
"Oke, gue balik ya." ijin Arkana pada Ando dan Wilma.
"Masih ramai Bang, mau balik saja." sungut Wilma pada Abangnya.
"Justru biar sepi gue balik duluan, kalau ramai terus kapan mau di hajar." jawab Arkana membuat mereka semua terbahak. Arkana dan Sarah segera tinggalkan Nanta, Ando beserta pasangannya.
"Gue juga lah Ndo, kabari kapan mau dikawal honeymoon." kata Nanta sambil cengengesan menggoda sahabatnya.
"Katanya mau tour Sumatera." Wilma mengingatkan.
"Aduh babyku kasihan." kata Nanta pada Wilma.
"Kuat kok." jawab Dania, Nanta gelengkan kepalanya.
"Mas Nanta, kan sudah janji mau ajak tour sumatera." tagih Dania setengah merengek.
"Nanti kalau sudah lahir dan babynya sudah besar." jawab Nanta.
"Padahal mumpung belum lahir lebih enak." sungut Dania.
"Wilma nih." Nanta pelototi Wilma, kesal karena Dania jadi rewel.
"Yah kan elu yang mulai Bang, sebut kawal honeymoon." Wilma tidak mau disalahkan.
"Ya tapi jangan bilang sumatera juga, berapa kota itu, jalan darat. Kalau di hutan ada keluhan pada kehamilan pasti panik semua." kata Nanta sampaikan alasannya menolak.
"Naik pesawat saja, dicicil satu kota nanti berikutnya satu kota lagi, begitu terus." pinta Dania merayu suaminya.
"Lihat jadwal dulu." kata Nanta akhirnya.
"Nanti saja tunggu ada pertandingan di Sumatera." kata Ando menyeringai.
"Nah itu lebih bagus." Nanta menyalami Ando, senang sahabatnya kasih ide brilliant.
"Kita saja berdua yang ke Sumatera kalau mereka tidak mau. Kemana dulu?" Wilma kasih ide pada Dania.
"Pergi harus seijin suami." tegas Ando pada Wilma. Nanta anggukan kepalanya.
"Abang ijinkan tidak?" tanya Wilma tersenyum dengan manis, berharap Ando anggukan kepalanya.
"Tidak." Jawab Ando dan Nanta berbarengan, kompak sekali dua sahabat ini.
"Suami kita tidak asik." kata Wilma memandang Dania.
"Provokator." Nanta jentikkan jarinya ke dahi Wilma.
"Penganiayaan di depan suami gue." teriak Wilma membuat Nanta terkekeh, masih rusuh saja Wilma padahal sudah jadi istri.
"Mulut apa toa sih?" tanya Nanta tertawakan Wilma. Ando ikut tertawakan istrinya.
"Perbuatan tidak menyenangkan bisa kena pasal." kata Wilma lagi.
"Ish berisik sekali istri gue." Ando tertawakan istrinya, merangkul Wilma dengan mesranya.
"Jadi kalian setelah ini kemana?" tanya Nanta pada Ando.
"Mau cari kampus untuk Wilma." jawab Ando melirik Wilma sambil tersenyum jahil.
"Aku tidak mau kuliah." Wilma langsung gelengkan kepalanya.
"Harus kuliah, nanti bagaimana mau didik anak kalau tidak punya bekal." Ando ingatkan Wilma.
"Kan ada Papanya yang pintar." jawab Wilma tersenyum mainkan alisnya.
"Mama juga harus pintar dong supaya anak ikut pintar. Kalau Mama bodoh anaknya kasihan." jawab Ando, Wilma langsung mengerucut bibirnya.
"Mau pintar kan tidak harus kuliah, baca berita saja tiap hari."
"Berita politik saja yang ada sama kriminal atau infotainment." Ando terkekeh mencubit Pipi Wilma gemas
"Dania saja lagi hamil juga kuliah." kata Nanta pada Wilma.
"Sabtu memangnya kampus buka sampai sore? Sekarang saja masih ramai." kata Nanta melirik jam dipergelangan tangannya.
"Daftar dikampus kita saja atau kampus Dania." saran Nanta lagi.
"Mana yang lebih santai kampusnya?" tanya Wilma, Nanta tertawa mendengarnya.
"Mana ada santai. Kalau mau santai di paud saja."
"Rese, dikira gue masih bocah kali, suruh kuliah di paud." sungut Wilma, semua jadi tertawa.
"Pulang malam terus nanti." Ando gelengkan kepalanya.
"Beneran gue jadi guru tk sajalah biar bisa pulang cepat." kata Wilma sedikit kesal. Ando dan Nanta kembali tertawa.
"Gue mau dong sekolah penyiar, mau jadi penyiar radio saja." kata Wilma kemudian.
"Nah cocok tuh biar toa tersalurkan." kata Nanta tertawa geli.
"Boleh Bang?" tanya Wilma pada Ando.
"Pulangnya malam tidak?" tanya Ando.
"Kalau dapat siaran pagi hari prime time berangkat shubuh, sebelum dzuhur sudah dirumah." kata Wilma pada Ando.
"Kalau dapat prime time pagi, kalau dapat yang sore pulang malam juga." kata Nanta.
"Ya yang penting kuliah kan, nanti mau kerja dimana juga tetap saja seijin suami." dengus Wilma lagi.
"Kalau diijinkan bekerja." sindir Dania pada Nanta.
"Ada yang curhat." Nanta tertawa merangkul istrinya.
"Yuk ah pamit sama Bunda dan yang lainnya." ajak Nanta pada Dania.
"Harusnya pulang belakangan." protes Wilma pada Nanta.
"Kalau tidak pulang sekarang, kalian tidak bergabung sama sepupunya Ando, nanti malah tidak akrab." Nanta menunjuk gerombolan sepupu Ando yang beberapa sudah dikenalnya.
"Iya sih." Wilma akhirnya setuju. Nanta tinggalkan Ando dan Wilma setelah berpamitan, Wilma dan Dania cium pipi Kiri kanan seperti kebanyakan orang.
"Bunda." panggil Nanta pada Bunda setelah mendekat pada Bunda Kiki dan sahabatnya.
"Eh calon mantu tidak jadi." Ame Enji tertawa memandang Nanta. Nanta juga tertawa saja mendengarnya lalu salami semuanya.
"Mau pulang?" tanya Kiki pada Nanta.
"Iya aku mau latihan basket." jawab Nanta pada Bunda.
"Loh bukannya kemarin sudah?"
"Yang kemarin belum selesai, lanjutkan hari ini." jawab Nanta.
"Latihan basket pakai bersambung sudah seperti drama seri saja." kata Intan tertawakan Nanta. Yang lain ikut tertawa jadinya.
"Nan, Roma melahirkan nanti ke Malang kan?" tanya Monik pada Nanta.
"Insyaa Allah iya ke Malang." jawab Nanta yakin.
"Sama-sama saja ya kita semua." ajak Monik lagi.
"Aku seminggu sebelum lahiran sudah di Malang." jawab Kiki.
"Oh terlalu cepat, Kamu kapan Nan?" tanya Monik.
"Kalau aku bisanya kan hanya weekend Mi." jawab Nanta mengingat sekarang ia sudah bekerja, mana bisa ijin seenaknya, apalagi Ayah dan Bunda mau berangkat lebih cepat pasti lama juga di Malang.
"Papi juga sih, tidak bisa lama-lama disana." Monik merengut.
"Mami tidak berangkat duluan saja seperti Bunda, nanti Papi menyusul." kata Nanta kasih ide.
"Mesti satu paket dong Nanta. Mami tidak mau pisah-pisah." jawab Monik, sahabatnya jadi bersorak mendengarnya.
"So sweet." kata Dania sambil nyengir lebar.
"Masa kalah sama kalian sih, kita juga harus so sweet dong." sahut Intan, kembali mama gaul bersorak. Nanta dan Dania jadi tertawa geli, heboh sekali rombongan Bunda ini. Sementara Kak Sosa dan Kak Risa ikut bersorak.
"Aku harus belajar nih biar terus so sweet." kata Dania lagi masih nyengir lebar.
"Sering-sering ikut kumpul nih sama Oma-Oma." kata Enji pada Dania.
"Tidak terlihat seperti Oma-Oma ya." kata Nanta pada istrinya, Dania anggukan kepalanya.
"Nanta bisa saja, gue kasih saham burhan company juga nih." kata Enji tertawa menggoda Nanta.
"Hahaha puji terus lah Ame kalau begitu." Nanta terbahak ikut bercandai Ame.
"Sudahlah di Warung Elite ada Nanta, Kalau sampai Burhan Company ada Nanta juga, gue mau tanya tuh Nanta mandinya sambil baca apa." kata Sosa tertawa geli sendiri.
"Baca Bismillah." jawab Nanta terkekeh, paling ganteng sendiri deh Nanta dikerubuti rombongan Bunda Kiki ditambah Kak Sosa dan Kak Risa.