
Makan malam telah usai, Reza bersama istri dan anak menantu sudah pulang dari tadi, Mama Nina dan Papa Dwi sudah beristirahat masuk kamar, sementara Nona dan Nanta masih asik nonton film anime di paviliun. Walaupun tidak tertarik, Kenan mengikuti keinginan Nanta untuk ikut bergabung nonton bersama.
"Kalian mau begadang, ini sudah malam sekali. Besok sholat shubuhnya bisa kesiangan." tegur Kenan pada keduanya.
"Yuk bobo." ajak Nona mematikan laptopnya, segera beranjak menuju kamar.
"Saya pulang ya, besok pagi kesini lagi." pamit Kenan pada Nona. Nona hanya menganggukkan kepalanya tak banyak bicara.
"Papa tidak menginap?" tanya Nanta kecewa.
"Papa tidak bisa tidur disini." kata Kenan jujur. Ia risih saja mengingat paviliun sudah disewa Nona, seperti menumpang rasanya.
"Ya sudah, tapi aku lapar." kata Nanta memegang perutnya.
"Ih kamu tuh calon atlet mana boleh makan jam segini." Nona mengingatkan Nanta.
"Malam ini saja." Nanta menaikkan jari telunjuknya.
"Mau kubuatkan nasi goreng?" Nona menawarkan.
"Tidak usah Nona, Nanta kalau lapar ayo kita cari makan, sekalian pulang ke rumah Papa." ajak Kenan pada Nanta, tak mau merepotkan Nona tengah malam.
"Ayo Kak." ajak Nanta semangat.
"Kalian saja aku sudah mau tidur." tolak Nona.
"Ah Kak Nona tidak asik." keluh Nanta kecewa.
"Ikut saja Non, lihat ini kembaranmu ngambek." kekeh Kenan melihat putranya cemberut. Tak ingin mengecewakan Nanta, Nona pun mengambil cardigan dikamarnya.
"Demi kamu nih, padahal aku sudah ngantuk." cerocos Nona mendorong bahu Nanta dengan telunjuknya. Nanta terkekeh senang. Karena Mama Nina dan Papa Dwi sudah tidur, maka mereka bertiga pergi tanpa pamit. Menutup pintu dan gerbang perlahan.
"Mau makan apa?" tanya Kenan pada Nanta.
"Warung shubuh saja, Pa." jawab Nanta, memilih restaurant yang pasti masih buka jam segini. Kenan mengikuti kemajuan Nanta menuju restaurant yang dimaksud.
Rupanya Nanta benar-benar lapar, ia memesan sate ayam dan menu lainnya, memakannya dengan lahap, Kenan dan Nona hanya menjadi penonton karena mereka sudah sangat kenyang.
"Kamu tidak mau?" tanya Kenan pada Nona.
"Aku kenyang." jawabnya pasti. Ia hanya menyesap air mineral ditangannya.
"Padahal Enak. Bungkus saja untuk sarapan." Nanta menawarkan.
"Bilang saja kamu yang mau." cibir Nona pada Nanta.
"Kalau Kak Nona mau, aku temani." kekeh Nanta jahil.
"Pesan saja." kata Kenan pada Nanta. Tanpa menolak Nanta langsung memesan beberapa puluh tusuk sate ayam untuk sarapan besok pagi.
Setelah dirasa cukup kenyang, dengan bungkusan ditangan mereka pun pulang.
"Pulang kerumah Papa saja, sudah terlalu malam kerumah Oma." kata Nanta pada Kenan.
"Eh aku bagaimana?" tanya Nona bingung.
"Ya kerumah Papa dulu, besok pagi kita. kerumah Oma bawa sate." kekeh Nanta lagi.
"Kasihan Oma dengar pagar dibuka menjelang shubuh, pasti berisik, kamar Oma dan Opa didepan." kata Nanta lagi pada Nona dan Kenan.
"Iya betul juga." Nona akhirnya menyetujui saran Nanta.
Sampai dirumah, Nanta langsung masuk ke kamar Papa dan merebahkan badannya ke kasur. Terlalu banyak makan membuat Nanta tidak bisa menahan kantuknya.
"Kamu tidur di kamar Nanta saja." kata Kenan pada Nona. Lagi-lagi Nona mengangguk saja, meninggalkan Kenan diruang keluarga menuju kamar yang ditunjuk.
"Non, Maaf?" Kenan menarik tangan Nona, merasa harus minta maaf pada Nona karena keluarganya sering sekali menggoda Nona.
"Maaf kenapa?" Nona balik bertanya menatap Kenan dengan dahi sedikit berkerut.
"Keluarga saya sering sekali menggoda kamu. Maaf membuat kamu tidak nyaman." kata Kenan masih menggenggam tahan Nona. Nona menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis.
"Calon istri saya bukannya kamu ya?" Kenan tersenyum jahil.
"Mas Kenan jangan kasih harapan ke aku, kasih perhatian lebih sama aku. Nanti aku repot sendiri. Mulai senin aku bawa mobil sendiri. Aku harus mandiri." ketus Nona dengan wajah cemberut.
"Hmmm dari tadi siang di restaurant kamu bicara seperti ini. Katakan apa salah saya?"
"Tidak ada, aku saja yang terlalu berharap."
"Berharap apa?" tanya Kenan jahil.
"Bodo ah, aku ngantuk?" Nona menarik tangannya, ingin berlari meninggalkan Kenan. Kenan menahan tangan Nona bahkan menarik hingga Nona masuk kedalam pelukannya.
"Saya tuh kangen sekali sama kamu, tapi begitu ketemu kamunya judes begini." bisik Kenan ditelinga Nona.
"Bohong!" Nona berusaha melepaskan pelukan Kenan, kakinya serasa melemah sementara pacu jantung berdetak lebih cepat.
"Betul, saya tidak bohong. Tanya saja Ray." Kenan meyakinkan Nona semakin mengencangkan pelukannya.
"Kenapa harus tanya Ray, memangnya aku siapa harus tanya-tanya sama Ray." ketus Nona yang tidak lagi berani bergerak.
"Kamu boleh tanya Ray, berapa kali saya hubungi dia hanya untuk menanyakan keadaan kamu, memastikan kamu tidak diantar dan dijemput Wawan, eh malah kamu janjian sama mantan pacar kamu." Kenan menangkup pipi Nona dengan kedua tangannya, agar Nona melihat padanya.
"Saya cemburu." Kenan menatap Nona yang tidak bisa mengalihkan pandangannya karena wajahnya ditahan Kenan.
"Mau apa tanya aku sama Ray, harusnya Mas Kenan tanyakan kabar aku tuh langsung, jangan lewat perantara. Aku kesal sama Mas Kenan." Nona masih saja ngomel, berusaha melepaskan tangan Kenan dari wajahnya. Sejenak ia tertegun menyadari kalimat terakhir Kenan. Cemburu? tidak salah dengar ya? pikir Nona tak percaya.
"Saya minta maaf. Saya fikir bisa membiarkan kamu memilih lelaki lain yang lebih baik dari saya. Ternyata saya tidak bisa, saya cemburu dengan Wawan, cemburu dengan Kevin. Mungkin saya egois, karena berharap kamu memilih saya jadi calon suami kamu."
"Mas Kenan..." Nona meraih tangan Kenan dari pipinya, lebih baik pegang saja tangannya, kalau pipi takut nyosor, bisa gawat.
"Hmm..."
"Maksudnya apa? bukannya Mas Kenan sudah menolak aku di meja makan rumah Papa?"
"Saya tidak menolak, hanya tidak percaya diri, apa iya wanita secantik kamu mau menikah dengan saya, sudah berumur dan punya anak bujang. Sementara saya yakin yang tertarik dengan kamu banyak."
"Tidak percaya diri?"
"Hu uh."
"Ganteng, banyak duit, sholeh begini siapa yang tidak mau?"
"Kamu mau?" Kenan tersenyum lebar.
"Aku fikir-fikir dulu ya. Kalau lagi diluar kota seperti tidak ingat aku sih, bikin malas juga."
"Kata siapa tidak ingat, saya terus Awasi kamu."
"Aku maunya diperhatikan bukan diawasi seperti penjahat."
"Saya tetap menjaga kamu meskipun dari jauh. Saya orangnya cemburuan, kesal sekali dapat laporan kamu bertemu mantan pacar."
"Wawan sepupu aku, anak adik Mama. Kevin sahabat aku sebentar lagi akan menikah. Perasaan kami sudah flat, lebih cocok berteman. Kalau masih ada rasa, tidak mungkin aku biarkan Nanta menemani."
"Tidak boleh bertemu lagi dengan Kevin." Kenan mulai posesif.
"Tidak mungkin, aku dengan Kevin lagi ada kerjasama. Pasti akan bertemu terus dalam setahun ini."
"Ingat kalian akan saya awasi."
"Aku belum bilang setuju mau menjadikan Mas Kenan calon suami aku. Jangan larang-larang aku." dengus Nona merasa diatas angin.
"Oke." jawab Kenan mendekati wajahnya pada Nona lalu mengecup bibirnya sekilas, kemudian tersenyum dengan mata sayu.
"Tidur sudah malam." tanpa dosa Kenan mengacak anak rambut.
"Mas Kenan, menyebalkan." Nona mengusap bibirnya, tidak terima mendapat serangan dadakan dari Kenan yang sudah masuk kamar lebih dulu, sementara irama jantung Nona, jangan ditanya lagi, pastinya lebih ngebeat.
Duh Mas Kenan, ciumnya cuma sekilas tapi bikin tidak bisa tidur, keluh Nona saat berada dikamar, sibuk membolak balik badan dan menutupi wajahnya dengan bantal.