I Love You Too

I Love You Too
Ucapan adalah doa



Reza menepati janjinya, mulai hari ini mereka akan menempati rumah baru. Tak ikut sibuk, Kiki tinggal melangkah masuk, karena semua sudah ada yang membereskan. Jika minggu lalu mereka hanya memasuki ruangan yang kosong melompong, sekarang semua sudah tertata rapi. Furniture jaman now dengan nuansa hitam putih menghiasi rumah mereka.


"Sayang, kenapa aku tak dimintai pendapat? Bukan aku banget dan kamu banget ini. Tapi bagus sih." protes Kiki sambil memuji.


"Aku sudah pusing mengikuti kemauan mama kita, cukup mereka berdua saja, jangan ditambah kamu lagi. Bisa pecah kepalaku nanti." kata Reza terkekeh mengacak poni istrinya.


Tampak dua orang wanita berdiri didapur menganggukkan kepalanya tanda hormat.


"Tina dan Tini, mereka kembar. Mereka yang akan membantu kita membereskan rumah dan memasak. Sekalian menemani kamu." Reza mengenalkan kedua wanita tersebut. Walaupun kembar mereka tak begitu mirip, jadi Kiki tak kesulitan membedakannya.


"Saya Kiki, yang mana Tina, mana Tini?" tanya Kiki tersenyum ramah.


"Saya Tina, Non. Nanti saya yang akan memasak , mencuci juga menyetrika." kata Wanita yang terlihat sedikit lebih tembam.


"Saya Tini, Non. Saya menyapu, mengepel, membersihkan debu-debu dan juga merawat taman." Kata yang sedikit lebih kurus.


"Ok salam kenal ya, selamat bekerja." Kiki menarik tangan Reza meninggalkan dapur, "Sayang, kamu tidak mencari supir yang bernama Tono, kan?" tanya Kiki polos. Reza mencubit pipinya gemas.


"Kita masih bisa menggunakan Pak Min selama Mama Ririn dan Papa Ryan di S'Pore. Setelah itu baru kucari Tono untuk mengantarmu ke kampus." Kekeh Reza memeluk istrinya.


Nanti makan malam dirumah ya, kami sudah tinggal di rumah baru dari semalam. *Enji


pesan dari Enji di Room Chat "Nyo Club" dibaca Kiki setelah mereka tiba dikamar.


"Siapa sayang?" tanya Reza sambil menarik handphone Kiki dari tangannya dan langsung memeriksa chat Kiki. Sungguh tak sabaran menunggu Kiki menjawab pertanyaannya.


"Mario juga sudah pindah?" tanya Kiki pada Reza, hanya ditanggapi dengan anggukan kepala, karena Reza sibuk memeriksa chat Kiki yang lain. Ingin tahu apakah ada chat dari pria lain.


"Jangan mencurigaiku." Kiki mendengus kesal, berusaha merebut handphonenya.


"Follower kamu masih banyak saja. Padahal kamu sudah tak terima endors."


"Ya, Iklan yang baru tayang malah membuat follower aku bertambah, Kak. Kamu baca ada tawaran main reality show." Kiki menunjukkan pesan masuk dari salah satu produser tv.


"Kamu terima?" tanya Reza khawatir.


"Buat apa, saldo ATM ku jauh lebih banyak menjadi Nyonya Reza dibanding shooting yang melelahkan." katanya sombong. Reza langsung memeluk istrinya senang. "Anak pintar." katanya mengacak rambut istrinya.


"Sayang, kapan kita menginap dirumah Mario?" tanya Kiki mengingat rencananya mengawal Regina sampai hamil.


"Rasanya sudah tak perlu." jawab Reza menyeringai.


"Mereka sudah..???" belum selesai kalimat Kiki, Reza mulai beraksi.


"Kamu mau tau mereka ngapain?" bisik Reza sambil bermain diwajah dan leher Kiki.


"Hmm.." Kiki menjawab dengan mata terpejam menikmati permainan Reza. Olah raga siang membuat Reza dan Kiki terkulai lemas, tertidur di kasur barunya sambil saling memeluk.


"Mereka seperti kita barusan." bisik Reza konyol, membuat Kiki tergelak.


"Kak Eja, penyampaian ceritamu model baru." sungut Kiki mencubit pinggang Reza.


"Sudah hampir sore ayo mandi." Reza menggendong Kiki masuk kekamar mandi. Hampir dua jam mereka didalam. Sudah bisa ditebak apa yang mereka lakukan.


Menjelang pukul lima, mereka selesai mandi bersiap diri Sholat ashar bersama, kemudian menunggu magrib. Setelah Sholat magrib barulah mereka kerumah tetangganya berjalan kaki. Tampak Monik, Alex, Intan dan Anto baru saja turun dari mobil.


"Rumah gue di Cluster sebelah, kalau tahu dari awal minta Oma beli disini." Sungut Intan masih tak terima mereka tak bertetangga.


"Masih dekat, Tak sampai lima menit sudah sampai." Kata Monik menyoyor jidat Intan.


"Sudah selesai balapnya? berapa lama di Spanyol?" tanya Reza saat melihat Anto yang terlihat lelah.


"Baru sampai tadi sore, masih jetlag." kata Anto sambil menguap.


Merekapun masuk kedalam, tuan rumah sudah menyambut dengan keluarga yang lengkap, Orang tua dan mertua juga adik-adik ikut hadir. Pipit ikut menyambut tamu Abangnya.


"Ayo langsung makan." kata Pipit mempersilahkan.


"Nanti saja belum komplit." jawab Erwin karena masih menunggu Andi yang sedang dalam perjalanan.


Sesuai rencana Mario yang sudah bekerja sama dengan orang tua Andi dan juga orang tua Erwin. Malam ini Andi datang bersama orang tuanya. Mereka akan melamar Pipit, tentu saja tanpa sepengetahuan Andi dan Pipit. Rencana perjodohan Leo dan Pipit sudah dibatalkan Pak Permana, karena Leo menolak keras sampai meninggalkan perusahaan yang dikelolanya di Perth.


Tentu saja Permana tak kecewa Karena Mario, Reza dan Erwin sudah mengajak Permana bertemu dengan Gilang, Papa Andi lebih dulu. Sehingga tanpa beban menyampaikan pas Lusinto sahabatnya untuk tak meneruskan rencana perjodohan itu.


Mario menyampaikan idenya sambil ngobrol santai dengan para Om yang sudah dianggap seperti orang tua mereka juga. Rencana Mario, Reza dan Erwin pun bersambut, karena memang saat pernikahan Erwin kemarin para Orang Tua juga sudah membahas dan merencanakannya, tetapi awalnya mau ditunggu sampai bulan depan. Cerita Monik menjadi pertimbangan mereka, karena khawatir hubungan Andi dengan artis pendatang baru semakin dekat.


"Maaf terlambat." Kata Gilang saat masuk kedalam melihat yang lain sudah berkumpul dan bercanda. Terlihat Andi berjalan santai sambil menyugar rambutnya.


"Tepat waktu kita, Pa. Mereka yang datang terlalu cepat." katanya tak mau dibilang terlambat.


"Macet, Friend?" tanya Mario pada sahabatnya.


"Lancar, hari minggu mana macet." katanya menghempaskan badan di sofa tempat duduk diantara Reza dan Mario.


"Siapa itu artis pendatang baru. Jangan cari pelarianlah." Kata Reza sesaat setelah Andi duduk.


"Monik nih, laporan ya." kata Andi terkekeh menunjuk Monik.


"Hati-hati, Ndi. Track Recordnya jelek. Jangan sampai kamu masuk berita gosip." Alex memperingati.


"Cuma teman mas." kata Andi tertawa.


"Berawal dari teman, jauhi dia." Monik terlihat resah.


"Kalian gosipin gue dari tadi ya?" kata Andi menaikkan Alisnya. Belum menjawab Pak Gilang memanggil Andi ke sofa yang lain, dimana pak Permana, Erwin dan Pipit sudah duduk disana. Tentu saja istri mereka ikut mendampingi. Para sahabat tidak ikut bergabung, hanya diam ikut mendengarkan, sesekali berbisik dan cekikikan. Tentu saja para Nyonya Muda yang cekikikan.


"Andi, Papa dan Mama sudah menyampaikan niat kami pada Om Permana dan Istri. Kami sepakat menjodohkan kamu dengan Pipit." Andi terbelalak dibuatnya. Tak berani menolak, bagaimanapun Erwin sahabatnya, Pipit sudah dikenalnya dari kecil. Memang pernah ada rasa suka pada Pipit tapi itu hanya selintas. Dan beberapa kali bercanda menyebut Erwin "Kakak Ipar" Kalau begini, selangkah lagi Erwin benar-benar akan menjadi Kakak Iparnya. Andi menggaruk kepalanya, kalimat yang sering didengarnya, ucapan adalah doa, kini sedang dirasakannya.


Sementara Pipit hanya menunduk, sebenarnya ingin berjingkrak senang, karena dari dulu, diantara sahabat Erwin, memang Andi yang sangat dikaguminya. Bukan karena permainan musiknya, karena Pipit tak bisa bernyanyi, hanya sesekali menikmati. Tetapi diantara mereka bertiga, Andi yang paling sering menginap dirumah Permana, sehingga mereka cukup akrab dan rasa itu semakin tumbuh seiring berjalannya usia. Ketiga sahabat saling mengerlingkan mata, misi mereka berhasil, tak ada penolakan dari Andi maupun Pipit.