I Love You Too

I Love You Too
Malas Gombal



"Main panggil sayang saja." bisik Doni menoyor kepala Larry, saat mereka menuju ke mobil masing-masing. Keduanya tertawa bersama. Larry juga tadi panggil sayang tanpa sadar.


"Leyi..." panggil Rumi pada Larry.


"Ya." Larry menoleh kebelakang, tampak Rumi berjalan bersama Femi, sementara Diky asik bercanda dengan Nanta.


"Lusa aku terapi bisa temani?" pinta Rumi pada Larry.


"Terapi apa?" Diky langsung saja ingin tahu.


"Lusa aku bisa jemput saja." jawab Larry.


"Jam berapa terapinya? kalau setelah jam empat sore aku bisa temani." Diky tawarkan diri.


"Iya biasa after office sih." jawab Rumi.


"Aku saja yang temani ya?" pinta Diky pada Rumi.


"Nanti kalau sudah tahu aku terapi apa kamu kabur deh, tidak dekati aku seperti sekarang lagi." Rumi tersenyum memandang Diky.


"Sok tahu ah." jawab Diky tertawa.


"Jadi aku ditemani Diky saja ya, Leyi?" Rumi minta pendapat Larry.


"Iya, sama Diky saja ya, kalau aku cuma bisa jemput, kamu maunya ditemani kan?"


"Iya." Rumi anggukan kepalanya.


"Dik, Nanti gue ambil mobil dulu saja ya, biar elu langsung antar Rumi dan gue antar Femi." kata Larry pada Diky.


"Boleh." jawab Diky santai.


"Makan Mie Aceh dulu ya baru cari roti keset." pinta Nanta pada Femi.


"Iya." jawab Femi menurut saja.


"Diky pesan setengah saja nanti, terus kita bagi dua." kata Rumi mengatur rencana dengan Diky yang pasti sama kenyangnya saat ini.


"Oke madam." jawab Diky terkekeh.


"Mie Aceh yang dimana Nan?" tanya Diky pada Nanta.


"Yang disebelah hotel itu loh Dik." Nanta ingatkan Diky, mereka pernah makan disana setelah pertandingan Basket di Kota Bogor. Nanta, Larry dan Doni memang belum makan dari tadi, sementara yang lain rupanya masing-masing pada aktif membeli jajanan tadi.


Semua langsung masuk ke mobil dan kembali konvoi menuju kedai Mie Aceh yang Nanta mau.


"Mas Nanta, aku mau nasi goreng tapi sedikit." pinta Dania pada suaminya.


"Pesan saja kemudian minta di pisah, bungkus sama makan ditempat." Nanta berikan saran.


"Yang dibungkusi siapa yang makan nanti?" tanya Dania pada suaminya.


"Kamu dong, kan kamu yang pesan." Nanta tertawa.


"Makan disini saja, pesankan sedikit." pinta Dania.


"Tidak boleh pesan begitu." Nanta tahu sedikitnya Dania benar-benar sedikit, mungkin hanya tiga sendok makan.


"Elu pesan nasi goreng saja Nan, makan berdua Dania." Doni berikan saran pada Nanta.


"Iya maksudku begitu." Dania terkekeh.


"Gue lagi pengen Mie." jawab Nanta.


"Nanti minta punya yang lain." kata Dona pada Nanta.


"Iya punya gue tuh lu ambil."


"Iya Mas, begitu saja." Dania membujuk suaminya.


"Gue pesan yang kombinasi saja deh." kata Nanta pada Doni dan Dona.


"Kombinasi antara Mie dan Nasi goreng ya?" tanya Dania.


"Iya." Nanta tersenyum anggukan kepalanya. Ambil jalan tengah supaya bisa bantu istrinya makan nasi goreng.


Setelah sampai di kedai kecil Mie Aceh yang Nanta mau, mereka pesan sesuai keinginan masing-masing. Bilangnya saja mau sedikit, nyatanya Dania habiskan menu yang Nanta pesan, hingga akhirnya Nanta pesan lagi Mie sesuai keinginannya.


"Gayanya mau sedikit." Nanta tertawa mengacak anak rambut istrinya.


"Hehehe ternyata enak." jawab Dania malu-malu.


"Maklum ya orang hamil." Dona tertawakan Dania.


Setelah selesai makan lanjut ke toko roti keset yang Femi mau. Dania sudah pasti ikut beli, nafsu makannya lagi bagus betul, belum lagi ia pikirkan Balen dan Richie. Tadi roti unyil juga Dania sudah belikan untuk duo bocah kesayangannya. Papa Micko dan keluarga yang lain masih menginap di hotel bersama Mike. Dania dan Nanta sudah berjanji malam ini akan ikut menginap, sepulangnya dari bogor akan kembali Ke hotel dimana Kakek Suryadi menunggu kehadiran buyut perempuan satu-satunya.


"Terima kasih juga dong untuk kamu." jawab Diky membuat yang lain tertawa.


"Usaha terus." sindir Larry tertawakan Diky.


"Iya harus sampai dapat." jawab Diky berbisik pada Larry.


"Semangat." Larry semangati Diky.


"Saingan gue elu Leyi." jawab Diky membuat Larry tertawa.


"Bukan saingan berat kalau gue sih. Kalau saingan lu Nanta tuh baru lu mesti hati-hati." jawab Larry menunjuk Nanta yang sedang bawakan belanjaan istrinya.


"Iya benar, untung sudah menikah dia." jawab Diky terbahak. Larry pun ikut terbahak.


"Masih konvoi ya, gue nginap di hotel temani Mike olah raga." kata Nanta pada sahabatnya.


"Iya Mobil gue juga masih disana." jawab Larry.


"Gue juga kan." Doni tertawa.


"Ayo nginap juga." ajak Nanta pada sahabatnya.


"Kasihan Larry tidak punya teman sekamar." Doni menggelengkan kepalanya menujuk Larry.


"Rese..." Larry tertawa.


"Sudah kubilang aku siap jadi istri, tidak mau dia." Rumi mencibir pada Larry.


"Eh kamu siap jadi istri, sama dong aku siap jadi suami." malah Diky lagi yang maju, semua bersorak tertawakan Diky


"Teman kalian ini ya dari tadi sibuk merayu." Rumi gelengkan kepalanya.


"Don Juan." kata Rumi lagi pada Diky.


"Enak saja." Diky menolak dikatakan Don Juan.


"Habis apa?" tanya Rumi pada Diky.


"Apa ya? yang pasti bukan Don Juan."


"Play boy?" Rumi tertawa.


"Bukan juga." jawab Diky tersenyum.


"Gue dibilang Don Juan sama Playboy." Diky mengadu pada Nanta.


"Tak kenal maka tak sayang." jawab Nanta pada Rumi.


"Maksudnya?" tanya Rumi.


"Harus mengenal lebih dekat biar tahu kalau Diky bukan Playboy ataupun Don Juan." jawab Nanta tersenyum jahil.


"Habis sibuk rayu-rayu sih padahal baru kenal tadi." jawab Rumi pada Nanta.


"Memang begitu dia kalau mau serius." jawab Nanta lagi.


"Berarti sering begini?" tanya Rumi.


"Tidak sering, hanya beberapa kali. Tapi mereka tidak jodoh ya jadi Diky harus coba lagi." Nanta lancar sekali bicarakan Diky.


"Sudah ya, kamu kalau mau tahu tentang aku tanya aku saja, jangan tanya Nanta." Diky menepuk bahu Rumi.


"Takut rahasiamu terbongkar?" tanya Rumi.


"Justru Nanta ceritanya tidak lengkap, kalau aku kan bisa ceritakan detail." Diky tersenyum manis.


"Duh manis juga ternyata ya." Rumi terpana pandangi Diky.


"Mulai ada getaran." Larry tertawakan keduanya.


"Gila kali kalau sampai tidak bergetar, gue sudah pakai ilmu maksimal dekati Rumi ini." jawab Diky membuat semuanya terbahak.


"Keren Diky." Femi acungkan jempol.


"Kamu mau aku pakai ilmu maksimal juga ya?" tanya Larry pada Femi. Kembali semuanya bersorak rusuh.


"Usaha dong Leyi." celutuk Dona pada Larry.


"Gue lagi malas gombal, kan gue sudah bilang. Kalau mau maksimal aku ajak ketemu Papaku saja, bagaimana?" tanya Larry pada Femi.


"Apa sih." Femi langsung memerah.


"Benar, kalau mau serius langsung bertemu Papaku, kalau dia oke baru aku bertemu orang tua kamu." jawab Larry, kembali semuanya bersorak cuit cuit, sementara Femi berusaha menenangkan genderang yang bertabuh didadanya.