
"Tepon Aban don Papon." bujuk Balen pada Papon.
"Abang sibuk, Nak."
"Toba duu Papon." pinta Balen dengan wajah memelas, membuat Kenan tidak tega. Ia yang sudah kembali duduk didekat Reza dan Opa Dwi akhirnya menuruti Balen menghubungi Abangnya via video call.
"Baleen..." sambut Nanta saat melihat wajah adiknya yang habis menangis.
"Aban, natal." langsung mengoceh marahi Abang.
"Maaf sayang, Abang tugas." jawab Nanta membujuk Balen.
"Aban ndak inatin Baen, itut Papon tadi." rengeknya mulai kembali menangis.
"Yah Abang lupa karena buru-buru." Nanta jadi menyesal karena tidak minta Papon ajak Balen tadi, tapi selain itu Nanta takut Balen rusuh sih, tetap saja rusuh akhirnya.
"Baen juda upa, Aban." kesal sekali karena lupa.
"Nanti ya kalau Abang sudah selesai tugas, kita jalan-jalan." kata Nanta pada Balen.
"Yah." jawab Balen senang sudah dijanjikan Abangnya.
"Aban dimana?" tanya Balen lagi, sudah tidak merengek.
"Di kamar." jawab Nanta mengelilingi kameranya agar Balen bisa melihat situasi kamarnya.
"Siapa tuh?" tanya Balen semangat saat melihat Larry di kasur satu lagi.
"Teman Abang, namanya Abang Larry." kata Nanta mengarahkan kamera pada Larry.
"Halo..." Larry melambaikan tangannya pada Balen.
"Hihi Aban..." langsung Balen senyum-senyum kegeeran disapa cowok ganteng, menurut Balen Larry teman Nanta yang paling ganteng yang pernah dilihatnya.
"Sapa dong Abang Larry nya. Kok senyum saja?" tanya Nanta terkekeh, kelihatan sekali Balen malu-malu melihat Larry, beda kalau melihat Ando.
"Aban leyi, tatep amat sih." puji Balen polos.
"Mate, adek gue bilang elu cakep." Nanta jadi terkikik dan takjub.
"Terima kasih Adek." kata Larry pada Balen ramah.
"Aban leyi haum Juda ndak?" tanyanya karena Ando dan Nanta selalu harum.
"Harum sih, tapi tidak tahu Adek suka apa tidak." Larry terkekeh, mendengar pertanyaan Balen.
"Abang Nanta yang harum kan." kata Nanta pada Balen.
"Iya, Aban Ando juda." jawab Balen polos.
"Aban..." kata Balen kemudian, Nanta kembali membalikkan kameranya ke wajah Nanta.
"Apa sayang?" tanya Nanta dengan lembutnya.
"Nanti jawan-jawanna, sama Aban Leyi juda ya." pinta Balen membuat Nanta dan Larry terkekeh, Larry dapat fans baru anak yang belum berumur tiga tahun.
"Iya boleh." jawab Larry berteriak.
"Aban leyi ada Taniana ndak?" tanya Balen, maksudnya Larry punya pasangan apa tidak sepertinya.
"Maksudnya?" tanya Nanta minta diperjelas.
"Tan Aban ada Tania, Ban Lemon ada Tata Yoma, Aban Ando Tata Ima, talo Aban Leyi?" tanya Balen langsung saja tanya pasangan Larry. Nanta dan Larry terbahak.
"Abang Larry ada Adek..." Larry berbisik menanyakan nama Balen.
"Abang Larry ada Adek Balen dong." sahut Larry membuat Balen tersenyum sementara yang lain terkikik geli.
"Gawat Nona anakmu." kata Oma tertawa melihat Balen.
"Haduh-haduh Balen, mau saingi Mamon sama Papon ya?" celutuk Kiki terbahak. Larry dan Nanta juga terbahak jadinya.
"Ya sudah Abang mau siap-siap dulu, Balen jangan nakal ya, tunggu Abang main sama Ichi, jangan diajak ribut Ichinya." pesan Nanta pada adiknya.
"Yah..." kata Balen menuruti pesan Abangnya.
"Aban...Tis don Baen." pintanya pada Nanta. Nanta menuruti Balen mencium layar mencium adiknya.
"Aban Leyi ndak mau tis Baen?" tanya Balen pada Abangnya.
"Ini pasti seperti Mamon nih." kata Kenan saat sudah menutup teleponnya, tidak menyangka anaknya suka cowok ganteng.
"Tatep ya temen Aban." kata Balen bangga pada Papon.
"Balen suka?" tanya Kenan, Balen menganggukkan kepalanya. Kenan mengacak anak rambut bocahnya ini.
"Adik lu lucu betul, Nan." kata Larry begitu Nanta menutup sambungan teleponnya.
"Kocak memang tuh singkong rebus." kata Nanta terkekeh, mengingat kelakuan Balen.
"Buset Singkong Rebus lagi." Larry tertawa mendengarnya.
"Lihat saja putihnya seperti singkong sudah direbus, bening euy." kata Nanta tersenyum lebar.
"Iya sih, minta digigit." kata Larry jadi gemas sendiri.
Mereka mulai bersiap-siap menyambut persiapan setelah makan malam nanti, pesan Doni dan Mike Dari tadi tidak Nanta baca karena Nanta tertidur pulas, baru terbangun ketika Papa meneleponnya.
"Gue telepon dari tadi." protes Mike saat bertemu direstaurant saat makan malam.
"Ngantuk gue, kan sudah bilang mau tidur dulu." kata Nanta tanpa pesan.
"Iya balas dong setelah bangun." Mike jadi posesif, Nanta terkekeh.
"Oke sayang maafkan aku." kata Nanta menjawil dagu Mike.
"Ih Rese." Mike bergidik ngeri menghapus bekas belaian Nanta didagunya, Doni Dan Larry tertawa jadinya. Mereka menikmati makan malam sambil bercanda, diselingi Nanta dan Doni berbalas pesan dengan pasangannya masing-masing.
"Kalau sudah punya pasangan begini deh, fokus sama kita dong yang didepan mata." protes Mike, Nanta dan Larry terbahak.
"Lu telepon saja calon istri lu." kata Doni konyol.
"Tidak usah diajari, kalau punya sudah pasti gue telepon." kesal Mike pada Doni.
"Seperti Nanta dong tidak punya gandengan tahu-tahu menikah." Larry mentertawakan Nanta.
"Hahaha saya kan beda sama Abang Larry yang ceweknya ada dimana-mana." kata Nanta terbahak, ingat Larry selalu berganti pasangan.
"Duh sudah insaf deh Nanta sejak digombali singkong Rebus." kata Larry lagi-lagi mereka terbahak.
"Siapa singkong rebus?" tanya Mike pada keduanya.
"Balen adek gue, tadi minta diajak jalan sama Larry." jawab Nanta terbahak.
"Mate, bocah tiga tahun itu, luar biasa Abang Larry." Doni terbahak menggelengkan kepalanya.
"Nah itu bikin gue insyaf deh tidak berani main-main sama cewek lain. Tanyangue harum apa tidak lagi." kata Larry ingat tadi. Semua terbahak jadinya.
"Telepon Nan, sama gue dia begitu tidak.' kata Mike mau uji kegantengan lewat Balen rupanya.
"Hahaha jangan Nan, bocah kocak jangan sampai berpaling." kata Larry terbahak tidak rela, semua tertawa jadinya, seru sekali membahas Balen.
"Aban udah matan beum, Papon?" tanya Balen yang sudah dirumah saat ini, mereka sedang makan malam bersama, ingat Nanta yang selalu disebelahnya kalau lagi makan malam.
"Pasti sudah." jawab Papon yang juga kesepian ditinggal Nanta belum sehari.
"Sudah jangan pikirkan Abang terus, Abang banyak temannya kok." kata Nona pada Balen.
"Aban Leyi ya." kata Balen kembali senyum-senyum.
"Seperti apa sih Larry sampai disebut terus?" tanya Nona pada Kenan.
"Ganteng sih," Kenan terkekeh mengingat wajah Larry.
"Masih kecil sudah tahu cowok ganteng." kata Nona menggelengkan kepalanya.
"Mamon ih..." Balen langsung saja cemberut diprotes Mamon.
"Masih ngompol juga, malu dong sama Abang Larry." langsung saja menggunakan nama Larry.
"Tan pate pempes." kata Balen pada Mamon.
"Apa lagi pakai Pampers, malu lah masih kecil pakai pampers lihat-lihat cowok ganteng." omel Nona pada Balen.
"Yah, nanti ndak pate pempes deh pipisna tamal mandi." janji Balen membuat Nona terbelalak memandang suaminya yang cengar-cengir. Gawat ini Balen.