I Love You Too

I Love You Too
Hajar



Acara sore ini tetap seru, mereka saling bercanda menggoda satu sama lain. Apalagi Mike dan Seiqa pengantin baru habis sudah jadi bahan bercandaan semua sahabatnya.


"Jadi bagaimana malam pertama?" tanya Deni, dasar paling senior paling vulgar pula, istrinya malah ikut-ikutan.


"Yah begitu deh." jawab Mike cengar-cengir, sementara Seiqa cengengesan menggelengkan kepalanya.


"Tidak untuk konsumsi publik." jawab Seiqa menutup mulut Mike yang seakan ingin membahas lebih lanjut.


"Enak kan sudah menikah bisa dempet-dempet begitu." kata Dini lagi sementara Larry dari tadi sibuk tutupi telinga Balen karena pembicaraan kadang tidak disaring.


"Napa tupin Baen tutup sih?" protes Balen pada Larry.


"Mereka berisik nanti kuping Balen sakit." kata Larry berbisik pada Balen.


"Ditu ya, hausna Baen denein musit aja Aban Leyi." kata Balen pada Abang idolanya.


"Pakai headset ya, mau?" Larry tawarkan Balen dengarkan musik di Handphonenya.


"Yah." Baleng anggukan kepalanya. Larry segera putarkan musik lalu pasangkan ditelinga Balen. Kemudian tersenyum pada yang lain, aman sudah kalau yang lain bicara vulgar Balen tidak mendengarnya.


"Gue mau cerita komplit soal malam pertama tapi kasihan Larry sama Diky." kata Mike tengil, semua langsung terbahak mendengarnya.


"Hampir gue kasih tutorial lu Mike." kata Nanta disela tawanya.


"Seperti kita ya Mas." Dania polos betul membuat semua jadi tertawakan Nanta.


"Jadi kalian pakai tutorial?" tanya Diky terbahak, rasanya mau guling-guling tertawakan Nanta.


"Ditraining gue sama teman-teman Abang gue." jawab Nanta jujur semua kembali terbahak dibuatnya.


"Gue tidak separah itu." kata Mike bangga.


"Elu bagaimana?" tanya Larry mancing-mancing.


"Jangan lah, elu belum ada yang diserang soalnya." semua kembali terbahak, Hal receh saja sudah membuat mereka bisa tertawa terbahak-bahak.


"Aku sudah bilang Larry Om, cepat menikah bikin yang seperti Balen. Kalau menunggu Balen besar kan yang ada kita gendong anak dia gendong Balen." semua kembali terbahak.


"Rese..." Larry ikut terbahak.


"Padahal aku siap tapi Larry tidak siap." kata Rumi pada Deni.


"Diky, Rumi siap tuh." kata Nanta pada Diky.


"Gue juga siap sih, tapi Rumi masih fokus ke Larry nih." kata Diky tertawa.


"Ah aku sih tidak harus Larry kok." jawab Rumi terkekeh. Larry cengengesan saja sambil sesekali benarkan headset yang terlepas dari telinga Balen.


"Lihat saja dari tadi sibuk sama Balen." kata Femi tunjuki Larry.


"Memang begitu. Kita kalau dekat Balen bisa sibuk sama Balen." kata Mike tertawa.


"Tapi Larry sih berlebihan." kata Femi lagi.


"Yah kalau mau menikah sama aku harus terima aku yang punya anak satu nih." jawab Larry tunjuki Balen seakan anaknya dan semua jadi tertawa.


"Aku terima kok Larry." Rumi masih saja bercandai Larry.


"Baen juda teima." si unyil ikut-ikutan.


"Eh kamu bukannya dengar musik?" tanya Larry pada Balen.


"Udah abis laduna." jawab Balen semua lagi-lagi terbahak.


"Gue dari tadi jaga headsetnya ternyata tidak ada lagu, kenapa tidak bilang singkooong." Larry gemas langsung saja ciumi pipi Balen.


"Hahaha Aban sih ndak tanain Baen." malah tertawa tanpa beban, padahal Larry takut Balen dengar yang tidak-tidak.


Setelah sholat magrib bersama semua pun pulang kerumah masing-masing, harapan Dona setelah ini Larry dan Femi semakin dekat begitu juga Rumi dan Diky, tapi tidak tahu bagaimana nantinya, hari ini Femi cukup kesal karena Larry hanya fokus pada Balen. Bahkan sudah mau pulang pun masih saja sibuk bercanda dengan Balen.


"Aban Leyi..." panggil Balen ketika mobilnya sudah siap melaju.


"Ya sayang..." Larry menoleh pada Balen yang duduk dibelakang.


"Janan upa nyetina." katanya sok tahu.


"Lupa bagaimana?" tanya Larry tertawa


"Beokna yan benen." katanya.


"Jangan salah belok lu Larry nanti nyasar." kata Nanta terbahak. Larry jadi ikut terbahak.


"Oh iya hai mindu ya." kata Balen selalu saja bilang hari minggu.


"Hari minggu kan mau ke Mal sama Aban Leyi." Nanta ingatkan Balen.


"Oh iya Baen upa, minduna ladi aja ya." Balen atur jadwal, Rumi dan Diky jadi gemas dibuatnya.


"Janji berenang sama Kak Rumi saja belum." kata Rumi pada Balen.


"Hai mindu deh." lagi-lagi janjikan hari minggu, Rumi jadi terbahak.


"Balen minggu depan syuting loh." Rumi ingatkan Nanta.


"Tuh Balen dengar tidak?" tanya Nanta pada adiknya.


"Aban inetin." katanya Malas mikir


"Chat ya Rum jadwalnya Balen." pinta Nanta pada Rumi.


"Oke Bos." Rumi terkekeh.


"Ini syuting yang ke berapa?" tanya Diky yang sudah lihat iklan Balen tayang dimana-mana.


"Minggu depan yang ketiga." jawab Rumi.


"Tahun ini setiap bulan dia syuting." kata Nanta pada Diky.


"Unyil, artis kamu ya?" Diky menjawil pipi Balen.


"Butan." jawabnya santai.


"Itu syuting terus." Diky terkekeh.


"Tan cuma itan, butan sineton." jawabnya membuat Diky terbahak.


"Kalau syuting sinetron baru artis ya." Diky terbahak.


"Iya taya Mami monit." jawab Balen yang sudah diceritakan kalau dulu Mami Monik artis terkenal.


"Baen..." panggil Larry yang rupanya belum juga jalan.


"Eh Aban Leyi Baen tiain udah pedi." jawab Balen tertawa tunjuki Larry.


"Tunggu Mobil Abang Nanta jalan dong." jawab Larry.


"Ngobrol apa sih?" tanya Larry kepo.


"Ada deh." jawab Diky dan Rumi kompak kerjai Larry, Nanta dan Dania tertawa melihat wajah penasaran Larry.


"Sana jalan." kata Diky pada Larry.


"Sama-sama dong, kalian kalau masih mau ngobrol gue turun nih." kata Larry merengut. Nanta dan Diky tertawakan Larry, sementara Mike dan Seiqa dari tadi sudah ngacir, namanya pengantin baru pasti maunya cepat-cepat sampai di kamar.


"Sudah mau pulang kok Leyi." jawab Rumi terkekeh kemudian menggandeng tangan Diky menuju Mobil Diky.


"Eh belum muhrim." teriak Larry membuat Diky menjulurkan lidahnya menggoda Larry.


"Cemburu lu Leyi?" teriak Diky terbahak.


"Sue, bukan cemburu takut kalian kebabalasan." jawab Larry tertawa.


"Kalau kebabalasan langsung ke penghulu." jawab Rumi jahil kemudian tertawa bahagia.


"Penghulu dulu Yumi." teriak Larry membuat Rumi tambah tertawa.


"Iya Ustadz Leyi." jawab Rumi terkekeh.


"Diky macam-macam gue hajar lu." kata Nanta pada Diky.


"Nah gue takut nih kalau Nanta sudah mau hajar." jawab Diky tertawa lalu segera masuk kedalam mobilnya.


"Gue juga ikut hajar elu Dik, Omanya titip Rumi sama gue." teriak Larry, dasar mereka berisik dikomplek perumahan orang, untung saja tidak ada yang komplen.


"Iya Bang Steve juga." Nanta mengingatkan.


"Semua keluarga Rumi kamu sudah kenal?" tanya Femi pada Larry.


"Sudah waktu kita syuting di S'pore ketemu keluarga besar Rumi, tapi tidak bertemu Papanya." jawab Larry tersenyum dan mulai lajukan kendaraannya karena Nanta dan Diky sudah jalan lebih dulu.


"Oma dan Abangnya sampai titip Rumi sama kamu?" tanya Femi, Larry anggukan kepalanya tidak menjelaskan lebih lanjut, biarkan Femi berasumsi dengan jalan pikirannya sendiri.