I Love You Too

I Love You Too
Pencari Cinta



"Baen ndak itut bogon deh." ocehnya kemudian. Larry dan Nanta tertawakan Balen.


"Sepi deh aban Leyinya tidak ada Balen." kata Larry pada Balen.


"Janan nanis ya, temen Aban tan banak tuh itut semuana. Tatak Pemi itut juda, Tatak Yumi itut juda, semuana itut deh." Balen menghibur Larry, bikin Larry gemas dan peluk erat Balen.


"Aban satit tau." omel Balen kembali Larry terbahak dan renggangkan pelukannya.


"Pangku Abang Larry terus sih." kata Femi pada Balen.


"Iya don, tan Aban Leyi Baen." jawabnya bangga. Femi jadi tertawa mendengarnya.


"Baen mo te Papon." katanya kemudian bosan sudah.


"Bisa sendiri?" tanya Larry pada Balen.


"Bisa don, Baen tan udah dedek." jawabnya banggakan diri.


"Balen belum ngobrol sama Abang Diky nih." Diky menggoda Balen.


"Tapan-tapan deh, hai mindu itut aja beenang umah Baen." ajaknya, sudah bisa mengundang dia.


"Hahaha iya deh, kita lomba berenang ya, siapa yang menang nanti." kata Diky lagi.


"Baen tan masih tecil masa ombana ama Aban diti sih." tidak yakin akan menang.


"Bisa Balen, kita lawan Abang Diky nya." kata Larry semangati Balen.


"Ote, hai mindu janan upa woh." gunakan telunjuk ingatkan Diky. Langsung saja Diky terbahak ikutan gemas.


"Kamu adiknya Nanta apa adiknya Larry sih?" tanya Diky lagi pura-pura tidak tahu


"Nanta." jawabnya tersenyum manis.


"Kok dipangkunya dari tadi sama Larry?" tanya Diky lagi.


"Oh itu tan Aban Leyi Baen." jawabnya.


"Berarti kamu adiknya Larry dong?"


"Butan."


"Adiknya Nanta?"


"Yah."


"Nanta Abangnya siapa?"


"Baen."


"Larry Abangnya siapa?"


"Aban Leyi Baen."


"Tapi kamu bukan adiknya Larry?"


"Butan." bingung kan.


"Balen siapanya Larry?" tanya Diky.


"Isti." langsung semuanya terbahak mendengarnya.


"Katanya tidak jadi?" Femi ikutan ajak Balen bicara.


"Tao semuana suju jadi don." kembali semua tertawakan Balen.


"Enak saja istri." Nanta protes walaupun tidak bisa menahan tawanya.


"Butan sekaang tok, Nanti tao udah dedek semuana suju. Ote ya bye..." berjingkrak senang tanpa beban tinggalkan Nanta dan yang lainnya hampiri Papon.


"Tetap ya istrinya Larry padahal waktu di Cirebon bilang tidak jadi." Femi terkekeh dan Larry pun ikut terkekeh.


"Terserah dia saja tergantung moodnya." jawab Larry pandangi Balen yang sudah berada di pelukan Papanya.


"Kocak adiknya si Nanta." Diky masih saja tertawa.


"Mana dong Rumi?" tanya Diky kemudian, beneran bergabung sama Nanta mau dekati Rumi.


"Tuh." tunjuk Larry pada Rumi yang asik ngobrol bersama Fino, tidak bergabung di meja yang sama karena hanya ada satu bangku yang tersisa.


"Cantik." Diky tersenyum pandangi Larry dan Nanta.


"Iya cantik." jawab Larry setuju. Femi pandangi Larry saja tanpa komentar apapun.


"Itu pacarnya?" tanya Diky cari informasi.


"Ini pacarnya." tunjuk Femi pada Larry.


"Beneran lu Leyi?" mulai ikutan panggil Leyi.


"Bukan." jawab Larry apa adanya.


"Maju nih gue." kata Diky lagi.


"Yang serius tapi." Larry ingatkan Diky


"Iya jangan aneh-aneh lu." Nanta ikut peringati Diky.


"Tidak menyesal jodohkan Rumi sama temanmu?" bisik Femi pada Larry. Larry gelengkan kepalanya.


"Aku kan ada kamu." Larry menyeringai jahil bikin Femi bersemu merah.


"Ikut ya ke Bogor, kalau Fino tidak mau kamu saja, nanti pulang aku antar." bujuk Larry kemudian pada Femi.


"Aku yang ijin sama Fino deh." kata Larry lagi ingat bisikan Fino untuk terus pepet Femi. Larry lihat Fino berjalan hampiri mereka.


"Aku harus ke Rumah Sakit siang ini, barusan ada telepon." kata Fino tiba-tiba setelah dekati Femi dan yang lainnya.


"Pulang sama Rumi ya Fem, atau mobilku kamu yang bawa aku naik taxi online." Fino tawarkan Femi.


"Aku saja nanti yang antar." Larry tawarkan diri.


"Oh oke, titip ya Leyi." Fino menepuk bahu Larry.


"Tapi boleh ku ajak ke bogor dulu kah sama Nanta juga?" ijin Larry pada Fino.


"Yang penting pulangnya utuh ya." jawab Fino terkekeh.


"Siap." jawab Larrya acungkan jempol.


"Nan, duluan ya. Yuk Mas." pamit pada Nanta dan Diky.


"Namanya Diky, kenalan dulu dong." Nanta kenalkan Diky pada Fino, merekapun saling bersalaman menyebut nama masih-masing.


"Fin, mau diantar keluar?" Rumi menggoda Fino.


"Tidak usah." Fino terbahak. Keduanya tampak akrab kini.


"Eh Salam Mike dulu yuk." anak Fino seketika sadar belum temui Mike dipanggung.


"Yuk." Rumi bersiap temani Fino salami Mike.


"Kamu nanti saja." kata Larry pada Femi. Femi anggukan kepalanya setuju, masih ramai juga malas kalau antri panjang.


"Itu pacarnya Rumi?" tanya Diky lagi.


"Belum sih." jawab Nanta sok tahu. Femi diam saja tidak klarifikasi.


"Masih bisa maju ya gue?" tanya Dicky.


"Bersaing sama abangku." jawab Femi tersenyum.


"Tidak masalah janur kuning belum melengkung." Diky nyengir lebar. Nanta dan Larry tertawa jadinya.


"Jadi ke Bogor loh, semua sudah siap." kata Nanta pada Dania yang akhirnya bergabung setelah dari tadi wara-wiri dengan sanak saudaranya, sementara Nanta dibiarkan bebas bersama sahabat sesama Basket.


"Turunkan baju dimobil Papa dulu." Dania ingatkan Nanta jika Koper sudah standby di Mobil Kenan.


"Kamu tidak capek?" tanya Nanta merangkul Dania.


"Tidak. Tapi nanti boleh tidur di Mobil ya?" pinta Dania pada suaminya.


"Iya boleh, sana ganti baju dulu. Kita pinjam kunci Mobil Papa yuk." ajak Nanta pada Dania, Papa masih duduk santai ngobrol bersama Papa Micko dan Ayah Eja. Sahabat Ayah sudah pulang lebih dulu. Tadi hanya datang sebentar.


Setelah urusan pakaian istrinya sudah selesai, Nanta dan Dania kembali bergabung dengan rombongan. Tampak Doni dan Dona sudah bergabung.


"Kebogor Don." ajak Nanta pada Doni.


"Iya tadi Larry sudah ajak." jawab Doni.


"Pakai satu mobil atau masing-masing?" tanya Larry.


"Dua Mobil lah biar Dania bisa tiduran." jawab Nanta minta persetujuan.


"Oke, kita satu mobil Nan." Doni tertawa melirik Diki yang ingin dekati Rumi.


"Oh pencari cinta satu mobil ya." komentar Dania membuat semuanya terbahak.


"Daniaaa..." Rumi pelototi Dania sambil tertawa.


"Mike bagaimana tuh?" tanya Larry lihat Mike masih sibuk berganti pakaian.


"Biar saja dia mau olah raga." jawab Doni, kembali mereka tertawa.


"Mike kita mau ke bogor dulu ya." pamit Larry saat Mike mendekati sahabatnya.


"Gue tidak di ajak?" tanya Mike.


"Kamu kan butuh stamina untuk olah raga." jawab Rumi.


"Eh Rumi belajar dari mana?" Mike tertawakan Rumi.


"Dari Diky." jawab Nanta. Semua jadi tertawakan Diky.


"Baru satu jam kenal Diky sudah mengerti stamina untuk olah raga." Mike gelengkan kepalanya.


"Rese, gue lagi yang kena." Diky terkekeh.


"Dik, jangan ketularan rusuh sama mereka." pesan Mike.


"Dia lebih rusuh dari kita tahu, selama ini tidak ada lawannya saja." kata Nanta semua kembali tertawa.