
"Kak aku ga enak sama kak Mario." kata Kiki pada Reza saat mereka sudah berada dikamar hotel.
"Kamu mau kita pisah kamar? ngapain ikut kesemarang kalau gitu." judesnya Reza mulai keluar, padahal Kiki hanya menyampaikan rasa tak enaknya. Malas berdebat, selain itu ngantuk juga Kiki segera membaringkan badannya kekasur. Wajahnya tak bisa menutupi kekesalannya karena judesnya Reza.
"Kok diam?" tanya Reza yang menunggu jawaban Kiki.
"Dek..!"
"Dek...!!" Reza mulai gusar.
"Kok cuekin aku sih?" tanya Reza lagi melihat Kiki yang hanya rebahan dikasur dengan mata terpejam. Tapi Reza tau Kiki belum tidur.
"Ya udah sana kalau mau tidur sama Regina!!" sungut Reza.
"Iih kak Eja, aku ga mau berantem, aku ga suka dijudesin!!!" tegas Kiki membalikkan badannya dan menutup wajahnya dengan bantal. Menyebalkan, cuma bilang begitu langsung dijudesin.
"Sayang.." Reza mulai menyadari kesalahannya, "Maaf.." katanya sambil membaringkan badannya disebelah Kiki yang tertutup bantal. Mulai memeluk Kiki dan menarik bantal diwajah Kiki.
"Aku ga suka dicuekin." bisik Reza ditelinga Kiki, dan memulai atraksinya bermain-main disekitar telinga dan wajah Kiki, terdengar lenguhan membuat Reza tersenyum dan melanjutkan atraksinya, tangannya mulai bergerilya.
"Aku ngantuk!!!" kata Kiki, meski reaksi tubuhnya tak menolak bahkan mau lebih, tapi kesalnya belum hilang.
"Maafin aku ga?" tanya Reza dengan tangan yang masih sibuk bergerilya. Kiki mengangguk dan mulai merapatkan badannya kearah Reza hingga tangan yang sibuk terhenti aktifitasnya, Kiki memeluk dan membenamkan wajahnya didada Reza. Tak perduli akan lipstik yang mungkin menempel pada baju Reza.
"Tadi aku sensi, kamu kok ga mau sekamar sama aku. Sepele banget ya, maaf sayang." Reza mengecup pucuk kepala Kiki dan menggosok punggungnya menina bobokan agar istrinya segera terlelap. Kiki semakin mengeratkan pelukannya hingga mereka berdua tertidur.
Satu jam kemudian Reza terbangun karena handphonenya terus berdering, tangannya pun mulai kesemutan. Pelan-pelan Reza melepaskan pelukannya dan memindahkan tangan Kiki, merubah posisi dirinya dengan guling berharap Kiki tak terbangun.
"Mau kemana?" tanya Kiki dengan suara ^bantal dan mata yang masih terpejam.
"Mau tau siapa yang telepon, berisik."
Reza segera meraih handphone diatas nakas dan melihat nama Ranti dilayar, digesernya tombol hijau, mungkin ada sesuatu terkait proyek cabang selatan.
"Mas Reza apa kabar?" tanya Ranti dengan suara genitnya.
"Alhamdulillah baik, gimana mbak?"
"Saya lagi di cabang utama nih, kesini dong mas."
"Maaf mbak saya lagi di luar kota. Ada perlu apa mbak? ada masalah proyek kah?"
"Oh ga mas, proyek aman. Kangen aja, kirain mas Reza lagi dikantor. Staff disini bilang belum tau datang jam berapa, jadi saya telepon deh."
"O gitu, ok deh mbak Ranti terima kasih sudah mampir ya."
Reza segera mematikan sambungan teleponnya. Apaan sih kangen aja, kaya yang akrab aja batin Reza, merasa ada yang tak beres pada Ranti. Kiki yang sedari tadi mendengar percakapan Reza mulai Emosi.
"Apaan sih telepon bilang kangen." katanya sambil melempar bantal pada Reza. Untungnya Reza segera menangkap sehingga tak kena wajahnya.
"Loh kok kamu dengar dek?" tanya Reza heran.
"Ya iyalah kamu loudspeaker gitu." Rupanya tombol loudspeaker tak sengaja tertekan entah terkena telinga atau pipi Reza. Sensitif sekali.
"Kamu cemburu?" tanya Reza mendekati istrinya.
"Ya kan aku udah bilang dari awal, pakai nanya lagi."
"Kamu kemarin waktu ketemu tebar pesona ya?"
"Ga usah ditebar sayang, mungkin dia sudah terpesona duluan. Udah ah jangan berantem gara-gara dia." Reza yang sudah berbaring disisi Kiki kembali memeluk istrinya. Bantal yang tadi dilempar kini dipakainya.
"Kesal aku dengarnya, blokir aja nomornya." Kiki masih sewot.
"Kan masih ada urusan proyek, gimana aku blokirnya. Nanti ya kalau sudah selesai." Reza membelai rambut Kiki, sesekali mengecupnya.
"Nanti dia rayu-rayu Kak Eja lagi."
"Ga papa yang penting aku ga ladeni. Udah ah jangan begini. Nanti aku bingung kerjanya gimana. Aku janji ga macam-macam, kamu tenang aja deh." Reza mulai lagi bermain pada pipi, bibir dan telinga istrinya. Kiki tak menolak tapi teringat Reza belum sholat.
"Sayang kamu belum sholat, udah ashar nih."
"Hmmm.. aku mandi deh. Siapin baju aku dek." Reza segera masuk ke kamar mandi, bukan hanya mandi, ada sesuatu yang harus dibereskannya.
Kiki beranjak dari tempat tidurnya, membuka koper dan memilih baju yang akan dipakainya dan suaminya. Karena Kiki juga harus mandi, rasanya wajahnya perlu dibersihkan habis diobrak abrik Reza dari tadi. Lama menunggu Reza, Kiki membaca pesan masuk yang belum dibukanya. Ada dari mama, mama Nina, Monik, Intan, Cindy.
"Sehat ma, Kiki sama Kak Eja sudah disemarang, besok Mario nikahnya bukan hari ini." Kiki menjawab pesan mamanya yang menanyakan apakah sudah sampai disemarang, terlambat tidak keacara Mario."
"Ga bisa mampir ke malang ma, besok habis nikah Mario, langsung balik Jakarta, Monik dan Intan Nikah juga." Kiki menjawab pesan Mama Nina yang meminta mereka lanjut ke Malang setelah dari Semarang.
"Iya baweel, gue habis acara Mario langsung ke hotel lu." Jawab Kiki pada pesan Monik yang memastikan Kiki harus datang dan menginap di Hotel yang sudah dipesannya.
"Lumpia semarang mau berapa box, bandeng berapa box?" Bisa-bisanya Intan yang mau resepsi minta dibawakan lumpia dan bandeng.
"Lu juga ke Semarang Cin? Sampai Semarang jam berapa? gue udah dihotel. Kasih tau kalau sudah sampai. Nanti di jemput." Kiki senang sekali menjawab pesan dari Cindy yang juga hadir di acara pernikahan Mario dan Regina.
"Kenapa dek cengar-cengir?" tanya Reza yang keluar dari kamar mandi berbalut handuk Hotel.
"Kak Eja kok ga minta antar bajunya biar langsung pakai didalam?"
"Ribet, pakai disini aja." Reza mulai melepas handuknya, tak malu dilihat Kiki.
"Kak, aku malu ih."
"Kaya baru lihat aja sih, udah sering juga."
"Ih tapi ga gini juga." Kiki segera mengambil handuk dan mengelap bahu Reza yang masih basah. Sementara Reza sibuk memakai celananya.
"Kamu kaya bocah deh kak, ngelap badannya ga kering."
"Masa sih ga berasa. Kenapa tadi senyum senyum lihat hp?"
"Cindy ke Semarang loh kak, ke acara ini juga. Kak Andi tau ga tuh?"
"Ga cerita sih Andi, nanti aku tanya deh."
"Telepon kak."
"Semangat amat sih kamu."
Kiki tersenyum malu, senang sekali akan ketemu sahabatnya, dan senang juga melihat kedekatan Andi dan Cindy secara langsung. Semalam sudah online sampai pagi.
"Mungkin sudah tau ya kak, kan semalam online sampai pagi. Pasti Cindy cerita ya." Kiki menduga-duga. Reza menggelengkan kepalanya. "Biarin aja." katanya acuh.