
Kedua pasang double date dadakan pun tiba di Clark Quay, suasana tampak ramai dan musik hingar bingar. Seiqa dan Rumi menguasai wilayah secara mereka pernah bersekolah di Singapore, sementara Mike dan Doni walaupun hanya pendatang juga tidak asing dengan tempat ini, beberapa kali pernah datang bersama keluarga dan Tim Basket.
"Mau duduk disana?" Rumi tawarkan cafe dipinggiran sungai hingga bisa melihat kapal hilir mudik di sungai.
"Non alcohol, please." pinta Seiqa yang menggunakan hijab, tentu aneh jika ia masuki cafe dimana orang minum alkohol disana.
"Hmmm... semuanya disini jual alkohol kan." Rumi terkekeh.
"Ada yang tidak tapi didalam." tunjuk Seiqa disisi lain.
"Tidak dipinggiran sungai tapi." kata Rumi pada Seiqa dan yang lain.
"Tidak masalah." jawab Larry tersenyum, ia sih dimana saja tidak masalah, tapi benar juga Seiqa gunakan hijab pasti risih duduk diantara peminum alkohol.
"Didalam ada restaurant Indonesia." Rumi menawarkan.
"Sudah kenyang." Mike terkekeh, tadi sudah makan steak, bahkan habiskan steak Balen karena tidak ada yang mau bantu habiskan.
"Nonton musik saja." kata Larry pada ketiganya. Mereka pun setuju nikmati musik yang ada sambil duduk santai dipinggiran sungai tanpa masuk ke cafe, karena sudah sangat Kenyang.
"Saya beli minum ya, kalian mau minum apa?" Rumi menawarkan.
"Aku temani yuk." ajak Larry temani Rumi membeli minum.
"Gue mau kebab sama es krim." kata Mike pada Larry.
"Katanya kenyang." Larry terkekeh.
"Kebab tidak bikin kenyang." jawab Mike ikut terkekeh.
"Seiqa mau apa?" tanya Rumi pada Seiqa.
"Aku mineral water saja." jawab Seiqa tersenyum.
"Oke tunggu ya." Larry pun berjalan ikuti Rumi menuju booth tempat menjual kebab, langsung saja Rumi pesan empat tanpa bertanya mau apa tidak. Lumayan lama mereka harus menunggu kebab yang sedang disiapkan.
"Kita beli minum dulu saja." ajak Larry pada Rumi.
"Kalau sekedar mineral water saja disini ada." Rumi terkekeh.
"Yang tidak ada apa?" tanya Larry jahil.
"Wine, ada di depan. Mau?" Rumi menawarkan. Larry gelengkan kepalanya.
"Itu baik untuk kesehatan, menghangatkan badan." kata Rumi pada Larry.
"Aku tidak minum itu." jawab Larry terkekeh.
"Padahal enak." Rumi bersungut.
"Tidak baik untuk kesehatan, Non." Larry menepuk bahu Rumi, tertawa.
"Leyi, temani aku minum segelas saja, kamu tidak usah minum tidak apa, aku saja." kata Rumi pada Larry.
"Oh tidak bisa, nanti aku ikut kebagian dosanya." Larry gelengkan kepalanya.
"Ish sok suci deh, lagian dosa kan Tuhan yang atur bukan kamu." Rumi tertawakan Larry. Larry tertawa saja mendengarnya.
"Kamu tuh Muslim apa bukan sih?" tanya Larry yang memang belum tahu Rumi seperti Steve atau seperti Papi. Steve dan Papi Maminya beda keyakinan.
"Aku Muslim." jawab Rumi tersenyum.
"Sudah tahu kan alcohol dilarang?" tanya Larry.
"Jangan ceramah deh, kamu bukan ustad." gerutu Rumi membuat Larry tertawa.
"Memang bukan, pemahaman agama aku juga belum sempurna." jawab Larry apa adanya.
"Kamu minta temani kemana aku ikuti deh, tapi kalau minum tidak ya, karena aku tidak tahu efek setelah kamu minum itu akan seperti apa." jawab Larry pada Rumi.
"Tidak ada efek, aku peminum yang baik." jawab Rumi yakin.
"Menurut kamu ya, kalau kamu tidak sadarkan diri terus aku jahati bagaimana?" tanya Larry pada Rumi.
"Jahati apa, perkosa aku? tidak usah diperkosa juga bisa kali." Larry gelengkan kepalanya sambil tersenyum, malam ini Rumi sudah seperti orang mabok saja bicaranya asal keluar, padahal dia belum minum alkohol, bagaimana kalau sudah minum nanti. Larry jadi khawatir. Kebab dan mineral water sudah ditangan Larry saat ini.
"Ayo, cari Es krim." ajak Larry pada Rumi.
"Jadi bagaimana?" tanya Rumi.
"Bagaimana apa, Minum apa perkosa?" Larry balik bertanya sambil tertawa.
"Ish diambil hati." sungut Rumi terkekeh.
"Minum lah." katanya lagi.
"Jangan ya." jawab Larry tersenyum. Rumi jadi salah tingkah sendiri melihat senyum Larry.
"Kamu sudah punya pacar Leyi?" tanya Rumi lagi pada Larry tanpa malu-malu. Rumi memang selalu bicara apa adanya.
"Belum." jawab Larry kembali tersenyum. Tapi tidak balik bertanya apa Rumi sudah punya pacar atau belum.
"Sudah pernah pacaran?" tanya Rumi lagi pada Larry.
"Sudah." jawab Larry santai tanpa menjelaskan berapa kali ia pacaran, jangan sampai Rumi tanya deh, karena Larry bisa bingung sendiri jawabnya, bahkan ia juga lupa siapa saja yang pernah ia jadikan pacar.
"Sejauh mana kamu sama pacar kamu." wow pertanyaannya Rumi kenapa detail sekali, Larry jadi tertawa, mereka berhenti di counter es krim, pesankan keinginan Mike yang sok imut mau es krim malam ini.
"Jawab Leyi." desak Rumi setelah mereka memesan rasa es krim yang diinginkan.
"Give me one more, sir." pinta Larry pada penjual es krim jadi risih sendiri dengar pertanyaan Rumi.
"Leyi..." Rumi kembali mendesak.
"Ish kenapa sih tanya itu, aku saja sudah lupa." kata Larry tertawa, malas bahas masa lalu, lagi pula kenapa juga harus cerita dia ngapain saja dengan mantan-mantannya dulu.
"Saya mau tahu kamu penganut *** bebas apa bukan." kata Rumi terkekeh.
"Penting ya buat kamu, kok risih jadinya." jawab Larry apa adanya.
"Tidak tahu penting apa tidak buat saya, kalau iya juga tidak masalah sih, tapi kalau kamu takut dosa karena alkohol sih harusnya tidak berani *** sebelum menikah ya." Rumi ambil kesimpulan sendiri. Larry tertawa jadinya sambil mengedikkan bahunya.
"Leyi... kamu pernah pacaran sama peminum?" tanya Rumi lagi.
"Tidak tahu, aku belum pernah pacaran lama sih, selama jalan denganku sih mereka tidak pernah minum ya." jawab Larry tertawa.
"Saya pecandu alcohol." lapor Rumi pada Larry.
"Oh ya? kok bisa?" Larry menghentikan langkahnya.
"Bisa, apa sih yang tidak bisa." jawab Rumi tertawa.
"Hanya minuman saja? Narkotika dan yang lainnya?" tanya Larry lagi, kasihan sekali Rumi masih muda dan karirnya bagus, ia juga ada di keluarga yang baik. Papi Mario sangat baik, Bang Steve apalagi.
"Hanya minuman saja." jawab Rumi terkekeh. Larry gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Orang suci seperti kamu, kalau sudah tahu begini apa mau berteman dengan saya?" tanya Rumi tertawa sendiri.
"Berteman apa salahnya, aku juga tidak sesuci yang kamu pikir sih, tapi tidak alkohol ataupun narkotika dan sejenisnya." jawab Larry, tangannya penuh dengan kantongan kebab, mineral water dan Es Krim yang terbagi dua ditangannya Dan juga di tangan Rumi.
"Janji ya tetap mau berteman dengan saya." pinta Rumi pada Larry.
"Janji." jawab Larry tertawa mengangkat kedua jarinya yang sedang pegangi kantongan Es Krim.