
"Sakia, anak bayi, bisa pate baju Ante Baen woh talo Jatata." kata Balen pada Shakira keponakannya. Dengan percaya dirinya dia menyebut dirinya Ante Baen.
"Ante?" Raymond mengernyitkan dahinya.
"Iya tan Ante butan Tatak." Balen mengingatkan karena memang ia tantenya Shakira, sebenarnya Raymond tahu itu, tapi lucu saja mendengar Balen menyebut dirinya Tante.
"Bukan Tante, tapi Ibu Balen nih Shakira." sahut Nona.
"Eh janan denein Sakia, Ante butan Ibu-ibu." berusaha pengaruhi Shakira yang belum bisa apa-apa. Semua tertawa geli mendengarnya.
"Sakia, tamu pandil atu Aban aja yah. Janan Om, atu masih tecil tok." bisik Richie pada Shakira. Bayi yang berusia berapa jam itu hanya menggeliat saja. Kemudian duduk menjauh sambil serahkan roti yang ditangannya pada Nona, minta dibukakan.
"Papa, emanna Baen bayi taya, Sakia?" tanya Balen pada Papa, bangga kalau Shakira dibilang mirip Ante Baen.
"Shakia taya Mamana lah Baen, Emanna tamu Mamana Sakia ih, mo milip ajah."
"Emanna tao miip Mamana aja?" bersungut mendengar Richie.
"Milip Papana juda boeh." jawab Richie.
"Atu ama Ban Lemon miip tok, iya tan Ban?"
"Hu uh." sibuk pandangi anaknya.
"Iat duu don Ban muta Baen." rusuh minta Raymond cari kemiripannya dengan Shakira.
"Iya mirip singkong rebusnya Abang." sahut Raymond tertawa pandangi Balen.
"Sakia, Ante tan pandilna ama Om Anta sinkong ebus. Anak Bayi pandilna apa don?" senyum-senyum pandangi Sakia yang mainkan lidahnya."
"Panggil Shakira saja jangan diganti namanya." langsung saja Raymond menolak anaknya diberikan julukan, kalau Ando bilang anak Nanta nanti Ubi goreng, anak gue jangan sampai jadi tempe mendoan, pikir Raymond bayangkan menu tukang gorengan di pinggir jalan.
"Loti ajah." sahut Richie yang sedang nikmati roti coklat yang sedang dimakannya.
"Wow tewen tamu anak bayitu, pandilanna woti teju." Balen bertepuk tangan heboh sendiri.
"Kenapa jadi roti keju." Raymond terkekeh mengacak anak rambut Balen yang ada di sebelahnya. Roma tertawa sambil menahan perutnya.
"Cucu Ayah jadinya Roti Keju ya?" Reza terbahak.
"Woti teju aja bian tita te Amika duaan ya Sakia." kata Balen yang masih terobsesi ke Amerika karena tidak di ajak Abangnya saat itu.
"Gaya ah mau ke Amerika berdua." Kenan terbahak.
"Tan mo tuwiah di hio taya Aban Danil." katanya mengingat ucapan Daniel tadi pagi.
"Oh ke Amerika mau kuliah. Benar ya Kuliah sambil jagain anak." kata Roma pada Balen.
"Iya talo tita udah dedek." jawab Balen tunjuk dirinya dan Shakira, kembali semua tertawa.
"Ayo pulang, Shakiranya pusing tuh dengar Ibu Balen mengoceh terus." Nona tertawa geli.
"Eman iya Sakia?" tanya pada Shakira, tentu saja tidak ada jawaban selain menggeliat.
"Ndak tok Mamon, ndak nanis Sakiana." protes pada Mamon.
"Eh iya senang berarti Shakira ada Kakak Balennya." Nona terkikik geli.
"Butan Tatak, Mamon dimana sih. Tan Ante Baen." protes Balen.
"Tamu masih tecil mona pandil Ante aja Baen?" tanya Richie.
"Haus lah, tamu juda pandilna Om." kata Balen pada Richie yang masih mengunyah.
"Atu Aban aja. Atu beum tua taya Papa." jawab Richie membuat semua tertawa.
"Enak saja Papa tua." protes Nanta.
"Oh gitu ya. Tuh Ayah sama Papa sih kecepatan punya cucu jadi sudah tua deh." Nanta terbahak, yang lain ikut terbahak.
"Jadi Bunda, Mami sama Mamon juga sudah tua dong?" tanya Monik.
"Iya lah, namana aja puna cucu." jawab Richie santai.
"Kamu aja punya keponakan, sudah tua juga dong." Nona menggoda Richie.
"Mamon ndak nelti nih, atu tecil dini dibilan tua. Mamon... Mamon." gelengkan kepalanya.
"Om Ichie... Om Ichie..." sahut Mamon membuat Richie memandang Mamon sambil menghela nafas lalu kembali gelengkan kepalanya. Semua kembali tertawa.
"Tapan pulan tumah sih? di lumah satit aja teus." keluh Richie kemudian, resah karena tidak ada mainan dan ruang lingkup hanya dikamar saja.
"Ya sudah ayo kita pulang, besok pesawat pagi, kita belum ngobrol sama Opa dan Oma loh." kata Nona pada Richie.
"Ndak apa Sakia ndak ada Antena sini?" tanya Balen khawatir tinggalkan Shakira
"Memangnya Ante sudah bisa gendong kalau Shakira menangis?" tanya Nona.
"Beum." jawab Balen menyesal. Semua kembali tertawa.
"Om pulang dulu ya, kita bertemu tiga empat bulan lagi di Jakarta. Dania melahirkan sudah bisa ke Jakarta kan?" tanya Kenan pada Raymond.
"In syaa Allah, tapi aku cuti dua minggu kalau ke Jakarta loh." Raymond melirik Ayah yang tidak ijinkan Nanta untuk lebih lama di Malang.
"Nanta saja Ayah kasih cuti istri melahirkan hanya dua hari, kamu minta dua minggu." Reza gelengkan kepalanya.
"Tuh Ayah tega betul Nanta hanya cuti dua hari." Raymond mendengus kesal, Reza terbahak mendengarnya.
"Sejak punya anak, Raymond melankolis." kata Reza pada Kenan, keduanya terbahak tertawakan Raymond. Monik dan Kiki cengengesan saja.
"Kak Roma aku pulang ya, doakan adiknya Shakira biar sehat segera bertemu Kakaknya tiga bulan kedepan " pamit Dania membelai perutnya.
"Semangat ya." Roma tersenyum pada Dania ikut membelai perutnya.
"Nanta, nanti kalau istrimu melahirkan jangan kusut seperti Lemon ya. Masa bertemu dengan anak pertama kali rambut berantakan, mata bengkak, hidung meler, untung saja masih ganteng." kata Roma pada Nanta sambil melirik suaminya. Semua kembali tertawa ingat Raymond tadi. Raymond meringis saja mendengar ocehan istrinya, tidak marah karena saat ini Raymond bahagia istri dan anaknya sehat walafiat.
"Loh mau kemana?" tanya Alex saat masuk ruangan melihat adegan saling salam, cium pipi Kiri dan kanan.
"Pulang dulu Bang, anak-anak belum istirahat, kami juga besok pagi sudah kembali ke Jakarta, aku malah belum bertemu Mama dan Papa." Kenan menjelaskan pada Alex, sementara Nanta menyalaminya disusul yang lain.
"Oke lah, hati-hati." kata Alex menepuk bahu Kenan.
"Oma sama Opa tidak kesini?" tanya Roma pada Kenan.
"Besok saja katanya. Sekarang kalian masih lelah." jawab Kenan, Roma anggukan kepalanya, ia juga menunggu kehadiran Oma Ririn dan Opa Ryan, belum lagi Oma dan Opa dari pihak Monik dan Alex.
"Tante Wina, Om Herman, Oma Ririn dan Opa Ryan tidak Ke Malang, Bunda?" tanya Roma lagi pada Bunda Kiki, sepupu Raymond anak Tante Wina tidak di tanya karena tinggal di Toronto.
"Bunda lupa kabari ya ampun." Kiki menepuk jidatnya, bagaimana mungkin lupa kabari orang tua dan Kakaknya bahwa Roma sudah melahirkan.
"Pasti karena Raymond." Kenan terkekeh kemudian tinggalkan ruangan.
"Benar ini karena Raymond." jawab Kiki membuat semua tertawa.
"Mami juga belum kabari keluarga kita, Pi. Kamu sudah?" tanya Monik pada Alex. Alex tertawa ikut menepuk jidatnya.
"Intan sama Anto juga belum aku kabari." kata Alex mengingat biasanya ia selalu beritahu Anto jika ada sesuatu yang
penting.
"Tuh memang Raymond harus dijewer ramai-ramai ini." kata Monik sambil tertawa, semua ikut tertawakan Raymond yang kembali meringis sudah tidak bisa berkata-kata, jadi malu juga ingat betapa kusutnya dia tadi.