata Nona pada Roma.
"Kalau Kak Nona tidak ikut, aku juga tidak ikut. Biar saja Nanta dan Pak Atang yang menjemput Om Kenan dan Raymond." kata Roma memberikan solusi.
"Kasihan kamu tidak kemana-mana." kata Nona tidak enak hati pada Roma.
"Kak Nona seperti sama siapa saja, Kalau Ray sudah sampai aku bisa ajak jalan kemanapun. Tidak harus sekarang juga, ya sudah Kak Nona tidur saja dikamar." Roma menunjuk pintu kamar Nona.
"Kamu?"
"Aku tidur juga." kata Roma tertawa.
"Disini saja sambil nonton Televisi, kamu saja tidur dikamar."
"Aku mau bikin puding silky saja, Kak Nona mau rasa apa?" tanya Roma akhirnya.
"Leci." jawab Nona membuat Roma tertawa.
"Adanya hanya coklat."
"Ish kenapa tanya mau rasa apa hahaha." Nona terbahak, Roma pun ikut terbahak. Sementara Roma sibuk didapur yang tentu saja dibantu Bi Wasti, Nona tertidur dengan pulasnya. Begitu selesai membuat puding dan mendinginkannya di lemari pendingin, Roma menghubungi Raymond kembali.
"Aku masih meeting, sayang." suara Raymond terdengar berbisik. Rupanya makan siang kali bersama Pak Mulyadi bukan makan siang santai, tapi diselingi pembicaraan serius masalah pekerjaan.
"Aku dan Kak Nona tidak jadi ikut jemput." kata Roma cepat.
"Kenapa?"
"Oh ya sudah, tunggu aku dirumah ya, dandan yang cantik." kata Raymond mengakhiri sambungan teleponnya.
"Jadi Fero kapan akan ke Malang?" tanya Raymond begitu kembali Ke meja makan, karena tadi ijin mengangkat telepon istrinya.
"Hari minggu saja." jawab Fero yang akan menggantikan posisi Raymond nanti, sementara Raymond menggantikan posisi Om Kenan.
"Aku kira kita berangkat bersama." kata Raymond terkekeh.
"Bos Besar mengarahkan masuk hari senin, sekalian acara lepas sambut." jawab Fero menunjuk Kenan.
"Oh ikuti arahan bos saja kalau begitu " kata Raymond menyetujui.
"Ada lagi yang mau dibahas Pak Mul? kami harus kebandara sebentar lagi." tanya Kenan melihat kepergelangan tangannya.
"Cukup, saya titip Fero ya. Fero kamu bekerja yang baik, belajar sama Raymond jangan bikin masalah." pesan Pak Mulyadi yang sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan Kenan.
"Sama-sama belajar, Pak." jawab Raymond merendah, tapi itu sebenarnya ia memang masih harus banyak belajar agar bisa sehebat Opa, Ayah dan Om nya.
"Iya Om, aku tidak akan membuat malu Om Mul." kata Fero berjanji setulus hati. Fero berperawakan sama dengan Raymond, Kenan melihat keduanya akan cocok bekerja sama, umur pun tidak jauh berbeda. Semoga saja istri mereka pun saling cocok, mengingat Roma mudah beradaptasi dan cenderung ramah.
"Kalau begitu saat lepas sambut ajak istri kalian ke kantor ya, agar saling mengenal dan karyawan pun tidak akan bingung saat sekali waktu mereka mampir ke Kantor." kata Kenan pada keduanya. Raymond dan Fero mengangguk setuju.
"Istri Pak Kenan juga hadir kan?" tanya Fero.
"Tentu saja, supaya bisa kenal juga dengan kamu dan istrimu." jawab Kenan tersenyum bangga.
"Kak Nona sedang tidak enak badan, semoga saja senin sudah fresh dan rencana Om berjalan lancar." bisik Raymond pada Kenan.
"Pak Mul, saya pamit ya." kata Kenan cepat setelah mendengar kabar dari Raymond, segera beranjak dan menyalami Pak Mulyadi dan Fero.
"Buru-buru sekali Om." kata Raymond ikut menyalami Pak Mul dan Fero.
"Kalau pesawatnya bisa dipercepat akan Om percepat." kata Kenan serius. Raymond terkekeh, hanya dengar tidak enak badan sampai segitunya.
"Hanya tidak enak badan, Om." kata Raymond pada Kenan saat mereka sudah di mobil menuju bandara.
"Iya, tapi Nona sedang hamil Ray." Kenan mengingatkan. Ia segera mengintip aktifitas istrinya melalui CCTV, tampak Nona sedang tidur di sofa sedangkan Roma tertidur dilantai.
"Aih kasihan sekali Istriku, Om." kata Raymond melihat Roma tertidur dilantai.
"Telepon saja suruh pindah kekamar." kata Kenan pada Raymond.
"Tidak usah, dirumah juga sering tidur dilantai." jawab Raymond membuat Kenan ingin menjewer kupingnya.
Pukul empat sore, Kenan dan Raymond sudah tiba dirumah, setelah dari bandara mengantar Nanta pulang terlebih dulu. Sebenarnya Kenan meminta Nanta untuk menginap lagi, tapi Nanta bilang mau menghabiskan waktu bersama Mama dan Om Bagus dulu karena mulai senin malam sudah berangkat ke Jakarta, mungkin bertemu Mama kalau lagi liburan sekolah saja.
"Katanya mau dandan cantik, malah masih pada tidur dengan posisi seperti yang dilihat pada CCTV tadi." Raymond tertawa mengangkat badan istrinya dan memindahkan kedalam kamar tempat ia dan Roma biasa menginap dirumah Kenan. Hal serupa dilakukan Kenan mengangkat Nona pindah ke kamar mereka.
Kedua wanita itu entah habis makan apa, satupun tak ada yang terbangun saat digendong suami mereka. Bi Wasti yang melihat dari dapur tertawa dibuatnya.
"Pada habis makan apa, tidur sampai pulas begini, Bi?" tanya Kenan saat melihat Bi Wasti.
"Baru saja bangun, makan puding terus tidur lagi Pak." jawab Bi Wasti. Kenan terkekeh menggelengkan kepalanya, sesampai dikamar diciuminya pipi dan bibir Nona gemas sekali, kemudian ikut merebahkan badannya disebelah Nona sambil mengelus perut istrinya.
Sementara Nona masih saja pulas walau tampak nyaman dengan perlakuan suaminya, ia bermimpi Kenan sedang mengelus perutnya hingga tersenyum dalam tidurnya. Kenan jadi ikut tersenyum lebar melihat istrinya tidur sambil tersenyum, seperti bayi saja, pikir Kenan.