
"Mama ke Jakarta saat aku melahirkan nanti?" tanya Dania pada Mama Maya via telepon. Mereka sudah bisa komunikasi rutin sejak Papa Micko berbaikan dengan keluarganya. Om Peter tidak pernah lagi mengancam Mama Maya. Kakek dan Nenek Dania pun saat ini sudah kembali lagi ke Sukabumi lagi.
"Mama mau tinggal dimana selama di Jakarta?" tanya Mama Maya pada Dania. Dania jadi bingung, ia sendiri masih menumpang di rumah Mertua, tidak mungkin juga Mama menginap di rumah Papa Micko.
"Di hotel tidak apa kan ma? yang penting Mama ada saat aku melahirkan." pinta Dania pada Mama Maya.
"Nanti saja kalau kamu sudah tinggal di rumahmu sendiri. Percuma juga Mama datang, cuma lihat kamu melahirkan tapi tidurnya di hotel, mau main sama cucu susah dong." Mama Maya menolak.
"Dirumah Nek Pur bagaimana?" Dania mencari alternatif lain.
"Mama Ke Jakarta kan mau dekat dengan cucu, bukan dengan Nek Pur." tolak Maya lagi, ada saja alasannya.
"Ya sudah terserah Mama deh." Dania akhirnya pasrah tidak memaksa. Mau bagaimana lagi, Mama memang tidak punya rumah di Jakarta.
"Nanta mana?" tanya Maya pada Dania.
"Lagi di kamar mandi, kenapa sih bicara sama aku baru sebentar sudah mencari Mas Nanta?" protes Dania, karena selalu saja begitu bikin Dania kesal sendiri, anaknya Mama Maya, Dania atau Nanta sih.
"Mama mau tanya, apa boleh kamu melahirkannya di London saja?" tanya Maya pada Dania.
"Aku maunya anakku lahir di Indonesia, anak Indonesia asli." jawab Dania.
"Padahal keren kalau anakmu di ktp tertulis kelahiran London." Mama Maya membuat Dania terkekeh, apanya yang keren, tetap saja keturunan Indonesia, sok keren malah iya.
"Di Jakarta saja melahirkannya, Ma. Kalau di London Mas Nanta tidak bisa dampingi aku lama karena harus bekerja dan terikat di basket." Dania memberi pengertian pada Mama. Lagi pula Dania tidak nyaman dengan keluarga suami Mamanya, walaupun suami Mama sudah kembali ramah pada Dania, tetap saja rasa kecewa itu membekas.
"Kan ada Mama di sini, biar saja Suami mu ke Jakarta lebih dulu, nanti usia anak tiga bulan baru kalian kembali Ke Jakarta." Mama Maya masih saja bersikeras.
"Aku tidak enak merepotkan keluarga Mama disana nanti. Aku juga tidak nyaman di London. Sudah ya biar saja aku melahirkan di Jakarta. Kalau bisa Mama sekeluarga ke Jakarta saja." tegas Dania pada Mama Maya.
"Mama tuh masih sungkan ke Jakarta, kalaupun ke Indonesia, Mama langsung saja ke Sukabumi bertemu Kakek dan Nenek." kata Mama Maya sampaikan alasannya.
"Tidak akan bertemu kalau begini caranya." sungut Dania, Mama ada saja alasannya, mungkin sebenarnya Mama sungkan bertemu Papa Micko.
"Mama takut bertemu Papa?" tanya Dania.
"Kenapa harus takut?" Mama Maya menyangkal.
"Mama kan Kerja sama dengan Om Peter waktu itu." Dania bangkitkan luka lama.
"Itu sudah lewat, Dan. Mama sudah minta maaf sama Micko. Jangan diungkit-ungkit lagi."
"Ya kalau begitu kenapa tidak mau ke Jakarta?"
"Malas saja, sudah betah di London." jawab Mama Maya terkekeh.
"Sama dong aku juga sudah betah di Jakarta." jawab Dania ikut terkekeh.
"Jadi Mama tidak mau bertemu cucu?" tanya Dania.
"Kamu saja sekeluarga yang ke London. Dulu mertua kamu pernah janji kok akan kunjungi Mama di London." ish Mama malah menagih janji saat Dania di Lamar Papa Kenan via video call. Dania langsung saja menarik nafas, mengingat Papa Kenan selalu saja sibuk, rasanya tidak enak tanyakan janjinya pada Mama Maya.
"Dania, Nanta lama sekali di kamar mandi, Mama harus keluar dulu ada urusan." kata Mama Maya akhirnya putuskan sambungan telepon.
"Eh ini Mas Nanta sudah selesai Ma." kata Dania pada Mama begitu melihat suaminya sudah selesai Mandi, sudah langsung berpakaian juga jadi aman kalau bicara dengan Mama.
"Nanti saja Mama buru-buru. Nanti mama chat Nanta sana, Oke."
"Oke Ma." teriak Nanta terkekeh, Mama Maya selalu begitu terburu-buru, segitu banyak urusannya di sana.
"Kenapa Mama?" tanya Nanta pada istrinya.
"Minta aku melahirkan di London, bagaimana?" Nanta langsung gelengkan kepalanya sambil mencebik.
"Mama saja yang ke Jakarta." jawab Nanta pada istrinya.
"Ya sudah tidur disini."
"Aku tidak tawarkan juga sih, bukan rumahku soalnya. Di rumah Papa Micko juga tidak mungkin. Aku tawarkan menginap di hotel atau di rumah Nek Pur, Mama tidak mau." Dania menjelaskan.
"Disini saja." Kata Nanta sambil keringkan rambutnya dengan handuk.
"Tidak enak sama Papa dan Mamon dong. Aku sungkan." jawab Dania apa adanya seperti yang ia rasakan.
"Nanti aku yang bilang, yang penting kamu tidak melahirkan di London, tidak boleh." Nanta tersenyum memeluk istrinya.
"Kalau mau pergi ke London harus sama aku, nanti kita kesana kalau baby sudah lahir dan aman diajak pergi jauh." janji Nanta pada istrinya sambil mencium pucuk kepala Dania.
"Iya." jawab Dania terkekeh balas memeluk suaminya meskipun terhalang perut yang membesar.
"Jangan iya-iya saja." Nanta tersenyum jahil menggoda istrinya, seperti Mamon pada Balen tadi.
"Mamon sih itu." Dania terkikik geli.
"Eh kamu katain Mamon ya? Mamon aku tuh." lagi-lagi jahili istrinya.
"Mas Nanta tuh yang tirukan Mamon, mertua aku tahu." balas Dania tidak kalah jahil. Keduanya tertawa bersama.
"Pergi yuk." ajak Nanta pada Dania.
"Sudah malam, mau kemana?" tanya Dania bingung tumben suaminya ajak pergi.
"Nonton yuk. Coba lihat film terbaru di bioskop terdekat apa saja, yang jam delapan." kata Nanta meminta Dania untuk periksa jam tayang dibioskop dekat rumah.
"Super Hero nih jam delapan lewat Lima menit, mau?" tanya Dania.
"Boleh. Ayo..." dasar ajak nonton mendadak begini, tentu saja Dania harus buru-buru ganti pakaian.
"Begitu saja tinggal pakai jacket dan kaos kaki." kata Nanta pada istrinya.
"Pakai Piyama?" Dania besarkan bola matanya, yang benar saja nonton bioskop pakai piyama.
"Tidak apa, kan pakai jacket, jangan lupa kaos kakinya biar baby tidak kedinginan." kata Nanta tertawa. Dania ikuti kemauan suaminya ambil jacket dan kaos kaki di Laci. Keduanya keluar kamar dengan atribut yang disebut tadi. Nanta sih masih kelihatan normal pakai kaos dan celana training, ditambah jacket. Nah Dania risih sekali pakai baju tidur keluar rumah.
"Mau kemana?" tanya Kenan saat melihat Nanta mengambil kunci Mobil.
"Nonton yuk, Pa. Ada superhero kesukaan kita tayang di bioskop." ajak Nanta.
"Ah yang benar saja mendadak begini." protes Kenan pada Nanta.
"Masih sempat kok, yang dekat sini saja." ajak Nanta lagi.
"Mau Bang?" tanya Kenan pada Baron.
"Yuk." Eh malah mau lagi. Nanta jadi tertawa senang.
"Non, Mbak Mita, Ayo." ajak Kenan pada istri dan mertuanya.
"Hmm... krucil bagaimana?" tanya Nona.
"Sudah pada mengantuk kan?" tanya Kenan.
"Iya itu sudah kriep-kriep, Ayolah." jawab Nona, kembali mengintip Balen dan Richie yang sudah tertidur ditemani Ncusss.
"Saya keluar dulu." bisik Nona pada Ncusss.
"Iya bu." jawabnya sepelan mungkin takut keduanya bangun.
Jadilah tiga generasi dengan pasangannya berangkat ke bioskop dengan pakaian apa adanya. Nona dan Mita ikuti gaya Dania, piyama dengan jacket dan kaos kaki. Meskipun begitu tetap saja mereka terlihat trendy, kenakan jacket dan kaos kaki yang senada dengan warna piyama, belum lagi Nona gunakan topi kupluk kekinian, niat hati sih ingin tutupi telinga supaya tidak kedinginan.