I Love You Too

I Love You Too
Salah Papa



Begitu masuk ruangan sudah tampak Nanta dan Kenan sedang asik berbicara santai, bahkan sesekali tertawa. Kedatangan Micko dan Dania membuat percakapan Kenan dan Nanta terhenti.


"Dari tadi, Boy?" tanya Micko pada Nanta.


"Baru saja, Om. Ketemu Papa di parkiran tadi." jawab Nanta tersenyum pada Micko dan Dania.


"Cepat sekali jemput Dania." kata Kenan pada Micko.


"Dania sudah selesai urusannya, jadi tinggal diangkut." jawab Micko terkekeh.


"Papa, memangnya aku karung beras diangkut." Micko terbahak menanggapi protes Dania.


"Mana Tante Lulu dan Mamon?" tanya Nanta pada Micko.


"Masih dijalan." jawab Micko santai.


"Langsung pesan saja kata Lulu, jadi nanti mereka tinggal makan." Micko terkekeh melambaikan tangannya pada pegawai restaurant.


"Mau makan apa Om, alacarte atau set menu?" tanya Nanta, setelah memanggil pegawai restaurant.


"Set menu saja bisa makan sama-sama." jawab Kenan mewakili Micko.


"Nanta kan tanya gue." protes Micko karena Kenan yang menjawab.


"Nah Abang mau pilih apa, Bang?" tanya Kenan terkekeh.


"Set Menu." jawab Micko konyol. Mereka terbahak jadinya.


"Ada apa sih ajak kita makan siang?" tanya Kenan pada Micko.


"Lulu ulang tahun." jawab Micko asal, tentu saja Kenan mencibir, beberapa bulan lalu mereka diundang acara ulang tahun Lulu juga. Nona waktu itu bingung mau kasih kado apa untuk Lulu.


Nona dan Lulu datang tepat waktu, maksudnya tepat begitu makanan sudah tersaji dimeja, jadi acara makan siang bisa segera berlangsung.


"Bang Micko ada apa nih, undang kita makan siang?" tanya Nona pada Micko setelah mereka bersantap, sama saja seperti Kenan, curiga saja pada Micko.


"Aku mau makan siang bersama Dania dan kalian semua, boleh kan?" sahut Lulu sebelum suaminya menjawab.


"Sekalian rasa terima kasih kami, karena kalian sudah mempertemukan Bang Micko dengan Dania." sambung Lulu lagi.


"Ya ampun, Tidak harus begini juga, pakai ucapan terima kasih." Nona terkekeh bercandai Lulu.


"Kamu sih tanya kenapa ajak makan siang, makan ya makan saja." jawab Lulu terbahak.


"Memang sudah jalannya Bang Micko bertemu Dania, siapa sangka jika yang berkenalan dengan Nanta di airport itu Dania anak Bang Micko, semua sudah diatur Allah." kata Kenan tersenyum bahagia, seakan merasakan bahagia yang dirasakan Micko.


"Oh ya Nanta, Om sudah dengar dari Dania dan juga dari Papamu ya, alasan kamu kenapa tidak mau menikah dalam waktu dekat ini." semua mata beralih pada Nanta.


"Iya Om, semoga Om mengerti." kata Nanta pada Om Micko.


"Om mengerti, semua itu bisa disiasati loh. Papa kamu ini seperti tidak punya orang yang bisa dia perintah untuk urus semuanya, jadi kamu tidak jungkir balik mengurus semuanya sendiri." Micko melirik Kenan yang tersenyum padanya.


"Itu bukan masalah menurut Om." sambung Micko lagi.


"Bukan masalahnya, yang mana nih maksud Bang Micko?" tanya Kenan pada Micko.


"Tentu saja bukan masalah itu jika mereka menikah secepatnya, setelah menikah, selama Nanta sibuk dengan basketnya, Dania bisa tinggal dirumah gue, dia kan sudah menikah, jadi pasti Mamanya kira dia tinggal sama keluarga suaminya." kata Micko dengan pemikirannya.


"Aku tidak mau bohong-bohong, Om." sahut Nanta.


"Om tidak suruh kamu bohong, Boy. Kamu jujur saja sesuai dengan tempat kamu berada." jawab Micko.


"Hehe, restu Tante Maya saja belum dapat Om." Nanta terkekeh.


"Kamu rajin telepon Maya deh Nan, tidak usah minta restu, mengakrabkan diri saja, nanti juga melunak." Micko menyeringai.


"Aku juga sudah minta Nanta, supaya aku bisa diajak ngobrol dengan Mamanya Dania." kata Nona pada Micko.


"Tidak usah dulu, Mamon. Aku sudah bilang Papa, nanti saja tunggu Tante Maya terima aku dulu."


"Iya aku tunggu kabar kamu saja." kata Nona pada Nanta.


"Kalau akhirnya Maya minta kalian menikah sebelum kamu berangkat Training Camp ya berarti kalian menikah saja ya." kata Micko.


"Mana mungkin Tante Maya minta begitu Om." Nanta ikut terkekeh, jelas-jelas Nanta harus membuktikan kalau Nanta mampu memfasilitasi Dania dengan tempat tinggal, Nanta belum bilang mau diajak tinggal dirumah orang tuanya.


"Ya siapa tahu, kan berandai-andai." kata Micko tersenyum pada Dania yang dari tadi memilih diam, mendengarkan saja percakapan Papa dan yang lainnya.


"Lagi Abang naf-su sekali mau menikahkan Dania dengan Nanta, selain alasan supaya Dania tidak dipindahkan Mamanya, kurasa ada alasan lain." tebak Nona langsung pada pokoknya, ia yang selama ini risih mendengar Nanta dijodohkan, padahal itu biasa saja terjadi di keluarga Kenan, tanpa sadar Nona dan Kenan pun dijodohkan.


"Kamu tahu kan tugas terakhir sebagai seorang Ayah itu mencarikan pendamping yang terbaik untuk anak gadisnya. Kebetulan yang terbaik didepan mataku hahaha. Selama sepuluh tahun ini kan aku seperti bebas tugas, tidak melakukan apapun untuk Dania kecuali kirim uang." Micko menjelaskan.


"Kalau mereka menikah bisa tarik nafas lega deh, Allah kasih gue kesempatan menjalankan tugas buat anak gue." kata Micko menatap Kenan dan Nanta.


"Bisa saja Bang Micko nih, gue baru dengar tuh, Bang." kata Kenan serius.


"Baca dong Ken, baca. Siap-siap lu carikan pendamping buat Balen." kata Micko terbahak.


"Masih kecil, Bang." Nona ikut terbahak.


"Waktu berjalan cepat loh, ini lihat anak kita saja sudah sebesar ini, padahal dulu masih pada piyik." Lulu menunjuk Nanta dan Dania.


"Iya tidak akan terasa, lihat saja nanti." Micko tersenyum lebar.


"Nanta siap-siap bantu Papa cari pendamping untuk Balen." kata Kenan tertawa pada Nanta. Nanta langsung saja ikut tertawa ingat Balen yang selalu membuatnya rindu.


"Bicarakan Nanta dulu deh, aku kok jadi rungsing sendiri membayangkan Balen sebesar Dania dan Mas Kenan sibuk mencarikan jodohnya." Nona menggelengkan kepalanya.


"Hahaha santai saja sayang, semua akan ada masanya." Kenan merangkul Nona yang sedari tadi duduk disebelahnya. Sementara Nanta melirik Dania yang dari tadi benar-benar hanya menyimak pembicaraan yang ada. Kalem sekali, pikir Nanta.


"Dan, kamu pulang sama Nanta?" tanya Micko saat acara makan siang dirasa cukup. Dania bingung menatap Nanta, ia belum ada pembicaraan sebelumnya minta diantar pulang Nanta.


"Iya, Om." jawab Nanta cepat.


"Aku antar Dania dulu, Pa." pamitnya pada Kenan.


"Iya, Papa juga antar Mamon." jawab Kenan.


"Papa mau kekantor lagi, kalau iya lebih baik Mamon aku yang antar." Nanta menawarkan.


"Tidak usah Nanta anak baik, Mamonmu ini Tante culik dulu." Lulu terkekeh.


"Aku temani Kak Lulu dulu ya, Mas." ijin Nona pada suaminya


"Mau kemana?" tanya Kenan penasaran. Padahal niatnya mau mengantar Nona dulu sebelum kembali Ke Kantor.


"Belanja perlengkapan Nanta." jawab Lulu tersenyum manis pada Nanta.


"Loh..." Nanta jadi bingung, padahal dia sudah janji dengan Mamon akhir minggu ini.


"Mumpung kami ke Mal, Nanta. Handphone kamu standby ya, nanti aku fotokan barangnya jadi kamu tinggal pilih." kata Nona pada Nanta.


"Nah ini maksud gue, jangan semua Nanta yang urus. Apalagi, Nan? biar Om saja yang minta orang lain kerjakan. Papamu ini..." Micko menggelengkan kepalanya memandang Kenan dengan ekspresi mencibir, langsung saja Kenan terbahak bersemangat sekali Bang Micko membantu Nanta.


"Nanta biasa urus semua sendiri dan tidak pernah mengeluh juga, biasanya kalau dia menyerah baru Papa turun tangan." jawab Kenan membela diri.


"Hahaha iya om, biasanya memang begitu." jawab Nanta.


"Iya ini kan situasi darurat, jadi kamu skrg jalankan tugas kamu luluhkan hati Maya, ya." pesan Micko pada Nanta yang mengangguk menurut saja.


"Ingat Bang, kalau tidak ada restu Maya, tidak ada pernikahan antara Dania dan Nanta." tegas Kenan pada Micko.


"Gue yakin pasti direstui, kalau dia tahu kesibukan Nanta yang melebihi bapaknya yang pengusaha itu." Micko bercandai Kenan.


"Hahaha tidak setiap saat sibuknya Om." Nanta terbahak.


"Nan, Om maunya Lucky Dan Winner itu aktif seperti kamu loh." kata Micko kemudian.


"Masih bisa kan Om, tinggal dicari tahu saja mereka hobbynya apa, itu saja yang diperdalam."


"Justru itu, sampai sekarang belum terlihat apa hobby mereka, main gadget saja kerjanya." sungut Micko.


"Salah papanya juga, selalu belikan apa yang anaknya mau." Lulu ikut bersuara.


"Iya-iya kalau begini, Papa saja salah." kata Micko, dan yang lain langsung saja tertawa mendengarnya.