I Love You Too

I Love You Too
Kesiangan



Kiki terbangun dari tidurnya, masih terasa sisa lelah semalam. Badannya seperti habis olah raga berat, kakinya cenat cenut. Kalau ngeluh ke Papa dan Mama pasti dibilang efek ga pernah olah raga. Diambilnya minyak semprot sejenis param kocok, disemprotkan ke kaki yg cenat cenut.


Mungkin salah pakai sepatu ya, kemarin aku pakai sepatu yang ada heels nya. Walau ga terlalu tinggi. Pelajaran besok-besok kalau ikut Mama Nina shopping, aku harus pakai sepatu sneakers, batin Kiki.


Dipaksanya bangun, begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Kiki segera mandi lanjut sholat shubuh, lalu peluk guling lagi. Untungnya hari ini Kiki kuliah jam sepuluh pagi, jadi masih ada waktu untuk melepas lelahnya.


"Kiii...dorrr..dorrr...Kiiii dorrr....dorrr" sayup-sayup kiki mendengar pintu kamarnya diketuk.


"Yaaaa...." jawab Kiki malas, masih dengan mata terpejam.


"Kiiiiiiiii...dorrrrr.....dorrrrr...dorrrrr" kali ini suara tambah melengking dan ketukan dipintu semakin kencang. Eh itu bukan ketukan tapi seperti tukang bangunan sedang renovasi pintu, pintu bergoyang seakan ingin melayang.Kiki pun terbangun dan membuka pintu kamarnya dengan nyawa yang belum terkumpul semua.


"Ya ampun mama kenapa? kaget Kiki." oceh Kiki dengan mata setengah terpejam.


"Kamu yang mama kira kenapa-napa, dipanggilin dari tadi ga jawab. Bikin mama panik aja." galakan Mama kan??? hihi Kiki pun mengucek matanya sambil menguap.


"Aku masuk jam 10 ma. Makanya aku nyantai." kata Kiki pada Ririn setelah nyawanya mulai terkumpul.


"Sekarang sudah jam sembilan nak, kamu mama bangunin dari jam delapan diam aja, ga ada suara kaya orang pingsan." cerocos mama kesal.


"Aku ga dengar ma, maaf yaa maa. Sini peluk." Kiki mulai membujuk mama manja sambil melebarkan tangannya.


"Mandi dulu sana."


"Aku udah mandi ma, tadi abis mandi aku sholat terus bobo." Kiki pun berjalan kearah mama dan memeluknya.


"Aku capek banget kemaren itu. Kaya habis marathon nih kakiku ma. Pengen dirumah aja tapi ada quiz."


"Ya sudah sana siap-siap. Reza sudah menunggu dari jam delapan."


"Waaah kok ga bilang. Aku ga janjian." Kiki langsung panik memilih baju yang akan dipakainya dan langsung masuk kamar mandi.


"Katanya sudah mandi." mama komplen


"cuci muka sikat gigi dong ma, biar ga kusut." teriak Kiki dari dalam kamar mandi. Mama pun meninggal Kiki dan menuju ruang keluarga tempat Reza duduk menunggu Kiki. Reza tak sendiri tapi bersama Kenan dan Sheila.


"Kamu ga janjian ya Ja?" tanya Ririn pada Reza.


"Ga sih ma, aku tau Kiki kuliah jam sepuluh. Tapi kupikir Kiki ga kesiangan ma. Ternyata salah." hehehe Reza nyengir sendiri.


"Biasanya ga begitu sih, Mungkin dia capek tuh ngikutin kita mak mak ga tau diri." canda Ririn diikuti gelak tawa yang lain.


"Gawat punya mak kaya gini ya, mesti banyak duit nih anak mantu." Kenan mulai buka suara.


"Kenan, mama kemaren belum pakai uang anak mantu, kalau pakai sih bisa minta dari buka toko." timpal Sheila.


Suasana berempat seperti sedang arisan sekomplek karena anak-anak dan Ririn saling menggoda.


"Ada Kenan sama Kak Sheila juga pantas aja rame , seru kedengaran dari kamar." Kata Kiki dengan senyum sumringah pada Sheila, Kenan dan juga Reza.


"Tidur kaya apa itu, dibangunin susah." Reza menggelengkan kepalanya sambil berdecak menggoda Kiki.


"Keboo.." timpal Kenan tanpa melihat Kiki, asik dengan handphonenya. Kiki mencebikan bibirnya.


"Tadi habis shubuh tidur lagi aku, capek banget semalam. Rencana mau bangun jam delapan , eh bablas. Kak Eja juga ga bilang mau jemput aku kekampus." Kiki cengengesan menjelaskan pada Reza membela diri.


"Coba nanti cek handphonemu." Reza mengacak rambut Kiki, lalu..


"Ayo berangkat, nanti kamu telat." Kata Reza sambil bangkit dari sofa disusul Kenan dan Sheila, menghampiri Ririn menyalami dan mencium tangannya. Kiki pun melakukan hal yang sama, tapi tambah peluk dan cium berulang seperti yang dilakukan mama padanya kemarin.


"malu dong ada Reza,kenan, sheila tuh." mama mendelikan matanya.


"Ih, emang kenapa, Assalamualaikum ma," pamit Kiki memgerucutkan bibirnya sambil melambaikan tangan menuju ke mobil.


"Waalaikumusalaam, bibir biasa aja nak." dasar mama selalu menggoda anaknya.


"manja amat sih." reza mencubit pipi Kiki gemas ketika sudah duduk dimobil. Kali ini Kiki yang duduk didepan, Sheila dan Kenan yang dibelakang. Kiki hanya nyengir sambil menarik mukanya dan menggosok pipinya yang habis dicubit Reza, kemudian memutar kaca spion depan kearahnya sambil berkaca melihat pipinya, mengusapnya pelan.


"Sakit?" tanya Reza sedikit menyesal, membantu Kiki mengusap pipinya.


"Modus lu bang." celutuk Kenan dari bangku belakang.


"Iri? usap aja pipi Sheila." jawab Reza tersenyum nakal menggoda adiknya. Pasti ga berani, takut keterusan hehe.


"Takut bablas, sabar ya shei." Kenan mencium punggung tangan Sheila yang sedari tadi digenggamnya.


"Hei belum halal....!!! teriak Sheila sambil memukul pundak Kenan kesal.


"Jangan marah dong, teman Kiki malah sudah lihat kamu lendotan ke aku sabtu kemarin."


"Ish kamu kan tau, itu aku lagi mabok parfume."


Hmmm...Jadi tau kan yang modus siapa. Kiki hanya tertawa melihat aksi Kenan dan Sheila.


"Bengkelnya dimana?" tanya Reza melihat kebelakang dari kaca spion. Kenan segera memberi alamat bengkel pada Reza.


"Bener kan jadi muter gue, tadi aja diantar kebengkel dulu." Kata Reza sambil menggelengkan kepalanya merasa dikerjai Kenan. Tadi pagi saat mau menjemput Kiki, Kenan memaksa Reza untuk diantar kebengkel untuk mengambil mobilnya yang sudah selesai di service besar, harusnya kemarin tapi berhubung sok sibuk, jadi baru sempat hari ini. Kenan juga memaksa ikut kerumah Kiki dulu.


"Kepagian bang. Kekampus dulu aja, nanti baru kebengkel. Jadi Kiki dan Sheila ga terlambat." Kembali Kenan membujuk Reza. Sepertinya Kenan hari ini lagi ga ada acara, jadi paling enak nempel keabangnya yang sabar walau sedikit judes. Reza pun menuruti saran Kenan. Memang kalau kebengkel dulu Kiki dan Sheila yang ada kelas jam sepuluh akan terlambat. Walaupun beda mata kuliah kebetulan jam kuliah mereka hari ini sama.


"Sudah cek handphone kamu belum?" tanya Reza pada Kiki, dalam perjalanan menuju kampus. Kiki membuka tas nya dan mengambil handphone yang dari semalam setibanya dirumah tak disentuhnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Reza, Monik dan Intan. 3 pesan yang belum dibaca dari Reza, 5 pesan dari Monik, 5 pesan dari Intan dan 10 pesan dari Wina. Kiki tersenyum simpul.


"Capek banget aku ternyata, maaf ya kak." katanya sambil tertawa. Kembali Reza mengacak anak rambut kiki, gemas.