I Love You Too

I Love You Too
Menepati janji



Andi menepati janjinya pada Papa Gilang dan juga Pipit, menyelesaikan urusannya dengan Cindy secepatnya, dan siang ini di kantor, disaksikan Erwin, Mario dan Reza, Andi menghubungi Cindy. Sebenarnya Andi ingin sekali menyelesaikan masalahnya tanpa ada sahabatnya, tapi ternyata mereka rewel sekali, mendesak Andi untuk menghubungi Cindy dihadapan mereka.


"Apa kabar Cin?" tanya Andi begitu mendengar kabar cindy.


"Masih hidup kamu ya? menghilang tanpa kabar selama dua minggu, menyebalkan." semprot Cindy yang terdengar merajuk.


"Maafkan aku, Cin. Ada banyak pertimbangan untuk aku menghubungi kamu. Kurasa kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita." kata Andi terdengar sendu.


"Kenapa, Ndi? Bukankah kemarin kita tak ada masalah, orang tuaku menyambut kamu dengan baik, bahkan meminta kamu untuk menginap. Apa salahku?" tanya Cindy seakan tak terima Andi memutuskan hubungan mereka.


"Tanyalah pada orang tuamu, apa hasil pembicaraan kami. Yang pasti aku tidak mau kamu menjadi anak yang durhaka. Menurutlah dan tetaplah menjadi anak yang manis."


Cindy terdiam hanya terdengar isak tangis pelan, rupanya perasaan Cindy kepada Andi sangat mendalam, harapannya melambung tinggi, terlebih Andi bersedia datang meminta restu orang tuanya. Rupanya kini ia harus mengalami seakan terbanting dari ketinggian, sakit sekali.


"Cindy.." panggil Andi, ia tahu Cindy menangis, tapi mau bagaimana lagi. Baru begini saja Cindy sudah terisak, bagaimana jika Cindy tahu Andi dijodohkan dengan Pipit mantan sahabatnya. Rasanya Andi tak ingin menambah kesedihan Cindy lagi.


"Maafkan aku Cindy, rencana kita tak sesuai harapan. Berbahagialah dan jaga kesehatan. Ini terakhir kalinya aku menghubungimu." kata Andi lagi.


"Terima kasih, Ndi. Bolehkah aku tetap menghubungimu, kita tetap berteman walaupun kita tak bisa bersama." tanya Cindy berharap.


"Jika hanya berteman kurasa tak masalah, tapi semakin sering kita berkomunikasi, semakin sulit untukmu menerima pria lain. Lebih baik kita saling melupakan saja dan saling mendoakan." kata Andi, tak mau mencari masalah. Sekarang ia berhadapan dengan Erwin dan juga dengan Papanya. Bisa saja sekarang pun Papa sedang menyadap handphonenya, walau rasanya tak mungkin karena Papa Gilang cukup sibuk untuk mengurus hal-hal receh seperti ini.


"Apa hanya itu alasanmu memutuskan hubungan ini, Ndi? Bukan karena ada wanita lain dihatimu?" tanya Cindy.


"Alasan aku menjauh hanya karena itu. Setelahnya jika ada wanita lain, itu sudah kehendak Allah. Kamu pun carilah pria yang bisa diterima oleh Papa dan Mamamu. Terima kasih Cindy. Kuharap kamu selalu berbahagia."


Andi menutup sambungan teleponnya, tak mau ikut larut dalam kesedihan yang Cindy rasakan. Menangislah sekarang, kelak kamu akan bahagia karena menurut ada Ayah dan Ibumu.


Tak ada satupun sahabatnya yang berkomentar, Andi tahu mereka pura-pura tak mau tahu dan pura-pura sibuk dengan pekerjaan Mereka.


"Kenapa pada diam?" tanya Andi menggoda sahabatnya.


"Sorry gue lagi sibuk." jawab Mario fokus menatap laptopnya.


"Gue juga." jawab Reza dengan gaya yang sama tak mau menatap Andi.


"Lu juga sibuk, Win?" tanya Andi ada Erwin yang sedang menatap layar handphonenya.


"Hmm, Gue lagi menunggu chat Enji, tadi dia minta dikirimkan makan siang kerumah, Regina sama Kiki mau sekalian dikirimi makan siang, Friend?" tanya Erwin ada Reza dan Mario.


"Mau." jawab Reza dan Mario bersamaan.


"Pipit juga Friend, sekalian pesankan untuk calon istri gue. Tak usah dikirim, biar gue yang antar." kata Andi yang tampak menyeringai.


"Pipit kuliah." jawab Erwin


"Sudah pulang, baru sampai rumah." Andi mengangkat kedua alisnya.


"Tahu dari mana? Baru saja menelpon Cindy, sudah chat dengan Pipit." dengus Erwin, sahabatnya bergaya ala don juan.


"Papa Permana chat gue, Friend. Nanti sore gue diminta menemani Pipit, karena Papa dan Mama masih menginap dirumah lu."


"Jangan macam-macam, Friend. Masih ting ting tuh." kata Erwin setengah mengancam.


"Cium-cium dikit tak apalah, Win." kata Mario menggoda Erwin.


"Hmmm menikahlah segera, Benar kata Reza betapa nikmatnya pacaran setelah menikah." Erwin mulai pamer, memanasi Andi yang masih solo karir. Reza hanya terkekeh, tak mau komemtar banyak. Inginnya Reza pun Andi segera menikah, tapi keputusan tetap ada pada Andi yang menjalankan.


"Lu tahu, Win. Pipit ingin menikah setelah lulus kuliah. Gue tak akan memaksa, karena gue pun santai saja." kata Andi pada Erwin.


"Kalau setelah melihat brosur ini, apa lu masih akan santai, Ndi?" Mario melempar kertas yang baru saja ia print, brosur acara yang akan dibuat oleh Alex.


"Papa Muda in action" judul dari brosur tersebut. Tamu undangan artis idolanya yang sangat ia dambakan untuk berjumpa entah bagaimana caranya. Hanya tanda bintang pada bagian bawah membuat Andi lemas tak berdaya. Disitu tertulis acara hanya untuk pasutri. Bah acara macam apa ini, bisa-bisanya panitia membuat acara musik khusus untuk pasutri. Setiap tamu undangan harus menunjukkan buku nikah, menyebalkan sekali. Acara akan berlangsung satu setengah bulan lagi. Oh rasanya Andi ingin menjedotkan kepalanya pada tembok. Harapannya pupus untuk bisa satu panggung, berdialog, makan bersama dengan artis idolanya. Hanya untuk sepuluh pasutri. Acara dibuat sangan exclusive. Andi mulai memikirkan bagaimana caranya untuk bisa hadir di acara tersebut tanpa harus menikah dulu.


"Siapa penyelenggaranya, friend?" tanya Andi pada Mario, berharap bisa bernegosiasi dengan panitia.


"Tertutup Friend, mereka merahasiakannya. Ini juga dikirimi teman di S'pore." jawab Mario tak berbohong, Alex dan Monik siang ini baru saja mendarat di S'Pore. Reza hanya tersenyum tipis, Mario memainkan perannya dengan sempurna.


"Apa sih?" tanya Erwin ingin tahu.


Andi melemparkan Brosur kemeja Erwin. Setelah membacanya Erwin hanya menyeringai.


"Kita bertiga datang, Friend?" tanya Erwin pada Mario dan Reza, kemudian melirik Andi.


"Kalau mau hadir, bujuklah Pipit untuk segera menikah. Cepat atau lambat kalian akan menikah bukan?" kata Erwin santai mengedipkan sebelah matanya pada Andi.


"Apa penting sekali acara ini, sampai harus mempercepat pernikahan?" tanya Reza berpura-pura.


"Untuk kita tak terlalu penting, tapi untuk Andi sangat penting, sudah berapa kali dia berusaha menghubungi manajemen artis supaya bisa membuat konten dengan sang artis. Kali ini dibuat sangat mudah, acara gala dinner untuk 10 pasutri, Bebas mau bicara apa, bahkan dipersilahkan membuat konten." Kekeh Mario memanasi Andi.


"Istikharah dulu friend." goda Reza melihat Andi yang galau.


"Pipit tak akan menolak kalau lu sungguh-sungguh friend, dia ragu karena gue sempat cerita lu mau melamar Cindy. Gue mana tahu kalau ternyata kalian dijodohkan." Erwin memberi clue pada sahabatnya.


"Jangan mikir terlalu lama, pendaftaran terakhir minggu depan." kata Mario sesantai mungkin.


"Daftarkan saja dulu Friend, jadi atau tidak urusan belakangan." kata Andi nekat.


"Kalau sudah daftar tidak bisa dibatalkan atau kalau terpaksa batal harus membayar denda." kata Mario lagi.


"Apa dendanya?" tanya Reza


"Membayar semua biaya yang sudah dikeluarkan Panitia." Jawab Mario tertawa dalam hati.


"Aih, sudah daftarkan saja nama gue dan Pipit." kata Andi tak ingin kehilangan momment.


"Berarti kalian segera menikah?" tanya Mario memastikan.


"Tentu, memang bisa mengeluarkan surat nikah palsu." sungut Andi menggaruk kepalanya.


"Jangan terburu-buru." kata Reza lagi.


"Daftar apa tidak?" tanya Mario.


"Bawel sekali kalian, kalau kubilang daftar ya pasti daftar. Kakak Ipar help me please, bantu gue meyakinkan Pipit." kata Andi, ketiga sahabatnya mengangguk puas, Yess tangan Mario bermain dibawah meja, hanya Reza yang bisa melihatnya sambil menyeringai.