
"Jadi acara syuting sudah selesai kan?" tanya Nanta pada Steve setelah selesai sholat, mereka sholat di rumah mengingat mesjid cukup jauh dari lokasi syuting.
"Sudah beres." jawab Steve tersenyum.
"Besok pulang jam berapa?" tanya Nanta lagi.
"Sudah pikirkan pulang saja, semua keluargamu ada disini." omel Ayu pada Nanta.
"Bukan begitu, ada yang mau kencan ini, jadi harus atur waktu." Nanta melirik Mike yang sudah resah dan gelisah pikirkan bisa bertemu Seiqa atau tidak esok hari.
"Cuwiwit..." langsung saja Larry membalasnya. Mike terkekeh dan melompat ke badan Larry. Bikin semua tertawa saja melihat Larry menangkap Mike dengan santainya.
"Mau kencan sama siapa dia?" tanya Micko ingin tahu.
"Ah nanti Om kasih tahu Mama, rusuh deh." kata Mike belum mau keluarganya tahu.
"Memang kenapa kalau Julia tahu?" tanya Micko.
"Nanti heboh, aku belum bilang apapun sama Seiqa." jawab Mike polos malah sebut nama Seiqa.
"Oh namanya Seiqa." jawab Micko terkekeh, Mike langsung saja menutup mulutnya saat menyadari ia keceplosan, sahabatnya terbahak dibuatnya.
"Seiqa sepupu jauhnya Doni, Pa." kata Nanta pada Papa Micko.
"Langsung menikah saja, mau om bantu lamar hari senin?" Micko paling semangat kalau sudah mau jodohkan orang.
"Ah Om, aku bereskan urusan kami berdua dulu, nanti main lamar saja ternyata aku ditolak, kan Malu." Mike sampaikan kekhawatirannya.
"Memang tahu malu?" tanya Larry cari gara-gara.
"Bodo ah, kamu mah gitu." Mike bersungut sok bergaya wanita manja. Larry, Nanta dan Doni langsung tertawa dan berebut ciumi pipi Mike.
"Rese.. Om tolong!!!" teriak Mike kegelian, semua tertawakan Mike jadinya.
"Kapan Seiqa datang?" tanya Steve pada Mike.
"Kapan Don?" Mike sambung bertanya pada Dona yang intens berbalas pesan dengan Seiqa.
"Sudah di Changi sih, sedang menuju hotel." jawab Dona berikan informasi.
"Harusnya kamu jemput, Mike." kata Steve pada Mike.
"Aku kan lagi syuting, tidak ada komunikasi dengan Seiqa." jawab Mike apa adanya.
"Menginap dimana?" tanya Steve lagi.
"Intercontinental." jawab Dona yang lebih banyak tahu.
"Satu hotel dong sama kalian." Steve tersenyum.
"Kok bisa, kebetulan sekali." Mike tertawa senang, bayangkan besok bisa sarapan pagi bersama.
"Memang sudah diatur, kemarin kan Seiqa ngobrol sama Rumi, jadi Seiqa tidak buka kamar tapi satu kamar dengan Rumi." jawab Dona tertawa memandangi Rumi yang hanya cengengesan.
"Ish Rumi baik sekali, nanti kalau mau tahu tentang Larry tanya aku saja." kata Mike tertawa senang.
"Bukannya jadian malah tambah jauh nanti kalau korek informasi dari Mike." celutuk Doni, semua kembali tertawa.
"Bilang begitu seperti gue sama Larry musuh dalam selimut." dengus Mike pura-pura marah, tapi percuma juga tidak ada yang tanggapi dengan membujuk Mike, malah tambah saja celutukan demi celutukan keluar.
"Papi ajak makan malam bersama." lapor Steve saat membawa pesan yang dikirim Mario untuknya.
"Ayo." jawab Kenan, memang sebentar lagi waktunya makan malam.
"Matan stik ya?" pinta Balen pada Steve.
"Iya Papa aku mau." Selin ikut minta makan Steak.
"Kalian merubah rencana saja." Steve terkekeh gelengkan kepalanya lalu hubungi Mario sampaikan keinginan Balen dan Selin.
"Ok, Opa ajak kita makan Steak, senang?"
"Senang Papa." langsung Selin melompat kegirangan, Balen juga tidak mau kalah. Richie? dia agak pendiam sejak ditertawakan saat ketahuan bohong bilang lagi Acting.
"Ichie kita mo matan stik." Balen berkata senang pada adiknya.
"Iya." jawab Richie sok cool.
"Tidak senang ya?" tanya Selin pada Richie.
"Senan tok." jawab Richie masih jaga image.
"Tumben kalem." kata Larry menggoda Richie.
"Atu nantuk." jawab Richie pada Larry.
"Bukannya tadi sudah tidur?" tanya Selin memandang Richie.
"Tadi lagi acting juga?" tanya Selin polos.
"Oh no. itu seius." jawabnya sok Inggris. Semua tertawa mendengarnya.
"Nan, adiklu nih bakal jadi Larry gue rasa." kata Doni pada Nanta.
"Eh gue sudah insaf." kata Larry terbahak.
"Richie baru genit begini sama Selin saja." kata Nanta pada sahabatnya.
"Masa Nan, besanan kita Om?" Steve tertawa pandangi Kenan.
"Mau kejadian lagi menikah sama tunangan orang?" tanya Kenan membuat Steve dan Ayu terbahak.
"Ayo, Mobil sudah siap. Papi dan semua langsung menuju lokasi." kata Steve pada semuanya setelah Aditia memberikan kode jika semua siap berangkat.
"Seiqa bagaimana?" Mike langsung pikirkan Seiqa. Rumi tersenyum saja, tadi sudah minta ijin sama Papi Mario untuk mengajak Seiqa, ikut bergabung makan malam bersama, Papi tidak keberatan. Tidak ada yang menanggapi pertanyaannya, Mike jadi melamun saja.
"Jangan lebay deh Mike, Seiqa sudah biasa kali, secara pernah sekolah disini." Doni menoyor kepala sahabatnya.
"Iya nih, seperti apa saja." Larry ikut menoyor kepala sahabatnya.
"Satu lagi yang toyor nih kepala, gue kasih gelas loh." kata Mike.
"Iya, gelas souvenir pernikahan lu gue maunya." kata Nanta lalu ikut menoyor kepala sahabatnya. Berempat kembali rusuh, kali ini Mike yang jadi bahan bullyan mereka.
"Padahal ada Om dan Tante gue disini, masih saja pada berani aniaya gue." Kata Mike pada sahabatnya.
"Mau mengadu? Mertua gue tuh" Nanta terus saja menggoda Mike.
"Janan Baban..." Richie mulai bangkit.
"Kenapa?" tanya Nanta pada adiknya.
"Atu sayan, Baban Maik." kata Richie membuat Mike langsung menggendong Richie dan mengajaknya Tos.
"Sama Abang tidak sayang?" tanya Nanta tertawa.
"Sayan juda, tapi Baban Maik tasian atu." jawab Richie melankolis.
"Kasihan kenapa?" tanya Doni terkekeh.
"Ndak ada yan beain." jawab Richie memandang Mike, guru berenangnya.
"Memang Mike harus dikasihani." kata Larry pada Richie.
"Cup... cup... janan nanis Baban."
"Perasaan gue tidak nangis ya?" kata Mike pada sahabatnya.
"Hati lu yang menangis, anak kecil bisa merasakan." kata Doni membuat mereka berempat kembali rusuh.
"Rese, hati gue melankolis amat ya." Mike jadi tertawa sendiri.
"Ichie, aban Mike tidak menangis kok, lihat nih." Mike meminta Richie pandangi wajahnya.
"Iya, tapi mutana syedih." jawab Richie, semua langsung terbahak dibuatnya.
"Gigit juga nih playboy kelas teri." kata Mike gemas sendiri pada Richie.
"Mike anak Tante jangan didoakan jadi playboy." kata Nona rusuh.
"Tidak didoakan, Tante lihat sendiri tadi." kata Mike kembali semua terbahak.
"Richie, Selin cantik ya?" pancing Mike pada Richie.
"Syantiiiik tali." Richie langsung tertawa sendiri.
"Cantik mana sama Balen?" tanya Nanta pada adiknya.
"Ih Baen mah Tatak." jawab Richie tidak mau menjawab Balen cantik apa tidak.
"Iya kalau kakak kenapa?" tanya Nanta lagi pada adiknya.
"Baen ndak cuwiwit." jawab Richie membuat Nona meringis.
"Maksudnya apa sih?" tanya Nona jadi frustasi sendiri.
"Tidak usah dipikirkan." kata Kenan santai.
"Tapi itu cuwiwit maksudnya apa?" Nona tanya pada Richie.
"Taya Baban sama Tania, cuiwiwit." Richie kembali rusuh.
"Duh makin tidak jelas ini anak gue." Nona langsung menekan kepalanya pusing sendiri yang satu mau jadi istri yang satu cuwiwitan ke cewek cantik.