I Love You Too

I Love You Too
Heboh



Kenan seperti ini



Nanta seperti ini deh



Kalau ga sesuai harapan, silahkan pakai image kalian sendiri ya😍


...----...


Dipojokan sebuah cafe, Kenan dan Lutfi menghabiskan waktunya, mereka saling bertukar cerita. Karena kesibukan masing-masing, sudah sekitar tujuh tahun mereka putus komunikasi.


"Jadi lu pisah sama Tari?" tanya Lutfi lagi, sulit dipercaya Kenan bisa melepas Tari yang begitu sempurna dimata Lutfi.


"Hmmm..." Kenan mengangkat alisnya.


"Nanta ikut elu?" tanya Lutfi lagi. Kenan menggelengkan kepalanya.


"Ikut Tari, kebetulan libur dan gue baru keluar rumah sakit. Besuk Papa lah di Jakarta." kekeh Kenan.


"Tari apa kabar?"


"Sudah menikah lagi beberapa minggu lalu." jawab Kenan dengan mata menerawang.


"Patah hari bro?" Kenan menggelengkan kepalanya cepat.


"Gue kenal baik Suaminya sekarang. Si Bagus yunior kita, lu pasti kenal. Gue mak comblangnya." Kekeh Kenan.


"Gila lu. Bagus iya kenal, cocok sama Tari. Lu cari lagi lah, mau gue kenalin?"


"Belum kepikiran gue."


"Sudah lama kan pisah sama Tari. Kenapa belum kepikiran, mana enak sendiri, bro."


"Iya gue tau, Nanti lah. Masih di kursi roda begini. Hubungan gue sama Nanta juga masih belum bener dari sejak gue pisah sama Mamanya."


"Lah tadi...?"


"Baru ketemu gue sejak pisah. Ngobrol juga masih malas lihat muka gue. Mungkin karena gue kecelakaan saja dia mau ikut bokap ke Jakarta. Lagi pula Mamanya juga sudah happy sekarang."


"Dulu lu selingkuh men? anak lu sampai marah begitu."


"Bukan selingkuh sih. Beberapa kali ketangkap basah lagi sama Sheila. Itu juga di cafe kaya begini, bukan di kamar."


"Ya ampun masih Sheila saja di otak lu ya. Sudah dapat Tari yang sempurna begitu."


"Dulu itu, sekarang sudah tidak ada rasa. Mesti banget kehilangan yang berharga baru sadar men, manusiawi ya. Gue kehilangan banyak waktu sama Nanta, disaat dia lagi pencarian jati diri."


"Proses lah. Godaan memang selalu begitu. Cinta monyet lu, cinta pertama lu, cinta sepanjang masa lu cuma Sheila sih, makan tuh Sheila."


Kenan menghela nafas panjang. Cinta sepanjang masa?


"Sepanjang masa sih tidak ya Luf. Sekarang rasa gue sama Sheila sudah hambar. Cuma Nanta diotak gue. Nanti kalau menikah lagi juga harus yang cocok sama Nanta."


"Pikirin elu juga Men, jangan cuma Nanta. Biar langgeng nanti rumah tangga lu."


Kenan terkekeh, banyak lagi yang mereka bahas selain masalah pribadinya. Tidak terasa hari sudah menjelang sore, yang ditunggu belum juga datang. Sudah berapa menu yang Kenan dan Lutfi pesan, piring dan gelas pun datang dan pergi silih berganti.


"Kenan!!!" lagi-lagi ada yang memanggilnya. Kenan dan Lutfi menoleh bersamaan. Wanita itu tersenyum hangat saat melihat Kenan.


"Hai Shei..." Kenan balas tersenyum pada Sheila, mantan pujaan hatinya.


"Lagi di Jakarta? kapan datang?" Tanya Sheila mendekat, berdiri di sisi meja Kenan dan Lutfi.


"Sudah hampir seminggu."


"Oh tidak mengabari, sombong ya. Berdua saja? boleh gabung?" tanya Sheila, seperti tidak pernah terjadi apapun. Mungkin dia tidak tahu rumah tangga Kenan hancur karenanya. Kenan memang tidak pernah cerita pada Sheila.


"Shei, aku lagi menunggu Nanta. Khawatir dia salah sangka lagi." Kata Kenan pada Sheila apa adanya. Ia tidak mau hati Nanta yang sedikit lumer, membantu lagi. Sheila, wanita yang paling dibenci Nanta saat ini. Wanita yang menyebabkan rumah tangga Kenan dan Tari berantakan. Wanita yang menyebabkan Nanta patah hati karena Papa dan Mamanya bercerai.


"Oh masih marah anakmu?" tanya Sheila seperti tidak mengerti permasalahan yang dihadapi Kenan. Ya iya lah marah, Sheila how stupid you are, maki Lutfi dalam hati. Terlihat ekspresi Lutfi merasa terganggu.


"Pasti marah. Maaf Shei." Kenan tersenyum tipis. Tidak ingin Sheila berlama-lama didekatnya.


"Shei, Nanta sebentar lagi datang." Kenan mengingatkan dengan memutus kalimat Sheila, jika ditanggapi akan lama lagi. Sheila menghela nafas kesal. Ia pergi meninggalkan Kenan dan Lutfi.


"Punya suami tidak sih dia?" tanya Lutfi sedikit kesal.


"Punya." jawab Kenan terkekeh.


"Kenapa begitu kelakuannya." cetus Lutfi.


"Kelakuannya bagaimana. Dia tidak seburuk yang elu kira. Dia cuma suka curhat tentang masalahnya dan gue pendengar setia."


"Mana boleh istri orang curhat sama suami orang, Men. Gue bisa ngamuk kalau punya istri begitu." Lutfi mendengus kesal. Kenan lagi-lagi tertawa.


"Nanta juga lu." katanya sambil memajukan mulutnya. Lutfi tergelak dibuatnya. Kenan menarik nafas lega ketika melihat Nanta datang dengan cerianya tertawa bersama Nona, Raymond dan Roma. Mereka berisik sekali, Raymond hanya memberi kode pada Kenan saat mereka duduk di bangku terpisah.


"Sudah datang tuh anak gue." kata Kenan menunjuk meja dibelakang Lutfi.


"Bini sama anak gue mana nih." Lutfi mengambil handphone dimeja dan mulai melihat layar, kemudian terbahak.


"Bini gue ngomel men, nelpon dari tadi puluhan kali, ke silent."


"Parah lu." Kenan menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Lutfi tidak mengecek handphone atau mengabari posisinya pada anak dan istrinya.


"Saya di cafe yang dekat parkir tadi." kata Lutfi disambungan telepon.


"Iya maaf, saya silent handphonenya, tadi habis sholat lupa. Maaf ya sayang. kesini ya, saya lagi sama Kenan." bujuk Lutfi pada istrinya. Kenan sudah membayangkan ekspresi istri Lutfi saat marah.


"Marah si Anggi?" tanya Kenan sok polos.


"Itu sih nama tengahnya. Kalau tidak marah tidak cantik." kekeh Lutfi


"Suaminya begini bagaimana tidak marah, Untung tidak ditinggal pulang lu." Lutfi menepuk dahinya sambil menggelengkan kepalanya. Jangan sampai ditinggal pulang, bisa berapa hari bujuknya pikir Lutfi.


"Kalian ya kalau sudah berdua lupa anak istri." Omel Anggi saat datang dengan kantong belanja penuh di Kiri Dan kanan tangannya.


"Maaf sayang, tadi ngobrol seru saya lupa kasih tau kamu. Kenan habis kecelakaan tuh kasihan." kata Lutfi lagi-lagi membujuk Anggi Dan menunjuk kursi roda Kenan untuk mengalihkan perasaan marah istrinya.


"Kenapa mas Kenan kakinya patah?" tanya Anggi melupakan marahnya.


"Iya habis operasi. Nania kelas berapa sekarang, ingat Papa Kenan?" Kenan menyapa gadis kecil disebelah Anggi.


"Kelas tujuh Pa. Ingat tapi lupa." senyum Nania malu-malu.


"Ini loh Papa Kenan yang belikan boneka panda besar dikamar kamu, Nak."


"Iya ingat. Tapi tadi lupa ini teman Papa yang mana."


"Hmmm kenapa jelek ya sekarang Papa Kenannya?"


"Iya dulu kamu bilang Papamu kalah ganteng sama Papa Kenan." kekeh Kenan mengingat Nania kecil.


"Sekarang juga masih lebih ganteng Papa Kenan." jawab Nania tersenyum memandang Papanya.


"Tuh Mas Nanta lebih ganteng dari Papa Kenan." tunjuk Kenan pada Nanta dimeja seberang.


"Kamu sama Nanta juga. Tari mana? aku kangen." Anggi tampak semangat mencari keberadaan Nanta dan Tari.


"Tari di Malang sama suaminya." jawab Kenan santai.


"Loh??? sudah pisah?" Anggi sedikit ternganga.


"Sudah jalannya, jodohnya sampai disitu." jawab Kenan lagi.


"Nanta, kamu ingat Mama Anggi? Itu Papa Lutfi ingatkan?" tanya Anggi menghampiri Nanta yang hanya tersenyum berdiri menyalami Anggi.


"Ini Ray anaknya Bang Eja ya?" sapa Anggi pada Raymond.


"Iya tante, ini Roma istri Ray dan Ini Kak Nona calon om Kenan." jawab Ray jahil, Nona mendelikkan matanya kesal pada Ray, tapi tetap tersenyum ramah pada Anggi.


"Ya ampun Mas Kenan, calonmu cantik juga ya." teriak Anggi menggelengkan kepalanya.


"Ayo Non, kita ngobrol dimeja situ gabung sama mereka. Nania duduk sini sama Mas Nanta, sama Mas Rey juga. Sini Nak ada Kakak Roma nih." Anggi heboh menarik Nona dan mendudukkannga disebelah Kenan, kemudian mendudukkan Nania di sebelah Nanta.


"Eh..." Nona tampak salah tingkah, hatinya sibuk merutuki kejahilan Raymond yang nampak tertawa puas melihat Nona yang salah tingkah. Nanta juga ikut tersenyum lebar mendukung kejahilan Abangnya.