
"Tidur yuk." ajak Kenan. Sudah lega sepertinya sudah tak ada yang ingin dibahas.
"Yuuk, kamu besok kuliah jam berapa dek? Aku besok harus ke cabang selatan jam 9 pagi." tanya Reza pada Kiki.
"Jam 12 kak, ga papa besok aku minta Pak Min yang jemput dan antar aku."
"Baiklah." Reza segera beranjak menarik tangan Kiki meninggalkan Kenan yang masih duduk dimeja makan. Merasa ditinggal Kenan pun segera beranjak menyusul Reza dan Kiki.
"Perlu ditemani? takut kamu khilaf bang." tanya Kenan menggoda Reza, saat Reza membelok ke kamar tamu.
"Sampai depan pintu aja, ga ikut masuk." Reza membalas godaan Kenan dengan merangkul Kiki.
"Kak Eja ah." Kiki melepaskan rangkulan Reza, merasa risih dan malu pada Kenan. Reza mengacak anak rambut Kiki. "Iya maaf." katanya sambil tertawa. Sementara Kenan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan abangnya lalu segera menaiki anak tangga. menuju kamar.
"Tadi kenapa menangis?" tanya Reza yang masih penasaran ketika sampai didepan pintu sebelum Kiki masuk kekamarnya.
"Ga tau, keluar aja air matanya."
"Pasti ada sebabnya. Ayo cerita jangan dipendam sendiri." Reza setengah memaksa. Kiki menarik nafas panjang, dipikirnya sudah aman, Reza tak akan bertanya, kalau begini harus bilang apa. Terpaksa menebalkan sedikit mukanya untuk jujur.
"Aku takut Kak Eja masih suka sama Sheila." jawab Kiki malu pakai banget. Wajahnya seperti kesemutan menahan malu.
"Kenapa mikir kesana? Memang kamu ga bisa merasakan ya selama ini?" Reza mengernyitkan keningnya.
"Tadi aku keluar mau ambil minum, ga sengaja dengar Kak Eja ngobrol sama Kenan."
"Kamu dengar semua? kalau dengar semua pasti kamu ga akan nangis seperti tadi."
"Ga, aku langsung kesal saat Kenan bilang Ikhlas kalau Kak Eja mau sama Sheila. Nanti Kenan sama aku. Memangnya aku cewe apakah. Mau diover seperti bola."
Reza menjentikan telunjuknya kejidat Kiki.
"Bodoh. Ga mungkin lah aku mau tukar calon istriku. Kamu kira aku ga pegal hati mengamati kamu beberapa bulan ini. Kamu yang asik bertiga setiap lewat digoda cowo dari fakultas lain, setiap kalian lewat kumpulan cowo pada teriak riuh memanggil kalian. Ga kesal lihat kamu didekati Rino? Kamu tahu kenapa papa dan mama datang kerumah melamar kamu sabtu kemarin, padahal aku belum lulus kuliah, belum diwisuda? Karena aku ga mau kamu didekati cowo lain. Aku ga mau kalah cepat."
"Beneran?
"Kamu sendirilah. Aku kasih tahu ya Orang mau menikah katanya akan ada aja masalah yang datang. Kalau kita ga saling percaya, susah kita nanti. Kamu percaya ya sama aku. Ga ada Sheila ataupun cewe lain dihati aku. Reza meyakinkan Kiki. Kiki menarik nafas lega.
"Maaf Kak aku terlalu berlebihan. Seperti yang aku bilang aku cemburuan."
"Ga papa aku senang, berarti kamu sudah bukan suka aja sama aku. Perasaanmu mulai berkembang. Tapi jangan cemburu ga jelas ya, besok pagi aku ketemu pihak ketiga sama Andi. Pihak ketiga ini perempuan, aku belum pernah ketemu, biasanya Mario dan Andi yang ketemu. Aku cerita biar kamu ga salah sangka."
"Kalau ga ngapa-ngapain aku ga salah sangka."
"Memang aku mau ngapain, kan kerja."
"Profesional ya kerjanya."
"Yang ga profesional seperti apa?"
"Habis ketemu antar pulang, ajak makan, chat saling curhat." Ketus Kiki sambil membesarkan kedua bola matanya seakan Reza sudah melakukan apa yang disebutnya. Reza tertawa mengacak poni Kiki. "Iya bawel, pulangnya aku jemput ya, jam berapa?"
"Jam 6 sore. Seperti tadi."
"Jangan lupa bawa charger, jangan seperti tadi." Reza mengingatkan
Reza segera memutar badan berjalan menuju tangga sambil senyum senyum senang walaupun Kiki tak mau mencium pipinya. Reza senang karena malam ini Kiki menangis untuknya. Dasar Reza.
...........
Pagi hari di dapur tampak Nina yang sibuk membuat sarapan untuk anak dan calon menantunya. Kiki yang sudah bangun sedari tadi ikut membantu didapur. Meskipun tak bisa memasak tapi Kiki bisa membantu Nina mengiris sayur, mengupas bawang dan memetik cabai. Rencananya Nina mau membuat nasi goreng seafood.
"Kamu catat bumbunya nih Nak, Reza suka sarapan berat kalau pagi. Berbeda dengan Kenan yang kalau pagi hanya minum jus." Kata Nina sambil membersihkan cumi dan udang yang baru dikeluarkannya dari kulkas.
"Sudah aku hafalin ma. Nanti aku yang numis ya ma, biar cepat hafal" kata Kiki semangat belajar memasak. Sementara dirumahnya kalau pagi begini Kiki gegoleran dikamar karena semua dikerjakan Bi Ati.
"Ah ini sih gampang Ki, Tapi semua makanan yang Reza suka yang gampang dibikin sih. Kamu ga usah khawatir."
"Ngomongin aku ya." Tampak Reza sudah rapi dengan kemeja biru lengan panjang dan celana khaki.
"Sarapannya belum jadi kamu sudah rapi Ja."
"Ga papa ma, aku nunggu Andi jemput."
"Wah bagus, sekalian biar dia ikut sarapan. Garamnya jangan kebanyakan nak seujung sendok aja." Nina mengingatkan Kiki yang sedang memegang sesendok penuh garam ditangan kanannya.
"Wah beneran sudah ga sabar mau nikah kalau garam sebanyak itu." Reza membelalakan matanya, membayangkan akan asinnya nasi goreng kalau Kiki jadi memasukkan sesendok penuh garam kekuali. Kiki cengengesan dibuatnya.
"Cobain ma, testfood." Kata Kiki pada Nina sambil memandang penuh harap. Nasi gorengnya sudah selesai dimasak. Nina mengambil piring kecil dan sendok, memindahkan nasi sedikit ke piring lalu menyendok kemulutnya.
"Wah enak, pintar kamu nak, baru juga sekali belajar." Nina memuji calon menantunya.
"Hampir aja aku makan garam goreng ma."
"Hahaha iyaa tadi kalau mama ga lihat gagal acara masak kita hari ini." Nina tergelak meletakan Nasi goreng yang sudah dimasak Kiki ke meja makan.
"Bangunkan Kenan, Ja."
"Tadi katanya masih mengantuk ma, semalam dia bergadang."
"Kebiasaan Kenan ga biasa tidur malam. Jadi paginya dia tidur." Nina menggerutu sambil berjalan menuju anak tangga, berniat membangunkan Kenan.
"Biarin aja ma, Dia mau ke malang hari ini."
"Nah justru kalau mau kemalang harusnya quality time sama mama pagi ini." Nina melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
"Sarapan dulu Ndi, sini masuk." Kata Reza via telepon ketika Andi mengabarkan sudah didepan rumah. Tak lama Andipun muncul tampak rapi seperti Reza, mengenakan Kemeja Hitam, celana Jeans Hitam.
Pada rapi-rapi amat sih, batin Kiki yang terbiasa melihat mereka menggunakan kaos.
"Memang kalau ketemu pihak ketiga harus rapi begini?" tanya Kiki yang khawatir mengingat perkataan Reza semalam bahwa yang mereka temui pagi ini adalah perempuan. Belum lihat bentuk rupanya aja Kiki sudah merasa was was.
"Loh Ki, kapan nikahnya kok sudah pakai piyama pagi-pagi disini." Andi menggoda Kiki. Padahal Reza sudah membahas di group chatnya bahwa satu minggu ini Kiki menginap dirumahnya.
Kiki merapatkan kedua bibirnya, salah tingkah bingung mau ngomong apa. Apalagi posisinya Kiki lagi menyiapkan sarapan untuk Reza, walaupun sudah mandi tapi masih memakai piyama karena baru nanti siang Kiki berangkat ke Kampus.
"Jangan jahil, ayo makan dulu." Reza mengambil piring untuk Andi, kemudian mereka tertawa bersama melihat ekspresi Kiki yang masih salah tingkah.