
"Makan dong." kata Wilma kemudian, hari sudah hampir pukul tiga, kasihan sekali mereka makan terlambat, pikir Nanta.
"Tadi di Pesawat kamu kan makan." Dania tampak heran.
"Hampir aku kasihan, kupikir belum makan." kata Nanta terkekeh.
"Dia memang suka makan, kan." Ando ikut terkekeh.
"Makan dimana yang enak, Pak Timbul?" tanya Wilma sok akrab pada Pak Timbul.
"D Klien." jawab Pak Timbul menyebut salah satu restaurant kekinian di Batu Malang.
"Mau bayar apa gratis?" tanya Nanta tertawa menggoda Wilma.
"Makan siang hari ini kita yang bayar lah, aku yang traktir, Nan." jawab Wilma percaya diri. Nanta tersenyum lebar memandang Wilma.
"Duit sudah masuk dompet balik lagi panggil Nan, ya?" Nanta terkekeh mencubit pipi Wilma gemas.
"Sakit ih, aku yang traktir, Bang Nantaaa." Wilma membenarkan kalimatnya.
"Terserah dia saja kapan mau panggil Abang, kapan mau panggil nama." kata Nanta pada Dania yang ikut cekikikan.
"Makan dimana nih, aku yang traktir loh beneran, tapi jangan mahal-mahal." kata Wilma pakai syarat.
"Niat tidak sih mau bayari makan." gerutu Nanta.
"Yah kan lumayan kalau irit, gue bisa ganti handphone nih." tunjuk Wilma pada handphonenya yang sudah banyak sompel.
"Itu sih tinggal ganti casing sama tempered glass." kata Ando pada Wilma.
"Ah kamu sih tidak mendukung." kata Wilma kesal.
"Ceile, kamu sih, kamu sih. Manis betul." Nanta terbahak mendengar gaya bahasa Wilma.
"Kan, Mas Nanta lihat sendiri, mereka itu dari tadi sangat mesra." Dania ikut berkomentar.
"Kalian jangan iri dong, kalau mau mesra-mesraan kan bisa juga." kata Ando mengerlingkan matanya pada Nanta. Nanta mengernyitkan hidungnya sambil tertawa.
"Ingat loh Dan, kalau mau mesra minta kepastian dulu." celutuk Wilma membuat Nanta kembali menoyor kepalanya. Wilma tertawa puas melihat Nanta agak salah tingkah.
Nanta pun meminta Pak Timbul untuk membawa mereka ke "The Onsen Resort" disana ada restaurant nuansa jepang, Fushimi Restaurant. Jadi Wilma bisa foto-foto juga, karena dia suka sekali eksis.
"Yeay makan sushi." teriak Wilma senang.
"Eh disini mahal ya?" Wilma cemberut memandang Nanta, ia sudah pesan jangan mahal-mahal.
"Mau traktir tapi nanggung. Tadi saja aku cari Bakso Malang biar duit mu utuh." gerutu Nanta kesal.
"Mana kenyang makan bakso Malang Bang Nanta. Terus tidak bisa upload foto di medsos dong, sama saja tidak liburan"
"Terus diajak makan disini takut mahal. Pinter betul calon istri lu kelola duit ya." Nanta terbahak memandang Ando.
"Kerja yang betul lu, Ndo. Duit saja diotaknya." kata Nanta terbahak mendorong bahu Wilma pelan.
"Ih panjang deh kalian, aku kan cuma tanya mahal apa tidak makan disini, kalau mahal aku bayar pakai uang jajan dari Daddy. Tapi uang jatah Bang Nanta ku sayang ya, boleh kan?" Wilma merayu Nanta.
"Ih Kamu kok panggil Nanta sayang sih, Pakai uang Bang Ando saja, adek sayang." sahut Ando yang tidak terima Wilma memanggil Nanta sayang.
"Hahaha cemburu, makan saja. Aku yang traktir." kata Dania tertawa, lucu melihat kelakuan Wilma dan Ando.
"Tidak usah, kan aku sudah janji mau bayar. Tenang saja. Aku tadi cuma tanya disini mahal apa tidak, kalau mahal aku sudah ada solusi. Sudah jangan dipikirkan, yang penting Bang Nanta ikhlas." kata Wilma menenangkan.
"Iya-iya, ikhlas." jawab Nanta terbahak.
"Ah bilang saja elu mau pedekate sama Dania." Ando berbalik menggoda Nanta.
"Sue, bukan begitu." jawab Nanta jadi salah tingkah.
"Ih apa sih pedekate, ayo Mas Nanta kita pisah meja, Kakak Ando sepertinya tidak mau diganggu." Dania menarik tangan Nanta.
"Aih sudah pegang-pegang tangan." Wilma malah ikut menggoda keduanya.
"Ayo ah, gabung saja. Bang Ando tidak akan cemburu, iya kan Bang?"
"Asal jangan panggil Nanta sayang." kata Ando to the point.
"Hahaha gaya lu." Nanta memiting leher Ando.
"Eh kan lu tahu, keluarganya mau jodohin kalian. Posisi gue belum aman." kata Ando rusuh.
"Jadi makan tidak sih?" Wilma yang sudah lapar jadi kesal sendiri.
"Hahaha iya jadi." Nanta segera duduk dimeja yang ada didekat mereka. Pak Timbul tidak mau ikut turun, padahal Nanta dan yang lain sudah mengajaknya.
"Setelah ini kemana?" tanya Dania pada Nanta dan yang lain, sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Musium angkut, jatim park, pilih saja salah satu, waktu kita terbatas." kata Nanta pada sahabatnya.
"Sepertinya tidak keburu kalau ke Jatim Park, paling gerak cepat untuk sekedar foto ya ke musium angkut saja." jawab Dania.
"Iya, kamu kemarin kemana saja?" tanya Nanta pada Dania. Ando menyolek Wilma supaya membiarkan mereka bicara berdua. Padahal mulut Wilma sudah menganga untuk bicara, terpaksa mingkem lagi.
Jadilah mereka berdua bicara saling berbisik, membahas Nanta dan Dania, sementara Nanta berpikir, Wilma dan Ando sedang mengucapkan kata-kata mesra yang tidak boleh Nanta dan Dania dengar. Kalau tahu pisah meja saja, pikir Nanta kesal.
"Aku ke Bromo."
"Sendiri?"
"Aku iya, tapi kan ke bromonya sama travel yang aku pilih."
"Kamu tuh nekat ya, mereka kan orang asing laki-laki pula. Lain kali jangan ah." Ando kembali menyolek Wilma sambil terkikik.
"Nanta posesif." bisiknya. Wilma menganggukkan kepalanya ikut terkikik. Nanta menggelengkan kepalanya melihat pemandangan mesra didepan matanya, terganggu sekali lihat dua insan dengan kepala saling berdekatan, mata saling memandang dan berbisik-bisik seakan dunia milik mereka. Sekali lagi mereka kulempar tisu, pikir Nanta.
"Iya sih nekat juga ya. Tapi aman saja tuh." Dania terkekeh, setelah dipikir-pikir benar juga apa yang Nanta bilang, apalagi saat ke Bromo itu ia dijemput tengah malam.
"Aku mau dong ke Bromo." rengek Wilma pada Nanta.
"Tidak sempat kalau malam ini, kan besok siang acara ice skating, kalau mau besok malam. Kalian pesawat Malam atau siang sih hari minggu?" tanya Nanta.
"Malam." jawab Ando.
"Nah bisa tuh, kamu mau Dan, ke Bromo lagi?" tanya Nanta pada Dania.
"Sebenarnya aku malas ya, kan minggu lalu sudah." jawab Wilma, tapi bingung juga kalau tidak ikut.
"Bagaimana nih?" tanya Nanta bingung, tidak mungkin membiarkan Dania sendiri, kecuali besok Dania sudah dekat dengan Om Micko, bisa Nanta tinggal sama Papanya.
"Yah kita lihat kondisi besok ya." kata Nanta pada Wilma, ia masih berpikir bagaimana caranya agar Wilma bisa ke Bromo, tapi Dania tidak terlantar juga.
"Kalian pergi saja, Aku keliling Malang saja sendiri sambil menunggu kalian pulang." kata Dania tidak masalah.
"Oh iya kamu bisa jalan diantar Pak Timbul, aku temani mereka." kata Nanta sedikit santai.
"Kamu tidak apa tuh ditinggal dirumah sendiri, Dan. Kamu bisa pedekate sama keluarga calon suami." kata Wilma, kembali kepalanya di toyor Nanta. Nasib deh Wilma kena toyor terus dari tadi.