I Love You Too

I Love You Too
Ikut Abang.



"Mamon jadinya bagaimana, tetap sama aku atau sama Mama Lulu?" tanya Nanta pada Lulu dan Nona saat menuju keparkiran. Balen sudah sangat pulas dalam gendongan Larry.


"Ikut kami saja, Nan. Kamu jemput saja Dania, kasihan sudah lama tidak dijemput suaminya." kata Lulu membuat Nanta terkekeh. Padahal baru hitungan minggu saja.


"Balen ikut Nanta apa ikut Tante?" tanya Larry, karena singkong rebus kadang lebih pilih ikut mobil Aban.


"Ikut aku saja ya?" Nanta langsung saja semangat.


"Jangan macam-macam Nan, biar saja Balen pulang ikut kami." Nona menggelengkan kepalanya. Memang sih Balen pasti pulas selama di mobil, tapi Richie bisa rusuh kalau tahu Balen diajak Abang mutar-mutar dalam waktu lama. Nanta langsung senyum-senyum terima penolakan Mamon. Sementara Mike menatap Larry dengan wajah jahil.


"Bapak, sayang sekali dengan anaknya Pak." goda Mike pada Larry yang sedang menggendong Balen dengan sebelah tangannya. Singkong Rebus tampak nyaman dan tidak terganggu.


"Sambil tunggu Mamanya nyalon, Sis." Larry malah meladeni godaan Mike.


"Sis??? you kira eikeh cowo apakah?" pukul bahu Larry dengan dua tangannya berulang-ulang. Semua tertawa melihat kelakuan Mike.


"Oke anak muda, kami duluan ya." pamit Nona sambil mengambil Balen dari gendongan Larry.


"Hati-hati Tante." jawab Doni pada Nona dan Lulu.


"Jangan lupa jumat." pesan Nanta pada dua adiknya.


"Kasih tahu Papa dong, Bang." pinta Lucky pada Nanta.


"Iya nanti Abang bilang deh." jawab Nanta ikuti kemauan Lucky.


"Tidak janji ya Nanta." kata Lulu tertawa.


"Aku janji, Bang." sahut Winner cepat, langsung saja Lulu menepuk bahu anaknya itu.


"Aku ikut Abang, jemput Kak Dania." kata Lucky tiba-tiba.


"Aku juga lah, Assalamualaikum Ma." Winner langsung turun dari Mobil dan tutup pintunya.


"Hei kalian ini..." protes Lulu dengan mata mendelik.


"Mumpung aku libur dan Abang juga libur, Ma." kata Lucky menjauh dari Mobil Mamanya. Mau tidak mau Lulu mengijinkan.


"Nanta titip adik-adik ya." katanya sebelum Tomson lajukan kendaraan.


"Iya, Ma. Aku titip Mamon dan Baen." jawab Nanta terkekeh.


"Hati-hati, Tom." kata Nanta pada Tomson.


"Insyaa Allah, Mas." Tomson lambaikan tangannya dan melajukan kendaraan perlahan.


"Nah sekarang kalian mau kemana, setelah jemput Kakak?" tanya Nanta pada kedua adiknya.


"Terserah Abang saja." jawab Winner senyum-senyum senang.


"Kalian mau kemana?" tanya Nanta pada ketiga temannya.


"Tidak tahu, bingung." jawab Larry terkekeh.


"Nongkrong di Cabang Selatan saja, mau?" tanya Nanta lagi.


"Ah Abang kan lagi libur, masa mau ke kantor." sungut Winner tidak terima jika harus duduk di kantor Nanta.


"Ya sudah jadi mau dimana?" tanya Nanta.


Drrrtttt... drrrtttt... handphone Nanta berdering.


"Assalamualaikum Ayah..."


"Waalaikumusalaam, Boy. Cyla baru saja hubungi Ayah, pengisi acara latihan sore ini, urusan kamu sudah selesai?"


"Sudah Ayah..." jawab Nanta.


"Kalau begitu kita bisa lihat mereka latihan sore ini, Boy." kata Reza pada Nanta.


"Boleh Ayah, dimana?"


"Di Cabang Utama." jawab Reza.


"Aku bawa rombongan ke Cabang Utama bisa dong?" Nanta langsung saja sumringah.


"Bisa dong, mau bawa satu kecamatan juga bisa." jawab Reza membuat Nanta terbahak.


"Oke Ayah, aku jemput Dania dulu nanti kami langsung ke sana."


"Ayah tunggu." jawab Reza sebelum akhiri sambungan teleponnya.


Nanta memandang sahabatnya sambil tersenyum.


"Mauu..." jawab mereka kompak. Tentu saja mau, permainan musik Antra as friend sangat digemari anak muda saat ini. Dan mereka hanya dikenal oleh kalangan tertentu, karena belum bekerja sama dengan label rekaman manapun.


"Gue jemput Dania dulu, ya. Kalian bagaimana?" tanya Nanta pada sahabatnya.


"Kita langsung ke Cabang Utama Nan, ngopi-ngopi dulu." jawab Doni pada Nanta.


"Tidak ajak Dona?" tanya Mike pada Doni.


"Kalau dia mau, biar saja nanti menyusul." jawab Doni santai.


"Don, bilang Dona ajak Seiqa." bisik Mike pada Doni.


"Hmm... berani bayar berapa, sis?" tanya Doni menggoda Mike.


"Ish kenapa jadi sis, sih? kesel deh eike." jawab Mike membuat semuanya terbahak.


"Jangan ajak Seiqa kalau lu belum jadian Dan gue belum punya pacar." kata Larry pada Mike.


"Kenapa?" tanya Mike memandang Larry.


"Nanti dia naksir aku Kakak Mike." jawab Larry tersenyum jahil.


"Ish iya juga ya. Gue jadiin dulu apa sekarang?" tanya Mike pada sahabatnya. Doni langsung saja menoyor kepala Mike, main jadiin saja.


"Lamar, Mike. Jadiin, jadiin." Omel Doni pada sahabatnya.


"Sudah siap belum Seiqa gue lamar ya?" bicara pada diri sendiri, tapi semua mendengar. Nanta hanya gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Gue jemput istri tercinta dulu ya, sampai jumpa di Warung Elite." kata Nanta segera mengajak Winner dan Lucky untuk masuk ke mobilnya.


"Rumi bisa lu ajak tuh, Leyi." kata Nanta sebelum melajukan kendaraannya.


"Rese..." Larry tertawa digoda Nanta begitu.


"Ya sudah tunggu kejutan dari gue." Nanta menaikkan alisnya.


"Gaya lu Nan, selangit." kata Larry membuat Nanta terbahak. Semua ikut terbahak. Nanta pun lajukan kendaraannya sambil lambaikan tangannya pada sahabatnya.


"Aku mau punya teman seperti teman-teman Abang." kata Winner menoleh ke belakang, melihat kembali pada sahabat Nanta.


"Kenapa memangnya?" tanya Nanta pada Winner.


"Seru saja." jawab Winner terkekeh.


"Disekolah juga banyak teman yang seru." Lucky memandang pada Winner yang duduk dibangku belakang.


"Ini beda, mereka berempat terlihat keren." kata Winner pada Lucky.


"Apanya yang keren?" Nanta terbahak.


"Entah, dimataku terlihat keren saja, padahal gayanya juga sama dengan gayaku." kata Winner tertawa sendiri.


"Berarti kamu juga keren dong." Nanta ikut tertawa.


"Aku belum punya prestasi, kalau Abang dan sahabat Abang kan punya." Winner mendekatkan badannya pada Nanta yang sedang fokus menyetir.


"Kamu kan wartawan sekolah, itu juga prestasi loh." kata Nanta memandang Winner melalui kaca spion.


"Bang, apa boleh aku wawancarai sahabat Abang dan Antra as friend?"


"Nah boleh lah, kamu sudah bawa perlengkapan?" tanya Nanta.


"Aku selalu bawa kalau jalan sama Abang." Winner terbahak.


"Kamu berprestasi mengandalkan Bang Nanta." Lucky mencibir.


"Biar saja, kamu juga mengandalkan Mamon dan Abang Larry kan?" balas Winner karena Lucky ikut belajar berenang pada Larry dan juga belajar Piano pada Nona.


"Iya juga sih, kita ini berarti selalu mengandalkan orang ya, Bang?" tanya Winner pada Nanta.


"Mengandalkan Allah melalui perpanjang tangan orang-orang disekitar kita sih menurut Abang." jawab Nanta tersenyum.


"Begitu ya Bang? Abang selalu mengandalkan Allah?" tanya Lucky polos.


"Loh mau mengandalkan siapa memangnya selain Allah?"


"Mengandalkan Abang?" jawab Lucky konyol.


"Abang memang siapa yang gerakin hati untuk mau kamu andalkan?" tanya Nanta pada Lucky.


"Allah." jawabnya tersenyum lebar. Nanta tertawa dan segera menepikan kendaraannya dan segera menghubungi istrinya, menanyakan posisi saat ini. Setelah mendapat jawaban dari Dania Nanta mulai memarkirkan kendaraan ditempat yang telah mereka sepakati.