
"Maksud kamu tadi apa ya malas gombal dan ajak aku bertemu Papa kamu?" tanya Femi saat mereka sudah berdua di Mobil.
"Kamu dan orang-orang selalu pikir aku playboy kan? ganti-ganti pacar, itu karena setiap aku cerita sama Papa dia tidak respon. Kalau begitu sudah pasti tidak setuju." jawab Larry apa adanya. Ia fokus menyetir menuju rumah Femi sekarang.
"Berarti kamu suka gombal?" tanya Femi lagi.
"Cuma sama pacar saja." jawab Larry tertawa.
"Setelah itu putus, kasihan sekali mantan kamu setelah di gombali di tinggali." Femi tersenyum miris.
"Demi kebaikan bersama." jawab Larry
"Kebaikan apa?" tanya Femi.
"Aku tidak mungkin terusi hubungan kalau Papa dan Mamaku tidak setuju." jawab Larry jujur.
"Begitu ya?"
"Iya dong, menurut aku restu orang tua yang utama." jawab Larry lagi.
"Iya aku setuju." jawab Femi kembali tersenyum.
"Jadi aku tidak bicara banyak nih sama kamu, mau kukenalkan sama Papa dan Mamaku, dengan segala resiko?" tanya Larry pada Femi.
"Boleh." jawab Femi yakin.
"Kalau no respon berarti kita berteman saja ya." kata Larry lagi.
"Mau apa lagi selain berteman, tidak bisa lebih juga kan. Duh menyedihkan sekali nasibku." Femi terkekeh.
"Kok menyedihkan, kita usaha bersama." kata Larry pandangi Femi.
"Yah." Femi anggukan kepalanya.
"Aku mau serius, tapi harus direstui orang tua aku dan orang tua kamu." kata Larry lagi.
"Kalau Papa kamu tidak respon?"
"Ya kita cuma bisa berteman." Larry tersenyum.
"Memangnya kriteria calon menantu Papamu seperti apa?" tanya Femi ingin tahu.
"Tidak tahu, tidak pernah kasih tahu sih Papa." jawab Larry.
"Ternyata kamu anak Papa juga ya." Larry tertawa dengarkan komentar Femi.
"Dari tiga bersaudara aku yang tidak pernah bikin ulah." jawab Larry tertawa.
"Contoh yang baik untuk adik-adik ya."
"Mungkin ya." Larry kembali tertawa.
"Sudah pernah bahas aku sama orang tua kamu?" tanya Femi.
"Belum, kamu kan selama ini abaikan aku. Kupikir tidak berminat, buat apa bahas dong." Jawab Larry polos.
"Berarti Rumi pernah kamu bahas?" tanya Femi.
"Pernah." Larry anggukan kepalanya.
"Bagaimana tanggapan Papa kamu?" Femi penasaran ingin tahu.
"Tidak respon seperti biasa." Larry terkekeh.
"Kamu suka sama Rumi juga berarti ya?" Femi tidak bisa sembunyikan kecemburuannya.
"Salah satu orang yang kupertimbangkan." jawab Larry apa adanya. Setelahnya Femi memilih untuk diam tidak lagi bertanya, entah kenapa kok rasanya sedih sendiri. Ternyata tidak semudah itu untuk bisa bersama Larry.
Sebenarnya yang bikin Femi sedih ternyata Rumi sudah pernah dibahas sebelumnya dengan Papa Larry, sedangkan Femi belum. Berarti Rumi lebih melekat dihati Larry dibanding Femi. Begitu pikir Femi yang sedikit cemburu pada Rumi.
"Kok diam? katanya mau ngobrol." tanya Larry pada Femi setelah hampir setengah jam mereka berdiam diri. Femi gelengkan kepalanya saja.
"Bete ya?" tanya Larry lagi.
"Sedikit." jawab Femi apa adanya.
"Jangan bete-bete dong, aku kan cerita apa adanya. Tidak ada yang ditutupi." Larry pandangi Femi lalu kembali fokus setir kendaraan.
"Iya." jawab Femi singkat, lalu kembali diam tidak bersuara.
"Habis tanya Rumi, kamu diam. Cemburu sama Rumi?" tanya Larry pada Femi.
"Memang aku siapa bisa cemburu sama Rumi." jawab Femi berkelit.
Handphone Larry berdering, tampak Nanta lakukan video call bersama. Pasti Balen. Larry tertawa serahkan handphonenya pada Femi.
"Bantu angkat ya, Balen nih." katanya dengan wajah sumringah.
"Happy betul di telepon Balen." Femi bersungut.
"Lucu, pelipur lara." jawab Larry tertawa.
Femi geser tombol hijau, benar saja wajah Balen yang muncul.
"Tatak Pemi, Aban Leyi Baen mana?" tanyanya langsung melihat wajah Femi yang muncul pada layar.
"Lagi setir." jawab Femi arahkan camera pada Larry.
"Oo ladi setin ya. Ya udah Baen matiin duu ya." katanya langsung matikan sambungan teleponnya.
"Ish kenapa dimatikan si unyil." gerutu Larry karena Balen langsung matikan sambungan teleponnya.
"Kan kamu lagi setir, anak kecil saja mengerti kalau bahaya." jawab Femi ingatkan Larry.
"Iya sih." Larry tersenyum.
"Nanti kalau kita disetujui, kamu jangan cemburu sama Balen ya. Dia adikku juga." Larry ingatkan Femi.
"Kok kamu tahu aku cemburuan." Femi terkekeh.
"Iya tadi saja kamu komplen dengan ekspresi wajahku saat tahu Balen yang hubungi aku." jawab Larry bacakan ekspresi Femi tadi.
"Sama Balen tidak boleh cemburu ya? padahal dia cita-citanya mau jadi istri kamu." Femi bersungut.
"Anak kecil tidak usah diambil hati." Larry tertawa.
"Aku ambil hati, bisa jadi ancaman untukku nanti." jawab Femi sesuai apa yang dirasakannya.
"Waduh, kalau kamu begini bisa ribut terus loh kita. Aku pasti luangkan waktuku untuk Balen seminggu atau dua minggu sekali. Daniel cita-citanya jadi suami Balen, padahal aku mau Balen sama adikku yang bontot." Larry tertawa ingat kedua adiknya.
"Balen maunya kamu."
"Anak kecil Femi, dia juga tanyakan Daniel pada Mama dan Papanya. Setuju apa tidak." Larry tertawa.
"Kalau belum jadi sama Daniel aku khawatir." jawab Femi.
"Jadikan Balen saingan sih tidak masuk akal." Larry tertawa.
"Leyi mau anak bayi ataupun Nenek jompo aku cemburu." jawab Femi.
"Berarti sudah ada rasa sama aku? Sudah bisa cemburu?" Larry tertawa, Femi menunduk salah bicara sepertinya.
"Aku senang kamu cemburu, tapi jangan sama Balen. Selama ini Balen yang hibur aku." jawab Larry.
"Jangan-jangan kamu juga jatuh cinta sama Balen." tebak Femi Larry gelengkan kepalanya.
"Bersihkan dulu deh pikiran kamu, selalu saja negatif." Larry menghela nafas panjang. Femi kembali terdiam.
"Kalau aku sudah ajak kamu mau bertemu Papa dan Mamaku, berarti aku serius sama kamu, tidak main-main." Larry yakinkan Femi.
"Tapi Mama dan Papa kamu belum tentu setuju sama aku." Femi sekarang yang menghela nafas panjang.
"Kalau tidak coba kita tidak pernah tahu." jawab Larry.
"Jangan-jangan Mama dan Papa kamu malah setuju sama Balen." kembali sebut Balen.
"Mama dan Papa tahu aku melatih Balen berenang. Kamu tahu Daniel sempat bahas sama Papa kalau dia mau jadi suami Balen." Larry kembali tertawa.
"Papa kamu bilang apa?" tanya Femi ingin tahu.
"Boleh." Larry kembali tertawa.
"Tapi Daniel kesal waktu aku bilang cocoknya sama Redi si bontot, dia komplen berat, Papa malah tertawakan Daniel dan Redi." Larry semangat ceritakan adik-adiknya dan Balen.
"Semangat betul kalau cerita Balen." Femi tersenyum.
"Kamu tidak mengerti ya, Balen itu hiburan sekali untuk aku. Papa juga suka tertawa kalau dengar aku bicara sama Balen, saat Papa ada dirumah." jawab Larry.
"Hebat ya bocah empat tahun bisa rebut perhatian Papa kamu."
"Kamu juga bisa dong, jangan kalah sama Balen." jawab Larry membuat Femi bingung harus bagaimana.
"Apa adanya saja nanti saat bertemu Papa, dia tidak suka basa-basi." kembali Larry ingatkan Femi.
"Iya." jawab Femi, merasa langkahnya akan sedikit berliku untuk bisa bersama Larry.