I Love You Too

I Love You Too
Egois



"Oma..." Nanta langsung saja memeluk Oma dari belakang, tampak sekali rindunya.


"Dania, suamimu masih saja seperti anak kecil." Oma malah mengadu pada Dania yang sedang menyalaminya, Sementara Nanta masih memeluk Oma sambil cengar-cengir.


"Memang begitu kalau sama Oma kan." Dania terkekeh sudah tidak heran melihat kemanjaan suaminya pada Oma Nina ditingkat maksimal.


"Sakia liat tuh Panta taya anak tecin." Balen mengajak Shakira bicara, sementara Nanta mengernyitkan jidatnya.


"Siapa?" tanya Nanta pada Balen.


"Panta." jawab Balen tersenyum.


"Panta tuh siapa?" tanya Nanta lagi.


"Aban." jawabnya santai.


"Iya tan Sakia, pandilna Panta aja, tamu mona ditu tan woti teju?" tanyanya lagi pada Shakira sambil mengajak Shakira bercanda, sementara si bayi malah cengengesan sambil menyembur dengar Ante Baennya mengoceh.


"Roti Keju lagi." Nanta terbahak mendengar Balen memanggil Shakira dengan sebutan Roti Keju.


"Atu pandil aban Ichie ya Sakia, janan lupa." kata Richie mencium Shakira perlahan.


"Shakia, Ante Baen udah puna uan buat tita te Hio woh. Tamu itut tan, janan upa minta uan ama Papa Lemon buat tita ya." Roma tertawa mendengar ocehan Balen yang sok tua.


"Bagi dong Kak Roma uangnya." Roma menggoda Balen.


"Uan yan mana, tan Papa Lemon beum tasih?" tanya Balen pada Roma.


"Yang Balen punya." jawab Roma.


"Janan itu buat te Hio." tolaknya tegas.


"Katanya mau beli hotel?" Oma Nina ikutan menggoda Balen.


"Ndak jadi, Opon ndak mo beiin. Opa..." langsung panggil Opa Dwi.


"Iya." jawab Opa dengan gaya Balen.


"Baen dibeiin Oten ndak sih ama Opa?" bertanya dengan polos membuat semua tertawa.


"Buat apa beli hotel?" tanya Opa.


"Tadina buat tuwada tao Jatata, tapi ndak jadi soanna puna umah semuana." jawab Balen membuat Opa tertawa.


"Ya sudah berarti tidak usah Opa belikan."


"Emanna Opa mo beiin?"


"Opa atu udah tambahin Baen uan Oten, masih beum cutup Juda." adu Richie pada Opa, sok banyak duit duo cucu Opa nih.


"Opa lagi berpikir belikan apa tidak, tapi Baen mau ke Ohio nanti siapa yang bersihkan hotelnya?" Opa menggoda Balen.


"Emanna tao Bei oten Baen besihin sendiian?" tanya Balen bayangkan ia harus bersihkan setiap kamar digedung bertingkat.


"Habis siapa? mau bayar orang harus pakai uang lagi." kata Opa tertawa.


"Tao ditu Opa tasih uanna yan banak don."


"Jadi?"


"Otenna ada yan besihin."


"Beli hotel tetap jadi?"


"Teseah Opa." serahkan pada Opa.


"Tidak usah lah kamunya juga tidak di Jakarta."


"Ah Opa sih." merengut.


"Baen, Aban Leyimu apa kabar?" tanya Raymond pada Balen.


"Dia mo puna isti tau."


"Yah kasihan deh Aban Leyinya mau punya istri." Roma tertawakan Balen.


"Matana butan Aban Leyi Baen dia." katanya malas.


"Aban Leyi siapa dong?"


"Tau." melengos kesal.


"Aban Leyi Shakira dong." jawab Nanta menggoda Balen.


"Eeh, janan. Puna Baen tuh." tidak rela berikan pada Shakira.


"Loh katanya tadi bukan Aban Leyi Baen." kata Nanta tertawa.


"Pua-pua aja, tan ladi maah." jawabnya membuat semua terbahak.


"Kenapa marah?" tanya Oma Nina.


"Soanna dia istina butan Baen." semua kembali terbahak mendengarnya.


"Lagian kamu kecil-kecil sukanya sama orang besar." Raymond mengacak anak rambut Balen.


"Eman ndak boeh?"


"Ya boleh tapi jangan marah kalau Larry punya istri dong." jawab Raymond terkekeh.


"Baen ndak maah, pua-pua aja." jawabnya membuat Nanta gemas.


"Biar apa coba pura-pura marah?" Nanta mencubit pipi Balen.


"Cemburunya sebatas es krim." Nanta terbahak.


"Kalau Roma mesti diajak shopping tas branded dulu, Baen kamu cuma dibelikan es krim enak betul."


"Eman enak tau es Kim dum, Baen penah dibeiin." langsung acungkan jempol.


"Kasihan loh Abang Larry kamu bikin begitu, nangis dia." Nanta mendramatisir.


"Biain aja, udah dedek masa nanis." dasar Balen malah tidak peduli.


"Berarti tidak sayang Abang Larry dong." kata Nanta lagi.


"Sayan don." jawab Balen.


"Walaupun nanti Aban Leyi sudah punya istri?" Nanta memastikan


"Iya don, tan Aban Leyi Baen. Tapi tata Mamon ndak boeh tepon Aban Leyi ladi, nanti istina maah."


"Tuh dengar kan Leyi." kata Nanta pada Larry via telepon, rupanya dari tadi Nanta hubungi Larry via telepon.


"Aban ih..." Balen langsung saja marah


"Baen, nanti Abang belikan es krim Lima drum ya." kata Larry pada Balen sambil tertawa senang.


"Larry anak gue bisa batuk pilek." kata Nona membuat Larry terbahak.


"Jadi belikan apa dong buat Balen, beli yang kotak saja ya Baen." kata Larry lagi.


"Ndak enak yan totak Mamon." nego sama Mamon.


"Kamu bikin repot Larry saja." Mamon kembali naik oktaf.


"Teseah yan beiin don Mamon, tita ndak boeh atun-atun dia mo bei yan mana biain aja." semua tertawa mendengarnya.


"Hahaha nanti ikut ke rumah Bang Doni ya, biar kita beli yang Baen mau." bujuk Larry lagi.


"Aban Leyi, Baen ladi ada Sakia, dia nanis tao Baen pedi." merasa dirindukan oleh Shakira.


"Tapi sudah tidak pura-pura marah kan?" tanya Larry sambil tertawa.


"Ndak." jawabnya membuat Larry lega.


"Kapan-kapan kita ke Mal sama Kak Femi mau tidak?" tanya Larry.


"Maes." jawab Balen membuat Larry berpikir.


"Kok Malas?" tanya Larry.


"Baen mona bedua Aban Leyi aja." jawabnya.


"Eh Balen mana boleh begitu." Mamon tegur Balen.


"Biain aja, tan beum tondanan." jawabnya.


"Belum apa Nan?" tanya Larry.


"Belum kondangan Larry, janur kuning belum melengkung." jawab Nanta terbahak.


"Hahaha iya kalau begitu kita berdua saja ya." Larry akhirnya ikuti kemauan Balen.


"Tapan?" tanya Balen langsung saja tidak sabar.


"Balen maunya kapan?" tanya Larry.


"Mamon boehna tapan sih Baen mo Emol." tanya sama Mamon.


"Atu itut don." teriak Richie.


"Boleh dong Ichie ikut juga." Larry ijinkan Ichie ikut.


"Ndak usah." tolak Balen membuat Raymond gemas dan langsung menciuminya.


"Ichie sama Abang saja." kata Raymond bujuk Richie.


"Janan." tidak rela Bang Ray hanya pergi sama Richie.


"Loh kamu kan pergi sama Larry, biar saja Ichie sama Abang."


"Ndak boeh, Baen haus itut juda."


"Edois nih Baen." Richie menghembuskan nafas kasar.


"Loh tahu egois dari mana?" tanya Oma Nina bingung.


"Laduna Ncusss edois." jawab Richie, sekarang semua tertawakan Richie.


"Leyi aman ye." kata Nanta pada sahabatnya.


"Alhamdulillah." jawab Larry lega.


"Oke Leyi Bei." Nanta ikuti gaya Balen.


"Aban Leyi, janan upa woh." teriak Balen sebelum Nanta matikan sambungan teleponnya.


"Iya, hari minggu ya."


"Baen tanain Sakia duu, nanti Baen tepon." katanya membuat Oma gelengkan kepala melihat kelakuan cucunya ini.


Terima kasih doa-doanya kakak2 sayang, better than yesterday. Yopiuuu 💕💕