
Sabtu, tepat pukul sembilan pagi rombongan Nanta berangkat menuju ke S'pore. Dan disinilah mereka sekarang,
di private jet yang sudah disiapkan Unagroup, membawa mereka ke lokasi syuting.
"Sawatna tok taya dini sih, ndak taya te malan?" tanya Balen bingung.
"Ini pesawat pribadi sayang." Kenan menjelaskan pada gadis kecilnya.
"Puna Papi?" tanya Balen polos.
"Iya punya Papi, cantik." jawab Rumi terkekeh.
"Baen beiin don taya dini, Papon." pinta Balen pada Papanya.
"Mau buat apa?" tanya Kenan pada Balen.
"Buat beangkat te malan tiap hai, temu Oma sama Opa." mau ke Malang tiap hari Balen kalau punya private jet. Kenan tertawa saja dengar keinginan Balen.
"Baen, jajannya mahal deh." celutuk Larry gemas.
"Napa memanna?" tanya Balen polos.
"Kemarin minta belikan hotel, sekarang minta private jet." jawab Nanta membuat semua tertawa.
"Baen tan puna uan talo udah masuk tipi." jawab Balen tengil.
"Jadi?" tanya Nona.
"Bisa bei Oten ama sawat pibadi." jawab Balen membuat Kenan gelengkan kepalanya, dipikir honornya bisa beli semua itu.
"Sanggup tidak Leyi, punya istri begini?" tanya Nanta membuat Larry mengangkat kedua tangannya.
"Ampun, aban nyerah Baen." jawab Larry konyol, tambah tertawa saja mereka dipesawat.
"Ndak mo jadi istina Baen ya?" tanya Balen dengan bahasa kebolak balik. Maksudnya pasti tidak mau punya istri Balen.
"Ish anak Papon, sudah dibilang tidak boleh pikirkan itu, kamu masih kecil sayang." kata Kenan pada singkong rebus Abang ini.
"Ndak sekaang, nanti talo udah dedek." jawabnya santai.
"Nanti Larry keburu jadi Opa-Opa deh kalau nunggu Balen gede." celutuk Mike tertawakan Larry.
"Balen lucu ih." Rumi ingin sekali mencubit pipi Balen yang menggemaskan itu.
"Baen napa sih mo jadi isti Aban Leyi, jadi isti Aban Luti aja Baen." celutuk Richie, membuat semuanya kembali tertawa.
"Hahaha kalau tidak saudara sih bisa gue jodohkan ini Lucky sama Balen." jawab Micko terbahak mendengar ide Richie.
"Baen kalau sudah gede Abang carikan jodoh, teman Abang." jawab Lucky menepuk bahu Balen.
"Ote, Baen istina temen Aban Luti aja deh." jawab Balen santai tanpa beban.
"Main oke saja." protes Larry tertawakan Balen.
"Cari yang lebih muda lah." Doni kembali tertawakan Larry, semua jadi ikut tertawa.
Tidak terasa perjalanan kurang lebih satu setengah jam ini dengan cuaca yang bersahabat penuh canda tawa, mereka pun tiba dengan selamat di S'pore. Mobil jemputan sudah menunggu saat mereka turun dari pesawat.
"Yeaaiii, Sinapoiii." Richie bersorak senang.
"Adiknya Baen lucu juga ya, mau ikut syuting tidak?" Rumi menawarkan Richie.
"No Wei." jawab Richie kemudian ia ikut Balen berjoget sambil berjalan ke mobil.
"Anak gue kenapa lawak begini ya?" kata Nona pada Lulu sambil tertawa. Mereka berdua tertawakan duo bocah yang banyak gaya ini.
"Om Kenan..." sambut Steve senang saat melihat Kenan turun dari Mobil. Ia dan keluarganya sudah menunggu di Lobby hotel.
"Steve, tambah ganteng saja." puji Kenan apa adanya saat melihat Steve.
"Ayu juga tambah cantik." puji Nona pada Ayu.
"Bisa saja ya, puji kita orang rantau." Steve terkekeh.
"Mau tidak mau jadi betah, anak-anakku malah tidak mau ke Jakarta, macet." jawab Steve tertawa.
"Ini Pak Steve, Bos kami." Rumi perkenalkan Steve pada sahabat Nanta dan adik ipar Nanta.
"Halo, selamat datang di S'pore." sapa Steve pada semuanya.
"Om Micko, tambah perlente deh." celutuk Steve saat melihat Micko.
"Tambah tua Steve, sudah mau punya cucu." Micko menunjuk Dania.
"Oh ini istri Nanta ya." Ayu langsung saja hampiri Dania.
"Iya Kak." Dania menganggukkan kepalanya sopan. Nanta kemudian juga kenalkan sahabatnya dan juga Dona istri Doni. Kemudian kenalkan Lucky Dan Winner adik iparnya.
"Gue jadi ingat cerita tutorial, lihat lu berdua." kata Ayu cekikikan.
"Ish Kak, banyak orang ini." Nanta langsung saja kasih kode supaya Ayu tutup mulut.
"Sudah ada hasil sayang." kata Steve pada Ayu keduanya langsung terbahak.
"Pasti pada bahas di group ya?" tanya Nanta meringis.
"Oh tentu, mana ada rahasia sih." jawab Ayu kembali tertawa. Kenan dan Micko cengar-cengir saja.
"Sekarang sudah pintar." celutuk Mama Lulu, malah nambah cerita. Nanta dan Dania tentu saja jadi bersemu merah merona.
"Ayo, biar barang-barang dibawakan petugas hotel ke kamar masing-masing. Kita makan siang dulu." ajak Steve pada tamunya.
"Syuting jam berapa?" tanya Kenan pada Steve. Nanta sibuk bercanda dengan istrinya, setelah dari semalam bersama istri tapi tetap ditinggal kesana kemari karena sibuk bekerja.
"Jam empat sore saja ya Rum? semoga sebelum magrib sudah selesai, jadi waktu sholat tidak terganggu." kata Steven pada Rumi.
"Boleh." jawab Rumi ikut saja apa kata Bos.
"Larry mana ya?" tanya Steve ingin tahu pria yang mau dijodohkan dengan sepupunya ini.
"Aban Leyi Baen nih." teriak Balen menggandeng tangan Larry.
"Aih, Baen nanti berenang sama Leyi kan?" tanya Steve pada Balen.
"Iya don." jawab Balen tengil.
"Balen kamu mainnya sama Kaka Selin tuh, masa gandengan sama Larry terus." kata Nona menunjuk Selin anak pertama Steve.
"Selin, ajak main ade Baen, Nak." kata Ayu pada Selin.
"Hao tata Sein." sapa Balen yang memang bisa dekat dengan siapa saja.
"Cuwiwit, Sein santik deh, cuwiwit." Richie rusuh sendiri menggoda Selin.
"Ya ampun Nanta, kayanya lu dulu tidak seperti ini deh." Ayu tertawa menepuk bahu Nanta.
"Kalau lu Mike sama Ichie." celutuk Doni membuat semuanya tertawa.
"Ichie, gue suka gaya lu. Tidak percuma jadi anak didik Bang Mike." kata Mike tertawakan Ichie.
"Iya, apa Ichie meniru kamu ya Mike?" Kenan terkekeh mengingat pesat sekali perubahan Ichie yang tadinya pendiam sekarang rusuh, ditambah lagi sudah bisa menggoda anak gadis orang.
"Hahaha om ini, apa iya meniru aku." Mike terbahak, ingat dihotel saat disemarang kemarin Mike memang menunjuk gadis kecil yang sedang berenang, sambil siul-siul pelan. Itu juga hanya bercandai Richie, eh sekarang malah dipraktekkan sama si unyil.
"Siapa lagi lah Om, pasti Mike." Larry rusuh jadi provokator.
"Duh Mike, bukannya pintar berenang anakku malah pintar menggoda cewek." kata Nona membuat semuanya terbahak.
"Atu bisa beenang." jawab Richie mendengar ucapan Mamon.
"Nah kalau bisa berenang nanti ikut syuting dong." bujuk Rumi yang tertarik dengan Richie.
"Ote ajah." jawab Richie tengil.
"Kontrak menyusul ya Om." kata Steve pada Kenan.
"Lihat dulu saja, mau tidak anaknya. Kalau Kakaknya memang sudah rusuh mau masuk tv." jawab Kenan tidak begitu yakin.