I Love You Too

I Love You Too
Tuan Rumah



"Kenapa bahas mantan sih, kenalan ya kenalan saja." protes Larry pada Diky yang terbahak senang bikin Larry agak mati Kutu.


"Yang mana sih pacar lu?" tanya Diky pada Larry.


"Aku." jawab Rumi tersenyum jahil.


"Oh..." Diky langsung saja kecewa, mau dekati Rumi ternyata pacarnya Larry. Larry tertawa saja dibuatnya.


"Itu Fino." tunjuk Larry saat lihat Fino berjalan kearah mereka.


"Dik, ikut? gue mau temani mereka makan." ajak Larry pada Dicky.


"Ah sudah lemas saya, kamu sajalah." jawab Diky malas karena Rumi pacarnya Larry, padahal Rumy asal bicara saja.


"Ah begitu saja lemas, usaha dong." Rumi malah menggoda Diky, dasar Rumi. Diky jadi dapat secercah cahaya.


"Fin, susah parkir?" tanya Larry pada Fino.


"Lumayan jalannya jauh juga. Turuni duo Nona dulu di lobby tadi." kata Fino pada Larry.


"Kapan dari Cirebon?" tanya Larry pada Fino.


"Kita sudah seminggu ini kembali tugas di Jakarta kan." jawab Fino bikin Larry melirik Femi yang tidak kabari dirinya.


"Femi juga?" tanya Larry.


"Iya kan kita." Fino terkekeh.


"Duh sombong dia tidak kasih kabar." Larry gelengkan kepalanya. Femi berlagak tidak mendengar.


"Ayo mau makan atau salami pengantin dulu?" Larry sudah seperti tuan rumah saja temani Fino, Femi dan Rumi.


"Boleh makan dulu tidak ya, kok ramai betul yang antri salaman." Rumi menepuk perutnya, sudah lapar rupanya.


"Dik, ayo." ajak Larry.


"Nanti gue menyusul, ada teman gue nih." Diky tunjuk temannya yang baru datang. Pesta ini jadi seperti ajang reuni, ada saja bertemu teman lama.


"VIP ya." kata Larry pada Diky. Diky acungkan jempolnya.


Sesuai pesan Mike, Larry bawa Fino, Femi dan Rumi ke ruang VIP untuk dapat nikmati makanan tanpa antri.


"Aban Leyi..." panggil Balen yang sudah duduk lebih dulu. Dia langsung berlari hampiri Larry.


"Tadi Baen caiin bau tiatan " katanya pada Rumi dan Femi.


"Cari siapa?" tanya Femi.


"Tatak." jawab Balen tersenyum.


"Kak Rumi dicari juga tidak?" tanya Rumi.


"Iya don." jawab Balen kembali tersenyum


"Tatak Yumi tantik deh." puji Balen tulus.


"Beneran?" tanya Rumi.


"Iya benen." jawabnya membuat Rumi tertawa senang.


"Tatak Pemi tantik juda tok." Balen beralih ke Femi.


"Tatak ambutna diapain sih bian tiwin ditu?" tanya Balen pada Femi yang malam ini rambutnya di blow hingga tampak bervolume pada bagian bawahnya.


"Ambut Baen pendek sih." langsung kibas rambut. Semua jadi tertawa melihatnya.


"Tao pendek ndak bisa bitin tiwin ditu tan?" tanya pada Femi, Femi tidak bisa menjawab hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan bocah centil dihadapannya ini.


Balen rambut begini juga cantik kok." kata Fino pada Balen.


"Benen?" tanyanya memastikan.


"Benar dong." jawab Fino, Larry terkekeh.


"Sini Abang pangku, biar Kakaknya pada ambil makan dulu." Larry menarik Balen kepangkuannya, hingga Femi, Fino dan Rumi bisa leluasa mengambil menu makanan yang ada.


"Om Deni mana?" tanya Larry pada Balen saat Fino dan dua gadis berlalu.


"Ndak tau dai tadi ndak tiatan." jawab Balen kenes.


"Balen sudah makan?" tanya Larry lagi.


"Udah, Aban Leyi matan ndak?" balik bertanya pada Larry.


"Masih kenyang, tadi makan kue Kak Dania banyak sekali." jawab Larry jujur, sudah tidak nafsu makan lagi melihat tamu yang datang begitu banyak.


"Yah Baen ndak tasih tuena." protes Balen tidak dikasih kue oleh Larry.


"Balen sih datangnya terlambat." Larry terkekeh mendengar Balen protes.


"Aban Nanta sih tindain Baen." malah salahkan Abangnya yang berangkat duluan tadi pagi.


"Abang harus buru-buru." jawab Nanta yang baru saja bergabung.


"Richie mana?" Larry mencari Richie yang suka berikan komentar lucu untuk Balen.


"Ichie itut Ayah ndak tau temana." jawab Balen lihat Richie digandeng Ayah Eja tadi.


"Makan Leyi, tadi lu bilang lapar." kata Nanta pada sahabatnya.


"Makan kue Dania kebanyakan gue." jawab Larry tertawa.


"Kan tadi sudah bertemu." jawab Larry.


"Bukan ini baru datang lagi." jawab Nanta tertawa.


"Duh yang mana lagi, kok Mike undang mereka sih." protes Larry.


"Mereka ternyata yang pernah kerja sama Suryadi corporate." jawab Nanta. Larry garukkan kepalanya saja. Repot deh kalau begini, menyesal juga jadinya punya banyak mantan. Yang bikin menyesal itu karena di cap playboy.


"Ada Rumi sama Femi." tunjuk Larry pada keduanya yang sedang ambil makanan.


"Abang pilih yang mana?" tanya Nanta jahil lagi-lagi goda Larry.


"Ndak tau." jawab Larry bergaya Balen.


"Ada Fino juga." kata Larry lagi.


"Eh, Diky suka sama Rumi tuh." lapor sama Nanta.


"Diambil Diky nanti." Nanta terkekeh.


"Biar saja. Cocok juga kok." jawab Larry tersenyum lambaikan tangan pada Diky yang datang mendekat.


"Katanya elu mau tanya bokap waktu itu, jadi?" tanya Nanta soal wanita yang mau Larry dekati. Larry anggukan kepalanya.


"Apa komentar bokap?" tanya Nanta penasaran.


"Diam saja." jawab Larry mengedikkan bahunya. Nanta jadi tertawa kasihan juga Larry.


"Nanti kalau sudah pilih bisa maju ke bokap tuh sama-sama." Nanta sok iye dia saja dijodohkan walaupun sudah suka duluan sebelumnya.


"Mungkin ya." jawab Larry.


"Aban..." Balen mulai mau mengoceh lagi panggil Nanta.


"Ya."


"Baen nanti boeh itut mobin aban ndak?" tanya pada Nanta.


"Iya boleh." jawab Nanta.


"Tapi tanya Papa dulu ya." kata Nanta lagi.


"Tana Papon sih suta ndak boeh." keluh Balen.


"Ikut Mobil Bang Larry saja deh." ajak Larry pada Balen.


"Boeh ndak ya?" Balen berpikir keras. Larry terbahak cubiti pipi Balen.


"Larry tidak makan?" tanya Femi pada Larry yang saat ini pilih duduk disebelah Larry.


"Maunya disuapi kamu." celutuk Nanta membuat Larry terbahak, sementara Femi tersipu malu. Kalau Rumi yang dibilang begitu pasti langsung bergerak suapi Larry.


"Kamu kesini sama siapa?" tanya Nanta pada Femi.


"Dijemput Fino, terus kita jemput Rumi." jawab Femi.


"Makan ya." katanya lagi. Nanta dan Larry anggukan kepalanya.


"Dik!" panggil Nanta agar Diky bergabung.


"Larry, ada sinta loh." kata Diky pada Larry, ah Diky lagi-lagi bahas perempuan didepan Femi.


"Singa tuh yang mana?" tanya Nanta tertawa.


"Hahaha betul yang kaya singa, yang bikin kita emosi." Diky terbahak ingat pacar terakhir Larry yang tidak tahu etika, jadi teman Larry suka peleseti namanya


dari Sinta jadi Singa.


"Aban butan sina tau." Balen tegur Abangnya. Nanta jadi terbahak.


"Dania minta beli roti unyil nih." Nanta jadi ingat permintaan Dania tadi pagi.


"Ke bogor dong." kata Dicky.


"Yuk." ajak Nanta.


"Mau Fem?" ajak Larry pada Femi.


"Tanya Fino dulu ya." kata Femi tunjuk Fino yang masih tunggui Rumi.


"Gue ikut ah." Diky tumben saja mau ikut.


"Ayo." Nanta senang banyak yang ikut.


"Baen ajat don." memelas pandang Abangnya.


"Kalau Papa boleh Abang ajak." kata Nanta pada adiknya, tetap Balen harus minta ijin Papon.


"Aban aja yan bilanin."


"Pa..." teriak panggil Papa yang langsung menoleh.


"Habis ini aku mau ke bogor, Balen boleh ikut aku?" tanya Nanta pada Papa.


"Tidak usah ya Balen kan ada Om Deni sama Kak Dini mau menginap dirumah. Ingat kan Balen harus sambut tamu?" pintar saja Kenan sampaikan alasannya.


"Oo Baen tuan umahna ya." langsung tersenyum bangga menjadi tuan rumah walaupun hotel belum kebeli.