I Love You Too

I Love You Too
Pinjam



Drrrtttt....drrrrrtttt....


"Sepertinya handphone kamu bunyi, Nona." kata Kenan pada Nona. Nona segera mengambil handphone di kantongnya.


Papa calling


"Ya Pa..."


"Aku di rumah Mas Kenan Pa, disini lagi pada kumpul, nanti malam kita mau barbeque."


"Sebentar." Nona menyodorkan handphonenya pada Kenan dan dengan malas Kenan mengambil handphone tersebut.


"Yap."


"Bagus, ajak anak gadis orang tidak ijin sama Bapaknya." kata Baron dengan suara tegasnya.


"Bukannya sudah dititipkan pada saya? apa masih harus ijin juga?" Kenan terkekeh.


"Iya-iya, kamu benar juga ya. Dalam rangka apa ajak Nona ke rumahmu?" tanya Baron penasaran.


"Kebetulan Nanta kuminta menginap disini, Nanta mengundang Nona, apa Abang tidak tahu kalau mereka sangat akrab?"


"Nona memang kutitipkan pada orang yang tepat, dia bisa nyaman dengan keluargamu."


"Tapi bagaimana kalau aku khilaf dititipi gadis cantik ini?" Kenan memelankan suaranya.


"Ya nikahi saja sebelum khilaf."


"Astaga, Bapak macam apa ini."


Baron terbahak mendengarnya, Kenan pun terkekeh lalu mengembalikan handphone tersebut pada Nona.


"Sudah Pa?" tanya Nona.


"Non, Samuel dan Deni dalam perjalanan kesini, mungkin akan tiba tengah malam. Besok kamu bertemu Deni dirumah Papa mau? kita makan siang bersama."


"Aku belum siap mengenal istri Papa."


"Papa akan menunggu saat kamu siap."


Nona menutup sambungan telepon dan kembali menonton film, lebih tepatnya Nona melamun, sesekali menghela nafas panjang.


"Kenapa?" tanya Kenan sedikit terganggu. Seperti ada beban berat saja, pikir Kenan.


"Samuel sama Deni dalam perjalanan ke Malang." kata Nona.


"Itu bukan masalah yang membuat kamu sampai terus menerus menghela nafas."


'Mas Kenan..." Nona mengadahkan kepalanya memandang Kenan yang masih duduk disebelahnya dengan wajah melasnya. Kenan mengangkat alisnya ikut memandangi Nona. Ada raut sedih di wajah Nona.


"Boleh pinjam bahu." kata Nona berharap. Kenan mengangguk dan menepuk bahunya. Langsung saja Nona menyandarkan kepalanya dibahu Kenan. Ia mencoba mendamaikan hati yang tengah berperang batin antara mengalahkan egonya menerima istri Papa masuk dalam kehidupannya atau tetap seperti sekarang layaknya orang asing.


"Susah sekali menerima kenyataan Papa sudah menikah lagi." kata Nona pelan.


"Kamu harus membuka hati, Mbak Mita itu orang yang tepat untuk Papa kamu." kata Kenan berusaha memberi Nona pengertian.


"Aku kehilangan kebersamaan dengan Papa."


"Sebenarnya tidak akan hilang kebersamaan itu kalau kamu berbesar hati menerima pasangan Papamu. Bagaimanapun Papa membutuhkan pasangan yang bisa diajak berbagi dalam hal apapun. Sekarang Papa happy loh ada yang urus hal-hal detail yang mungkin kamu tidak bisa, ada teman cerita, ada teman tidur. Kamu juga bebas seperti sekarang, keluar rumah tanpa beban."


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Berdamailah dengan keadaan."


"Mas Kenan kenal baik sama istri Papa?" tanya Nona.


"Hmm..masih sepupu jauh Mamanya Nanta. Orangnya baik, sangat ngemong."


"Mas Kenan disuruh Papa untuk bicara seperti ini sama aku?"


"Tidak sama sekali."


"Kalau dengan Mamanya Nanta hubungan Mas Kenan baik?" Mulai mencari tahu tentang Kenan.


"Sangat baik bahkan hubungan saya juga sangat baik dengan suaminya Tari. Hebatnya Tari bisa berbesar hati menerima keadaan dan memaafkan Saya."


"Aku mesti kenalan dengan Mamanya Nanta."


"Sudah pernah bertemu kan?"


"Kapan?"


"Loh itu bukannya sekretaris Mas Kenan?"


"Memang. Lucu ya kalau di fikir-fikir. Tari menolak semua fasilitas yang saya berikan saat kami berpisah, tapi memilih tetap bekerja sebagai sekretaris saya."


"Mau tetap bekerja dilingkungan Mas Kenan, sungguh aneh."


"Awalnya memang terasa aneh, tapi sekarang biasa saja, bahkan sudah seperti saudara saja tapi tetap professional dalam bekerja. Memang harus melewati proses yang tidak mudah untuk seperti sekarang, termasuk hubungan saya dengan Nanta."


"Mas Kenan tidak terganggu? melihat mantan istri setiap hari? bahaya loh bertemu mantan terus. Kapan bisa move on." tercium nada-nada cemburu.


Kenan terkekeh,


"Pinjam bahunya jangan lama-lama, nanti kamu jatuh cinta sama saya." kata Kenan pada Nona tanpa menjawab pertanyaan Nona.


"Ish." Nona segera membenarkan posisi duduknya wajahnya memerah, tapi tetap berusaha menyembunyikan perasaannya.


"Aku mau kenal lebih dekat dengan Mamanya Nanta. Aku ingin belajar bagaimana caranya berdamai dengan keadaan. Pasti berat sekali posisi Mbak Tari saat itu, disaat hati hancur lebur tapi harus bekerja menjadi Sekretaris si biang masalah."


"Sembarangan sekali bilang saya biang masalah. Belajar saja sama Saya, Tari itu sibuk"


"Kalau bukan biang masalah tidak mungkin membuat Mbak Tari kesal sampai minta pisah kan? pasti takut rahasianya ketahuan, jadi aku tidak boleh kenal dekat dengan Mbak Tari." Nona menjulurkan lidahnya, jadi kesal sendiri pada Kenan, apalagi tiba-tiba teringat Sheila bertambah kesal saja Nona.


"Dasar bocah." Kekeh Kenan menggelengkan kepalanya kemudian memencet hidung Nona gemas, baru berhenti begitu Nona berteriak gelagapan. Nona mengucek hidungnya yang gatal karena dipencet Kenan dan mulai bersin-bersin.


"Boys, siap-siap sebentar lagi magrib, kita ke mesjid." katanya pada Raymond dan Nanta.


"Aku tidak bawa sarung." jawab Nanta menunjuk celana sedengkul yang dipakainya.


"Pakai sarung Papa, sebentar Papa ambilkan." Kenan segera beranjak dari sofa menuju ke kamarnya. Tak lama ia kembali membawakan sarung untuk Nanta.


"Hayo pada mandi." kata Kenan pada Raymond dan Nanta.


"Iya." jawab mereka bersamaan, segera melepaskan stick PS.


"Ayo siapkan baju aku, Mrs Ray." kata Raymond pada Roma yang sedari tadi setia menunggu suaminya main PS. Sengaja tidak mendekati Nona dan Kenan sebagai bentuk dukungan agar keduanya bertambah dekat. Roma segera beranjak mengikuti Ray yang mengulurkan tangannya membangunkan Roma dari duduknya. Mereka berjalan menuju kamar tamu.


"Non, kamu bisa pakai kamar Nanta yang disebelah kamar saya." tunjuk Kenan kearah kamar yang dimaksud.


"Nanta bisa mandi dikamar Papa ya. Biar Kak Nona pakai kamar Nanta dulu." kata Kenan pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta pasrah.


segera beranjak menuju kamarnya memindahkan barang-barang ke kamar Papa.


"Aku ke kamar dulu, Mas Kenan tidak mandi?" Nona masih betah berlama-lama disebelah Kenan.


"Saya baru saja mandi, apa harus mandi lagi karena kamu habis bersandar dibahu saya?" tanya Kenan menggoda Nona.


"Ish Mas Kenan, menyebalkan." sungut Nona dan segera berlari menuju kamar Nanta. Kenan terkekeh melihat ekspresi Nona yang bersungut malu.


Kenan mengangkat telepon nya yang berdering, setelah beberapa kali Kenan abaikan.


"Kenapa Bang Baron?" tanya Kenan begitu mengangkat sambungan teleponnya.


"Apa Nona sedih? Saya takut mood nya berubah setelah saya minta Nona untuk makan siang dirumah besok."


"Sedikit, sekarang tidak lagi."


"Saya harus bagaimana ya? saya pikir kalau ada Deni bisa dengan mudah mengajak Nona ke rumah agar bisa mengenal Mita."


"Bersabarlah, semua butuh proses. Ijinkan Nona menginap disini malam ini, semoga besok bisa saya drop di rumah Bang Baron."


"Betul ya, kamu ikut saja sekalian, mungkin Nona lebih nyaman."


"Lihat besok ya, saya mau berlama-lama dengan Nanta."


"Ajak saja Nanta, Raymond semuanya siapapun Anggota keluargamu, yang penting Nona bisa berkenalan dengan Mita." bujuk Baron penuh harap.


"Nanti saya tanya Nanta dan Raymond dulu. Siapkan hadiah untuk kami kalau berhasil ya."


"Kamu akan saya jadikan suami Nona, Nanta akan mendapatkan Ibu sambung yang asik, Raymond akan terbebas Dari jeratan kamu." jawab Baron membuat Kenan terbatuk.


"Kalau bicara pakai mikir dong, jangan asal jeplak." dengus Kenan


"Saya serius, Ken."


" lebih baik kamu restui Nona dengan Samuel. Mereka cocok, kenapa harus saya yang sudah tua. Mikirlah jangan asal mau bebas dari beban saja." Omel Kenan pada Baron.


"Ck.. Saya lebih tahu Nona Dari pada kamu Ken. Ya sudah saya tunggu besok." Kenan menutup sambungan teleponnya dan menghela nafas panjang. Tidak mengerti apa yang ada di otak Baron saat ini.