I Love You Too

I Love You Too
Taat



Mereka pun beranjak ke ruang VIP, suasana lebih terasa enak dan nyaman. Kiki segera mengambil Siomai yang terhidang karena perutnya mulai lapar. Tadi belum sempat makan dan tak nafsu makan juga. Sekarang makan ringan dulu sambil menunggu suaminya kembali dari Mesjid dibelakang Hotel.


Mario mengambil posisi duduk di pojokan mengajak Regina berpisah dengan rombongan Kiki. Mengikuti saran sahabatnya untuk bicara dari hati kehati dengan Regina. Kiki sudah tak heran karena sudah membaca pesan group ke empat sahabat itu.


"Cin, gimana disana enak ga?" tanya Kiki.


"Enak juga kok Ki, enaknya tuh beda ya sama jakarta. Kalian main lah ke KL, nanti menginap dirumah gue aja."


"Kita sih ada rencana Travel bertiga nih, kerja sih sebenarnya. Ngiklanin travel temen gue, tapi gue belum tau arahnya kemana. Kalau ke KL kita bisa mampir ya Ki."


"Iya. Seru juga kalau ke KL, sekalian ke S'Pore sama thailand aja. Nik satu minggu empat negara seru juga tuh." Kiki bersemangat.


"Hmmm kaya yang iya aja. Lu kan udah punya pawang, mau ga ditinggal seminggu."


"Hahaha iya gue lupa." Kiki tergelak.


"Kayanya lu cuma diijinin semalam deh Ki. Waktu itu kan lu bilang." sahut Intan. Kiki mengangguk.


"Kecuali yang cowok-cowok ikut, kita bisa tuh Nik seminggu." kata Intan lagi.


"Mas Alex sama Anto?" tanya Monik memastikan. Intan mengangguk.


"Boleh tanya ya mbak, kenapa Anto ikut, kamu pacarnya Anto?" tanya Monik kemudian dengan senyum jahil. Intan pura-pura tak mendengar, tak mau menjawab. Monik segera menggelitik pinggang Intan. "Jawab...!!" katanya sambil terus menggelitik. Intan hanya tertawa tak tahan rasa gelinya.


"Ki bantuin, nih anak ga mau cerita."


Kiki pun segera mengikuti arahan Monik. "Ayo Tan, Cerita." katanya penasaran sambil menggelitik Intan yang mulai menggelosor turun dari bangkunya. Cindy terbahak melihat kelakuan Ketiga sahabat itu. Mario yang melihat dari jauhpun ikut tertawa terganggu kosentrasinya saat berbicara dengan Regina, sehingga Reginapun ikut menoleh dan tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Iya gue ngaku. Kita udah jadian." jawab Intan menyerah.


"Kapan?" tanya Monik sambil membantu Intan berdiri dari lantai. Kiki terkikik geli melihat Intan yang sudah tak karuan bentuknya.


"Pulang nonton itu yang kita berempat."


"Oh, Kenapa ga cerita?" tanya Kiki.


"Malu." Intan menutup wajahnya.


"Ga pantes gaya begitu." Monik menimpuk Intan dengan tissue ditangannya. Semua tertawa bersama. Bahagia sekali tanpa beban. Kiki segera memeluk Intan. "Buruan pada nikah dong, jangan gue sendiri nanti yang hamdan. Lucu kan kalau hamdan bareng. Lu juga Cin."


"Ish gue belum punya pacar." jawab Cindy.


"Tan,Nik, Cindy ama kak andi aja ya. Ok kan mereka cocok."


"Nah bener Cin. Gue ngefans berat sama Andi. Dapatnya Anto."


"Anto juga keren, gue malah awal ketemu minta foto bareng, iya kan Nik." Kiki mengingat saat awal bertemu Anto. Agak norak rasanya kalau diingat.


"Iya hahaha lucu ya cikal bakal Kiki kesohor tuh Cin." kata Intan sambil mengambil siomai dipiring Kiki ikut memakannya.


"Nah nanti malam cindy deh yang perform, Enak juga suara cindy, kita gurunya sama soalnya."


"Siapa? tanya Monik dan Intan berbarengan.


"Bokap gue sama bokapnya Kiki. Gantian aja mereka ajarin kita nyanyi waktu itu" jawab Cindy.


Sementara dipojokan diruangan yang sama tampak Regina sedang menangis. Mario hanya memandang tanpa berkata-kata. Kiki berusaha menguping dari jauh. Kepo juga Kiki nih. Tapi sahabatnya terlalu berisik tak perduli pada yang lain. Jadi niat menguping ga kesampaian. Coba kita ikuti ya apa yang Mario dan Regina bahas.


"Aku juga ga mau perjodohan ini Yo, tapi aku ga punya daya untuk menolak. Om aku sudah jadikan aku jaminan supaya papa kamu ga tarik saham diperusahaan om aku. Makanya aku ikut mami ke Jakarta. Kalau kamu ga mau menikah denganku, aku ga akan memaksa. Bicarakan aja dengan papi. Mungkin kamu ada solusi. Aku punya pacar Yo. Kemarin saat berangkat ke jakarta kami putus baik-baik. Dia juga ga punya daya karena dia orang biasa. Ga seperti kalian yang bergelimang harta." Regina menghapus airmatanya dengan tissue. Mario hanya diam berusaha mencerna, kenapa cerita seperti di drama dan novel pada umumnya harus ia alami.


"Yo apa yang harus aku lakukan? Selama ini aku dibesarkan sama om aku, orangtua Ema yang tadi Cindy bahas. Mereka sudah seperti orangtua kandungku. Sebenarnya om mau Ema yang dijodohkan dengan kamu, tapi papi memilih aku." Regina menjelaskan. Mario menghela nafas panjang.


"Ayo kita menikah." kata Mario menatap tajam pada Regina, membuat Regina terperangah. Cerita Regina yang rumit membuat Mario tak bisa menemukan solusi selain menikah.


"Pernikahan yang seperti apa Yo?" tanya Regina. Mungkin Mario akan mengajukan syarat seperti cerita yang lain.


"Pernikahan pada umumnya, aku ga mau mempermainkan pernikahan yang kuanggap sakral."


"Kita ga saling mencintai, bagaimana bisa menikah."


"Kamu bisa belajar mencintaiku kan, aku juga begitu. Aku ga tau butuh waktu berapa lama untuk jatuh cinta denganmu, tapi setidaknya kita bisa memulai dengan berteman baik."


"Kamu serius?" tanya Regina, Mario mengangguk, setelah semalam papi mengancam akan menghapus Mario dari hak waris dan Mario mengiyakan karena ia punya penghasilan sendiri, tak butuh harta keluarganya, Papi beralih mengancam akan menghancurkan bisnis Restaurant Mario. Tentu saja Mario kelimpungan dan tak mau bercerita dengan sahabatnya.


"Syarat apa yang harus aku penuhi?" tanya Regina


"Menikah macam apa yang pakai syarat, berlakulah sebagaimana istri pada umumnya, yang menurut sama suami dan takut akan Tuhan. Kalau kamu takut Tuhan pasti kamu takut untuk berbuat dosa. Jangan bertemu lagi atau berhubungan dengan pacarmu. Jangan pernah ada pria lain dalam kehidupan kamu selain aku." Kata Mario.


"Kamu juga begitu ya."


"Aih jangan mengatur, aku tau apa yang mesti aku lakukan." Dengus Mario. Regina mencebikan bibirnya, Ah egois sekali. Tapi Mario ternyata baik juga, Cepat sekali berubah, ga seperti yang Regina kira. Kemarin tampak seperti ingin menerkam dan mencakar. Garang sekali.


"Yo, kamu terpaksa melakukan ini?" tanya Regina.


"Sama seperti kamu. Kita diancam dengan cara yang berbeda. Ga ada solusi selain kita menikah. Kita sama-sama belajar. Lakukan karena Allah. Jika Allah tak ijinkan pasti tak akan terjadi."


"Kamu rajin beribadah? bahasamu agamis sekali."


"Teman-temanku orang yang taat menjalankan perintah Tuhannya. Aku akan mengikuti mereka sesuai dengan agamaku. Mendekatkan diri pada Tuhan."


Regina terperangah, satu lagi sisi positif Mario yang ia temukan siang ini. Terima kasih Tuhan, batinnya.