
"Papa dari tadi ya?" tanya Nanta saat melihat Kenan dan Micko sudah duduk manis di salah satu meja pelanggan. Lagi sibuk wara-wiri layani pelanggan yang mengajaknya bicara, tahu-tahu lihat Papa dan Papa Micko cengar-cengir pandangi Nanta, tidak mengabari Nanta lagi kalau sudah datang.
"Lumayan, banyak juga pelanggan kamu ya." Kenan tersenyum memandang Nanta yang sedari tadi dilihatnya cukup sibuk ladeni orang yang hampir selalu menyapa Nanta saat lewati meja mereka, tentu saja Nanta berhenti dan bicara sebentar dengan mereka, tapi rupanya tidak sebentar juga. Ada saja yang mereka tanyakan.
"Iya banyak juga pelanggan disini, hebat yah Ayah dan sahabatnya, Pelanggan juga rata-rata sapa aku, waktu aku lewati meja mereka, jadi kesannya sibuk, padahal layani mereka ngobrol saja dari tadi." Nanta tertawa pandangi para pelanggan yang sedang nikmati makan siangnya. Ada juga yang lambaikan tangan dan tersenyum pada Nanta. Nanta anggukan kepalanya sambil balas tersenyum.
"Penggemar kamu itu?" tanya Micko pada Nanta.
"Tidak juga, hanya kebetulan tahu aku dan lihat aku ada disini." jawab Nanta yang selalu saja merasa mereka bukan penggemar karena Nanta bukan artis juga.
"Apa sebelumnya selalu ramai begini?" tanya Micko lagi pada Nanta.
"Tidak tahu, aku kan baru hari ini di cabang selatan, kalau cabang Utama memang selalu ramai sih." jawab Nanta jujur, Kenan senyum saja melihat kesibukan Nanta saat ini.
"Ayo temani Papa makan." kata Micko pada menantunya yang masih saja berdiri, bukannya duduk bersama mereka.
"Aku panggil Ayah dulu ya, biar makan sama-sama. Papa mau pesan apa lagi?" tanya Nanta pada Papa mertuanya dan juga pada Papa Kenan.
"Kami sudah pesan duluan Boy, santai saja. Ayolah panggil Ayah, Papa sudah lapar." kata Kenan pada Nanta, Nanta menganggukkan kepalanya segera bergegas menuju ruangan Ayah. Tampak Reza sedang bicara di telepon jadi Nanta menunggu saja sambil pandangi Ayah Eja.
"Kenapa Boy?" tanya Reza melihat Nanta mengintip dan pandangi dirinya.
"Papa sudah datang, ajak makan bersama." lapor Nanta pada Ayah Eja.
"Ajak makan disini saja." kata Reza pada Nanta.
"Sudah duduk manis dimeja pelanggan, Makanan juga sudah tertata di meja, Ayah." jawab Nanta pada Reza.
"Seperti tamu saja mereka ini." Reza segera mengakhiri sambungan teleponnya entah sama siapa dan ikut Nanta keluar ruangan.
"Wow ramai sekali." komentar Reza saat melihat semua meja penuh, kebetulan jam makan siang juga. Reza senang saja kalau pelanggan ramai begini, ia menghampiri Kenan sambil amati situasi sekitar, memastikan semua pelanggan sudah terlayani dengan baik.
"Makan didalam saja, mau?" Reza menawarkan pada keduanya, mumpung makanan belum tersentuh.
"Disini memangnya kenapa?" tanya Micko pada Reza.
"Itu lihat ada yang belum dapat meja, kasihan." kata Reza menunjuk pelanggan yang waiting list.
"Ck..ck.. tidak mau rugi sekali." dengus Micko membuat Reza terkekeh.
"Bagian dari pelayanan ini namanya. Kamu juga kan jadi enak makan diruangan yang nyaman." kata Reza menepuk bahu Micko. Kemudian memanggil salah satu staff untuk membantu memindahkan makanan Kenan dan Micko keruangannya.
"Keren lu Ja, Warung Elite tambah lama malah tambah ramai, padahal banyak restaurant lain juga disekitar sini." kata Micko pada Reza saat mereka sudah didalam ruangan.
"Alhamdulillah berkat kalian juga." jawab Reza tersenyum.
"Kenapa jadi berkat kita." kata Kenan terkekeh.
"Kalian pasti ikut mendoakan. Lagi pula kalau kalian tidak aktif di Syahputra Group, pasti aku sudah tidak fokus urus Warung Elite." kata Reza pada keduanya.
"Itu sih memang sudah bagian kita." jawab Micko terbahak.
"Kalian berdua saja?" tanya Reza pada Micko dan Kenan.
"Sama Ando juga, tapi dia sedang terima telepon dulu tadi." jawab Micko pada Reza.
"Loh Ando tidak bilang aku, kalau dia ada disini." Nanta langsung saja mau keluar ruangan untuk menjemput Ando.
"Jadi kita tuh kesini selain mau makan, mau minta ijin sama kamu Bang, Nanta besok ada pertemuan di Unagroup, mungkin besok tidak hadir disini." lapor Kenan pada Reza.
"Oh iya, tadi juga Mario bilang begitu." jawab Reza pada Kenan.
"Teman-temanku sudah tahu, Pa?" tanya Nanta pada Kenan.
"Tadi sih kata Aditia dia sudah hubungi mereka." jawab Kenan sesuai yang dia tahu. Nanta menganggukkan kepalanya, ikuti saja apa yang Papa bilang. Nanta juga mau ikut untuk senangi adiknya bukan karena ingin jadi seorang model.
"Kata Bang Chico syutingnya minggu depan loh Pa." lapor Nanta pada Kenan.
"Iya Papa minta weekend, supaya bisa temani kamu dan Balen." jawab Kenan pada Anaknya.
"Sudah besar padahal, tidak perlu ditemani." kata Reza pada Kenan. Kenan langsung saja mencibir pada Abangnya.
"Kenapa?" tanya Reza pada Kenan.
"Sudah besar tidak perlu ditemani, Abang sendiri ngapain disini sampai jumat?" Kenan terkekeh pandangi Abangnya.
"Loh Nanta kan harus di temani dulu sampai dia mengenal situasi. Kamu sih tidak tahu apa yang Nanta alami." langsung saja Reza mengoceh.
"Tetap saja Abang temani kan? padahal tidak perlu sampai jumat juga terus disini." kata Kenan tertawa. Nanta senyum-senyum saja mendengar kedua kesayangan adu mulut.
"Iya sih." Reza jadi tertawa.
"Besok Abang ke cabang utamalah, lusa baru kesini lagi." jawab Reza akhirnya.
"Terang saja ke cabang Utama, besok Nanta tidak masuk." Micko tertawakan Reza. Semua jadi tertawakan Reza.
"Berarti aku nih masih anak kecil ya dimata Papa dan Ayah." kata Nanta akhirnya, keduanya selalu saja menjaga dan melindungi Nanta.
"Memang masih kecil dibanding Raymond." jawab Kenan ngeles, mulai menyendok makanannya karena menunggu Ando belum juga datang.
"Aku sudah mau punya anak loh." Nanta mengingatkan ketiganya.
"Ini kan karena kamu baru terjun saja jadi Ayah dampingi." kata Reza pada Nanta.
"Iya Papa juga ikut ke S'pore kan karena Balen juga." Kenan ikut-ikutan.
"Iya-iya aku percaya." jawab Nanta terkekeh. Micko langsung saja merangkul menantunya, ikut tertawa geli.
"Begitulah Boy kalau punya anak, nanti kamu rasakan sendiri." bisik Micko pada menantunya.
"Iya." jawab Nanta tertawa.
"Assalamualaikum..." Ando akhirnya datang juga setelah sekian lama ditunggu.
"Online lama sekali calon pengantin ini." sambut Nanta pada sahabatnya.
"Biasa urusan kita." jawab Ando pada Nanta.
"Bagaimana?" tanya Nanta, Ando acungkan jempolnya. Nanta jadi tersenyum senang, kalau sudah acungkan jempol berarti harus cek saldo, begitu pelanggan bayar Mobil, Nanta menunggu arahan Ando seperti biasa.
"Apa sih urusan kalian, jangan bikin kesibukan sendiri loh, Suryadi corporate juga menunggu kalian." kata Micko ingatkan keduanya yang cengengesan saja mendapat warning dari Micko.
"Warung Elite dulu yang diurus, Boy. Suryadi nanti-nanti saja." kata Reza, sementara Kenan hanya gelengkan kepala sambil tertawa, untung saja Raymond sudah di monopoly Opa Dwi jadi tidak bisa kemana-mana.