
"Napa sih tepon Baen teus?" hari ini sudah kesekian kali Larry hubungi Balen melalui sambungan Video bersama Nanta dan Ncusss.
"Abang kan Kangen mau ngobrol sama Balen." kata Larry karena dari tadi selalu Balen matikan.
"Baen ndak." jawabnya tengil kemudian bersiap pergi tinggalkan handphone Ncusss seperti yang tadi-tadi.
"Balen, Abang pulang malam nih." kata Nanta pada adiknya. Tidak jadi pergi kembali pada handphone.
"Mo mana?" tanyanya pada Nanta.
"Pergi sama Bang Leyi." jawab Larry tersenyum.
"Temaen bianna sian diumah." protes pada Nanta.
"Abang lupa ada undangan sore di rumah Bang Doni, Om Deni juga mau ke sana kan." jawab Nanta.
"Teseah deh, pedi aja teus." katanya tambah tengil.
"Baen ikut Om Deni dong ke rumah Bang Doni." bujuk Nanta melihat gelagat mulai merajuk.
"Maes."
"Kenapa Malas?"
"Napain umah Ban Doni, Baen mo umah Ayah aja, ada Ban Lemon." jawabnya.
"Eh memang Bang Ray sudah datang?" tanya Nanta.
"Udah, Ichie ninap umah Ayah tan mo itut jemput aipot." jawabnya.
"Oh ya sudah nanti Abang telepon Bang Ray."
"Ote, bei." matikan telepon.
"Sue beneran gue tidak dianggap." Larry gelengkan kepalanya, Nanta terbahak dibuatnya.
"Sama gue juga marah kan tadi." kata Nanta pada sahabatnya.
"Gue culik juga nih si unyil." kata Larry gemas, Nanta tambah terbahak saja dibuatnya.
"Beneran Nan gue jemput nih Balen biar ikut kita ke rumah Doni." kata Larry pada Nanta.
"Gue nanti habis makan siang juga pulang dulu kok. Nanti gue coba ajak deh." kata Nanta pada sahabatnya itu. Nanta tahu pasti bagaimana tidak enaknya diacuhkan Balen.
"Iya, kalau perlu gue jemput, gue jemput deh." segitunya Larry galau diabaikan bocah empat tahun yang selama ini temani pagi dan malam Larry.
"Tidak usah, elu kan mau jemput Femi juga." Nanta ingatkan Larry.
"Iya, gue pikir jemput Balen dulu baru jemput Femi." jawab Larry.
"Jadi fixed pilih Femi nih?" tanya Nanta memastikan.
"Pilih Balen saja bagaimana?" tanya Larry sambil tertawa.
"Benar kata Mike kita gendong anak, elu gendong Balen." Nanta ikut tertawa.
"Elu pada mau punya cucu, gue baru mau punya anak." kata Larry lagi.
"Nah itu." keduanya tertawa bersama.
"Sampai nanti ya, elu tahu Dona undang acara nanti demi elu dekat sama Femi." kata Nanta lagi.
"Masa?"
"Iya, dia gemas kalian tarik ulur."
"Yah habis Femi nya begitu. Gue kan sudah coba dekati tidak respon ya sudah."
"Sekarang dia mau tuh elu dekati."
"Iya."
"Bagus kan?"
"Bagus kalau Balen tidak bikin ulah."
"Balen lagi disalahkan."
"Iya, merusak mood gue tuh anak, tadinya semangat mau bilang bokap soal Femi malah Balen buang gue." Larry bersungut.
"Siapa yang buang sih, dia cuma merajuk sebentar, seperti tidak kenal Balen saja, ingat tidak cuma karena jus di pesawat Aban Leyi tidak di telepon berapa lama?" Nanta ingatkan Larry.
"Iya ingat, makanya minta diculik." Larry tertawa.
"Ajak makan di Mal saja sama Femi sekalian biar akrab."
"Nanti Femi cemburu juga sama Balen, repot betul hidup lu." Nanta tertawa bayangkan sulitnya Larry.
"Gue sudah bilang kok tidak boleh cemburu sama Balen, dia adik gue juga." jawab Larry pasti.
"Oke sampai nanti ya." Nanta pun akhiri sambungan teleponnya. Lalu langsung hubungi Raymond.
"Surprised..." teriak Raymond begitu angkat telepon dari Nanta. Ia sengaja tak beritahukan Nanta kalau minggu ini sudah mulai pindah ke Jakarta, Opa dan Oma juga kompak dengan Raymond ingin kasih kejutan untuk Nanta.
"Sebal ih." Nanta bersungut, orang rumah tidak ada yang beritahu Nanta satupun, bahkan Ayah yang tiap hari bertemu tidak bilang apapun.
"Bukannya senang Abangnya sudah di Jakarta." Raymond berdecak mendengar tanggapan Nanta, tapi dia senang Nanta jadi kesal.
"Tidak bilang-bilang kalau sudah di Jakarta. Semua keluarga di Malang sudah di Jakarta sekarang?" tanya Nanta semangat.
"Sudah dong, berikut barang-barang." jawab Raymond tersenyum, senang sekali bisa kembali Ke Jakarta berkumpul bersama keluarganya dan teman-temannya juga pasti.
"Kok tidak cerita." protes Nanta pada Raymond.
"Namanya saja surprise, masa mau cerita." Raymond mendengus sambil mainkan gadis kecil dipangkuan bundanya.
"Rumah Abang belum aku cek lagi." Nanta jadi ingat tugasnya dari Raymond belum ia selesaikan, orangnya malah sudah datang.
"Lambat, sudah beres sama Ayah."
"Duh Ayah tidak suruh aku." Nanta jadi tidak enak hati ternyata diambil alih Ayah kerjaannya.
"Ayah kasihan kamu sibuk." jawab Raymond sekarang mainkan pipi istrinya yang sedikit lebih tembam dari biasanya.
"Abang sekarang dimana?" tanya Nanta ingin tahu.
"Rumah Ayah." jawab Raymond, rencananya seminggu ini sambil menunggu rumah dibersihkan ia dirumah Ayah dulu.
"Menginap dirumah Ayah?" Nanta tambah semangat saja karena dekat Abangnya sekarang.
"Iya." jawab Raymond.
"Nanti malam aku kesana ya." tersenyum bahagia tidak sabar menunggu malam kalau begini, seandainya acara dirumah Doni bisa dibatalkan, Nanta pilih dibatalkan deh.
"Tidak usah." Raymond cengar-cengir.
"Kok tidak usah?" Nanta berkerut dan merengut ditolak Abangnya.
"Malas jumpa kamu." beneran ajak ribut nih Abangnya Nanta.
"Ish menyebalkan, bodo ah habis makan siang aku kesana."
"Tidak usah."
"Abang!!!" Kesal Nanta dikerjai Raymond yang langsung terbahak berhasil bikin Nanta kesal.
"Hahaha iya Abang tunggu ya." Raymond terbahak senang sekali bisa menggoda adiknya. Sudah mau punya anak tetap saja seperti bocah. Pakai merengek begitu, tidak ada bedanya sama Balen.
"Balen sudah sama Abang?" tanya Nanta ingat kalau ada Shakira mana mau Ante Baen diajak ke rumah Doni. Padahal Larry sudah sangat berharap bisa mengajak Balen pelipur laranya ke rumah Doni.
"Belum, lagi dijemput Opa." jawab Raymond.
"Anakku lagi apa?" tanya Nanta lagi ingin tahu kabar Shakira.
"Minta dibelikan pizza, kejunya yang banyak." jawab Raymond sok polos.
"Itu sih Papanya." Nanta terbahak sudah tahu pasti itu akal-akalan Bang Raymond, mama mungkin baby Shakira minta Pizza.
"Bawa ya nanti, di hotel tempat kamu menginap itu enak pizzanya." Raymond beritahukan Nanta yang anggukan kepalanya, padahal Raymond tidak melihat.
"Kok Abang tahu? kan aku yang tinggal di Jakarta bukan Abang." kata Nanta tengil pada Abangnya. Yah kadang mereka sekeluarga memang suka saling tengil.
"Sombong! baru berapa tahun kamu di Jakarta. Aku tuh sudah dari lahir makan pizza disana." rupanya tengilnya Balen menurun dari Raymond dan Nanta.
"Lebih sombong dari aku kalimat barusan." keduanya terbahak, Abang adik ini ada saja kelakuannya. Keduanya tidak sabar untuk bertemu.
"Cepat kesini, bawa pizza sama salad ya, saosnya minta dilebihkan." permintaan ya jadi bertambah.
"Iya, sabar dong, aku order dulu." si adik iya saja, apapun yang Raymond minta pasti akan dicari oleh Nanta.
"Oma mau apa?" tanya Nanta.
"Mau kamu menginap disini nanti malam ya." teriak Oma, Nanta tersenyum pandangi istrinya, malam ini mereka tidak pulang ke rumah kalau begitu.
"Siap Oma, tidur di kamar sama Oma juga boleh."
"Oh sorry sempit tidak mau." duh Oma juga ikutan tengil, sudah tahu kan turunnya dari mana kalau begini.
Maaf baru up ya, kemarin aku kurang fit, jadi ga konsen deh bawaannya.