I Love You Too

I Love You Too
Lumer



"Bagaimana hasilnya?" tanya Baron begitu Nona keluar dari kamar mandi. Nona hanya mengedikkan bahunya.


"Coba di lihat Mit, ini anak lagi menyebalkan." bisik Baron pada Mita. Mita segera masuk kamar mandi untuk mengecek hasil testpack Nona.


"Dimana sticknya Non?" tanya Mita pada Nona karena dicari di kamar mandi tidak ada.


"Ini." kata Nona meletakkan stick di meja beralaskan tissue.


"Bilang sih dari tadi ada sama kamu." ketus Baron mulai tidak sabar menghadapi Nona.


"Apa hasilnya?" tanya Baron pada Nona.


"Tidak tahu." ketus Nona, ia memang tidak mengerti cara melihat hasil testpack.


"Aih ini berapa garisnya?" tanya Baron pada Mita, mulai panik karena belum juga melihat garis.


"Tunggu sebentar, ngobrol dulu saja." kata Mita pada suaminya. Ia segera mengamati stick secara seksama, tidak lama tersenyum pada Nona.


"Kenapa?" tanya Nona ketus.


"Kamu hamil, ini lihat dua garis, ketiganya dua garis." kata Mita semangat, senyumnya mengembang ikut bahagia. Baron juga ikut senang, memeluk dan mencubit kedua pipi Nona.


"Ih Papa, apa sih." ketus Nona seakan tidak ikut merasa bahagia.


"Kamu tidak bahagia?" tanya Baron melihat reaksi datar Nona.


"Itu kan hanya stick, aku harus ke dokter kandungan memastikan." kata Nona dengan kening berkerut.


"Mau Papa antar?" Baron menawarkan. Nona menggelengkan kepalanya.


"Maunya sama Kenan?" tebak Mita sambil terkekeh.


"Hmm.. kan dia suaminya." kata Nona cemberut.


"Nah makanya sudah tahu Kenan suamimu, jangan dibikin kesal terus." kata Baron pada Nona.


"Papa memang lebih sayang Mas Kenan dari pada aku." sungut Nona, hari ini belum terlihat senyum sekalipun.


"Non, kalau kamu marah-marah terus itu akan berdampak pada kehamilanmu. Emosi itu dapat menghambat aliran oksigen ke otak, sehingga supply darah pada kandungan berkurang." kata Baron menjelaskan.


"Aku kan belum tentu hamil." kata Nona.


"Kalau tidak hamil juga emosi akan membuat kamu menjadi sakit kepala. Mau sakit-sakitan? sementara banyak perempuan yang ingin memiliki suami kamu." kata Baron membuat Nona bergidik ngeri.


"Enak saja." kata Nona cepat.


"Maka itu kamu harus senyum, wajah jangan cemberut menyebalkan begitu. Tidak enak dilihat." kata Baron apa adanya.


"Huhu Papa jadi aku harus bagaimana?" mulai merengek khawatir. Manja sekali, seperti waktu masih sekolah dasar.


"Katanya kamu minta pulang kerumah Papa, ayo dari pada kesal terus melihat Kenan. Kasihan dia sudah capek kerja, sampai rumah kamu begitu, sudah capek tenaga, pikiran, hati pun dibikin capek saja sama kamu."


"Tidak mau." Nona menggelengkan kepalanya.


"Jadi maunya apa?" tanya Baron, Mita mendengarkan saja, takut salah bicara.


"Ke dokter sama Mas Kenan." kata Nona lagi.


"Terus masih mau marah-marah sama suami kamu?" tanya Baron, Nona menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku sebal saja lihat Mas Kenan seminggu ini." suara Nona terdengar lirih.


"Ya sudah kerumah Papa saja, lagi pula besok Kenan ke Semarang kan?"


"Papa tahu dari mana?"


"Kemarin Kenan telepon Papa."


"Jadi Mas Kenan kasih tahu Papa dulu, baru kasih tahu aku?" Nona tampak tidak terima.


"Dia minta ijin bilang kalian besok mau ke Semarang. Kenapa sih begitu saja dibikin kesal?"


"Aku juga maunya tidak begini, Pa." kata Nona seperti bicara pada diri sendiri.


"Parfum apa yang kamu suka, minta Kenan memakainya. Simple aja cari jalan keluarnya. Usahakan jangan marah-marah, kasihan bayi kamu." kata Mita mulai berani buka suara.


"Nanti aku beli, biar Mas Kenan pakai " kata Nona mendekatkan hidungnya pada tubuh Mita.


"Boleh, ini kebetulan unisex kok. Jadi Laki-laki atau perempuan bisa pakai." kata Mita tersenyum lucu melihat Nona.


Menjelang tengah hari, Baron yang masih menemani dan menasehati anak bungsunya, masih belum pulang juga.


"Kamu mau makan apa, Non?" tanya Mita pada Nona, ia membuka kulkas mencari bahan yang bisa diolah.


"Apa saja, aku tidak pantang makan sih." kata Nona yang mulai reda emosinya, mulai senang ditemani Papa dan Tante Mita. Ia juga sudah memesan Parfume seperti yang Tante Mita pakai via online. Sekarang sedang menunggu ojek online yang sedang dalam perjalanan membawa parfume ke alamatnya.


"Kamu tidak kasih tahu Kenan?" tanya Papa Baron pada Nona.


"Nanti saja, biasanya kalau sudah selesai meeting menghubungi aku." kata Nona.


"Handphone kamu dimana?"


"Dikamar." jawab Nona.


"Pantas saja Kenan dari tadi menghubungi kamu tidak diangkat." gerutu Baron menyerahkan handphone nya yang sedang terhubung dengan Kenan.


"Mas..." kata Nona begitu menempelkan handphone Papa ketelinga kirinya.


"Susah sekali dihubungi, bagaimana? jadi ikut ke Semarang?" tanya Kenan langsung ke pokok bahasan.


"Antar aku ke dokter dulu sore ini." kata Nona tidak menjawab pertanyaan Kenan.


"Kamu sakit?" tanya Kenan khawatir.


"Sakit? tidak, bukan sakit." jawab Nona ragu.


"Terus kenapa ke dokter?" tanya Kenan penasaran.


"Hanya ingin memastikan, aku hamil apa tidak." jawab Nona terdengar santai tapi membuat Kenan terdiam, berpikir sebentar.


"Memangnya kamu mual, muntah muntah?" tanya Kenan memastikan.


"Tidak."


"Kenapa bisa berpikir kamu hamil?" tanya Kenan menyelidik.


"Ah tanya terus, mau antar apa tidak sih?" Nona akhirnya kembali emosi.


"Ya sudah aku ke dokter sendiri saja." kata Nona menutup sambungan telepon. Kenan menghela nafas panjang, kenapa juga ditanya begitu jadi marah. Kalau berpikir hamil pasti ada penyebabnya, padahal hanya ingin tahu alasannya minta ke dokter saja, pikir Kenan kembali menghela nafas.


"Ray, kamu lanjutkan pertemuan berikutnya ya, Om pulang dulu." kata Kenan bersiap meninggalkan Raymond diruangannya yang sebentar lagi jadi ruangan Raymond.


"Kenapa Om? Kak Nona marah lagi?" tanya Raymond prihatin melihat kening Om Kenan yang tampak berkerut beberapa hari ini.


"Minta diantar ke dokter kandungan." kata Kenan tanpa ekspresi.


"Wah sudah positif toh." Raymond ikut senang mendengar berita dari Om Kenan.


"Baru mau memastikan." jawab Kenan masih dengan ekspresi yang sama.


"Sama-sama saja Om, aku juga mau ajak Roma ke dokter kandungan." kata Raymond pada Om Kenan dengan senyum berharap.


"Roma ada keluhan?" tanya Kenan pada Raymond.


"Tidak." Raymond terkekeh.


"Tidak bisa sama-sama Ray, Nona lagi tidak bersahabat, mood nya naik turun. kata Kenan pada keponakannya.


"Ya sudah, hati-hati Om." kata Raymond mengantarkan Kenan menuju lift, seperti tamu saja pikir Kenan terkekeh.


"Lagi latihan jadi Bos Besar ya?" tanya Kenan terkekeh mengganggu konsentrasi


"Bisa saja Om ini." Raymond terbahak dibuatnya.


"Om belikan es krim untuk Kak Nona, seingatku waktu Kak Nona kesal sama Nanta langsung lumer ketika dibujuk pakai es krim." kata Raymond pada Om Kenan.


"Begitu ya, ya sudah nanti Om mampir dulu ke mini market." kata Kenan berharap Nona benar-benar lumer karena dibawakan es krim.