
"Hati-hati ya Nan." kata Nona yang mengantar Nanta ke Bandara bersama Roma. Kenan tiba-tiba saja sepulang dari Villa minggu sore harus menemui Klien dari Jepang, tentu saja Raymond juga ikut.
"Iya Mamon, jumat mau dibawakan apa?" tanya Nanta sebelum masuk untuk check in.
"Bawa Ayah sama Bunda saja." malah Roma yang menjawab pertanyaan Nanta. Nanta langsung saja berbinar-binar.
"Aku lihat jadwal dulu, kalau bisa aku kembali ke Malang sama Ayah dan Bunda." jawab Nanta mengikuti gaya Kenan seperti mendapat ide brilliant.
"Dasar kamu, mending juga bolos berapa hari, tidak usah kuliah, tanggung." kata Roma pada Nanta.
"Sebetulnya aku juga awal pikirnya begitu, tapi rupanya selasa aku ada quiz. Kalau Ayah dan Bunda berangkat rabu malam aku bisa ikut, kamis saja aku bolos." kata Nanta terkekeh.
"Nanta bawakan saja aku jajanan kampus kalau kamu berangkat rabu." pinta Nona pada Nanta.
"Nanti Papa marah loh." Nanta mengingatkan.
"Iya sih, ya sudah lah." Nona terpaksa membatalkan pesanannya.
"Aku masuk ya, Kak Roma kalau ngidam makanan Jakarta kasih tahu saja, tapi yang sehat." kata Nanta pada Roma.
"Iya kamu hati-hati, kalau sudah sampai kasih kabar kami." Roma menepuk bahu Nanta.
"Titip singkong rebusku, Mamon dan Kak Roma, hati-hati setir mobilnya." kata Nanta lagi ketika hampir mendekati pintu masuk. Ia mengkhawatirkan kedua wanita kesayangannya itu, yang bisa menjadi Ibu, kakak bahkan sahabatnya.
Balen dan Richi tidak ikut, mereka tinggal dirumah bersama Oma, Opa dan Ncusss. Mereka cukup lelah sepulang dari Villa tadi hingga tidak berteriak minta ikut saat Mamon mengantar Abangnya ke Bandara Juanda Surabaya, lumayan jauh tapi Nona dan Roma bersikeras ingin mengantar Nanta. Nanta pun melambaikan tangannya pada Nona dan Roma, lalu masuk ke dalam bersiap untuk mencetak boarding pass karena sebelumya sudah berhasil check in online.
Nanta menghela nafas panjang, orang yang antri didepannya ini membawa bagasi overload, ia sibuk bongkar koper hingga berantakan tapi tetap saja timbangan kopernya berlebih, ia dikenakan biaya tambahan, konyolnya lagi rupanya ia tidak membawa uang cash.
"Bisa saya bayar via mbangking tidak? saya tidak bawa ATM " katanya pada petugas maskapai.
"Tidak bisa bu, cash saja atau debit ATM ." jawab pegawai maskapai tersebut.
"Saya tidak pernah bawa cash loh, masa jaman sekarang tidak menerima transfer via Mbangking sih." kata gadis tersebut sedikit marah, tapi terlihat bingung juga. Sementara Nanta sangat tidak sabaran melihatnya, ia sudah menunggu setengah jam lebih.
"Transfer ke aku saja Mbak, aku bawa cash, kamu butuh berapa?" Nanta akhirnya buka suara, sudah sekian lama hanya menunggu gadis tersebut dan pegawai maskapai berdebat saja. Bukannya disuruh minggir dulu ke ATM atau bagaimana, pikir Nanta. Gadis tersebut terdiam menatap Nanta, ia tidak enak hati tapi mau tidak mau terpaksa menerima tawaran Nanta.
"Hitung Mbak, berapa yang harus saya bayar?" tanya Nanta pada pegawai maskapai, setelah disebutkan sejumlah angka Nanta pun mengeluarkan rupiah dari dalam dompetnya, tadi ia dapat uang cash banyak dari Opa, Oma dan Bang Raymond. Sehingga dompetnya susah dilipat, kalau Papa sih biasanya pasti langsung transfer ke rekening Nanta. Lumayan transaksi ini meringankan Nanta untuk setor tunai ke Bank dan juga menipiskan isi dompetnya hingga tidak cepat rusak.
Nanta menuliskan nomor rekening dan nama lengkapnya, diberikannya pada gadis tersebut tanpa bersuara. setelah urusan gadis itu selesai giliran Nanta mencetak boarding passnya, mestinya ada mesin tersendiri, tapi entah kenapa tadi diarahkan ke check in counter hingga Nanta harus antri juga. Tidak menunggu waktu lama urusan Nanta pun selesai, ia berjalan cepat menuju gate 5 sesuai yang ada pada boarding pass.
"Mas Nanta!" tanpa menghentikan langkahnya Nanta menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ternyata gadis yang tadi dibantunya.
"Ya?" Nanta memperlambat langkahnya.
"Saya sudah transfer, cek ya." katanya pada Nanta, memperlihatkan handphonenya disana ada bukti tanda transfer berhasil.
Nanta duduk di ruang tunggu sambil memberi kabar di group keluarga jika ia sudah diruang tunggu, sebelumnya Pak Atang sudah diperintah Papa untuk segera berangkat ke Bandara menjemput Nanta yang perkiraan tiba di Soekarno Hatta pukul sembilan malam, karena berangkat dari bandara Juanda Surabaya Nanta bisa menggunakan pesawat malam. Mestinya ia berangkat bersama keluarga tercinta malam ini, tapi karena Papa menetap lebih lama, Maka tiket Papa dan rombongan sirkusnya dirubah tanggal.
Sebenarnya tadi Nanta agak khawatir karena Roma dan Nona hanya berdua dari Surabaya menuju Malang. Tapi Raymond percaya diri bilang kalau Roma dan Kak Nona itu jagoan Surabaya, jadi tidak perlu risau. Benar saja Roma memberi kabar mereka sudah di Tol, sebentar lagi tiba dirumah karena Nona yang membawa mobilnya seperti terbang, padahal Roma sedang hamil muda ia tidak diijinkan menyetir dan terlalu lelah di jalan. Tapi Roma tidak masalah, santai saja semoga anak yang diperut pun santai juga.
Perjalanan diudara terbilang lancar tidak delay hingga Nanta tiba di Bandara Soekarno Hatta tepat waktu, tidak perlu menunggu bagasi karena Nanta hanya membawa tas slempang. Ia sibuk menelepon Pak Atang, menanyakan posisinya ada dimana.
"Mas, saya agak terlambat karena macet total ini dari tadi ada mobil mogok." lapor Pak Atang pada Nanta.
"Pak Atang sudah di Tol kah? kalau masih dekat rumah putar balik saja, aku naik taxi." kata Nanta pada Pak Atang, kasihan Pak Atang harus terjebak macet.
"Saya sudah di Tol, tapi tidak tahu berapa lama lagi sampai di bandara."
"Pintu keluar terdekat dimana? keluar saja dari tol tunggu aku disana, atau pulang saja tunggu aku dirumah." kata Nanta lagi.
"Ini baru mau keluar kebun jeruk Mas." jawab Pak Atang.
"Masih jauh itu Pak, keluar di kebun jeruk saja, Pak Atang tunggu aku di Puri Mal kalau tidak mau pulang, biar aku naik taxi kesana." Nanta memberi jalan tengah.
"Ya sudah saya tunggu di dekat pintu keluar Puri Mal." Pak Atang menyetujui, dari pada terjebak macet yang tidak jelas. Nanta pun berjalan menuju tempat pemberhentian Taxi.
"Mas Nanta help me please." gadis yang tadi Nanta tolong berdiri dihadapan Nanta sambil menangkupkan kedua tangannya dibawah dagunya.
"Kenapa butuh cash lagi?" tanya Nanta tembak langsung. Sudah pasti karena tadi ia tidak membawa ATM hanya mengandalkan Mbangking.
"Iya untuk naik Taxi." jawab gadis tersebut malu-malu.
"Kenapa tidak pesan taxi online?" tanya Nanta bingung. Kalau taxi online dia bisa bayar pakai aplikasi.
"Tetap butuh uang cash untuk bayar tol." jawabnya terkekeh, ia sudah tidak malu lagi.
"Boleh pinjam 300 ribu nanti aku langsung transfer ke rekening Mas Nanta." katanya lagi berharap.
"Mahal sekali taxi sampai 300 ribu, memangnya rumah kamu dimana?" tanya Nanta heran.
"Di Puri Indah. Taxi tidak sampai seratus lima puluh ribu sih, tapi aku lapar mau makan dulu." jawabnya lebih santai, benar-benar sudah tidak malu lagi. Nanta jadi tertawa, gadis ini mengingatkannya pada Mamon, ceroboh, bisa-bisanya jalan jauh tidak bawa cash, tidak bawa ATM juga, eh cantik lagi, Nanta jadi memperhatikan gadis tersebut secara keseluruhan, tadi tidak begitu perhatian dan tidak berniat untuk kenalan juga.
"Mau makan bareng? aku traktir." kata Nanta menawarkan.
"Boleh, aku saja yang traktir karena Mas Nanta sudah tolong aku dari tadi." katanya percaya diri.
"Memang kamu punya cash?" tanya Nanta terkekeh.
"Pinjam uang Mas Nanta dulu dong." jawabnya cengar-cengir bikin tambah enak dilihat.