I Love You Too

I Love You Too
Nafkah



"Setelah ini mau kemana?" tanya Oma pada Nanta yang baru saja selesai makan.


"Mau ke Mama." jawab Nanta menghampiri Oma yang duduk di sofa, langsung saja duduk dilantai di dekat kaki Oma.


"Pijitin Oma." kata Nanta mengambil tangan Oma, meletakkan di kepalanya.


"Sudah punya istri, masih juga minta Oma yang pijit." kata Oma Nina terkekeh, tapi tetap mengikuti keinginan Nanta.


"Dania, lihat nih suami kamu kenapa?" tanya Oma Misha pada Dania.


"Kenapa Mas?" tanya Dania menghampiri Nanta.


"Supaya Oma sibuk saja." jawab Nanta tersenyum.


"Mau mengerjai Oma, dia biasa begitu." celutuk Opa membuat Nanta terkekeh.


"Opa iri ya?" goda Nanta pada Opa, Oma Nina terbahak dan menjitak pelan kepala Nanta.


"Oma, nanti aku di Amerika kangen loh." kata Nanta pada Omanya.


"Memang kangen terus sama kamu." jawab Opa tertawa.


"Masa? aku minta Oma sama Opa pindah Jakarta kemarin tidak mau." goda Nanta lagi.


"Mancing-mancing, nanti Oma bilang mau, ribut kamu sama Abangmu." kata Oma Nina terkekeh, Nanta ikut terkekeh.


"Nanti kalau anak Bang Ray lahir, tambah betah Oma di Malang." kata Nanta.


"Kamu saja yang pindah ke Malang." Oma menghentikan pijitannya.


"Nanti kalau aku sudah pensiun." jawab Nanta menggoda Oma.


"Jatata aja, Aban." celutuk Balen yang ikut duduk disebelah Oma, menunggu Nanta dipijiti.


"Tuh Oma, sudah ada yang komplen." kata Dania tertawa, Oma ikut tertawa menciumi Balen.


"Om Micko, masih lama disini? Nanta langsung ke Mama ya." kata Nanta pada Micko yang memperhatikan Lucky memainkan tuts piano. Ia semangat langsung berlatih didekat Nona.


"Mau berangkat sekarang? Om tergantung Lucky, Winner juga sepertinya masih betah." kata Micko menunjuk anak-anaknya.


"Setelah ashar saja berangkatnya." kata Nanta meminta persetujuan Dania.


"Aku diajak?" tanya Dania polos, semua tertawa mendengarnya.


"Memangnya Nanta tidak ajak kamu?" tanya Reza terbahak.


"Ah, cuma bilang mau ke Mama saja." jawab Dania.


"Memang tidak mau ikut?" tanya Nanta tertawa, pikirnya Dania tidak perlu diajak pasti ikut sendiri.


"Kalau diajak ya ikut." jawab Dania.


"Hahaha memang harus diajak ya? kan mau ketemu Mama aku, Ibu mertua kamu loh itu." kata Nanta semua terbahak mendengarnya.


"Nanta, berarti lain kali kamu harus bilang Dania ikut ya, begitu." Nona mengajarkan sambil tertawa.


"Hihi, aku tidak mengerti, kupikir Mas Nanta mau jalan sendiri." jawab Dania tersenyum malu.


Setelah sholat Ashar bersama, Nanta pun pamit pada keluarganya, Micko masih tinggal disana karena Winner belum mau pulang, ia asik nonton film koleksi Kenan dan Nanta. Sementara Oma Misha sudah tidur-tidur cantik dikamar tamu karena lelah terlalu lama duduk, maklum ya sudah tua sudah tidak kuat duduk lama. Oma Nina menemaninya dikamar, mereka melanjutkan ngobrol di sana. Lulu juga tampak asik mengamati Lucky yang lupa waktu.


Nanta fokus menyetir kendaraannya, sabtu sore jalanan di Jakarta lumayan macet, apalagi Nanta menuju daerah Timur tempat keluarga Om Bagus. Mama pesan kemarin agar Nanta datang menyambangi keluarga Om Bagus, jarang-jarang Om Bagus dan Mama ke Jakarta. Maka hari ini Nanta menepati janjinya pada Mama.


"Kamu lihat apa, dari tadi main handphone terus?" tegur Nanta pada Dania, sedari tadi mereka saling diam saja.


"Aku lagi browsing rumah sakit yang menyediakan fasilitas test DNA di Kota ini." jawab Dania.


"Masih mau test?" tanya Nanta.


"Iya, untuk memastikan saja. Supaya lebih yakin dan tidak ada fitnah." jawab Dania.


"Sudah, tapi lama hasilnya sekitar dua minggu sampai satu bulan." jawab Dania.


"Tidak masalah, kapan mau aku antar?" tanya Nanta memandang sekilas pada Dania.


"Aku cek harga dulu." jawab Dania menghela nafas.


"Mahal?" tanya Nanta melihat ekspresi wajah Dania.


"Lumayan mahal untuk anak kuliahan, apa aku batalkan saja ke Turki ya? uangnya bisa untuk test DNA." kata Dania berpikir keras.


"Aku ada. Pakai uangku saja." kata Nanta.


"Jangan." Dania tidak enak hati, baru juga sehari jadi istri Nanta, sudah menguras uang suaminya.


"Uang yang kutawarkan dari Om Micko juga. Sebenarnya untuk modal pedekate sama kamu." Nanta terbahak.


"Ish segitunya Papa." Dania jadi malu sendiri, Papanya memodali Nanta untuk mendekatinya.


"Hahaha bukan begitu, ini waktu kamu ke Malang, uang sponsor yang aku bilang itu dari Om Micko, selain uang cash, Om Micko juga transfer ke rekening aku. Nah yang direkening belum terpakai." Nanta menjelaskan.


"Tabunganku masih ada sih, Mas. Nanti kalau kurang Mas Nanta tambahin ya." kata Dania pada suaminya. Nanta menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau ku transfer setiap bulan atau pegang ATM ku saja?" Nanta menyebutkan sejumlah uang yang akan ia transfer pada Dania.


"Tidak usah, aku ada ATM. Buat apa Mas Nanta transfer aku?" tanya Dania.


"Loh suami kan harus menafkahi istrinya?" Nanta terkekeh.


"Oh, terserah Mas Nanta saja. Buat masak ya?" tanya Dania terkekeh.


"Hehehe belanja dapur ya, mana cukup segitu, itu untuk kebutuhan kamu saja." jawab Nanta tertawa. Lucu juga ia harus mulai memikirkan menafkahi Dania setiap bulannya.


"Transfer saja Mas, kalau aku pegang ATM Mas Nanta malah repot." kata Dania kemudian, tertawa sendiri akan mendapat uang bulanan dari Nanta, eh tapi kalau sudah kasih bulanan berarti harus melakukan kewajiban, duh wajah Dania langsung saja memerah.


"Iya, kirimkan nomor rekening kamu ya." kata Nanta pada istrinya.


"Sudah aku chat ya." kata Dania terkekeh


"Ih cepat juga, tidak sabar mau dapat transferan ya." Nanta menggoda Dania.


"Aaah... tadi kan Mas Nanta yang minta." Dania mencubit perut suaminya.


"Ih, sakit." Nanta tersenyum tapi meringis, perih juga cubitan Dania.


"Penganiayaan." katanya lagi sambil mengusap bekas cubitan Dania.


"Maaf ya." kata Dania sedikit menyesal, diusapnya perut Nanta, Nanta tambah meringis, bukan kesakitan tapi ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Gawat ini.


"Sudah." kata Nanta khawatir tidak bisa menahan diri. Dania menghentikan usapannya.


"Dan..."


"Hmm..." Dania menoleh pada Nanta.


"Mau langsung punya anak apa ditunda dulu?" tanya Nanta.


"Tidak tahu." jawab Dania malu.


"Yah kok tidak tahu, kan kamu yang hamil, siap hamil dalam waktu dekat apa tidak?" tanya Nanta lagi.


"Ah Mas Nanta jangan bahas itu." Dania merasa wajahnya memanas. Wajah Nanta juga memanas, ia sebenarnya malu, tapi usapan Dania pada perutnya barusan, membangkitkan sesuatu dalam tubuh Nanta. Mereka saling berdiam diri sampai Nanta memarkirkan kendaraan didepan rumah yang sesuai seperti foto yang dikirim Tari.


"Masanta..." panggil Wulan begitu melihat Nanta turun dari mobil, rupanya ia sudah menunggu kehadiran Abangnya dari tadi. Wulan berlari mengejar Nanta yang sedang bergandengan tangan dengan Dania.


"Adek sayang..." Nanta mengangkat tubuh Wulan dengan sebelah tangannya, yang sebelah tangan lagi enggan melepaskan diri dari Dania. Tari dan Bagus tersenyum menyambut kehadiran Anak dan menantunya. Selain Bagus dan Tari ada lagi yang lain keluarga Bagus, mereka ikut berdiri menyambut kedatangan pengantin baru.