
"Mas, kasih tahu saja sama suaminya Sheila, kalau Sheila ada di Malang." kata Nona pada Kenan sepulang mengantar Nanta ke Asrama.
"Saya tidak tahu Sheila tinggal dimana di Malang, lagi pula saya tidak kenal Farhan." jawab Kenan sambil fokus menyetir.
"Kasihan anaknya, aku kok dengar cerita Bang Erwin tadi jadi sedih sendiri, ingat aku waktu kecil sudah tidak punya Mama." kata Nona melankolis.
"Kita juga tidak tahu Sheila masih di Malang apa tidak? Semoga mereka menemukan jalan keluar yang terbaik, biarkan saja mereka selesaikan sendiri masalah mereka." Kenan tersenyum menatap Nona sesaat kemudian kembali fokus menyetir.
Ia sangat hati-hati jika membahas Sheila didepan Nanta maupun Nona, tidak mau ada pikiran yang tidak-tidak. Lagi pula tadi Nona dengar sendiri saat dirumah Enji, jika Sheila memang hanya bersahabat dengan Erwin, Reza dan Kenan, walaupun sempat naksir-naksiran.
"Kalau aku sih dari pada Sheila luntang lantung di Malang, lebih baik kembali dengan keluarganya." Nona menatap suaminya.
"Kamu bilang saja sama Sheila, sepertinya kamu bisa jadi sahabat yang baik untuk Sheila." Kenan jadi senyum sendiri, Nona begitu memikirkan Sheila.
"Ish tidak mau." sungut Nona kesal.
"Habisnya dari tadi sangat memikirkan Sheila dan anaknya." kekeh Kenan mengacak anak rambut Nona.
"Iya juga ya, kenapa juga aku pikirin Sheila. Hmm... kalau dia bahagia sama keluarganya kan jadi tidak ganggu Mas Kenan lagi." Nona jadi terbahak setelah berkata jujur. Kenan pun ikut terbahak jadinya, mengaku juga akhirnya, Nona takut Kenan terus dihubungi Sheila.
"Terbukti sekarang juga tidak ganggu kan? sudah berapa bulan kita menikah, Sheila tidak pernah lagi menghubungi saya."
"Belum ada kesempatan saja." kata Nona mencibir.
"Kamu tuh ya, curiga terus." Kenan menggenggam jemari Nona.
"Aku hanya menjaga suamiku." Nona mencium punggung tangan suaminya. Kenan tersenyum gemas dibuatnya.
"Mas, kita pindahnya tidak bisa dipercepat? aku tidak enak kita merepotkan Kak Kiki, terutama aku." kata Nona lagi pada Kenan.
"Merepotkan bagaimana? kamu seperti sama orang lain saja."
"Ya karena kondisi aku sekarang, mereka semua jadi ganti parfume. Teman Bang Eja tadi tidak berani mendekat, melihat Nanta hanya diteras rumahnya saja, karena belum pada mandi. Padahal aku rasanya tidak separah itu, tapi membatasi ruang gerak mereka, aku jadi tidak enak." Kenan terkekeh mendengarnya, sensitif sekali Nona sekarang.
"Sudah jangan diambil pusing, mereka senang-senang saja, meski menonton Nanta dari jauh. Malah seru teriak-teriak begitu ngobrolnya." Kenan tersenyum lebar.
"Rumah mungkin bisa dipercepat, tapi pekerja untuk dirumah, baru sampai hari minggu, Biarkan mereka bersih-bersih dulu karena saya maunya kamu tinggal masuk saja, tidak kena debu. Mood kamu kan rusak kalau lihat berantakan, rambut dan baju saya miring sedikit saja kamu bisa kesal."
"Itu kan kalau Mas Kenan, lagi pula aku bisa bersihkan sedikit-sedikit."
"Tidak boleh! nanti Baby kenapa-napa lagi, sudah ya jangan rewel, kita pindahnya minggu depan. Disini juga kamu ada Kiki, Kak Enji, Pipit, Regina. Belum lagi Monik sama Intan. Mereka semua seru, kamu jadi tidak suntuk. Malah tadi saya lihat kamu asik ngobrol sama Risa."
"Iya kami membahas training untuk rumah sakit di Cirebon sama di perusahaan Papa."
"Jadi kangen sama Roma." kata Nona kemudian.
"Telepon saja."
Nona langsung saja menghubungi Roma melalui sambungan video, seharusnya tadi waktu ada Nanta, tapi baru kepikiran sekarang.
"Heloo... orang Jakarte." teriak Roma sambil tertawa begitu wajah Nona terlihat jelas.
"Kamu lagi apa, Rom? kangen." kata Nona pada Roma.
"Aku baru mau ajak Sera istrinya Fero makan siang Kak. Aku juga kangen tahu, ini baru saja selesai telepon Nanta."
"Asik sudah ada teman baru."
"Perdana jalan bersama ini Kak. Karena aku rewel minta makan siang sama Raymond tapi dia sibuk, akhirnya Sera ditugaskan menemani aku." Roma terkekeh.
"Kak Nona kalau suntuk nanti aku minta Sosa sepupu aku temani Kak Nona." kata Roma pada Nona.
"Ih merepotkan, aku belum kenal Sosa juga, istrinya Naka kan?"
"Iya, asik juga orangnya, Lembayung juga asik. Nanti mereka yang temani Kak Nona tenang saja."
"Hihi kamu merepotkan mereka, tadi aku baru kenalan sama Risa."
"Oh terlalu kalem, bukan tandingan Kak Nona." kata Roma membuat Nona terbahak.
"Asik juga kok."
"Iya tapi pasti dia hanya mendengarkan Dan bisa-bisa Kak Nona terus yang ngomong. Kecuali kalau bahas pekerjaan baru dia lancar, Kak Nona yang mendengarnya." Roma kembali terbahak.
"Hahaha Roma kamu ghibah." Nona ikut terbahak.
"Enak saja aku bicara apa adanya. Risa paling kalem diantara kami semua, Sarah istrinya Atan itu sebenarnya asik juga tapi sibuk dirumah sakit, jadi susah diajak kemana-mana." Roma jadi membahas sahabatnya satu persatu.
"Kak Nona masih dirumah Bunda kan? tunggu saja Sosa akan datang memperkenalkan diri." kata Roma yakin.
"Sosa rumahnya dimana?" tanya Nona khawatir merepotkan.
"Habis mengantar Nanta ke Asrama, Karena di Jakarta jadi lama sampainya ya. Kalau di Malang kita baru di Mobil sudah sampai." Nona terkekeh.
"Enak di Malang ya?"
"Sama saja, yang penting dekat Mas Kenan." Nona terkekeh melirik suaminya.
"Hmm... langsung dibelikan Om Kenan berlian." kata Roma membuat Nona dan Kenan terbahak.
"Tuh Mas." Nona mengarahkan kamera handphonenya pada Kenan.
"Roma kamu provokator ya." kata Kenan masih terbahak.
"Hahaha aku juga belikan Om, jangan Kak Nona saja." Kenan kembali terbahak mendengarnya.
"Boleh-boleh." katanya kemudian.
"Pak Atang kemana Om, kenapa setir sendiri?"
"Lagi bersih-bersih rumah sama Tina." kata Kenan tanpa melihat kamera.
"Tidak sabar ingin ke Jakarta. Sudah dulu ya Kak Nona, Om Kenan, Sera sudah datang jemput, aku jalan dulu. Doakan kami cocok ya." kata Roma memutuskan sambungan teleponnya.
"Mau berlian." kata Nona sambil tertawa menadahkan tangannya.
"Seperti yang suka pakai perhiasan saja, pakai kalau saya belikan ya?" tantang Kenan pada Nona dengan wajah serius.
"Hmmm..." Nona mengetuk dagunya dengan telunjuk, memang Nona tidak suka memakai perhiasan mana mungkin dipakai.
"Kenapa?" tanya Kenan menunggu jawaban Nona.
"Mau dipakai kemana ya? ke Pesta jarang, arisan sosialita juga tidak. Yang ada aku letakkan dilemari, capek sekali menjaganya."
"Sekali waktu pasti akan ke Pesta. Ada juga yang bisa dipakai sehari-hari kan?"
"Ish tahu saja Mas Kenan ini. Sering belikan Mbak Tari ya dulu?"
"Apa sih bahas-bahas dulu. Mama juga punya kan jadi saya tahu."
"Jadi betul dulu Mbak Tari suka dibelikan berlian?" tanya Nona penasaran.
"Besok kamu saya belikan, sudah jangan bahas apa yang pernah saya belikan untuk Tari. Saya lupa."
"Itu kenapa Roma bahas berlian?" cari gara-gara.
"Karena Kak Monik dan Mama suka berlian mungkin." jawab Kenan asal. Ia malas sekali membahas apa saja yang pernah ia kasih untuk Tari.
"Berarti Mbak Tari juga pernah dibelikan." tanya Nona lagi penasaran sekali.
"Mungkin juga, saya lupa."
"Ish rahasia-rahasia." gerutu Nona kesal.
"Cium juga nih. Coba saja kamu telepon Tari tanya sendiri. Ditertawakan kamu nanti ungkit-ungkit masa lalu. Apa yang sudah dikasih bukannya tidak boleh diungkit-ungkit?"
"Aku cuma mau tahu, karena Roma bahas itu."
"Perempuan mayoritas suka perhiasan makanya Roma bahas itu. Kamu kan sudah tidak mau beli sepatu, jadi Roma tidak bahas sepatu. Itu yang kamu bawa dari Cirebon mau kamu jual apa kasih orang?" tanya Kenan mengalihkan fokus Nona.
"Kasih ke siapa ya Mas? Nanti kalau sudah pindah rumah baru, aku bisa pasang status. Jual atau kasih nanti tergantung mood aku deh. Si Wilma sepatunya nomor berapa ya, bisa aku kasih yang semodel sama Nanta. Mereka bisa kembaran."
"Kenapa jadi Wilma?"
"Calonnya Nanta kan?"
"Ish mereka masih kecil, berteman saja dulu. Tadi saya iya-iya saja karena semua termasuk Bang Eja mendorong saya untuk bilang iya." Kenan menggelengkan kepalanya.
"Aku kira Mas Kenan setuju."
"Setuju kalau memang Nanta yang mau. Saya tidak mau memaksa Nanta, hanya mengarahkan, mengawasi dan mengingatkan saja."
"Nanta mau?"
"Kemarin sih dia bilang tidak mau dijodohkan, kalau dijodohkan bisa pernikahan dini, kamu nilai saja sendiri." kata Kenan terkekeh.
"Jadi kita mengawasi Nanta dan Wilma?" tanya Nona menaikkan alisnya.
"Menjaga supaya tidak salah jalan." Kenan terkekeh, tak terasa mereka sudah sampai didepan rumah Reza dan Kiki.